Bukan Milikku – [Prolog]


PROLOG

Awal tahun ini…

Jadi tahun baru Hanika untuk pulang ke Indonesia. Meninggalkan semua hal yang berada di Negeri Saukura tersebut. Ada rasa yang tertinggal di kota Tokyo. Tapi dia tidak mau terlalu menspan atnya lagi. Hanya 4eninggaspan sesak di dada. Langkah kakinya semakin mantap semenjak keluar dari pesawat.

Pelataran bandara ramai seperti biasa. Sepasang matanya melihat sekeliling sementara tangan Hani merogoh tas kecil guna mencari benda yang ia butuhkan sekarang. “Si abang belum jemput juga? Selalu seperti ini,” keluhnya membetulkan letak kacamata tanpa minus tersemat manis di wajah4ya

Smartphone miliknya di dekatkan ke telinga. Lantas mata coklatnya mengelilingi bandara. Seketika nada sambung berbunyi bersamaan dengan seorang laki-laki tinggi mendekatinya sambil tersenyum sumringah rasa bersalah melingkupi. Pria itu tahu bahwa Hani orang yang tidak suka kata ‘terlambat’.

“Lo telah lima menit lebih, Tuan Baskoro.”

Antara Yuda Baskoro –nama pria itu. Tangan sebelahnya menarik koper milik adiknya, Hani. Ia sudah berjanji ingin menjemput Hani pagi ini. Tapi bertepatan dengan akhir pekan. Jadi di sabtu ini ia bangun kesiangan. Setelah siap-siap, langsung Tara berangkat menuju Bandara.

“Maaf, Hani. Gue harus membereskan beberapa deadline semalam mumpung hari sabtu dan besok masih libur. Lo pasti tahu betapa abang lo ini sibuk sebagai seorang Scriptwriter.

Hani memutar bola matanya. Sedikit sebal tapi juga kasihan dengan kakaknya harus menjemput dirinya. Tapi itu kan janji pria di sebelahnya yang mau menjemputnya pulang dari Jepang. Ayah-Ibu sudah pulang lebih dulu dari jepang. Sedangkan Hani menyusul dua minggu ke depan. Karena harus mengurus beberapa keperluan setelah dia memutuskan keluar dari pekerjaannya yang dulu sebagai Copy Writer.

Tunggu ! tampaknya memang Tara dan juga Hani memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan menulis. Tapi mereka punya perbedaan yang signifikan. Kalau Tara lebih menjurus berhubungan dengan bidang perfilman, sedangkan Hani lebih ke dunia Pemasaran. Kedua kakak beradik tersebut memang menyukai satu bidang yang sama menulis.

Huh, lo kalah cepat, bang. Gue udah beresin semua pekerjaan disana. Sekarang disini, gue akan cari sesuatu yang lebih baik dari di Jepang sana” Hani berjalan lebih dulu meninggalkan Tara yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap adiknya. Tangannya terjulur mengacak poni adiknya. Lantas berlari kecil meninggalkan adik perempuannya kini.

Ya ! Onii-shan !.”

Hani mengejar dan menarik tangan Tara hingga menggapai telinga kakaknya. Dia selalu memiliki kebiasaan kalau tengah kesal dengan Tari selalu ingin menjewer telinga pria yang hanya terpaut tiga tahun ini.

***

Di tempat lain,

Sejenak Reza buru-buru membereskan pakaiannya. Ia  baru tahu kalau Hani, wanita yang selama ini mengisi kepalanya setiap saat sudah pulang ke negerinya. Sungguh, dia kecolongan sebulan dia sudah tidak pernah menghubunginya –karena insiden putusnya hubungan mereka. Reza enggan menhubungi Hani. Pria itu sangat-sangat tahu Hani seperti apa.

“Udahlah. Aku males ngomong sama kamu. Lebih baik pulang. Udara makin dingin.”

Reza menarik tangan Hani agak kasar. Sampai wanita itu terhuyung ke belakang tapi dengan cepat pria tersebut menangkap bahunya. Alih-alih menggeser cepat tubuh Hani menghadap kepadanya. Wajah Hani agak kaget tanpa berbuat apa-apa.

“Aku tahu aku salah, tapi ga gini caranya. Kumohon jangan marah segitunya sama aku.”

“Jangan segitunya. Menurut kamu? Aku berhak marah, ya. Kamu udah  kecewain aku banget sekarang.”

Hani merangsek pergi dari restoran tempat mereka makan. Reza begitu linglung. Ia bingung harus melakukan apa kecuali membiarkan wanita itu pergi menghilang dari penglihatannya.

*

Senyum kecut dari bibirnya tergambar jelas. Reza langsung bangkit dari kasurnya mengangkat koper miliknya. Iphone yang berada digenggamannya bordering.

Lebih baik kamu jangan pulang ke Indonesia. Aku sedang tidak mau bertemu satu Negara sama kamu dulu.

Isi pesan yang tergambar jelas jika seseorang disana tidak ingin bertemu dengannya. Seakan tahu kalau Reza memang ingin pulang ke Indonesia. Pria itu pikir, walaupun pria dan wanita putus hubungan pasti ada rasa yang tertinggalkan. Buktinya Hani tahu sangat Reza akan pulang –menyusulnya.

“Lihatlah, bahkan kamu tahu aku akan pulang. Kita masih sehati bukan?” ucapnya untuk dirinya sendiri. Cepat-cepat, Reza menyusupkan Iphone ke dalam kantung celananya. Sifat keras kepalanya akan tetap teguh meski ada satu hal yang menghalangi, termasuk dari orang itu sendiri.

***

Malam hari ini cepat berlalu, Tara masih setia membaca bukunya. Tiba-tiba telinganya mendengar suara derap langkah mendekat hingga melewati pintu kamarnya. Pria berparas tampan itu langsung meluncur membuka daun pintu, matanya melihat dengan sendirinya. Hani masuk ke kamar tanpa mampir dulu ke kamarnya.

Biasanya Hani –adik perempuannya itu pasti akan langsung mampir ke kamarnya. Hani sempat bilang siang tadi bertemu dengan Juna.

Tentu saja, siapa yang tidak mengenal Juna. Pria teman satu klub basketnya sudah sangat terkenal sebagai Cheff hotel ternama. Dua pria ini hanya mengenal dan berteman karena memiliki satu hobi yang sama. Yaitu bermain basket. Ternyata Tara baru mengetahui jika Juna juga merupakan teman SMA adiknya.

Dunia ini memang sempit.

Tara keluar dari kamar. Langkah kakinya mendekati kamar adiknya yang hanya berada di seberang dari letak kamarnya berada. Tangannya mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Mencoba sekali lagi ketukan yang kedua. Juga, sama tidak ada jawaban.

“ Hanika Putri Andari, cepat buka pintunya. Aku masuk, yah,” teriak Tara dari luar.

Lima detik tidak ada jawaban. Tara langsung membuka pintu kamar Hani yang bernuansa cream. Adiknya tipikal orang yang suka dengan ketenangan dan sangat menata kamarnya sedemikian rupa. Ketika pergi keluar negeri pun, terkadang Tara suka menghampiri kamar adiknya. Sekedar untuk tidur di sana bahkan juga merapikan kamar Hani. Selama adik perempuannya belajar di luar Indonesia, ia selalu rindu.

Terbilang Tara sangat menyayangi adiknya, serta ibunya. Dua perempuan ini memang sosok penting bagi hidupnya.

Sosok perempuan berambut pendek itu diam dalam posisi telungkup meletakkan kepalanya menghadap ke sisi sebelah kanan menatap jendela kamarnya. Malam sudah berganti. Hani malas memikirkan kejadian tadi. Pulang dari Jepang, ia harus tahu kalau Juna ternyata pulang Calon istri. Kenapa dia tidak pernah bilang?

Kok lo ga pernah bilang punya Calon Istri, sih? kan gue bisa kasih ucapan selamat juga sama lo, juga calon lo itu,” celetuk Hani dalam hatinya hanya bisa meringis tapi ia berusaha tampil ceria. Walau sebenarnya ia tidak perlu bersikap seperti itu. Bagaimana pun juga, Juna sama Hani hanya sebatas sahabat.

“Kenapa gue harus bilang? Lagian ini masih calon kok? Tapi gue berharap bisa serius sama dia.”

Hani hanya bisa tersenyum. Ini yang dia takutkan kalau Juna serius sama perempuan itu. Jadi hubungan mereka berdua memang sebagai sahabat saja. Tapi begitulah kenyataannya.

“Ya, berdoa aja buat lo. Semoga lo bisa dapet calon istri yang baik.”

Tepukan bahu dari seseorang membuyarkan lamunannya. Tara memasang wajah khawatir sesaat Hani menengadah melihat siapa gerangan. Perempuan itu bangkit dari gerakannya. Hani duduk bersila di depan Tara.

“Lo kenapa? Ada masalah dengan Juna?”

Hani menggeleng, dibilang masalah tidak. Justru dia yang buat masalah terhadap perasaannya sendiri. Setelah makan siang tadi, langsung pergi begitu saja. Mood-nya langsung berubah setelah mendengar percakapan Juna lewat telepon singkat di tengah kegiatan temu kangen mereka ini.

“Engga, gue lagi males aja abis ketemu Juna.”

Tara menelengkan kepalanya melihat wajah frustasi adiknya. Seketika ia menarik tangan adik kecilnya bermaksud memberi pelukan. Hani menurut dan menyurukkan kepalanya ke bahu Tara. Kedua tangannya memeluk leher pria di dekatnya sesekali menghela napas. Entahlah hatinya sedang berkecamuk. Ia bingung sampai kepalanya pening memikirkannya.

“Udah, engga usah terlalu dipikirin. Kalau memang ngebuat lo males, sementara ga usah bertemu dulu sama Juna. Apa perlu gue yang ketemu dia? Karena dia punya hutang main basket juga sama dia. Gua janji bakal ngalahin dia.”

Tara mengangguk senang. Ia mengingat sebulan lalu taruhannya dengan pria berambut cepak itu mengajaknya basket sebulan kemudian. Tepat hari ini sudah sebulan, ia pun baru mengingatnya. Hani menggelengkan kepala serta menarik diri dari pelukan kakaknya.

“Ih, si abang malah ngomongin basket. Bukannya hibur gue,” keluh Hani. Sementara wanita itu justru kabur keluar kamar tanpa mempedulikan tatapan heran dari kakaknya.

“Hey, Hani. Hanika !” pekik Tara sambil tertawa senang meledek adiknya. Hal itu yang ia lakukan, tetap menggoda Hani. Karena Tara tahu kalau dulu Hani selalu menonton mereka berdua bermain basket. Ingat, ketika adiknya malah senang Juna menang dibanding menyemangati Tara, kakaknya yang kalah –bertarung basket.

“Haaanikaaa~”

***

Hanika Putri Andari’s Profile

Hai, bisa mengenalku? Ya, aku Hani, seorang Copywriter muda. Kata kak Tara, aku wanita yang cukup menjanjikan mempunyai karir cemerlang. Yeah, aku tidak mengelak semua yang dikatakannya. Aku juga bangga dengan pekerjaan yang digeluti oleh Kak Tara sekarang. Sebagai Scriptwriter yang paling banyak diincar produser apalagi sutradara.

Kembali lagi, aku seorang wanita berumur 24 tahun. Aku menyenangi pekerjaan menulisku. Selain itu, kegiatan foto memfoto apapun menjadi kerjaan sampingan. Kemampuan itu didapat seiring aku mengenal Fotografer handal, Reza Handoko Yulius. Pria yang sampai sekarang masih memenuhi pikiranku. Walaupun kami sudah menjauh, hanya karena perbuatan konyolnya. Apalagi kalau bukan mencium wanita lain saat aku dibohongi jika dia sedang bekerja di luar ruangan, tepatnya di taman. Bukan sepenuhnya salah Reza, tapi itu hasil manipulasi dari seorang wanita yang menurutku layaknya mendapat predikat ‘Perusak hubungan orang’.

Apalagi setelah tahu itu, aku malas berhubungan dengannya. Aku memiliki sikap agak ceroboh terkadang boros, tapi kalau sudah menginginkan sesuatu pun pasti harus terpenuhi. Itulah aku cenderung menjadi seseorang yang ambisius dan keras kepala. Tubuhku memang tergolong pendek, tapi kata Kak Tara atau Maya. Aku memiliki kekuatan yang lumayan bahkan seringkali disuruh memijat oleh mereka. Kata teman kantorku pun di Tokyo, tipikal anak yang sangat jujur. Di Indonesia sih, dicap cablak. Aku orang dengan gampangnya mengeluarkan perasaanku. Tapi pandai juga menyembunyikan perasaan paling rahasia sekalipun.

Benda-benda yang paling aku harus bawa itu, tempat pensil, Zenfone Max 3 –hasil tabunganku, parfume, Instamax 8 yang lagi hits, notebook harus dibawa kemana-mana juga, Power Bank, serta yang ga kalah penting, Makeup case –isinya printilan penting yang harus dibawa semacam peniti, jepitan, kunciran, headband, kertas minyak,tissue serta tissue basah.

Sudah yah segitu dulu, Next selanjutnya~~

 

Reza Handoko Yulius’s Pprofile

Gue Reza, panggil aja begitu. Kalau disuruh sebut nama panjang gue. Lebih tepatnya gue malas menyebutnya. Gue Fotografer yang lebih banyak dikenal di Jepang. Hanya segelintir orang yang tahu gue di Indonesia. Bukan soal pekerjaan gue pindah ke Jepang. Tepatnya mengasingkan diri sejak sekolah di sana. Setelah orang tua udah ga ada, Linda, kakak perempuan gue sengaja menyekolahkan gue disana.

Kebetulan dia seorang pengusaha yang meneruskan titah perusahaan dari ayah setelah beliau ga ada. Maria, wanita kedua kebanggan gue setelah Ibu gue. Ditambah lagi, Hanika. Kenal dia sejak masuk kuliah di Jepang sampai dapat pekerjaan pun kami masih berhubungan, tepatnya berpacaran. Di kampus dulu kami sama-sama dikenal di kampus tersebut. Dia seorang penulis juga calon marketing muda handal serta gue fotografer yang juga berbakat.

Akhirnya gue kepincut sama dia. Tapi dengan tololnya, gue buat satu kesalahan yang seperti sepele. Engga, ini kesalahan besar. Sampai-sampai dia pulang ke Indonesia. Pahitnya, dia tahu gue akan nyusul dia. Menolak untuk gue kejar sampai ke kampung halaman. Tapi tetap namanya Reza, kolotnya minta ampun. Keturunan Ayah –mungkin gue bisa sekeraskepala ini. Kalau dibandingkan gue dan Hani, wanita itu lebih keras macam batu. Lihat, dia aja niat mau pulang ke Indo. Akhirnya gue kejarlah dia.

Sebenarnya walaupun kesalahan gue fatal, karena gue emang khilaf. Gue akan cinta sama satu cewe aja. Ya, tapi gue tetep aja deket sana, deket sini. Mungkin ini tipikal orang ramah yah. Humble sama semua orang. Gaulnya kemana-mana. Tapi di sisi gue gampang bergaul, gue tipikal orang yang gampang menyimpan sakit hati. Orang bisa liat gue tersenyum tapi mereka ga tau perasaan gue tuh aslinya kaya gimana.

Gue akan terus menyimpan perasaan ini, sampai kenangan gue bersama Hani pun gue abadikan di satu kamera kesayangan gue. Kebanyakan di Iphone 7 gue simpen semua moment sama Hani. Bahkan barang pemberian dia juga masih gue simpan. Macam snapback jaman kuliah, earphone juga dari Hani, sampai jam tangan hitam pemberiannya masih gue pake. Hingga kapan pun gue akan tetap terus kejar cewe gue, Hani.

Antara Yuda Baskoro’s Profile

Mari perkenalkan, pria masa kini. Boleh panggil saja Tara atau Yuda. Gue dikenal kakak yang penyayang sama adiknya. Siapa lagi kalau bukan dengan Hani. Dialah satu-satu alasan gue buat nutupin identitas gue yang sebenarnya memang bukan kakak kandungnya.

Adik kecil yang gue kenal waktu masih umur enam tahun dan jarak kami berbeda tiga tahun. Mengenalnya saat masih usia tiga tahun. Berterimakasih pada ayah Haris sama mama Rina. Dia sosok orang tua yang sangat-sangat gue banggakan. Ya, tepatnya orang tua idaman. Karena selama ini, gue emang ga tahu siapa orang tua kandung gue. Sampai ibu panti bilang ada yang mau gue jadi anak angkatnya.

Itu suatu keberuntungan ditambah gue juga sangat ingin memiliki seorang adik. Apalagi adik perempuan, Hani. Dia tidak tahu sama sekali dan tidak pernah mengungkit apapun soal kejadian lampau. Adapun wanita yang dulu sangat gue sayangi juga tapi ternyata dia lebih memilih lelaki lain dibanding gue sendiri.

Yaudahlah, dari situ gue berusaha menata hati gue sendiri. Walaupun sebenarnya agak males juga dan udah nyaman dengan wanita itu. Hani sangat tahu cerita ini dia selalu menyemangati kakaknya. Dia begitu tahu cara memperlakukan kakaknya dan tetap jadi adik yang menyenangkan buat kakak –angkatnya ini.

Gue bersyukur dengan kehidupan sekarang. Dengan kepintaran yang gue miliki bisa menjadikan gue di titik puncak menjadi Scripwriter yang dibanggakan oleh orang-orang terdekat gue. Bahkan bakat gue ini pun menurun pada Hani. Bedanya, Hani lebih ke bidang marketing, kalau gue di bidang seni. Well, keahlian kita sama-sama di bidang tulis-menulis.

Sejujurnya dalam keluarga gue dikenal paling keras sama orang-orang terdekat gue terutama pada mama dan juga Hani. Ayah memakluminya karena itulah sifat pria harus bisa dibilang agak protektif sama orang yang disayanginya. Toh, itu juga baik untuk mereka. Gue pun punya sifat agak ambisius dengan satu hal, tapi dibanding gue, Hani lebih batu lagi dan ambisiusnya lebih mengalahkan siapapun. Tipikal kakak yang gampang mengalah sama adiknya, namun gue tahu mana yang harus gue ikhlaskan atau gue tetap pegang teguh.

Selain jadi Scripwriter, gue pun punya satu Distro bernama IDO. Nama simple cukup menggambarkan apa yang dimau pasti dilakukan. Koleksi gue yang mendesain tentu bareng sahabat gue, Aldi dan beberapa temen ex-kampus gue. Tak lupa kadang mama juga Hani bantu-bantu dalam keuangan serta pemasarannya. Ayah pun sangat mendukung hal itu, sebagai pengusaha kenapa tidak? Gue pun juga mau mengikuti jejak ayah. Kita memang keluarga romantis,yah.

Bersambung… 

Iklan

3 tanggapan untuk “Bukan Milikku – [Prolog]

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s