Happy for You


Happy for You
Johnny Suh – Choi Jineul

Menunggu sebenarnya bukan sesuatu yang mengenakan. Bahkan aku mati gaya harus melihat hilir mudik orang yang bergilir keluar dari stadium. Setelah Acara Olahraga


Para Artis Idola selesai, seluruh penggemar tumpah ruah pergi meninggalkan bangkunya. Mengejar artis mereka yang pasti sekarang sudah bergegas pulang tanpa memikirkan fansnya itu. Siapa pula yang mau berhimpitan dengan banyak perempuan yang berteriak tak jelas.

Jujur aku juga fans yang menyukai idolanya, tapi tak perlu sampai seperti itu. Karena memang idolaku itu kekasihku sendiri, Kim Jong Woon. Aku menggelengkan kepala, mengutuk seseorang yang menyuruhku duduk dekat pintu khusus artis-artis keluar masuk. Untunglah tidak ada yang melihatku disini tanpa menaruh curiga. Terang saja, aku tampak seperti orang yang tak jelas kerjaan menunggu orang yang tak jelas juga.

Kedua mataku masih melihat sekeliling. Sampai mataku menangkap sosok tinggi berjaket putih dengan rambut coklat keemasan melambaikan tangan, sambil tersenyum terang. Bagusnya, sekarang stadion tampak lengang. Penonton sudah pulang ke rumah masing-masing dikala musim dingin masih menguasai langit.

Pria itu menanjak menaiki tangga tengah mendekatiku masih terduduk tenang sembari memperhatikan wajah adikku. Yeah, anggap saja begitu. Setelah kejadian menangisku yang tak jelas di tengah malam, ketika malam hari menjelang akhir tahun tiba. Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Nuna !” teriak sosok asing yang terus mendekat dan setelah jarakku menipis darinya. Ia menjulurkan cup plastik. Aku menerimanya dengan senang hati sambil tersenyum meledek.

Gomawo,”ucapku dengan senang hati. Pria itu mendekatiku juga duduk disebelahku dengan nyaman layaknya kakak-adik. Tiba-tiba dia memeluk ringan tubuhku, lalu dilepasnya lagi.

“Terima kasih, Nuna. Kau mau datang kemari. Aku kira kau tidak akan datang hanya karena aku memaksa. Ternyata aku melihatmu diantara para fans.” Johnny merentangkan tangannya hampir mengenaiku. Tanganku memukul ringan lengan Johnny.

“Ya! Tanganmu mengenai wajahku.” Aku pura-pura cemberut sebal. Johnny meringis dengan wajah tanpa dosa sama sekali. Malahan dia mengulurkan tangan mencubit pipi tirusku yang jelas-jelas tidak mungkin bisa dicubit.

“Eyy !!” aku balas mencubit pipinya mulai gemuk. Akhirnya kami tertawa setelah melakukan adegan konyol.

Nuna, kau tahu. Aku sangat-sangat senang. Aku bisa debut dengan lancar. Semua menerimaku, tapi ada juga orang yang tidak suka aku debut. Padahal aku sendiri sudah training lebih lama dari yang lain. Aku hanya bisa, ‘sabar, sabar. Ini belum seberapa John.’ Sampai sekarang aku sudah mempan dengan cemoohan mereka,” jelas Johnny. Dia cerita panjang lebar. Bibirku tersenyum senang melihatnya. Johnnya tampak lebih cerita dan dewasa juga. Entahlah, aku melihat banyak perubahan setelah dia debut. Meski tampang konyolnya di beberapa acaranya menampilkan humorisnya yang menurutku lebih banyak ‘hambar’nya.

“Kau sudah melakukannya dengan baik. Jangan kecewakan orang tuamu. Terlebih ibumu,” balasku sesaat Johnny pun juga tersenyum lebar. Matanya berbinar setelah aku mengucapkan hal itu. Sesaat terlintas sesuatu yang kulupakan.

“Aku lupa. Ini, hadiah dariku,” ujarku mengulurkan kotak kecil warna coklat untuknya.

“Apa ini? Boleh kubuka sekarang?” Kuanggukkan kepala, seketika Johnny membuka kotak coklat dan menampakkan jam tangan analog. Kedua matanya sekali lagi berbinar melihat pemberianku. Anak ini selalu terlihat senang jika itu berhubungan denganku. Ini bukan karena dia menyukaiku dalam arti pria dan wanita. Johnny selalu bilang,

Nuna, kau tenang saja. Aku menyukaimu karena kau memang cocok menjadi kakak untukku tidak lebih. Ibuku senang ketika aku menceritakanmu padanya. Dia bilang bersyukur aku bertemu dan berteman denganmu. Ibu berharap tidak hanya kau yang menjagaku sepantasnya kakak-adik tapi aku juga bisa menjagamu.”

Aku kaget mendengar, Ibunya berkata seperti itu. Sepertinya beliau menyerahkan hak asuhnya kepadaku. Dari bayi besar ini. Ya, aku masih menganggapnya bayi besar. Karena aku tetap melihatnya sebagai adik kecilku, selain Jisoo.

Daebbak ! kau belikan jam tangan ini untukku.” Aku mengangguk pasti. Memang aku sengaja belikan dia sesuatu untuk kado spesial debutnya di awal tahun ini. Johnny langsung menyurukkan kepalanya dibahuku.

Ya ! Disini masih ada orang.”Pria tak tahu malu, jelas-jelas masih ada kru atau staff berkeliaran di stadion. Tapi Johnny tidak menghiraukan hal tersebut. Johnny merenggangkan pelukannya, lihatlah mukanya tersenyum sumringah layaknya anak kecil diberikan permen.

“Terima kasih kadonya. Kurasa ini juga jadi kado ulang tahunku. Bukannya hari jadiku sebentar lagi.” Johnny mengerlingkan sebelah matanya. Sejenak aku lupa dengan tanggal ulang tahunnya. Ohya, bukannya tanggal 9 februari ini. Berarti dua minggu lagi dari sekarang aku harus menyiapkan sesuatu untuknya. Tidak adil rasanya kado yang diberikan juga kado ulang tahun. Aku tahu membedakan mana hadiah spesial mana hadiah untuk ulang tahun.

Tiba-tiba Johnny menarik tanganku sampai tubuh ini berdiri. “Kau kebanyakan melamun hari ini, nuna. Sebaiknya aku antar kau pulang.” Pria itu menggiringku berjalan menuruni tangga sampai di bawah tangga, kami bertemu dengan beberapa anak grup-nya.

Mereka melihatku bingung dibawa oleh Johnny mendekati mereka. “Kalian kenalkan ini nuna yang pernah kuceritakan itu.” Beberapa diantaranya tersenyum, juga ada yang wajah bingung tepatnya pada Doyoung.  Aku tahu dia, pria itu dulu adik kelasku di Kyunghee University. Saat aku sudah hampir lulus, aku yang menjadi ketua panitia ospek. Mengenalnya saat-saat dia masih menjadi trainee.

Dooyoung langsung tersadar beberapa detik melihatku dan membungkuk sekalilagi, dengan senyum penuh arti. “Annyeong haseyo, Jineul Sunbaenim,” seru Dooyoung. Diantara mereka sontak melihat ke arah pria itu, melihat penasaran pada pria bersuara emas ini.

Heol ! kau mengenalnya, young-ie?” tanya Johnny menyelidik masih memegang pergelangan tanganku. Dia belum juga beranjak mengajakku pulang. Kenapa harus berhenti disini dengan dilihat beberapa kru?

“ Dia sunbae ku di kampus,” jawabnya singkat. Mereka berseru mengerti. Johnny mengangguk mengerti, kakinya kembali melangkah melewati member grupnya. “Kalau begitu aku antar pulang Jineul nuna dulu.” Johnny melambaikan tangan pada mereka.

“Doyoung-ssi, sampai bertemu lagi.” Aku melambaikan tangan padanya tak sempat melihat lama karena Johnny bergegas meninggalkan tempat masih menarikku mengikutinya. Dooyoung melambaikan tangan dan tersenyum lagi.

***

“Kau serius ingin mengajakku pulang.” Aku menatap heran motor yang kini kami berdua naiki dalam perjalanan,

“Iya, aku mengajakmu pulang,” teriaknya sengaja. Tentu saja kami sedang di jalan menuju rumahku. Setelah di tempat parkir tadi, Johnny langsung memberikanku salah satu helm, ia langsung memakai helm dan menaiki motor. Dia memang ahli menaiki mobil juga motor.

“Kukira kau akan mengajakku pergi makan.” Aku mengejeknya setengah bercanda. Pria di depanku hanya diam, setelah itu helaan napas terdengar berat.

Mianhae, nuna. Aku tidak punya banyak waktu seperti sebelum debut. Next time kalau ada waktu kosong kuajak kau pergi. Kalau perlu Yesung sunbae ikut juga. Gimana?” Johnny menolehkan kepala ke belakang demi melihatku. Percuma saja, wajahku tidak bisa dilihat sepenuhnya. Aku hanya tersenyum dalam diam. Tanganku menepuk punggungnya, sengaja menenangkan gelisahnya.

Waktuku bersama Johnny sekarang memang tidak banyak. Dulu sewaktu dia masih sekolah, sampai dia belum debut pun aku selalu mengajaknya pergi di sela waktu trainee-nya. Sekarang memang tidak seperti dulu, aku berusaha mengerti. Sama saat aku bersama Yesung juga. Kami berdua pun tidak punya banyak waktu untuk berdua. Sekarang dengan Johnny pun begitu. Adik kecilku sudah sangat sibuk sekarang. Meski begitu masih ada Jisoo selalu meluangkan waktunya bersama kakaknya ini.

Gwenchana, kau kejar terus mimpimu. Kita pasti punya waktu luang lagi. Aku yakin itu.” Seketika itu tanpa sadar mataku berair tak jelas begini. Lantas aku memaksakan senyumku walau tak terlihat sama sekali dari pria di depanku kini.

 fin

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s