Kepercayaan


Satu ruang ini, aku duduk terdiam tanpa melakukan apapun. Mataku nyalang menatap sekitarku. Warna putih mendominasi seluruh ruangan ini. Jelas sekali sekarang aku masuk kembali ke dimensi duniaku sendiri. 

Hey, apa kabar dirimu? Maksudku diriku sendiri?” tanyanya agak kikuk menyadari wajah datar yang aku tampakkan di depan sosok diriku sendiri.

Dia tersenyum terpaksa melihatku menatapnya. Dia adalah diriku. Kami bertemu lagi. Sekarang aku jadi terbiasa dengan segalanya. Ketika aku hampir tertekan kami selalu bertemu.

“Aku merasa jenuh, kau tahu, aku penat dengan semua ini.” Sosok bayangan disebelahku mengangguk pelan sambil bergumam.

“Kau masih memikirkan soal waktu itu? Yah, aku tidak kaget lagi. Tapi kamu memang keras kepala sekali. Jelas-jelas semua ada jalan keluar. Tapi kau memilih bertahan,” ujarnya menyindirku. Mataku mendelik sebal. Aku kemari bukan ingin mendengar apapun darinya apalagi dia menyindirku terang-terangan begini.

“Kau yang membuatku keras kepala. Tapi aku sudah membuat pilihan di pikiranku juga untuk bertahan atau membuat pilihan lain. Jangan kau kira ini akan selesai. Karena aku masih memikirkan apa yang aku dapat nantinya.”

Diriku sendiri berdecih tak percaya ucapanku, layaknya seorang pengecut. Karena aku tak bisa memilih sesuatu dengan pasti, otomatis aku akan mendapati resiko yang dihadapi lebih lama lagi. Aku menggeleng tak mau mengakuinya.

“Kau masih saja naif dan terlalu betah di comfort zone. Aku sendiri tak habis pikir tentang jalan pikiranmu. Pertama, aku sudah membuatmu menjadi jenuh jika hatimu tak berkenan. Kedua, aku memikirkan alternatif pilihan lainnya, bisa bertahan atau kau pilih yang ada diluaran sana. Ketiga, tentu ini pilihanmu sendiri, keputusanmu sendiri. Karena semakin aku membayangimu, semakin kau tambah tertekan. Aku hanya sebagian dari dirimu, watakmu, sikapmu.

Mari kita bekerja sama. Kita pasti bisa membuat keadaan menjadi lebih baik,” jelas dirinya. Helaan napas terdengar. Kepalaku masih tertunduk tanpa menatap ‘Bagian diriku‘ ini.

Terkadang ia bisa lebih dewasa, tapi juga dengan egoku dia mengalah dari pilihan yang ada. Aku suka menyesal tak mau mendengar suaranya, suara hatiku sendiri. Namun aku sudah berpikir matang akan hal ini.

“Boleh aku membuat permintaan?”

“Apa? Katakanlah,” tanyanya penasaran.

“Kau bisa buat aku percaya diri? Yah, semacam percaya aku bisa melakukan yang terbaik dan membuat orang segan padamu.”

“Bukankah aku sudah melakukannya? Tapi jangan pikir aku menjadikanmu karena hal lain. Lebih kepada percaya diri inilah kau yang sebenarnya, inilah kemampuanmu, dan inilah lingkungan yang membuat kau bisa kuat. Tidak buruk, dan juga tidak terlalu baik untuk bertahan. Coba sekarang bertahan tetap melakukan yang terbaik. Ubah yang masih kurang dari dirimu. Percayalah, aku bisa jadikan kamu lebih percaya diri, terpenting percaya padaku, percaya pada ‘bagian diri‘ mu sendiri.”

Sosok di sebelahku perlahan menghilang. Dia selalu seperti itu setelah mengucapkan petuahnya. Aku terkadang tersenyum tak percaya, aku bisa berpikir dewasa dengannya. Dengan diriku sendiri.

“Terima kasih untuk kepercayaanmu.”

fin.

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s