Bukan Milikku – Bermula


Bab 1

Prev : Bukan Milikku – Prolog  

 

Kadang kala seseorang juga selalu mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Melebihi orang lain. Perasaannya lebih penting untuk dipenuhi dibanding orang disekitarnya.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Reza baru saja tiba di Jakarta tepat saat hujan berhenti turun. Pria itu menyeret koper, matanya berpencar mengedarkan pandangan mencari tumpangan –lebih tepatnya kendaraan umum. Taksi memang paling tepat mengantarnya sampai rumah. Karena hanya mobil itulah yang hanya ada di Bandara Soekarno-Hatta.

Sekali dapat,dia merangsek masuk setelah menyetop taksi, menyebut satu tempat yang dituju. Pastinya hanya satu rumah tinggal peninggalan orang tuanya. Sejak lama ia tinggal di Jepang sendiri. Kakak perempuannya, Linda sudah berkeluarga bertempat tinggal di daerah Bogor.

“Hah.”

Suara helaan napas terdekat sesaat matanya melihat layar ponselnya masih terpasang. Dirinya bersama Hani. Bibirnya tersenyum masam menatap lamat foto dirinya bersama perempuan yang masih ia cintai. Sekejap, Reza langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket kesayangannya.

Di tempat dan waktu berbeda…

“Lo seharusnya bisa nempatin disini, terus disini lagi. terus coba kata-katanya lebih kuat lagi. Kalau cuman begitu sih gue juga bisa, minimal bisa ngajak konsumen yang liat tuh tertarik buat baca,” jelasnya. Suara pria itu begitu percaya diri di briefing kecil yang sudah berlangsung setengah jam selesai.

“Oke, sekarang balik ke meja masing-masing.”

Semua orang di ruangan itu mengangguk mengerti. Hani ada diantaranya bersama dengan Sinta, teman sekantornya kini. Sudah sebulan lebih dia bekerja di salah satu perusahaan branding di Jakarta. Setelah diceramahi habis-habisan, dia mau langsung makan siang saja.

Tangan Hani menarik tangan Sinta ke luar ruang kantor tanpa memerdulikan tatapan aneh seseorang. “Heh, kamu mau kemana? Nanti dimarahin Pak Faisal, loh,” cegahnya setengah bercanda.

Sinta tahu, teman kantor barunya ini sedang kesal. Sejak dijelaskan dari awal sampai akhir yang tidak mengasyikkan, Hani memasang muka sok serius. Setelah atasan mereka itu keluar dengan rekan lainnya. Hani sudah menekuk wajah sebalnya.

“Bodo amat. Aku bete sama pria rese macam Faisal. Sumpah betein banget. Malu-maluin aku aja. Sekarang temeni aku makan aja. Udah makan siang ini, kan?” Sinta mengedikkan bahunya tanda tak tahu. Sekarang memang sudah jam setengah dua belas. Tapi masih setengah jam lagi. Orang-orang kantor juga belum ada yang keluar.

“Baiklah, tapi kalo Pak Faisal nongol, aku ga mau tahu,loh.

Hani tak menatap Sinta lagi, dia sibuk memesan makanan kesukaannya, nasi kuning komplit ala Mang Ade. “Mang, Dua porsi Nasi Kuning, yah.

“Siap, ditunggu. Duduk dulu, neng.”

Hani masuk ke dalam warung kecil Mang Ade. Wanita ini sangat senang sekali menghabiskan makan siangnya dengan Nasi Kuning andalan pria paruh baya yang konon sudah tiga puluh lima tahun berjualan di sekitaran kantor Hani. Sudah sebulan juga dia bekerja di tempat ini. Suasana baru, sekaligus agak menyebalkan. Ketemu atasan super bikin dia terkadang kesal setengah mati.

“Biarin ajah. Lagian jadi orang ngeselin. Untungnya masih banyak yang patuh, kalau engga, udah ada aja yang kabur nanti,” keluhnya. Sinta duduk dihadapannya hanya terdiam dengan muka setengah takut. Hani melirik wajah Sinta, mengucapkan kata ‘Kenapa?’

“Siapa yang bakal kabur, Nona Hanika?”

Suara laki-laki sangat dikenal mereka begitu dekat. Kedua orang ini serentak melihat siapa gerangan. Siapa lagi kalau bukan, Faisal. Hani sedikit menjauh, tingkah lakunya jadi kaku setelah menyadari Junior Supervisor mereka datang.

Pria muda ini terkenal tegas, padahal sebenarnya dia seseorang yang sangat lembut kalau sudah mengenal dekat dengannya. Faisal Prambudi, itu nama lengkapnya. Ia Junior Supervisor muda memiliki masa depan yang cerah. Sayangnya, belum ada wanita yang berhasil mengalihkan dunia seorang Supervisor muda ini.

Rambut hitam rapi mulai memanjang di sisi kiri wajahnya. Sebut saja dia pria rapi dan bersih. Tampaknya Faisal harus memotong rambutnya kini. Kedua mata elangnya menatap Hani masih tak buka suara setelah berkeluh kesah. Setelah dia tiba-tiba datang tak diundang, Faisal duduk dan melihat Sinta tersenyum penuh arti.

“Kalian membicarakan saya?”

“Ti –dak, pak. Saya hanya bicara soal pekerjaan tadi, kok. Bapak kan tahu sendiri, saya tadi banyak kesalahan waktu buat sesi promosi buat satu branding.

Faisal hanya mengangguk, selintas terpikir olehnya untuk mengerjai wanita di sebelahnya. Sinta tahu dengan pasti apa yang ada dipikiran Faisalnya. Jangan salah, Kedua orang ini sudah mengenal satu sama lain. Sinta pun  juga tahu kalau pria didepannya ini diam-diam menyukai Hani.

“Nanti pulang kantor, kamu menghadap ke ruangan saya. Ada yang mau saya beritahu. Jangan lupa, Nona Hanika.”

Hani melongo mendengar perintah dari Faisal. Dia sedikit tidak percaya, atasannya ini dengan suka rela datang panas-panas ke kantin belakang kantor langsung memberikan titah sepihak untuk datang ke ruangannya. “Saya balik duluan.”

“Baik, pak,” sahut Sinta masih memasang senyum yang mengundang tandatanya. Hani memasang pandangan penuh selidik. “Kenapa kamu senyam-senyum ga jelas?”

“Tidak ada apa-apa. Memang aku tidak boleh senyum sendiri,” jawab Sinta sekenanya.

“Kayak orang gila, tahu.” Hani cemberut –lagi.

Seperti akan masuk kadang macan saja. Pikirannya jadi kacau setengah mati. Saat itu juga, bak penolong –Mang Ade sudah membawa nampan berisi dua porsi nasi kuning, tak lupa es teh manis segar. Sinta menyambut dengan senang hati pura-pura tak menyadari kegusaran Hani. Dia sangat tahu Hani tidak terlalu menyukai jika Faisal –panggilan akrabnya ini menyuruh teman sekantornya ke dalam ruangan.

Tak dipungkiri, sudah jadi rahasia umum kalau Faisal seumuran dengan Sinta, juga tak jauh berbeda dengan umur Hani. Hanya satu tahun di atasnya. Seketika mengingat hal itu, Hani jadi malas berhadapan sama orang yang sebenarnya tidak berbeda jauh umur dengannya.

“Udahlah, mending kamu makan dulu. Baru mikirin gimana  nanti Pak Faisal manggil kamu.”

Tawa Sinta sedikit meledek mengundang delik mata Hani tajam. Sejurus kemudian, tangannya meraih sendok mencolek setengah sendok sambal di pinggiran piringnya, lantas diberikannya ke Sinta. Karena wanita itu tidak suka makanan terlalu pedas.

“Eh !! Apa-apaan ini. Aku kan ga suka pedas.”

Hani menjulurkan lidah, mulai suapan pertama makan siang ke mulutnya. Sinta menghembuskan napasnya. Niat mau meledek Hani, dia yang kena getahnya.

“Biarin aja.” Sekarang Hani yang tertawa lebih keras dari Sinta. Satu lawan satu diantara mereka hari ini.

***

Seorang lelaki itu tengah duduk di bangku taman. Sejenak setelah berurusan dengan pekerjaannya di Studio sengaja pergi menyendiri, menghindari ajakan teman-temannya untuk makan bersama. Angin semilir menggoyangkan sedikiti rambutnya yang mulai memanjang. Kamera yang selalu dbawanya sengaja ditinggalkan.

Reza –nama pria itu merogoh smartphone miliknya. Beberapa pesan masuk padanya. Bukan dari Hani, tapi dari pekerjaannya. Ia sudah dapat job menarik di satu – dua perusahaan majalah yang meliriknya. Bersyukur namanya sudah dikenal walau hanya segelintir saja.

Tiba-tiba matanya menatap sosok di depannya. Itu Linda, kakaknya. Dia sengaja datang menemuinya. Hampir lupa kalau Reza masih memiliki sosok kakak perempuan kesayangannya. Namun seringkali dia terkadang lupa dengan wanita penyayang dirinya.

“Lo ga kerumah lagi?”

Reza menggeleng pelan sambil tersenyum samar. Linda menatap wajah adiknya prihatin. Keadaan hati adiknya masih kalut. Pria macam ini bisa terlihat rapuh karena satu wanita –lagi.

“Masih mikirin kejadian yang lalu?” tanya Linda terus terang. Dia tidak akan mendesak Reza untuk bilang sesuatu padanya, Reza menggeleng lemah. Linda melirik sebentar lalu menatap lapangan kosong. Taman ini seakan tahu mereka berdua butuh bicara serius saat ini.

“Tidak untuk saat ini gue memikirkan dia. Rasanya otak gue dipenuhi Hani. Benar saja efek dia sangat mengganggu perasaan gue, kak.”

“Langsung saja. Gue ga mau panjang lebar. Mungkin ini agak berlebihan. Tapi gue ingin lo bisa melupakannya sebentar saja. Dia belum bisa jadi wanita terbaik buat lo, Za.”

***

Dirumah yang tentram.

Pria itu masih membereskan pakaiannya. Dia terlihat akan pergi ke suatu tempat. Seketika sosok kepala mengintip dari balik pintu kamar pria tersebut.

“Tara ! Kau mau pergi kemana?” tanya kepala yang masih melongok dari luar kamar pria bernama Tara tersenyum penuh arti. Seingatnya kejadian ini terulang kembali saat mereka kecil dulu. Hani selalu ingin tahu kemana Tara akan pergi. Lebih-lebih adik perempuannya ini pasti berniat mengikutinya kalau Tara pergi jauh. Kali ini tidak lagi, mereka sudah sama-sama dewasa.

“Gue mau ke Bandung ada syuting, tahu sendiri sebagai Scriptwriter, gue juga harus ikut wara-wiri walaupun beberapa kali aja sih,” jawabnya santai.

Hani sudah masuk dan duduk di samping koper Tara. Sepasang mata lentiknya penuh selidik meratapi kepergian Tara yang hanya beberapa hari saja.

“Gak lama kan?”

Tara memutar bola matanya, sifat ‘ingin tahu’ adiknya mulai timbul. “Engga kok. Paling semingguan.”

Yah, itu sih lumayan lama. Padahal gue mau ajakin makan sushi.

Lihatkan, gimana Hani bisa memberikan tawaran menggiurkan seperti ini. Tara mudah tergoda sama yang namanya masakan Jepang terutama Sushi. Sogokan Hani pasti ada apa-apanya.

“Pasti lo ada maunya,” sergah Tara to the point. Giliran Hani tersenyum penuh arti.

“Lo emang kakak terbaik. Kalau begitu sampai ketemu seminggu kedepan. Atau kalau bisa kepulangan lo boleh dipercepat, supaya gue ga lupa dengan tawaran gue ini.”

Hani langsung pergi. Tara susah menimbang kalau berhadapan dengan makanan kesukaannya. Dia hanya menggaruk tengkuknya sendiri, memilih pergi atau tidak.

Okay, tunggu gue lima hari, Han !” pekiknya kencang. Hani tentu mendengarnya.

“Siap, Bos !” teriak Hani.

Hingga terdengar suara Ibu mereka, “Hani, Tara, jangan teriak malam-malam.” Kedua anaknya hanya menahan tawa akibat perbuatan anak kecil mereka berdua. Hani berguling di atas kasurnya sampai memainkan smartphone. Di ruang kamar lainnya, Tara tersenyum lebar sambil bersiul pelan tanpa terdengar oleh Ibunya.

Hanika’s Sistsweet : ‘Sampai bertemu lima hari ke depan. Gue akan bawa lo ke suatu tempat sambil ngobrol cantik, Mr. Tara.’

***

“Sebenarnya bukan itu yang gue maksud. Pasti lo ngerti artinya kan. Tanpa perlu gue kasih tahu pun seharusnya lo ngeh. Ga usah gue suapin mulu setiap buat konsep. Ngerti ga?” cuap Faisal kepada Hani hanya mengangguk setengah kesal.

Satu konsep hari ini memberi dia satu poin kalau Faisal, Junior Supervisor –nya bisa jadi sosok super menyebalkan yang sok idealis. Sekarang juga rasanya mau ia musnahkan. Kalau perlu disembur pakai api mulutnya ini, semacam naga api. Imajinasi Hani jadi melayang kemana-mana.

“Han, lo ngerti kan?” Hani menengadahkan kepala melihat Faisal di hadapannya. Mereka kini cuman berdua. Kebetulan wanita ini ketua tim untuk menyelesaikan materi konsep untuk iklan klien mereka berikutnya.

Awal pagi ini, Hani sudah melaporkan hasil discuss-nya dari para rekan kerjanya. Tapi pria di depannya kini buat mood-nya buruk –lagi. Dendam kesumatnya makin bertambah. Ia mengangguk paham. Ya, dia paham sekali.

Yes, anda bisa mengandalkan saya, pak,” ujar Hani sesopan mungkin.

“Baiklah, kalau gitu. Besok pagi coba kumpulin lagi untuk revisi hari ini. Kita sudah dikejar deadline sama klien.”

Hani melebarkan kedua mata kecilnya. Saat itu juga Faisal ingin tertawa. Wanita ini sangat lugas mengekspresikan perasaannya. Itulah kenapa dia tergoda untuk selalu berinteraksi dengan Hani.

“Besok? Ga salah, pak? Kita kan baru buat tiga hari belakangan ini. Kenapa harus secepat itu. Gil –”

“Kamu jangan banyak mengeluh, Nona Hanika. Kerjakan saja apa yang saya mau tadi. Saya percaya kamu bisa membimbing rekan kerjamu untuk kerja cepat. Lagipula ada Sinta, kan.”

Faisal langsung berdiri, hendak keluar ruangan. Padahal Hani masih banyak pertanyaan kenapa deadline kerjaannya bisa dipercepat dua hari dari yang ditentukan, “Tapi, pak kita kan baru jalan tiga hari. Ga adil, dong.”

“Itu resikonya. Cepat kerjakan atau kita ga dapet bonus lagi. Kalau begitu saya permisi.”

Faisal beranjak pergi dan menutup pintu ruang rapat. Dia tidak benar-benar pergi, matanya masih melirik ke dalam ruangan dimana Hani menutup wajahnya, lantas mengacak poni rambutnya asal. “Lama-lama gue bisa gila,” keluh Hani tanpa terdengar dari luar.

***

Hani masih duduk termangu setelah pulang kerja sejam yang lalu. Sekarang tinggal menunggu seseorang datang menjemputnya.

“Hani !!”

Seorang pria datang melambaikan tangannya, Hani melirik tapi tak bersemangat membalas lambaian tangan sosok yang sangat ia kenal ini. “Kusut banget kaya kemeja lecek. Kenapa lo?”

“Gue lagi males bahas, mending anter gue pulang, Jun,” jawab Hani berdiri dan langsung berjalan meninggalkan Juna yang baru saja menghempaskan tubuhnya di bangku. Pria itu menggelengkan kepala, ia rasa mood sahabatnya lagi memburuk.

“Pasti gara-gara bos sialan lo itu,yah?” tanya Juna hati-hati setelah mereka sudah berada dalam mobil berjalan keluar restoran tempat Hani makan malam sendiri.

Awalnya pria itu mau menemani cepat-cepat setelah Hani menghubunginya saat masih makan malam. Tapi Hani menolak dan meminta menjemputnya ketika ia sudah dikabari untuk segera datang ke restoran.

“Ya, begitulah. Bos sinting ga tahu diri. Lama-lama gue pengen cekik lehernya.”

Juna tertawa memecahkan emosi Hani makin lama makin menjadi. Pria itu sengaja mencairkan suasana. Ia tahu betapa mengerikan wanita disebelahnya kini kalau sedang marah.

Calm down. Gue tahu lo lagi kesel. Lebih baik lo tidur dan berhubung besok weekend gimana kalau kita bisa main bareng Tara, kebetulan gue mau ajak cewek yang pernah gue omongin.”

Hani menatap Juna lantas memutusnya kembali jatuh pada suasana jalan yang cukup ramai menjelang akhir pekan.

“Ga usah, Jun. Besok gue masih masuk, jangan ajak-ajak pergi kemanapun,” ceramah Hani.

Beberapa menit tanpa ada yang buka suara akhirnya rumah Hani terlihat. Gadis itu turun dan menutup pintu mobil Juna. Pria itu menurunkan kaca jendala mobil menatap wajah kesal Hani. Ia tersenyum agar bisa membuat Hani lebih baik perasaannya. Juna tahu Hani sangat lemah kalau lihat dirinya tersenyum .

“Jangan senyum ga jelas, deh,” ujarnya nada menggerutu sambil menampakkan senyum malu-malu masih dengan suara jengkelnya.

“Gue tahu lo pasti ga kuat lihat gue senyum. Ayo, dong. Jangan cemberut mulu. Tidur sana biar besok badan lo segeran.”

Hani mengangguk patuh. Wanita itu tahu dia tidak bisa menolak nasihat Juna yang memang benar adanya. Dengan tidur, itu justru membuat hatinya lebih baik dan tubuhnya lebih bugar lagi. Juna tahu segala hal tentangnya. Bahkan melebihi sepasang kekasih sekalipun.

***

Bersambung. 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Bukan Milikku – Bermula

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s