Little Kim’s Here


© pregnancynewbornphotograph

Pernikahanku dengannya sudah menginjak hampir satu tahun dan genap satu tahun, tepatnya enam bulan yang lalu akhirnya aku hamil.

Tentu perjuangan yang tidak mudah. Aku dengannya sudah mencoba beberapa tips agar bisa mendapatkan momongan. Tapi baru genap setahun pernikahan kami, akhirnya Tuhan mengabulkan doaku dan dia.

Sudah satu tahun lebih pula aku menyandang status sebagai nyonya Kim, Kim Jongwoon. Penyanyi maestro yang kini sudah berlanjut dengan konser tunggalnya. Kini dia tengah terlelap tidur setelah dua bulan ini melanglang buana mengelilingi Negara Jepang, jelas saja dia konser tunggal disana. Akupun ditinggalnya, tenang saja tidak sendiri. Ayah dan ibu Yesung –nama suamiku ini menjagaku dengan sangat baik di rumah hangat mereka berdua. Terang saja aku begitu terharu merasakan perlakuan mereka. Bukan karean aku istri seorang Kim Jong Woon tapi juga karena kedua orang tua yang beranjak tua ini sudah menganggapkan sebagai anak perempuannya sendiri.

Berlanjut dengan suamiku yang kini mendengkur halus di atas sofa lembut kamar kami. Aku berjalan pelan-pelan sembaru mengusap perutku yang sudah membesar. Little Kim sudah cukup aktif bergejolak lincah di dalam tubuhku.

Hey, Mr. Kim. Wake up. Little Kim is here,” bisikku lembut setelah aku mendudukan diri dengan nyamannya di sebelah Yesung yang terduduk dalam keadaan mata tertutup. Setelah semalam tadi dia baru pulang. Pria ini membiarkanku tidur lebih dulu, lebih tepatnya menyuruhku tidur lebih cepat tanpa perlu menunggunya yang baru saja pulang ke Korea. Kata ibu, dia pulang jam dua malam tepat sejam setelah aku terbangun karena perutku terasa sakit serta pinggangku kambuh sakitnya. Rupanya little Kim sudah tak sabar ingin cepat melihat dunia, yah.

“Hmmm,” lenguh pelan. Priaku sudah agak terbangun dengan mata sipitnya yang sempat melirikku di sisi kirinya. Satu waktu itu juga dia mendekat dan mengulurkan tangannya di atas perutku. Lantas kepalanya dijatuhkan di bahuku. Lihat, dia masih manja saja terhadap istrinya.

“Bagaimana dengan little Kim. Apa dia menendang lagi?”

Suara berat dan begitu mengena di gendang telingaku langsung menyusup ke pembuluh darahku. Aku cukup merinding dan siap tak siap tatkala indera penciumannya mengendus tulang selangkaku. Yesung cukup piawai menciumiku. Tangannya sudah mengusap-usap perutku lembut. Bersamaan dengan tendangan kecil dalam perutku.

“O, dia menendang,” seru Yesung yang tentu saja mengagetkanku. Mata sipitnya melebarkan, rambut berantakan serta wajah lesunya tampak begitu menggairahkan bagiku.

Ayolah, Choi Jineul. Ini masih pagi…

“Heem, dia menendang sejak tadi pagi. Mungkin dia tahu papanya sudah pulang.” Aku menangkup tangan Yesung yang berada di perut besarku. Lantas tangannya beralih menggenggam tanganku.

“Terima kasih, sudah cukup sabar menanti buah hati kita lahir di dunia,” ucapnya langsung menciumku intens. Aku tak tahu harus berbuat apa selain membalas ciumannya yang menurutku penuh hasrat akan kerinduan.

Waktu sebulan lebih tentu bukan waktu yang lumayan cepat untuk kami berpisah sebentar. Kalau saja aku tidak hamil besar pun, aku bisa mengikuti Yesung kemana saja dia konser. Tapi sekarang tidak bisa, Yesung selalu melarangku untuk pergi jauh. Kecuali harus ditemani Ayah, Ibu serta Jongjin. Tentu saja, tidak selamanya aku ditemani oleh ketiga orang tersayangku itu. Aku bisa kapan saja mengontak Ahyoung untuk mengantarku selagi ia bisa.

“Selain little Kim yang tahu dan senang ayahnya pulang. Apa ibunya juga tahu kalau ayahnya juga pulang?”

Pertanyaan bodoh macam apa ini? Setelah dia puas menciumku, dia langsung menanyakan hal sejenis itu. Aku tidak menjawab dan juga memperlihatkan gerakan bahwa aku juga tahu dia pulang. Aku berdiam menatap mata tajamnya yang juga menatapku tanpa berkedip sedikitpun. Wajahnya langsung mendekatiku lagi, serta merta menciumku –lagi tanpa ampun.

“Ternyata wanita hamil itu lebih cantik dibandingkan wanita lain,” celetuknya mengundang senyum lebarku menjauhkan dada bidangnya dariku. Aku memposisikan dudukku bersila di depannya. Memperhatikan wajah suamiku dari dekat dan berucap,

“Ternyata suamiku ini jauh lebih mesum dibanding saat aku belum hamil.” Yesung tertawa renyah diiringi suara merdunya saat tertawa. Aku menyukai momen ini, dia tampak begitu bahagia dan senang. Beruntunglah selama sebulan lebih, dia tidak berubah sedikitpun. Aku terlihat khawatir, yah?

“Dan aku semakin gemas padamu. Kalau kau tidak sedang hamil little Kim. Sudah aku serang sejak tadi.” Yesung mengikit jarak lagi diantara kami. Kedua tangannya terulur memegan kedua sisi wajahku. Mencium kening, pipi dan bibirku.

Ya !Oppa, kau benar-benar menghabisi ibu hamil ini,” selorohku dibareng tawa dia –lagi. Namun priaku kini beranjak dari duduknya. Sepertinya dia mau mandi.

“Aku mandi dulu. Nanti kita bermesraan kembali. Aku rindu kopi buatanmu. Bikinkan, yah.” Yesung berbalik badan dan mengamatiku seksama dari atas sampai bawah.

“Aku lupa bilang, ternyata wanita hamil itu jauh lebih seksi.”

Pria itu langsung berjalan ke kamar mandi. Tanpa memedulikan diriku yang sudah memerah wajahnya karena ucapan asalnya. Bibir tebalnya perlu aku bungkam sekali-kali.

Oppaaaaa !!”

♦♦♦

p.s : cerita ini inspirasi dari novel Critical Eleven, yang menurut gue cukup romantis dan gemas dengan dua karakter ini. Selebihnya bisa kalian bawa novel karya Ika Natassa itu.

Biar nyambung, ini lanjutan dari kisah “The Wedding”. Yang mau baca silakan, yang engga juga gapapa 😉

Iklan

Satu tanggapan untuk “Little Kim’s Here

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s