Hujanku


Wet Umbrella --- Image by © Michael Prince/Corbis
Wet Umbrella — Image by © Michael Prince/Corbis

Hujan itu sekedar titik-titik air dari awan hitam yang muncul karena penguapan berasal dari air laut yang suhunya memanas. Namun terdengar menakutkan ketika ia mengingat kejadian telah lama merenggut orang terkasihnya. Kalau bisa, Mira ingin menyalahkan hujan yang turun sesaat kakak lelakinya pergi untuk selamanya.

Ia masih setia termenung di samping batu nisan Reza, kakak tercinta. Leo berjongkok dan tangannya merengkuh bahu Mira untuk disandarkannya di bahunya sendiri. Ia tetap menunggu teman masa kecilnya sekaligus orang yang ia cintai diam-diam. Mira sosok gadis yang baik, cantik dan cukup pintar. Leo sangat mengagumi sikap ramah Mira pada semua orang, termasuk dirinya. Teringat ia pernah menyatakan perasaannya pada Mira, tapi jawabannya tak memuaskan. Gadis itu menganggap Leo hanya bercanda. Ia terdiam tapi tidak memiliki dendam sama sekali. Biarlah semua berjalan bagai air yang mengalir tenang. Sejuk dan nyaman. Leo ingin membuat Mira nyaman di dekatnya.

“Kita bisa pulang sekarang?” tanya Leo melirik wajah Mira yang termenung. Ia tetap mengingat kakaknya. Gadis berambut panjang itu mengangguk setuju. Meskipun bibirnya tertutup rapat. Mira pasti tetap menuruti  perintah Leo. Mira percaya sepenuhnya pada Leo.

.

Sudah tiga hari lamanya, Mira tidak masuk kuliah. Leo telah menanyakan pada Ibu Mira. Beliau menjawab sejak lusa kemari. Sehari sebelumnya Mira bilang tidak enak badan. Puncaknya lusa lalu, Mira demam tinggi. Dan sekarang Leo sudah berdiri di depan pintu rumah Mira untuk menjenguk gadis itu.

“Mira ada di kamar. Dia sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa, nak Leo.” Pria itu tersenyum kaku. Hatinya mencelos mendengar pernyataan tante Erni, ibu dari Mira. Tapi Leo berusaha memakluminya. Mira memang sedang butuh waktu sendiri –lagi.

“Begitu ya tante. Kalau begitu saya pulang. Terima kasih, tante.”

“Iya, Maaf ya nak Leo. Nanti tante sampaikan kamu datang ke sini,” ucap tante Erni sesaat mereka berjabat tangan. Leo mencium tangan tante Erni sebelum ia pulang ke rumahnya.

Setelah dari kampus tadi, Leo berniat menjenguk dan membawakan bunga mawar merah muda untuk Mira beberapa ikat. Sayangnya Mira tidak mau diganggu seharian ini. Leo menghela napas berat. Mungkin besok atau lusa dia bisa bertemu Mira.

.

“Leo !” Sebuah pekikan mengganggu pendengarannya. Leo menoleh ke sumber suara. menyadari jika Mira berlari kecil ke arahnya. Kedua tangannya membawa buku-buku yang tampaknya berat untuk dibawa.

Hey, kamu udah sembuh?” tanya Leo dengan senyum sumringah melihat wajah Mira tampak berseri.

“Sudah dong. Ga kangen sama aku?” Leo tertunduk malu. Tanpa perlu ditanya pasti jawabannya tentu merindukan gadis ini.

“Kok ga jawab? Malu yaah.” Mira mencolek bahu Leo. Gadis itu menghempaskan tubuhnya di sebelah Leo. Sekarang mereka hanya berdua. di pinggir lapangan kampus. Ditudungi daun-daun rindang pohon besar.

“Aku minta maaf kemarin ga bolehin kamu jenguk. Aku lagi ga mau ketemu siapa-siapa dulu. Lagian aku lagi berantakan. Rambut berantakan, mood ga baik, tubuh juga masih lemas. Gapapa kan?” jelas Mira menatap Leo lekat-lekat. Pipi tirus pria itu tampak memerah. Apa ini karena interaksi mereka sekarang? Mira memandang jarak mereka berdua. Sepertinya tidak yang salah.

“Kamu kenapa? Ada yang salah?” tanya Mira heran. Leo menggeleng cepat. Ia tidak mau reaksi tubuhnya ketahuan oleh teman kecilnya ini.

“A, tidak. Tidak ada apa-apa. Kau tenang saja, Mira.” Leo menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.

“Ada yang kamu sembunyikan, yah?”

‘Ya, aku menyembunyikan perasaanku.’ Batin Leo dalam hati.

.

Bulan Desember sudah memasuki musim penghujan. Kota Surabaya diguyur hujan selama dua hari terakhir. Prediksi BMKG tidak meleset sama sekali. Leo berlari dari halte menuju gerbang kampus. Baru beberapa langkah, sahutan memanggil namanya keras. Mengalahkan derasnya air hujan yang mengguyur jalan besar itu. Leo berbalik melihat Mira turun dari bis.

“Mira,” bisiknya. Leo kembali ke halte. Mira menyusul dengan berlari ke arah Leo.

“Sekarag hujan, kita pasti terlambat ke kelas.”

“Tidak akan.”

“Tidak akan? Maksudmu?” tanya Mira heran. Ia tidak tahu maksud Leo. Sehingga pria itu menghela napas sejenak. Kemudian menatap Mira lekat-lekat.

“Kita tidak akan terlambat. Kalau kita bisa pergi menembus hujan untuk sampai ke dalam kampus.” Kedua mata Mira terbelalak mendengar ucapan Leo. Kepalanya menggeleng berkali-kali.

“Kau gila. Mau membunuhku dengan berhadapan dengan hujan?”

“Ya, aku gila. Aku mau membuktikan padamu. Hujan itu tidak seburuk yang kau pikirkan.” Mira bergerak menjauhi Leo. Keras kepalanya tidak pernah hilang sama sekali. Pikiran dan jiwanya selalu dipenuhi ketakutan dengan hujan. Leo menghembuskan napasnya kasar. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk membuka batin Mira. Bahwa ini tidak membahayakan dirinya.

“Kau tidak mau?” tanya Leo. Mira bergeming menatap nanar guyuran hujan yang membasahi sepatu ketsnya.

“Baiklah, aku pergi duluan. Kau tunggulah sampai hujan berhenti. Aku rasa ini agak lama. Jadi bersabarlah menunggu.” Leo menepuk-nepuk bahu Mira. Sebelum akhirnya ia serius meninggalkan Mira sendirian. Sendiri di halte bersama orang-orang yang mencari tempat berteduh.

Beberapa langkah yang Leo buat. Ia berbalik, beralih memandang sosok Mira berdiri yang menatap dirinya kosong. Separuh jiwa gadis itu seakan hilang bersama dengan ketakutannya. Leo melanjutkan perjalanan singkatnya.

‘Maafkan aku, Mira.’

.

Pagi menjelang siang, jam-jamnya mahasiswa masih ada di kelas. Sedangkan Leo baru berangkat dari rumahnya menuju ke kampus. Motor yang sengaja ia kendarai hari ini saking malasnya. Karena biasanya ia menggunakan bis untuk perjalanan rumah ke kampus. Ia terus melangkah di koridor gedung yang sepi karena mahasiswa yang lain di kelas. Cuma ada beberapa mahasiswa yang berlalu lalang di koridor maupun di lapangan.

Sepasang mata kecilnya melihat sosok Mira berjalan santai tak jauh dari tempatnya sekarang. Terlintas untuk menyapa gadis berambut panjang itu sekarang. Leo tersenyum, ia mengambi langkah besar menyusul langkah Mira.

“Hai !” sapa Leo mensejajarkan langkahnya dengan Mira. Ekspresi wajah kaget Mira jelas terlihat, sedetik kemudian berubah datar. Mata tajamnya mendelik mendapati kehadiran Leo yang sedang tidak dia inginkan. Mulutnya terkunci rapat tanpa perlu membalas sapaan ringan Leo di hari ini.

“Hei, kenapa diam?” tanya Leo polos. Tampaknya pria itu tidak tahu menahu dimana letak kesalahannya kali ini. Mira memutar bola matanya dan berlalu cepat meninggalkan Leo yang melambati langkahnya.

“Mira, Mir,” sahut Leo pelan tetap menjaga sopan santunnya di kala kampus ini ada jam mengajar.

Ada apa dengannya?’

.

“Ada Mira?” tanya Leo pada teman perempuan Mira di kala siang hari ini. Sudah dua hari lalu, Leo merasa tidak ditanggapi kehadirannya ketika mereka ada waktu berdua. Gadis itu melesat pergi, menjaga jarak sejauh mungkin. Leo pun sadar titik kesalahan besar untuk Mira.

“Dia tidak masuk hari ini. Katanya sedang mengurus kepindahannya. Kamu tidak tahu?” Alisnya terangkat, menatap heran ucapan yang dilontarkan Dea, teman sekelas Mira.

“Pindah? Pindah apa?”

“Kamu serius tidak tahu? Dia sebulan lagi pindah dari kampus. Katanya ingin melanjutkan study ke Jakarta.”

“Ke Jakarta?” Leo mengucapkan perkataan Dea. Terngiang kata ‘pindah’ dan ‘Jakarta’. Sejauh itu Mira pergi, lantas alasan tepat yang masih belum masuk di akal sehat Leo.

“Ku kira kamu tahu kalau Mira akan pindah. Aku tinggal, yah,” ucap Dea berlalu pergi dari pandangan Leo. Meninggalkan berjuta pertanyaan dalam benaknya.

.

“Kamu mau pindah kemana?” Leo menghampiri Mira begitu melihat gadis itu duduk santai di depan gedung perpustakaan. Kebetulan suasana sedang sepi, Leo bisa mendesak Mira untuk bicara panjang lebar soal kepergiannya juga hujan.

“Bukan urusan,” ketus Mira berpaling dari pandangan Leo. Membelakangi laki-laki tampan tersebut. Leo menyangka Mira masih marah soal itu. Soal hujan deras yang langsung menganggap Leo sebagai pria yang jahat.

“Selama kita masih berteman. Itu menjadi urusanku.”

“Teman? Kamu anggep aku temen?” tanya Mira penuh teka-teki.

“Apa maksudnya? Bicara yang jelas, Mir. Aku ga tahu apa yang kamu bicarakan,” jelas Leo mendesak Mira bicara jujur padanya. Tidak dengan kata-kata berbelit yang semakin membuat suasana tidak membaik.

“Kamu jahat. Kamu ninggalin aku waktu itu. Padahal hujan masih deras. Aku panggil kamu tapi kamu ga jawab.” Leo mendengarkan seksama. Mira memanggilnya, tapi Leo tidak menyadarinya sama sekali. Apa saat itu halusinasinya saja melihat Mira terdiam dengan tatapan kosong. Leo menelan ludahnya, melihat tatapan kesal Mira ke arahnya.

“Tapi kamu ga mau menurutiku. Aku bilang kita ke kampus bersama. Aku pasti memegang tanganmu sampai ke gedung. Hujan ga akan membuatmu mati.” Serempak Leo selesai bicara. Hantaman keras mendarat di pipi kirinya. Mira menamparnya tidak keras tapi cukup menyakitkan hatinya. Ucapannya salahkah? Leo mengusap pipinya yang memerah

“Kamu jahat banget, yah. Aku kira aku bisa maafin kamu kali ini. Ternyata kamu tetap sama. Yaudah kalau kamu ga mau lagi berteman sama aku. Kita ga usah ketemu lagi.” Mira beringsut pergi dari bangku plastik tempat mereka terduduk disana. Leo menatap sendu kepergian Mira dari penglihatannya.

“Ucapanku salah lagi.”

.

Lagi-lagi hujan deras. Sudah hampir sebulan hujan mengguyur kota Surabaya. Satu harinya matahari bisa tidak muncul sama sekali karena tertutupi awan mendung yang gelap kelabu. Leo mengendarai mobilnya dari perpustakaan tak jauh dari kampusnya.

Hari ini harus membuat referensi untuk tugas sastranya. Dan dua hari besoknya, Leo harus mengumpulkannya. Stir mobil yang ia pegang bergerak mengarahkan mobil pribadi milik kakaknya. Sengaja membawanya karena hujan terus turun sejak pagi tadi. Jalan perumahan tampak sepi. Beberapa kendaraan lewat tak sebanyak hari biasanya.

Tiba-tiba sepasang mata Leo mendapati sosok perempuan tak asing di benaknya. Ketika mendahului langkah wanita itu, Leo menyimpulkan ia adalah Mira. Untuk apa gadis itu diluar? Kagetnya, tubuh Mira dibasahi air hujan yang terus menerpa tubuh serta jalanan basah menemaninya.

“Mira.” Leo langsung menepikan mobil. Memasang rem tangan dan membuka payung setelah menutup pintu mobil. Berniat menyusul Mira.

“Mir, Mira,” sahut Leo. Tidak ada respon, tapi Leo yakin panggilannya sudah cukup keras memanggil teman kecilnya.

“Mira !” panggil Leo lebih keras lagi. Berhasil ! gadis itu berhenti. Coat panjang yang dipakainya turut bergerak sesaat sang pemilik menghentikan langkahnya. Leo langsung menyampirkan jaket di tubuh Mira.

“Kenapa basah-basahan? Yuk, kerumahku. Keringkah tubuh dan bajumu.” Leo menarik bahu Mira untuk mengikutinya. Tapi gadis itu tetap berdiri kaku. Ia seperti patung yang tidak ingin menuruti siapapun.

“Oh, Mira. Ayolaaah, menurut sekali saja padaku.” Akhirnya Leo dapat membawa tubuh Mira bersama ke dalam mobil. Menepi dan berteduh di rumah Leo. Ibunya sedang tidak ada, kakak perempuannya pun tengah bekerja. Hanya Leo yang akan menjadi penghuni pertama di rumahnya siang ini.

Selama perjalanan, mereka berdua terdiam. Mira sama sekali tidak membuka suara. Leo sendiri ragu untuk memulai pembicaraan.

Hmm, kamu ngapain di luar hujan-hujanan?”  Tidak ada jawaban.

“Ga bawa payung, yah?” Sekali lagi Mira tidak menjawab atau mengeluarkan suara untuk menandakan dirinya baik-baik saja. Leo memberhentikan mobilnya setelah memasuki halaman rumahnya. Leo menatap Mira sekarang.

‘Apa yang dipikirkan gadis ini?’

“Kenapa kamu mau menolongku ? Bukankah aku sudah menamparmu ?” Mira tertawa memaksa. Ia berusaha mencarikan suasana. Tapi Leo menganggapnya serius.

“ Aku tidak mungkin membiarkan kamu kehujanan. Ini masih hujan nanti kamu sakit. Cara menyukai hujan bukan seperti itu. Buatlah hujan sebagai berkah dari Tuhan dan nikmati bunyi percikan air hujan jatuh dari langit, bau-bau hujan yang menenangkan. Itu tidak mungkin kau dapat di musim lain.”

“Lalu kenapa kamu membawaku kesini? Kenapa kamu menolongku, Leo?” tanya Mira mendesaknya bertubi-tubi. Leo diam seribu bahasa.

“Jawab, Leo. Kumohon ! Seharusnya kamu membiarkan aku kehujanan. Aku mulai menyukai hujan seperti dirimu. Aku tidak akan membenci hujan lagi hanya karena hujan sudah membuat kak Reza pergi.”

Stop. Kumohon berhenti bicara seperti itu. Aku tidak suka kamu menyalahkan hujan lagi. Semua adalah takdir Tuhan, kamu jangan menyalahkan segala hal yang berhubungan dengannya.” Mira tersenyum samar. Matanya menatap Leo lekat-lekat.

“Lalu kenapa kamu menolongku? Kenapa?” Tangan Mira terjulur mendorong-dorong tubuh Leo ke belakang, menjauhi pria itu dari jangkauannya. Reaksi Mira terlalu berlebihan, Leo memegangi kedua tangan gadis itu.

“Berhenti,” ujar Leo pelan sangat pelan. Mengabaikan rasa sakitnya yang perlahan mulai menggenangi matanya dengan air mata kesedihan.

“Berhenti, Mir. Dengarkan aku.” Suara serak Leo memberat. Mira tersadar dan melihat  mata Leo berair. Leo mengenggam pergelangan tangan Mira erat.

“Aku senang kamu mulai menyukai hujan. Itu artinya perlahan melupakanmu dari kejadian masa lalu. Kak Reza pasti senang kau sudah lebih baik sekarang. Kuharap kau berhenti menyalahkan dan membenci hujan.”

“Aku menyukaimu. Aku baru bisa bilang sekarang. Karena kamu pasti tidak percaya dan akan menganggap semua perasaanku adalah candaan belaka,” jelas Leo melepas genggaman tangannya dari tangan Mira.

“Tidak, aku percaya, Leo.” Mira memajukan tubuhnya dan memeluk tubuh Leo. Tak peduli tubuh mereka basah kuyup. Terpenting sekarang, Mira percaya Leo adalah pria yang baik dan rela melindunginya.

“Aku juga menyukaimu. Terima kasih, hujanku.”

¨¨¨

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s