Pantai Belitong


PhotoGrid_1417224886702

ferrinamd.

Syahrir menyusuri jalan setapak. Semuanya perlahan menjadi biasa baginya. Di kala melepas penat anak remaja itu pasti pergi keluar rumah. Bahkan sering kali berjalan kaki menuju pantai yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya.

Pantai Belitong menjadi primadona baginya. Tak hanya melepas penat semata. Syarir pun dapat menikmati keindahan pemandangan pantai Belitong yang permai. Batu-batu karang besar menyebar di sisi tepi pantai mengeluarkan daya tariknya sendiri bagi Syahrir. Hanya dia yang menyadari betapa mengagumkannnya pesisir pantai di pulau Bangka Belitung yang asri. Orang-orang hanya menjuluki pantai Belitung sebagai pantai Timah.

“Kau mau kemana, Syahrir?”

            “Aku mau ke pantai Belitong. Kau mau ikut?”

“Pantai Belitong? Tidak minat Aku kesana. Kau saja sendiri.”

Syahrir melempar kerikil ke tanah merah mengingat jawaban dari temannya. Kesal sendiri jadinya jika teringat kembali. Tapi tenang saja itu belum seberapa dibanndingkan celotehan teman laki-lakinya ini.

“Kenapa kau sering kali pergi kesana? Pantai itu tak begitu bagus. Hanya karang dan batu-batu besar dan hitam saja yang ada disana. Apa bagusnya itu?”

Setelah berkata itu, Andi –teman dekatnya pergi begitu saja. Bukan kejadian lama, baru saja Syahrir mendengar kata-kata tersebut dari Andi sebelum ia akhirnya pergi tanpa menghiraukan panggilan sang ibu yang memanggilnya. Syahrir marah, syahrir sebal, apa sejelek itukah pantai Belitong? Tidak juga.

Temannya itu terlalu jujur. Bagaimana pun pantai itu masih merupakan lingkungan tempat tinggal. Terlebih jaraknya tidak terlalu jauh dari pemukiman mereka.

Sekali lagi, Syahrir menghela napas kasar. Apa boleh buat kalau mereka berbicara semacam itu. Lain waktu Syahrir harus bisa memaksa teman-temannya untuk bertandang ke tepi pantai Belitong.

Mereka tidak tahu saja betapa elok tanah kelahiran tercinta ini.

Syahrir terus berjalan kaki dengan beralaskan sandal jepit saja. Berbekal air mineral secukupnya sudah mampu mencukupi kebutuhan minumnya selama perjalanannya kini. Menyusuri jalan setapak berbatuan yang berliku. Menghimbaunya untuk tidak salah langkah. Sekali ia mengambil jalan yang salah, Syahrir akan terpeleset. Tidak akan ada siapapun yang menolongnya. Karena ia melewati jalur yang jarak dilalui orang.

Jelas saja, Syahrir berani mengambil keputusan yang berani. Demi mencapai tujuan, Syahrir rela mempertaruhkan nyawanya sendiri. Bukan laki-laki belitong yang tidak bisa memutuskan sesuatu. Semua terasa alami, Syahrir selalu melakukannya. Ia bisa memutuskannya sendiri. Dia sudah besar dan Syahrir bisa menjaga dirinya sendiri. Syahrir, laki-laki sejati.

Kaki-kaki kecilnya hampir menggapai butir-butir pasir yang sebentar lagi menyapa. Masih ada kerikil kecil dan besar yang mengenai sandal tipisnya. Matahari terik tak menghalanginya terus berjalan. Pikirannya membayangkan bagaimana ia mengajak teman-temannya yang pasti akan mengeluh membayangkan betapa panas udara menerpa kulitnya menghitam. Syahrir tidak takut kulitnya menghitam. Ia lebih takut tidak bisa melihat pantai Belitong tercintanya. Serasa alam milik sendiri.

Bentangan birunya cakrawala langsung menyapa. Menimpa retina matanya, menyilaukan bola matanya. Sontak kelopak matanya menurun menghindari bias cahaya matahari.

“Wah !” seru Syahrir merentangkan kedua tangannya. Indera penciumannya menghirup harum mewangi bau laut yang menyegarkan. Lantas kaki lincahnya melempar sandal yang melindungi telapak kaki yang penuh luka.

Syahrir membawa dirinya, menerjang ombak laut menghantam pasir putih menerjang tubuh kecilnya. Syahrir terus menerjang air laut yang menepi, tasnya ditinggalkan dekat sandal bututnya.

“Asiiik !” pekiknya menikmati dinginnya air, menetralisir panas yang membakar kulitnya. Harum air laut menyegarkannya sekali lagi. Anak remaja laki-laki itu tertawa lebar, mengeluarkan tawa renyah menggugah siapapun yang mendengarnya.

Beberapa menit bermain air laut, Syahrir menepi. Ototnya terasa nyeri, baru ingat Syahrir tidak melakukan pemanasan sama sekali. Itu belum seberapa, Syahrir sudah seringkali mengalami. Beruntungnya tidak ada keluhan berat yang dirasakan badan kurusnya. Kehausan mendera tenggorokannya. Mengharuskannya untuk meneguk air jernih secepat mungkin. Jejak kaki di pasir menjadi basah. Menyerap dengan cepat jejak air milik Syahrir.

Badannya terhempas di atas butiran pasir yang ikut bergerak mengikuti pergeseran tubuhnya. Menenggak beberapa teguk demi melancarkan jalur tenggorokan yang sudah kering. Tapi semuanya tertutupi kesenangannya dengan bermain pasir.

“Enaknya kalau tiduran disini dulu.” Syahrir membawa baju, tas kecil dan minumnya. Berpindah tempat di bawah pohon kelapa besar dan sejuk. Merebahkan tubuh setengah telanjangnya di atas bulir pasir. Sekali lagi menikmati pantai indah sendiri. Kepalanya terlindungi dengan lipatan tangannya di belakang kepala. Menjadi bantal sesaat sebelum ia mulai tertidur. Menunggu sore menjelang, hingga terdengar suara sahut-sahutan meneriaki namanya.

Kepala syahrir mendongak ke belakang. Menatap beberapa anak-anak yang berlari menghampirinya.

“Syahrir, syahrir.”

Itu Andi. Ada apa dia kemari?

Andi tidak sendiri, ia bersama tiga teman Andi yang lain, Dodi, Bani dan Heri. Mereka menyusul Syahrir. Ini mengejutkan.

Selama perjalanan, keempat temannya sengaja mengikuti Syahrir. Makin lama, Andi makin penasaran apa yang dilakukan Syahrir di pantai itu. Lalu andi sengaja mengajak teman sekolahnya yang lain untuk membututi Syahrir. Diam-diam, tanpa diketahui anak laki-laki kulit legam itu. Selanjutnya, mereka baru keluar dari persembunyian usai Syahrir bermain-main dengan air.

Syahrir kira temannya tidak akan pernah datang ke pantai ini. Tak disangka, mereka datang tanpa diduga.

“Syahrir, ayo kita main,” seru Andi menarik-narik tangan Syahrir, memaksa anak itu untuk bermain kembali ke pantai.

Syahrir menarik kata-katanya, sekarang ia tahu, semua orang lambat laun pasti akan terpikat pada pesona pantai Belitong. Syharir pun bangkit dari rebahannya, berlari menyusul temannya yang lain untuk kembali bermain dengan air, dengan alam indah Indonesia tercinta.

“Ayo, Syahrir. Kita main basah-basahan lagi.”

***

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s