Ucapan Terakhir


 

                     photo © wattpad

Cast : Johnny & Jineul (OC)

Titik senja di ufuk barat mulai muncul, tubuh ini masih mondar-mandir tak jelas melirik ke teras rumah. Aku masih menunggu adikku Ya, sejak tadi pagi ia belum pulang. Bilangnya ada pekerjaan yang belum bisa ia tinggalkan tapi hari-hari sebelumnya ia selalu pulang telat.

Dia lelaki tapi aku tak suka kalau adikku pulang malam. Anggaplah aku kakak yang protektif, tapi aku sangat menyayanginya. Dia adikku satu-satunya. Aku jadi terlalu khawatir sendiri.

Seketika kaki terpaku saat Jisoo sudah datang dan satu orang lain menemaninya. Itu Johnny. Laki-laki itu yang ingin aku hindari setelah kejadian kemarin. Otakku berpikir untuk sejenak menjauhinya.

“Jisoo-ya, kau sudah pulang,” seruku menghampiri adik laki-lakiku. Wajahnya tersenyum sumringah takut aku marah. Tidak mungkin aku marah pada adikku sendiri. Aku menarik tangan adikku untuk cepat masuk.

“Ayo, kau mandi, aku sudah siapkan makan malam.”

“Tapi Johnny hyung,” ujar Jisoo menunjukkan Johnny yang masih terpaku beberapa langkah dariku. Mukaku berpaling menatap sosok Johnny. Raut wajahnya seakan ingin meminta maaf .

“Sudahlah, aku mau mengurus makan malam kita –lagi.”

Nuna !”

Seruan itu berasal dari Johnny. Dia memanggilku tanda ia ingin menyadariku bahwa ada dia disini antara aku dan Jisoo. Kehadirannya sengaja tidak aku acuhkan. Percuma aku melihatnya yang ada aku hanya mau menjauhinya saja.

“Aku mandi dulu. Johnny hyung masuk saja ke dalam nanti.”

Jisoo pergi meninggalkan kami ke dalam rumah. Napas kasar terdengar, ya aku tertangkap basah sengaja menjauh dari Johnny.

“Ya, masuklah. Kita makan bersama di dalam,” ujarku membuat senyum semanis mungkin. Johnny masih memasang wajah datar tanpa melupakan mata tajamnya ke arahku. Tanda jika ia serius ingin berbicara denganku.

Nuna kau marah padaku? Yesung hyung sudah menceritakan semua. Aku minta maaf kalau aku berbuat lancang mengenai masalah kemarin. Kejahilanku mengundang cemburu dari Yesung hyung. Satu sisi aku sangat senang menggoda Yesung hyung hingga seperti ini. Tapi satu sisi aku juga takut hubungan kalian terganggu. Meskipun aku selalu bilang aku dengan kau hanya sebagai kakak-adik. Ya, banyak yang bilang hubungan semacam itu tidak lama dan aku mengakuinya –”

“Maksudmu? Bicara dengan jelas, Seo Youngho.”

Kata terakhirku menekan tanda aku tidak mau pembicaraan ini bertele-tele.

“Aku menyukaimu, nuna.”

Aku melongo tak percaya. Ini yang aku takutkan. Dia mengucapkannya juga. Rasa penasaranku terjawab. Tapi ini bukan waktu yang tepat. Aku mengucap wajahku dengan satu tangan, langsung melirik ke arahnya.

“ Sudahlah, John. Lebih baik kau pulang. Besok pasti kau masih ada siaran radio lagi bersama Jaehyun, kan?”

Langkah kakiku bergerak hendak memasuki rumah. Tiba-tiba tubuhku terhuyung menyadari Johnny menarik tangan kananku. Pria ini memelukku kedalam dekapannya.

“Aku menyukaimu, menyayangimu, nuna. Tapi aku tahu diri karena kau memiliki Yesung hyung dan kalian pasti sebentar lagi akan menikah. Aku janji tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi. sejujurnya aku hanya ingin mengucapkan ini tanpa berbicara lebih jauh.  Oke, sebentar lagi aku akan pulang, tapi aku mau nuna, berjanji padaku.”

Tanganku mendorong tubuhnya membuat pelukannya merenggang. Secara tidak langsung aku tidak mau Johnny mendengar degup jantungku. Hey, aku hanya kaget saja.

“Janji apa?”

“Janji kau tidak akan menjauhiku. Kita masih bisa berteman bukan? Walaupun aku tahu Yesung pasti membatasi pertemuan kita. Setidaknya kita masih bertemu meski tak sering.”

Aku menatap wajahnya. Paras tampannya semakin jelas terlihat. Bocah laki-laki yang dulu menjadi tetanggaku dulu kini beranjak dewasa. Ya, dia sudah jadi pria dewasa. Aku harap begitu.

“Baiklah, aku janji tapi aku rasa kita memang akan jarang bertemu. Melihat kau pasti akan jadi rookie sukses yang pasti punya banyak acara dimana-mana.” Johnny terdiam mendengar kata-kataku. Dia pasti merasa tertohok. Mau bagaimana lagi, aku harus terus terang mengatakannya.

Demi memperjelas hubungan kita. Aku tak mau diantara aku dengannya sakit hati. Kita hanya ‘kakak-adik’ bukan?

Okay, kau sudah berjanji, nuna. Sekiranya mungkin intensitas pertemuan kita tidak sering. Tapi perlu kau ketahui nuna, aku bangga dan akan terus menyukaimu walau dengan hubungan yang berbeda. Tunggu aku punya kekasih nanti, aku pasti mengenalkannya padamu.”

Bibirku tersenyum menyadari bahwa ucapannya memang tulus. boleh dibilang aku tipikal orang yang sangat tahu orang yang tulus maupun tidak. Kata Ayah, sifatku ini turun menurun darinya dan keluarga terdahulunya.

“Ya, aku tunggu kesuksesanmu dan juga kekasihmu.”

Johnny tersenyum lebar, tangannya terentang kembali, langsung memelukku –lagi. Tampaknya aku harus dibuat pusing dengan skinship yang dia buat. Bagaimana kalau Yesung melihatnya.

“Tentu, sekarang waktunya pulang. Lain kali aku makan malam dengan paman dan bibi juga. Selamat malam, nuna,” serunya.

Pria itu melepas pelukanku dan terakhir kalinya dia menepuk kedua bahuku sambil berkata, “aku menyayangimu, Jineul nuna.

Saat itu juga dia pergi dari rumahku tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Hatiku menjadi kosong setelah kepergiannya. Seketika itu juga, ponselku berbunyi, ada pesan masuk -dari Johnny.

‘Aahh, aku lega mengatakannya. Aku senang, kau tidak akan marah, nuna. Kata eomma benar, kau memang perempuan paling baik yang pernah dikenalnya. Aku harap kau tidak akan menjauhiku. Lihat aku sampai sukses nanti, Jineul nuna.’

Fin

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s