Bukan Milikku – Bertemu Lagi


Prev : Bukan Milikku – Prolog  – Bermula 

Sudah menginjak lima hari dan akhir pekan ini Hani mengendarai mobil di tengah jalan yang cukup ramai.  Hari Jum’at masih terasa seperti hari senin. Terus saja ramai dengan kendaraan yang hilir mudik di jalan raya. Setengah menguap dia menginjak pedal gas pelan menuju ke arah bandara.

Ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Ia tidak perlu melihatnya karena tahu bahwa itu dari Tara.

“Baiklah, gue sudah di jalan,” gumamnya.

**

“Lo telat lima menit, Nona Hani.” Tara menunjuk jam tangannya masih duduk nyaman di bangku bandara bersama satu tas ransel serta satu koper kecil menemaninya. Hani masih mengatur napas, wanita itu setengah berlari melirik sebal kakaknya sendiri.

“Gue hanya telat lima menit, ya. Ga selama Kak Tara jemput dari Jepang dulu.”

Hani langsung duduk di sebelah Tara menyingkirkan tas ransel milik pria di sebelahnya.

Cih, adik kurang ajar.”

Tara mengacak poni rambut Hani. Adiknya hanya menepuk pelan bahu tegap Tara. “Mana oleh-oleh dari Bandung?”

Tangan Hani menengadah meminta ‘imbalan’nya setelah jauh-jauh menjemput Tara. Walau memang ini niatnya menjemput dan mentraktir Tara makan setelahnya.

“Ini anak. Gue kerja yah. Bukan jalan-jalan.” Tara berdiri merangkul ranselnya, berjalan pelan. Meninggalkan koper kecilnya.

Tuh, bawa koper gue.”

“Kak Tara, Ih,” sungut Hani melihat kelakuan Tara. Ia tahu kakaknya sedang menjahilinya. Hani berasa jadi asisten rumah tangga, mengikuti Tara dari belakangnya.

“Mana kunci mobilnya, gue yang setir.” Hani melempar kunci mobilnya, Tara dengan tangkas menangkapnya. Mereka berdua menuju ke mobil, melintasi jalan Jakarta yang selalu macet dan tak pernah mati walau tengah malam sekalipun.

**

“Jadi lo ga betahnya karena Supervisor stranger itu. Duh, Hanika. Baru kerja berapa bulan udah ngeluh aja,” pungkas Tara setelah mereka sampai di restoran Jepang di Mall tepat berada di bilangan Pusat Kota Jakarta setelah Hani bercerita panjang lebar. Sekali lagi, Tara melahap sushi terakhirnya setelah Hani cerita panjang lebar soal pekerjaannya di tempat barunya kini. Hani memutar bola matanya, bukannya diberi solusi karena curhatannya malah disudutkan. Kakak macam apa ini.

“Bukan gitu, kak. Dia tuh rese banget. Ada aja yang salah di mata dia. Kalau udah di sini bener, di situ salah lagi. Lo kan tahu gue pasti harus terlihat perfeksionis dalam pekerjaan jadi kalau salah kepikiran kemana-mana jadi ga fokus.”

Tara menyentil dahi Hani, dia masih sempatnya jahil pada adiknya. Bukannya terima kasih, Hani kena sentilan lagi dari kakaknya. Setelah ini, ia pasti akan menagih bayaran. Tara tahu adiknya seperti apa. Hani sosok wanita yang sangat idealis, tidak sepenuhnya seperti itu. Hanya ada beberapa posisi dimana Hani harus bisa bekerja maksimal dan terlihat sempurna.

Wanita muda di depannya pasti tertekan dengan tempat kerja barunya. Dia pun juga pernah merasa under pressure dengan pekerjaan pertamanya di Jakarta setelah kepindahan keluarga Baskoro dari Bandung.

Ih, lo kak. Masih jahil aja adiknya lagi curcol juga.”

Hani mengusap dahinya yang tak merasa sakit. Tara langsung mengusap poni rambut Hani. Kebiasaannya sejak dulu bersama Hani. Cara menghiburnya yang dengan begini. Kontak fisik tidak jarang selalu ia lakukan. Bahkan Hani pasti akan minta pelukan dari Tara kalau wanita itu sedang dalam keadaan terpuruk sekalipun.

“Iyaaa, gue dengerin seratus persen kok. Sekarang gini aja, lo coba  jalanin dulu yang sekarang. Berhubung lo juga masih dalam tahap adaptasi kan, yah meski sebenarnya sudah lebih dari  tiga bulan seharusnya bisa nyaman dan berkomunikasi lebih banyak lagi sama rekan kantor lo. Apalagi sama bos lo itu. ZUdah ga usah sedih lagi. Lebih baik kita pulang, karena sekarang gue ngantuk,” jelas Tara merangkul tas ranselnya, lantas menarik Hani untuk berdiri untuk segera pulang ke rumah.

**

“Kak Tara,” panggil Hani. Mereka masih di mobil Suzuki milik Haris, ayah mereka. Tara masih memandang jalan kini dia tidak menyetir lagi, bergantian dengan Hani. Tara setengah terpejam menikmati perutnya yang kenyang setelah ditraktir penuh oleh adiknya.

Hmm,” gumam Tara melirik adiknya sekilas.

“Ada apa?”

“Lo tau kan kak, gue pernah pacaran sama pria Indonesia juga di Jepang. Namanya Reza.”

“Terus?”

“Juga, lo pasti tahu alasan gue selain kangen sama Indonesia, buat hindarin dia.”

Sejenak Tara berpikir arah pembicaraan Hani. Wanita yang menyetir di balik kemudi ini cerita soal pria itu. Kalau diingat lagi, Ia juga kesal setengah mati saat Hani pulang ke Indonesia lalu cerita hal lain seperti yang sekarang Hani bicarakan. Ceritanya masih bersambung dan objeknya masih sama yaitu Reza.

“Lalu lo masih ada rasa sama dia? Masih suka sama Reza-Reza itu?” Hani langsung menggeleng pelan meski ada sedikit rasa masih lebih banyak rasa benci untuk ‘mantan’nya itu.

“Bukan itu, kak. Masalahnya dia balik lagi ke sini. Terus terakhir dia nge-LINE gue ngajak ketemuan. Gua sampe sekarang cuma baca chat dia aja tanpa mau bales. Gue udah males. Tau sendiri kalau udah males sama orang, gue juga males buat ketemu. Apalagi cowo brengsek kaya dia.”

Tara terkekeh dan mengulurkan tangan lagi mengusak poni rambut Hani –lagi. Adiknya masih fokus sama jalan. Sebentar lagi dia sampai di rumah mereka.

“Lebih baik lo ga usah ketemu lagi sama dia. Buat apa ketemu cowo yang ga pernah mau memperjuangkan cinta sama lo. Kalau dia cinta pasti dia ga khianat lo dengan ciuman murahannya sama cewe kampusnya. Lagipula masih ada Juna, kan?” Tara mengerling nakal menggoda Hani. Perempuan itu mencelos tiba-tiba kakaknya menyebut Juna.

Bahkan sama pria satu itu, Hani tak mau mengungkit perasaannya lagi dan tidak mau berharap lebih sama Juna. Lagipula dia udah punya calon istri.

Yah, kakak sama Juna lagi. Dia kan udah punya calon bini. Gue juga ga mau rebut punya orang, walaupun dia sahabat gue. Ga enak.”

Walaupun sebenarnya gue pengen Juna jadi milik gue juga, kak,’ ucapnya dalam hati. Tara tersenyum penuh arti, dia tahu maksud perkataan Hani. Seenggannya dia mengakui perasaan sebenarnya tapi itulah yang tersirat dari raut wajah sendu Hani. Beriringan dengan pikiran Tara, mobil mereka sudah masuk ke dalam halaman rumah dengan gerbang sudah ditutup oleh penjaga rumah.

**

Menginjak hari ketiga tepat di hari Senin sudah kembali dengan rutinitas seperti biasa. Tara baru pulang menjelang malam ini, beruntung pekerjaannya di hari ini terbilang santai tidak ada satupun yang kurang. Bahkan ia senang kali ini, pekerjaannya berjalan lancar. Setelah kunjungannya di Bandung beberapa waktu lalu, hasil dari kunjungannya juga sudah diberikan produser.

Kaki panjang Tara melangkah memasuki teras rumah. Kedua mata coklatnya menatap sosok asing yang kini duduk di bangku teras rumahnya. Ia menapaki jalan setapak kecil di  halaman rumah. Hingga kini ia berdiri tak jauh dari sosok pria yang nyaris ia tak kenali. Pria itu berdiri menunduk sedetik itu mengulurkan tangannya.

“Selamat malam, saya Reza,” tukas pria bernama Reza ini. Baru datang ke rumah Tara dan Hani, Pria tersebut langsung melancarkan aksinya. Bukan ini rencana Reza agar bisa bertemu dengan Hani. Baru saja beberapa hari lalu Tara mendengar cerita cintanya Hani yang kandas begitu saja karena ulah bejat Reza.

‘ Jadi ini yang namanya Reza’ pikir Tara dalam hati.

Reza agak kikuk sampai pria yang jelas kakak Hani ini menjabat tangannya. “Gue Tara. Mau cari Hani, yah?”

“I –iya, saya cari Hani. Kata Ibunya bisa tunggu beberapa menit lagi dia bakal pulang.”

Tara tersenyum miring. Begitu jujurnya Linda, mama Hani dan Tara bilang seperti itu. Ia juga lupa beliau tidak tahu status hubungan anak perempuannya dengan pria di hadapannya sekarang.

“Maaf sebelumnya, tapi Hani tadi sore bilang ada urusan mendadak yang harus diselesaikan. Mungkin akan pulang larut malam,” jelas Tara setengah berbohong.

Satu, Hani memang tengah menyelesaikan urusan kantornya. Faisal lagi-lagi menahan kepulangan Hani ke rumah. Setengah kesal adiknya itu mengeluhkan hal itu. Kedua, beruntungnya Hani tidak perlu melihat kedatangan Reza. Cukup Tara saja yang menghalangi pertemuan adiknya dengan pria bejat ini. Jadi Tara punya alasan buat mengusir Reza secara halus.

**

Tidak kehabisan akal, Reza akhirnya pergi ke tempat kantor Hani. Reza sudah berada di kantor, mobilnya terparkir di pinggir jalan. Pria itu melangkah pelan melihat kantor mantan kekasihnya itu tampak lengang.

Menunggu diluar cukup lama, hingga ia menemukan Hani keluar dari lobby kantor berjalan keluar melewati pintu utama. Sampai ia menyadari ada seseorang menghampirinya tergesa-gesa. Meraih pergelangan tangannya.

“Han,” serunya seakan tak mau kehilangan Hani. Karena Reza tahu wanita itu akan kabur melihat sosoknya yang kini nekat pulang ke Indonesia menyusul dirinya. Mata kecil Hani membesar mendapati tangan besar Reza melingkar dan menahan gerakannya. Saat ini juga, dia ingin lenyap di hadapan pria brengsek itu.

“Reza, lepasin. Kita udah ga ada urusan lagi, oke !”

Hani berusaha menarik tangan kirinya, tapi Reza masih menahannya. “Ga bisa. Kita perlu bicara. Aku udah jauh-jauh nyusul kamu ke sini.”

“Aku ga minta kamu buat nyamperin aku ke Indonesia. Kamu aja yang bodoh pulang ke Indonesia.” Reza tersenyum kaku mendengar penuturan Hani. Wanita di depannya selalu bisa mengeluarkan kata-kata diluar dugaannya. Itu yang Reza suka dari Hani.

“Iya, aku bodoh bisa suka dan cinta sama aku. Kamu harus bertanggung jawab buat nenangin perasaan aku yang kalut.”

Reza menarik tangan Hani kasar menuju mobilnya yang masih terparkir. Hingga teriakan menggema di sekitar gedung kantor yang mulai lengang. “Hey, lepasin tangannya.”

Hani melirik sosok pria yang berdiri di pelataran kantornya. ‘Faisal, tolong gue,’ mohonnya dalam hati. Reza berdecih, langsung mengabaikan teriakan larangan untuk dirinya karena membawa perempuan tanpa seizin siapapun.

“Saya bilang berhenti !” teriak Faisal. Kebetulan sekali dia belum pulang lebih dulu. Setelah menerima hasil proposal milik Hani, dia masih berkutat di ruangannya. Ia pikir Hani sudah pulang dengan aman. Ternyata ada berandal –sebut saja seperti itu yang menarik tangan wanita pujaannya diam-diam.

“Maaf, ini ga ada hubungannya dengan anda. Saya ada urusan dengan wanita ini.” Faisal menghela napas menarik tangan Hani dan bergantian dia yang mengenggamnya.

“Ini menjadi urusan saya. Karena dia karyawan saya, bawahan saya, dan ini masih di dalam lingkungan kantor. Saya pun berkewajiban membuat karyawan saya bisa berangkat dan pulang dari kantor dengan aman,” jelas Faisal penuh penekanan. Reza memijat keningnya. Ia rasa susah sekali menemui wanita yang masih ia anggap kekasihnya ini. Salah satunya, kakak Hani –Tara, Reza tahu pria itu benar tentang Hani yang masih berada di kantor. Tapi ia tahu niat Tara sekaligus ingin menjauhi jarak antara dia dengan Hani.

Sekarang, pria di hadapannya kini bilang kalau dia atasan yang punya rasa tanggung jawab besar terhadap karyawannya. Baru kali ini, dia menemui atasan yang protektif dengan salah satu karyawannya sendiri.

“Apa yang dia bilang benar?”

“…”

“Hani, kamu dengan pertanyaanku,” sahut Reza di sela kepanikan yang melanda Hani. Wanita berambut sebahu ini mengangguk pelan. Untuk malam ini, harapan Reza agar bisa meluruskan kejadian yang lalu dengan Hani harus tertahan oleh orang-orang yang menghalanginya. Sementara dia akan mundur, ingatkan Reza untuk bisa bergerak lagi mendekati Hani.

“Baik, aku ga akan mengganggumu untuk saat ini. Tapi kumohon kita perlu bicara, luangkan waktu untuk kita sebentar saja, Han. Aku akan menghubungimu lagi,” pinta Reza dengan sedikit senyuman pada wanitanya, serta melempar tatapan tajam pada Faisal yang masih memandang datar pria tidak dikenalinya ini pergi menghilang dari pandangan mereka berdua.

“Pak, bisa lepasin tangannya,” ucap Hani. Faisal langsung melepas genggamannya tersadar dari sosok Reza yang sudah benar-benar tidak ada.

“Kamu saya antar pulang saja, tidak baik pulang sendiri. Apalagi soal pria tadi, saya rasa dia masih mengikuti kamu,” titah Faisal melirik Hani sejenak. Wanita itu berpikir sebentar. Apa ia harus mengikuti perkataan bosnya sendiri? Jelas saja tadi mereka berdua adu argument soal hasil proposal team yang diajukan Hani. Sekarang dengan mudahnya Faisal mengajaknya pulang bersama.

“Gimana ? Mau saya antar pulang atau pulang sendiri? Tetap saya akan memaksa kamu agar saya antarkan pulang.”

Faisal menarik tangan Hani ke pelataran parkit kantor, tempat mobil Faisal terparkir. Hani masih terdiam, jelas saja dia masih syok dengan kejadian tadi. Reza serius nekat menemuinya. Apa kata Tara nanti kalau dia bercerita soal ini? Dia pasti marah-marah seolah ingin menelan pria itu hidup-hidup?

“Kamu kenapa?”

“Eh.” Hani tersadar dia daritadi mengikuti Faisal. Pria tersebut membukakan pintu untuknya dan Hani menuruti dengan masuk ke dalam mobil hitam milik bosnya.

“Saya rasa, kamu harus menjauhi pria tersebut kalau memang ada masalah dengannya.”

“Bapak ga usah ngatur saya. Saya tahu harus bertindak macam apa.”

“Kalau begitu jauhi dia. Saya ga suka lihat kamu diperlakukan seperti tadi.”

Faisal langsung menarik pedal gas tanpa sadar bahwa Hani berusaha mengatur degup jantungnya mendengar perkataan Faisal barusan. Apa mungkin Hani suka sama bosnya sendiri ? Ga mungkin.

Bersambung.

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s