Cemburu [Sequel ‘Aku Pulang’]


6305670db1f90a5f4e3b5a2f1e003325

Cemburu 
Yesung-Jongjin-Jineul

Jineul’s side

“Kenapa kau tidak bilang, Yesung oppa akan pulang. Aku tidak perlu galau sendiri seperti seorang wanita yang tidak punya kekasih.” Jongjin tertawa hingga terdengar ke arah pantry. Aku mendorong bahunya yang tepat berada di sebelahku. Yesung datang membawa dua gelas coklat hangat.

Setelah kedatangannya yang terkesan mendadak, café langsung dikomando untuk ditutup oleh ‘sang pemilik aset’ Mouse and Rabbit ini. Lantas tubuhku langsung ditarik lagi mendekat ke kasir dan mendudukkan ku di atas bangku tak jauh dari etalase toko yang menampilkan deretan toples biji kopi.

Sekarang Yesung menyerahkan satu gelas minuman buatannya padaku. “Jangan salahkan aku. Yesung hyung yang menyuruhku untuk bungkam. Kalau tidak aku tidak akan diberi ijin untuk membuat kopi lagi disini.”

Mataku langsung melirik ke Yesung. Pria itu menunjukkan senyum jahilnya, kembali menajamkan pandangannya padaku seperti biasa. Dia selalu saja menatapku sangat intens. Walaupun hubungan kami sudah hampir dua tahun ini. Tetap saja, aku masih tidak kuat ditatap lama oleh mata kecilnya.

Wae? Kau tidak suka aku membuat kejutan? Atau kau tidak merindukanku, Ji?”

Mulai lagi, dia menggodaku, tidak tepatnya merajuk. Ah, molla. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Gelas di tangan kudekatkan ke bibirku menyesap coklat panas. Jongjin masuk ke pantry. Mungkin dia ingin berberes terlebih dahulu.

“Kau mau pulang? Atau kita pergi kencan dulu?” tanya Yesung mengerling nakal. Bola mataku memutar malas menanggapi ucapan Yesung. Godaan dia selalu membuatku goyah. Tapi kali ini aku ingin pulang. Rasanya aku ingin tidur. Akhir-akhir ini mood-ku sedang buruk. Maafkan aku, Mr Kim.

“Hmm,” anggukku. Tiba-tiba ibu jari kirinya mengusap sudut bibirku. Berniat menghapus jejak coklat yang menempel. Aku menjilat sisa jejak kopi yang tertempel di bibirku, Yesung menghela napasnya masih memandangku. Detak jantungku kembali bertalu kencang sesaat. Hingga Yesung menyodorkan wajahnya tepat di depan wajahnya. Dan…

“Jangan mengeluarkan lidahmu seperti itu. Kau akan tahu akibatnya jika melakukan itu di depanku.” Suara derit pintu menghantam suasana canggung ini. Jongjin datang sudah mengenakan jaket serta mantel, juga beanie yang menutup rambutnya yang dicat pirang.

Aku pikir kedua kakak adik ini punya selera fashion yang sama-sama aneh. Aku hanya tersenyum mengingat bagaimana aku bisa bertahan dengan Yesung, tapi aku juga suka dengan segala yang ada di dirinya. Bisa jadi aku sangat-sangat menyukainya. Sangat.

“Ehem, kuharap kalian tidak bermesraan di tempat umum. Bisa kalian lanjutkan di mobil atau di rumah.”

Blush~

Semburat merah sudah pasti menghampiri pipiku. Yesung tertawa dan kusadari dia menertawai ekspresiku. “Jongjin, kau membuat kekasihku takut. Lebih baik aku melindungi dan membawanya pulang.”

Yesung menarikku agak kasar –lagi. Lengannya menggelayut manja di leherku. Beruntung tinggiku tak terlalu pendek hanya sebatas dahinya saja. Jelas kalau aku bertambah tinggi lagi. Bisa-bisa tubuhku menyamai tinggi tubuh kekasihku sendiri. Sangat tidak lucu, jika itu terjadi pada kami, wanita dan pria memiliki tinggi tubuh yang sama atau lebih tepatnya lebih tinggi daripada lelakinya.

“Aku akan membawamu pulang. Lusa depan kita pergi kencan dan aku akan memberi kejutan manis –lagi untukmu, sayang,” bisiknya tepat di telingaku.

Kami berjalan lebih dulu meninggalkan Jongjin. Sampai Jongjin mengunci toko sendirian dan kami hanya berjarak beberapa meter darinya, sampai…

“Ya ! Kalian bermesraan dan melupakan aku disini. Pasangan yang tidak tahu diuntung.” Yesung melirik ke belakang, aku melongo tak percaya. Jongjin pasti tengah bercanda sambil setengah sebal. Aku dijemput oleh kakaknya sendiri, sedangkan adiknya tidak diurus.

“Kau bilang, kami berdua harus berpindah tempat jika bermesraan.” Yesung mengusap bahuku –masih terus melingkari leherku dengan sebelah tangannnya.

“Benarkan, Ji?” tanya Yesung sengaja dekatkan wajahnya, sangat dekat.

“Sudahlah, aku pulang duluan. Kembalikan Jineul baik-baik ke rumahnya, hyung. Bye.” Jongjin melambaikan tangan kanannya, dia sudah berbalik dan berjalan menjauh dari tempat kami berdua berdiri. Seketika aku merasa jadi orang yang jahat melupakan dan meninggalkan Jongjin pulang sendirian.

“Apa baik-baik saja kalau kita tidak pulang bersamanya. Kau juga baru saja pulang, oppa ?” tanyaku menaruh curiga akan sikap Jongjin. Sikapku yang terlalu peka atau dia yang sedang buruk suasana hatinya.

“Tidak perlu kau ambil pusing, Ji. Pasti akan baik-baik saja.”

Jineul’s side end

0o0o0

Jongjin’s side

Sebenarnya, apa boleh aku menyukai satu gadis yang sebenarnya adalah kekasih kakakku sendiri. Tapi gadis itu yang lebih dulu kau kenal dibanding kakakmu sendiri. Sayangnya justru dia menyukai kakakku, Yesung.

Jineul –nama gadis itu yang masih terus menawan hatiku. Tidak tahu mantra dan pesona apa yang diberikannya. Aku masih tetap menyukainya. Sesaat Yesung kembali setelah sebelumnya mengirim video call padaku dan berkata

“Kumohon kau jangan bilang apapun pada jineul. Jika dia masih disini. Aku mau membuat kejutan untuknya. Oke”

Saat itu aku hanya tersenyum palsu dan berkata

“Arrasseo, dia masih menunggumu di dekat jendela.”

Sekarang aku berjalan ke pantry tanpa mau menyaksikan kemesraan mereka. Tanganku memukul pelan tembok di samping pintu tanpa menimbulkan suara apapun. Karena aku tahu, jika aku melakukannya lebih keras lagi. Yang ada pasti mereka akan mendengarnya.

Setengah aku melirik mereka dari dalam. Aku tahu juga jika Yesung hyung menyentuh ujung jarinya di sudut bibir Jineul. Di situasi inilah aku langsung keluar , “Ehem, kuharap kalian tidak bermesraan di tempat umum. Bisa kalian lanjutkan di mobil atau di rumah.”

Kulirik wajah gadis itu sedikit memerah, kulit wajahnya yang kentara kuning langsat langsung menandakan dia malu disaat itu juga. Rasanya aku ingin menyerangnya saat itu juga. Ani, siapa aku? Aku hanya seorang pemeran pembantu saja di kisah asmara mereka.

Aku menggeser tubuh Yesung yang otomatis Jineul bergerak menjauh demi memudahkanku membereskan meja kasir. Sebenarnya tak perlu kubersihkan pun, meja masih dalam keadaan sempurna. Jineul menatap mataku menyelidik. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya padaku. Langkah kakiku melambat saat melihat merek berdua berjalan berdua keluar café.

“Ya ! Kalian bermesraan dan melupakan aku disini. Pasangan yang tidak tahu diuntung,” protesku setengah marah. Yesung tertawa sambil tersenyum jahil. Rasanya ingin kupukul wajah tampannya.

“Kau bilang, kami berdua harus berpindah tempat jika bermesraan.” Yesung mengusap bahu Jineul. Tangannya tetap merangkul setia tubuh kurus Jineul. Tinggi badannya hampir menyamai kami berdua. Tetap saja dia wanita bertubuh kurus yang kurasa sangat pantas dilindungi. Tampak dari luar saja dia kuat. Tapi aku tahu dia punya perasaan dan hati sensitif. Seringkali dia bercerita banyak soal hubungannya dengan Yesung hyung. Bodohnya aku menanggapinya dengan senang hati, mengabaikan seluruh perasaanku terhadap Jineul. Wanita itu menyadarinya atau tidak?

Namun bolehkah sedikit saja waktuku ingin memeluk tubuh Jineul. Dia masih tetap jadi gadis yang aku suka meskipun sudah menjadi milik kakakku.

“Benarkan, Ji?” tanya Yesung sengaja dekatkan wajahnya, sangat dekat. Napasku tercekat, sepasang mataku membuang pandangannya dari pasangan di hadapanku. Jineul hanya menunduk entah malu atau tidak enak padaku. Kuharap keduanya punya peran besar membuat dirinya sedikit menjauh dari Yesung ketika ada aku.

Helaan napasku terdengar kasar, serta asap tubuh yang keluar dari mulutku tampak nyata menandakan udara semakin dingin. Sedikit mendengus sebal setelah mengunci pintu café. Jineul tetap dirangkul mesra oleh kakakku. Sepertinya ini keputusan yang baik. Aku harus pulang terpisah dengan mereka, daripada aku harus menatap wajah gadis itu lama-lama. Hanya menyesakkan dadaku dan jantungku bertalu cepat.

“Sudahlah, aku pulang duluan. Kembalikan Jineul baik-baik ke rumahnya, hyung. Bye.

Kulambaikan tangan setelah membalikkan badan. Tidak mengacuhkan reaksi mereka. Mataku sudah berair tapi aku menahannya. Sial ! kenapa aku harus menangis? Pria cengeng. Bibirku tersunging senyum miris mengaburkan perasaan hatiku yang bergemuruh dan perutku terasa teraduk-aduk. Berujung suara batukku keluar dengan sendirinya.

“Uhuk !”

Tampaknya aku serius harus pulang, makan, lalu tidur nyenyak di akhir pekan ini. Melupakan kejadian yang menjengkelkan tadi. Aku harap Jineul tidak mengetahui apa yang aku perbuat ini penyebabnya karena hanya dirinya.

fin

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s