A New Family


huffingtonpost.com

©ferrinamd

 

“Sebenarnya kamu mau beli apa buat Jiwon?”

Sedaritadi Yoorin dan Jongjin terus saja memutar tanpa arah. Mereka berdua bingung untuk membeli apa yang cocok buat anak dari keponakan mereka berdua.

Setelah diketahui jenis kelamin anak dari Jineul dan Jongwoon. Yoorin langsung terpikir untuk membelikan sesuatu yang spesial khusus diberikannya pada Kim Jiwoon, nama anak itu.

“Aku ingin beli ini.” Yoorin menunjuk kalung berbandul bintang perak yang menurutnya sangat cocok diberikannya untuk Jiwoon. Sejak kepulangan Jineul dari rumah sakit. Ibu muda itu baru memberikan anting sebagai perhiasan pertama Jiwoon. Sedangkan Yesung memberikan gelang sederhana yang pantas untuk buat hati mereka.

“Kau membelinya kalung? Apa tidak terlalu berlebihan? Kau tahu sendiri, Yesung hyung sudah memberikan gelang, dan mereka berdua pun sudah menyematkan anting di sepasang telinga anak mereka. Juga kau sekarang ingin memberikan Jiwoon kalung. Kamu kira dia perhiasan berjalan.” Jongjin berceloteh panjang lebar tanpa memperhatikan reaksi dari Yoorin yang sudah ngeloyor pergi. Pria itu tersadar dan mengejar Yoorin.

“Y –ya, Shin Yoorin. Mau kemana?”

©

Yesung’s side

Hari ini sudah genap seminggu, Jineul diperbolehkan pulang oleh dokter. Kesembuhannya sangat menguntungkanku, karena tidak perlu aku bersusah payah untuk menungguinya bolak-balik dari rumah ke rumah sakit. Jelas saja aku tidak akan bebas menatap wajah Jineul ketika dengan mengurus Kim Ji woon, little Kim kami.

Di kamar ini, Jineul tengah menyusui Jiwoon. Bayi itu tampak nyenyak di dalam pangkuan ibunya. Setelah aku merapikan barang-barang yang dibawa dari rumah sakit. Selesai mandi, aku berbaring di samping Jineul yang sudah membersihkan badan terlebih dulu bersama dengan Jiwoon.

.

 “Kamu mau aku mandikan” Yesung meletakkan tas perlengkapan bayi yang dibawanya dari rumah sakit beserta tas kecil berisi perlengkapan Jineul. Ibu muda itu tengah menggendong bayinya dan langsung terduduk di sofa ruang tengah tempat tinggal mungil mereka.

Setelah masuk dari rumah sakit, keluarga kecil itu langsung pulang ke rumah, namun sebelumnya Yesung mengantarkan orang tuanya terlebih dahulu.

“Tidak, aku bisa mandi sendiri, oppa. Kamu mandi sendiri saja,” ucap Jineul datar tanpa menoleh ke arah Yesung tengah mengerucutkan bibir ketika mendengar jawaban Jineul. Sejak Jiwoon lahir, Jineul terlalu fokus mengurus Jiwoon. Yesung merasa ter ‘pinggir’ kan.

.

“Sampai kapan kamu mau mengurus Jiwoon? Aku tidak kau urus?” Jineul mengalihkan pandangannya yang sejak tadi tengah menyusui bayinya. Tentu, ibu muda ini tengah menikmati momen barunya menjadi seorang ibu baru dengan bayi cantik yang sangat lucu. Jineul tersenyum miring, ia seperti sedang mengejekku. Jineul, apa kau tidak tahu? Sejak kamu melahirkan aku ingin sekali memelukmu.

Oppa, jangan merajuk. Kamu sudah besar. Aku ingin mengurus Jiwoon dulu. Kalau oppa lelah, tidur duluan saja.” Aku membalikkan badannya, merasa kesal. Entahlah, mungkin benar kata Jineul, tubuhku lelah. Mungkin sedikit istirahat bisa membuat staminanya pulih. Perlahan mata kecilku tertutup rapat terbawa ke dalam alam bawah sadar.

©

Yesung’s side

Suara burung membangunkanku seketika. Cahaya matahari menyusup masuk di sela tirai kamar. Aku langsung tersadar, nyawaku mengumpul sesaat melihat tempat di sebelahku kosong.

“Apa Jineul tidak tidur semalaman?” Aku terbangun dan berjalan mendekati ruang khusus bayiku dan Jineul. Terlihat sosok tubuh ramping itu tengah terlelap tidur di samping tempat tidur bayi kami. Jineul tertidur dengan posisi tubuhnya duduk di atas kursi sofa kecil. Aku perlahan masuk ke dalam ruangan. Tanganku terulur menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian dahi lebarnya. Sungguh wajahnya sangat cantik ketika tertidur seperti ini. Aku tersenyum geli ketika Jineul mengerang pelan seolah tahu jika ada orang yang mengganggu tidurnya.

“Tidur seperti ini saja, kamu tampak menggoda.” Aku menyusupkan sebelah tanganku di bawah lututnya dan satu tangan lagi menopang leher istriku sendiri. Jadilah aku membopongnya untuk pindah ke tempat tidur kami. Berhubung Little Kim masih tidur nyenyak.

Saatnya waktu untuk ayah dan ibu berdua, Jiwoon-a

.

Jineul’s side

Tubuhku terasa seringan kapas waktu kutahu mataku terbuka dihadapkan dengan sosok Yesung sangat dekat jaraknya denganku. Pria itu sadar aku sudah setengah terbangun, sontak wajahnya mendekat dan mencium bibirku lembut, morning kiss.

“Pagi, oppa,” sapaku dipagi hari ini. Yesung masih menggendong tubuhku dan berakhir dengan mendaratkanku di atas kasur empuk. Rasa nyaman langsung menyapa punggungku yang baru dirasa pegalnya. Jadi semalaman aku tertidur di dalam ruangan Jiwoon. Anak pertamaku ternyata menangis tanpa bisa diam dalam waktu cepat. Jadilah aku menyusui, serta menenangkannya. Aku tak sadar ternyata pagi mulai menyapa kembali. Waktu rasanya cepat berlalu. Yesung turut berbaring di sebelahku, menatapku lamat-lamat. Seakan aku akan kabur dari jangkauannya.

“Sudah berapa lama kamu disana? Tidurmu tidak nyaman kan, hmm?” tanyanya sarat akan kekhawatiran. Aku hanya bisa mengangguk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Wajahnya mendekat dan mencium dahiku.

“Tidurlah, aku mau mandi terlebih dahulu. Hari ini Jongjin datang bersama Yoorin.”

Aku menyentuh dadanya yang berbalut kaos tipis. Tubuhnya sedikit bereaksi, namun Yesung menahan dirinya untuk tidak berbuat lebih jauh. Ini masih pagi dan pastinya aku ingin tidur sebagaimana mestinya, selagi Jiwoon tidur tanpa ada yang mengganggu.

.

Yesung’s Side

Aku mengamati wajah Jineul, perlahan mata kecil wanita –yang baru saja menjadi ibu ini terpejam. Lelahnya mendera amat sangat. Ternyata menjadi ibu seperti ini. Aku tak pernah mengamati dari dekat ketika Jongjin baru lahir. Ibu selalu tersenyum meskipun rasa capek mendera seusai mengurus adikku itu.

Tanganku terulur mengusap rambut hitam Jineul penuh sayang. Aku pun langsung bangkit, dirinya bergegas mandi sebelum Jongjin dan kekasihnya datang ke rumah .

 ©

Ting, Tong, Ting, Tong

Bunyi bel rumah berdentang bersamaan dengan suara derit pintu pertanda penghuni rumah mempersilakan tamu istimewa ini masuk. Yesung menggelengkan kepala melihat dua orang tersenyum sumringah dengan kedua tangan mereka menjinjing kantung belanjaan. Pastinya sepasang kekasih ini member perlengkapan khusus untuk anaknya.

“Kami datang !” sapa hangat dari sepasang kekasih ini. Yesung berdecak melihat keadaan dua orang ini. Mereka ingin menengok atau hanya membuat sudut-sudut rumahnya penuh.

“Kalian tidak perlu membawa barang sebanyak itu,” ucapnya sungkan nada suaranya menahan sebal. Bukan menolak, tapi ini hanya merepotkan saja. Jongjin dan Yoorin melenggang masuk tanpa mempedulikan tatapan kesal dari kakaknya.

Hyung, seharusnya kau senang aku bawakan barang-barang ini. Termasuk barang titipan dari ibu. Dia sengaja menyuruhku membeli stoler buat Jiwon. Ah, ngomong-ngomong soal Jiwon, dimana keponakanku itu.” Jongjin menghampiri Yesung, mengguncangkan bahu kakaknya demi menanti jawaban dari Yesung.

“Jiwoon disini.” Jineul datang dari lorong yang berasal di kamarnya. Beruntung Jiwoon baru selesai mandi, jadi dia bisa bertemu langsung dengan pamannya.

“Wah ! Kim Jiwoon. Paman disini,” tukas Jongjin melangkah mendekati Jineul bersamaan dengan Yoorin. Gadis itu hanya tersenyum sesaat dirinya mendekati Jineul. Ibu muda yang lebih muda darinya ini sudah memiliki momongan. Rasanya baru kemarin, Yoorin merias Jineul ketika pernikahan calon adik iparnya berlangsung.

“Ya~ oppa, jangan dicubit gitu. Belum cuci tangan, kan ?” tanya Jineul setengah kaget. Dia lupa jika bayinya tak boleh disentuh sembarangan. Yesung langsung berjalan dan sudah berdiri di samping Jineul.

“Cuci tanganmu atau kau tidak boleh menyentuh bayiku.” Yesung menoyor-noyor dahi Jongjin. Lantas disambut tatapan kesal dari adik kandungnya. Yoorin tertawa tanpa suara tepat di belakang Jongjin. Tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh kekasihnya.

“Ayo, kita cuci tangan. Setelah itu kita bisa menggendong Jiwoon,” seru Jongjin menggiring Yoorin ke kamar mandi. Perasaan tak sabar Jongjin ingin membopong keponakan barunya itu membuncah setelah Jineul melahirkan. Terang saja sejak kepergian mereka ke toko keperluan bayi, tak hentinya Jongjin tersenyum dan ia yang memilih dan Yoorin yang menentang, juga memilihkan mana lebih bagus  untuk ia persembahkan kepada keponakannya itu.

Bagaimana tidak? Sejak pernikahan kakaknya itu, ia sudah berkeinginan memiliki anak perempuan lucu, tak apa meskipun hanya sebatas keponakan dengan paman. Asalkan ia bisa melihat dan merasakan rasanya melihat tumbuh kembang anak perempuan kakaknya itu.

 

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s