Welcome, baby.


Yen.and_.Nick_.Maternity.Photo_.Shoot_.Featured
© kingquan.com

Cast : Kim Jongwoon, Choi Jineul (OC)

Jineul’s side

Satu kata yang terbersit saat ini, sakit. Sungguh ini rasa sakit yang kurasakan. Sejak pagi tadi, perutku terasa mulas. Menginjak usia Sembilan bulan, Little Kim sudah tak sabar ingin keluar dari tubuh ibu, yah.

“Aku kan tadi sudah bilang. Kalau aku tidak apa-apa, oppa. Kamu berangkat latihan saja. Sebentar lagi juga kamu akan konser tunggal lagi, kan.” Laki-laki itu hanya berdiri terdiam dengan kedua tangannya bersedekap sambil menatapku tajam. Bukan itu, dia menatap sepasang mataku mencoba cari kejelasan dari sikap pembantahku.

“Tidak mau. Aku tidak mau meninggalkanmu begitu saja. Lagipula latihan bisa nanti. Ini sudah lewat satu hari dari yang diprediksikan dokter Lee, kalau little kim akan lahir ke dunia ini. Aku takutnya dia mendadak keluar gimana? Ayah macam apa tidak menantikan kedatangan buah hatiku sendiri,” ucap Yesung duduk disebelahku sambil mengusap perutku yang sudah ada pertanda mulas sejak tengah malam tadi. Air mataku rasanya mau meleleh ketika mendengar Yesung berceramah panjang lebar seperti itu. Entah ini rasa bahagia atau sedih karena Yesung begitu khawatir padaku. Tentu saja, dia suamiku. Jadi tak perlu dipertanyakan seberapa besar kadar kekhawatiran seorang Kim Jongwoon pada istrinya sendiri.

“Tuhkan, kamu jadi sensitif gini. Sudah, yah aku disini saja nemenin kamu. Aku sudah bilang sama manajer Jung supaya aku di rumah buat nunggu kelahiran bayi kita. Lalu member lain juga akan menyusul kalau Little Kim sudah muncul di sini. Mereka juga tak sabar ingin menemui keponakan lucu mereka. Dasar om-om,” celotehnya lagi. Aku memukul bahunya serta merta kugenggam tangannya yang tadi digunakan untuk menghapus jejak air mata yang baru saja mengalir.

Oppa juga, om-om. Cuma telat nikah saja. Baru bisa melamar dan langsung menikahiku,” candaku disela-sela rasa sakit yang mendera perut dan pinggangku. Rasanya mau patah tubuh ini. Sabar Little Kim, eomma dan appa pasti akan menyambutmu.

“Om-om begini, kamu juga mau kan sama aku.”

Aku hanya bisa tertawa pelan karena tenagaku kian lama kian melemah. Rupanya buah hati kita akan keluar sebentar lagi, oppa.

“Sayang, kamu kuat. Kamu pasti bisa. Aku disini, tidak kemana-mana.”

Kedua mataku tertutup dan terbuka sesekali, tatkala aku menyadari bahwa aku sudah berada diruang operasi. Bau rumah sakit begitu kental terasa ketika aku melirik Yesung sudah mengenakan baju hijau khusus serta penutup kepala menutupi rambut hitam legamnya. Tangannya mengusap peluh yang ada di dahiku. Senyum lirihnya sungguh terasa sesaat kami bertatap muka. Mungkin dia juga tak tega melihatku sesakit ini.

Yesung’s side

Seperti ini rupanya menanti buah hati pertama kami, aku dengan Choi Jineul.

‘Ayo, cepatlah keluar, nak. Ibumu sudah tak kuat lagi rasanya memberimu waktu untukmu agar keluar. Kami sudah tak sabar menanti kehadiranmu.’

Aku masih terus memegang tangan kanannya. Disertai genggaman tangannya yang semakin menguat. Rasa sakit menjalar di sekujur telapak tanganku, tapi tak sebanding dengan yang dialami istriku sekarang. Teriakan Jineul dimulai sejak pembukaannya yang ke-lima. Sepertinya Little Kim juga merasakan apa yang dirasa ibunya.

“Ayo, Ji. Kamu pasti bisa. Terus, terus.” Suara helaan napas beratnya semakin memberatkanku juga. Aku takut, takut dari segala kemungkinan yang terjadi. Terlebih setelah aku tahu sejak kehamilannya yang pertama. Kandungan Jineul tidak terlalu kuat, selain itu ukuran bayi kami yang cukup besar mungkin agak menyusahkan Jineul di saat-saat persalinan pertamanya kali ini.

“Op –ppah, hhh, rasanya a –aku, tak ku –at lagi,” ucapnya sangat pelan. Dokter dan suster tetap mencoba untuk Jineul terus mengejan.

Come on, you’re my strong wife. Im with you, always.”

Aku mengucapkan itu segenap lubuk hatiku yang paling dalam. Aku selalu jujur dalam berkata padanya. Jineul selalu jadi wanita yang membuatku tersenyum dan tertawa dengan tingkah polosnya. Terkadang sesi pertengkaran kami diisi dengan hal-hal yang sepele, nantinya akan berbaikan lain. Begitulah kami, terkadang orang memandang hubungan kami seperti bukan suami-istri karena kami jarang bersama di luar, tapi tetap di dalam rumah kami selalu dan akan terus mesra sampai akhir hayat nanti.

Tuhan begitu baik padaku memberika seorang wanita yang mampu menyeimbangi semua kelebihan dan juga kekuranganku. Tanpanya mungkin aku tidak bisa menemukan seorang wanita sehidup semati disaat usiaku sudah menginjak kepala tiga.

Tiba-tiba suara teriakan panjang dan melengkingnya kembali terdengar menjadi yang terakhir dari perjuangan hebatnya menjadi seorang ibu muda. Choi Jineul, istriku kini menutup mata rapat.

“Tuan Kim, anakmu perempuan.” Seorang suster sudah membopong bayi kecil nan mungil. Terlihat tidak ada darah lagi yang menghiasi tubuh anakku, anak kami. Sepasang tanganku yang sudah diselimuti sarung tangan karet menerima dengan tangan terbuka seorang bayi, seorang malaikat kecil yang diberikan Tuhan untuk ayah dan ibu muda ini.

“Nyonya Kim akan kami pindahkan ke ruang rawat. Beliau hanya tidak sadarkan diri sebentar. Beberapa menit lagi nyonya Kim pasti bangun.” Aku mengangguk dan membungkuk pertanda terima kasihku yang sangat dalam,

“Terima kasih, terima kasih dokter, suster,” ucapku lega disertai air mata kebahagiaan.

Akhirnya aku bisa melihatmu, nak. Lihat matamu sangat mirip denganku, hidungmu lebih mirip ibu. Lalu bibirmu juga mirip denganku, tidak mirip ibumu. Anni, kau mirip kami berdua, nona Kim.

“Tuan, boleh kami ambil bayinya. Kami akan bawa ke dalam incubator untuk menghangatkan bayinya. Nanti kami beritahu dimana tuan bisa melihat bayi tuan lagi.”

Aku mengangguk dan menyerahkan anak pertamaku. Di sela air mataku yang kuhapus segera mungkin bersamaan dengan Jineul yang perlahan dibawa keluar operasi. Daun pintu terbuka lebar, seketika itu juga aku melihat beberapa orang yang kukenal datang menyambut Jineul yang masih tak sadarkan diri dan juga menyambutku yang dengan cengengnya masih menangis. Air mata –sialan ini masih terus bergulir dari kedua manik mataku.

“Bagaimana Jineul? Dia tidak apa-apa kan?” Itu pertanyaan ibu pertama kali lantas mengajakku duduk di bangku rumah sakit diiringi ayah, adik serta kekasihnya. Tak lupa ada Kyuhyun, Donghae, Heechul, Leeteuk, serta Eunhyuk. Yang lain mungkin akan menyusul.

“Aku sudah melihat cucuku, nak. Perempuan,kan? Yeoppoda,” ujar ayah memelukku ringan serta memberi tepukan di bahuku. Wajah keriputnya tak nampak ketika ia tersenyum lebar padaku. Aku hanya bisa membalas senyumnya dan membalas tatapan orang-orang yang mengelilingiku.

Hyung, chukkae. Aku merasa senang bisa menjadi paman buat keponakan tercinta.” Jongjin merangkul Yoorin mesra. Melihat mereka seperti itu rasanya ingin menyodorkan pelukan hangat penuh kebahagiaan untuk Jineul. Apa dia sudah sadar sekarang?

Jineul’s side

Kesadaranku perlahan pulih. Kedua manik mataku terbuka seketika kulihat suster berdiri di sebelah tempat tidurku. Jadi ini masih dirumah sakit. Berapa jam aku tertidur? Lima jam, enam jam.

“Suster, jam berapa sekarang?”

Hanya ini yang bisa kutanyakan. Nyawaku masih berusaha aku kumpulkan karena kepalaku masih pusing.

“Sekarang jam delapan pagi, nyonya. Anda sudah tertidur kurang lebih –dua belas jam lamanya.” Aku melotot dan berusaha berpikir selama itu aku tertidur, tepatnya pingsan. Aku teringat dengan anakku dan suamiku, Yesung.

“Nyonya, anak anda ada di sudut sana. Kami sudah membawanya kesini sekitar satu jam yang lalu. Serta suami nyonya sedang keluar tengah membeli sarapan untuk anda,” terang suster tersenyum sopan. Dia seperti tahu apa yang kupikirkan sekarang.

“Terima kasih, suster.” Aku melihatnya membungkuk sopan sebagai balasannya.

“Kalau begitu, saya keluar. Sebentar lagi, suami anda pasti sedang menuju kemari,” ucap suster tersebut berbarengan dengan suara derit pintu geser bergerak menampakkan sosok pria yang tengah kucari saat ini. Pakaiannya sudah berganti rupanya. Ia mengenakan jaket abu-abu serta topi hitam andalannya, jangan lupa celana training yang selalu ia pakai jika sedang dirumah atau dalam keadaan santai.

“Lihat, suami anda sudah datang. Saya pamit dulu.” Aku mengangguk dan memperhatikan Yesung membungkuk mengucapkan terima kasih sebelumnya karena sudah mengecek kesehatannya istrinya yang baru saja tersadar dari tidur panjangnya.

Morning. Kau sudah bangun?” Aku masih mengangguk tanpa menjawab dengan suara. Aku tetap setia memperhatikannya sampai menuangkan bubur untukku.

“Sarapan dulu atau mau melihat little Kim ?”

Mataku langsung menatap boks bayi dihuni oleh tubuh kecil nan mungil. Spontan tubuhku terangkat, punggungku sudah tidak menempel di kasur rumah sakit.

Ya~kamu mau kemana, Ji? Aku akan membawa anak kita ke sini. Kamu tidak usah bangun.”

Aku tidak menjawabnya. Yesung membantuku berdiri dan memapah tubuhku dengan melingkarkan tangan di pinggangku, tak lupa tanganku dirangkul erat di leher kokohnya.

“Pelan-pelan, kamu masih sakit, Ji,” ucap Yesung hati-hati sekali menitih jalan untukku agar bisa mendekati ranjang kecil, tempat dimana malaikat kecilku dengan Yesung berada.

Satu detik itu juga, kedua mataku memerah menyaksikan sosok cantik dari bayi mungil kami. Matanya, bibirnya begitu mirip dengan Yesung, pandanganku tertuju pada suamiku sendiri yang juga menatapku, memperhatikanku. Mataku jatuh kembali pada bayi kami. Hanya hidungnya saja yang mirip denganku. Jelas orang pasti tahu anak ini, anak seorang penyanyi handal, Kim Jong Woon.

“Aku sudah memberikan nama bagus untuknya, Kim Ji Woon.”

Kepalaku menunduk mengerti. Aku selalu dan pasti suka apa yang diberikan Yesung selama itu baik untuk kami berdua dan juga bayi kami.

‘Welcome to the world, Kim Ji Woon’

p.s :  ini lanjutan dari kisah “The Wedding” dan “Little Kim’s Here“.

Iklan

2 tanggapan untuk “Welcome, baby.

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s