‘Sister-Brother’ ship


                               © pinterest

Ikatan kakak-adik bukan hanya sekedar cap saja. Tapi aku ingin mencoba untuk jadi kakak yang baik dan bisa melindungi adiknya. Terdengar berlebihan namun inilah aku. Seorang kakak yang berusaha menciptakan hubungan kakak-adik yang harmonis. Bukan sekedar status melainkan menjadi kebutuhan  juga kasih sayang terjadi antara keduanya dalam keluarga.

Ini bukan cinta dan kasih sayang antar pasangan. Aku bisa membedakan hal itu. Karena Ayah dan Ibu mengajarkan untuk menjaga setiap anggota keluarga yang kamu sayangi, serta hanya adikkulah memiliki hubungan keluarga sedarah, sekandung.

Aku masih mengusap wajahnya dengan handuk kecil. Jisoo masih menggigil. Wajah lelah nampak jelas. Semalam ia baru pulang jam dua belas malam. Tiba di rumah, dia hampir ambruk. Untunglah aku membuka pintu dan langsung menangkap bahunya. Segera aku bawa adikku ini langsung ke kamarnya sambil mengomel tak jelas pada Jisoo.

Tanpa rasa malu, aku langsung membuka jaket serta kaos yang dikenakannya. Hey, aku sedang memerankan sebagai kakak baik. Tapi inilah sikapku sangat-sangat perhatian.

Kembali ke Jisoo, kedua matanya memejam sesekali bibirnya bergetar. Kalau diingatkan, aku dan Jisoo sengaja tinggal berdua tanpa ada Ayah dan Ibu. Kami sengaja berpisah rumah. Khususnya untuk memudahkan aku dan Adikku dalam pekerjaan dan kuliah –ini untuk Jisoo.

Sekarang aku  mau coba menghubungi Ayah. Tanganku  merogoh ponsel yang ada di kantung celana. Menyentuh ikon panggilan pada kontak Ayah. Lantas mengarahkan ponsel ini ke telingaku.

Sayangnya sebelum benar-benar menempel ke telinga kananku, Jisoo sudah menghentikan gerakanku. Wajahnya memelas dan dia sejak tadi pasti memperhatikan gerak-gerikku.

“Jangan panggil ayah, kumohon. Aku hanya mau dirawat Nuna saja., ya?” tanyanya dengan suara parau. Aku menghela napas kasar meletakkan ponselku di meja nakas bersebelahan dengan tempat tidur Jisoo.

“Oke, aku akan mengurusmu. Lihatlah, aku seperti sedang  mengurus bayi kalau kau sakit begini.”

Aku membetulkan bantal di bawah kepala Jisoo.  Tiba-tiba sepasang tangan terulur memeluk pinggangku. Hingga aku terjatuh di atas Jisoo. Remaja tanggung dibawahku memeluk pinggangku erat.

Gomawo, Nuna. Selama ini kau mengurusku. Jangan bosan-bosan yah ?”

“Baiklah, aku mengerti. Sekarang lepaskan pelukanmu. Aku akan ambilkan bubur untukmu.”

Jisoo mengerti. Dia tengah sakit begini sifat manjanya pasti muncul. Aku mengacak-acak rambut tebalnya.

“Aku ke dapur dulu,” ujarku sambil berjalan keluar kamar.

Nuna !” pekik Jisoo masih dengan suara seraknya. Bola mataku berputar beralih menatap Jisoo –lagi.

Wae?

Langsung saja aku melihat Jisoo menunjukkan tanda ‘love’ dengan jarinya pelan, “Nuna, saranghae.”

“Babo.” Aku keluar kamar dengan tersenyum malu. Tentu saja, dia adik yang jarang menunjukkan rasa sayang pada kakaknya.

 Nado saranghae, Choi Jisoo

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s