Goresan Pelangi


rainbow_in_the_dark__by_witch3110-d3llaui

by. ferrina

“Lihat ! pelanginya ada di belakang bukit.” Keempat anak berlari mengikuti arah pelangi berada. Kaki-kaki telanjang mereka lincah melangkah lebar. Kini mereka telah sampai di belakang bukit.

“Wah ! Keren !” pekik anak laki-laki berambut lebat. Ia merentangkan tangannya merasakan semilir angin setelah hujan deras membasahi perkampungan. Anak perempuan dengan rambut berkuncir dua itu menghampiri Dudu, nama anak laki-laki berambut tebal. Ia turut merentangkan tangannya, meniru tingkah polos teman karibnya.

“Aku suka pelangi !” teriak Heni, anak perempuan itu.

“Kamu suka pelangi?” anak perempuan lain berambut pendek sebahu menghampiri Heni. Kepala Heni mengangguk cekatan. Dia memang senang pelangi. Kata Ibu, pelangi itu indah, banyak warna dan tak berujung. Lebar pelangi sepanjang langit menghiasi awan mendung yang perlahan menghilang terbawa angin. Titik-titik air hujan yang dingin pun ikut berhenti jatuh. Membiarkan anak-anak melihat betapa indah alam ciptaan Tuhan.

“Aku juga suka.”

“Yeeee, kita sama,” seru Heni menarik tangan Rani, anak perempuan berambut sebahu. Mereka menari memutar di satu tempat, mengiringi pelangi yang masih jelas terlihat.

“Pelangi banyak yang suka kan. Warnanya aja banyak. Siapa yang ga suka?” celetuk bocah laki-laki menyusul dari belakang. Dia berlari lambat daripada yang lain. Itu kekurangannya. Tapi Putra mensyukurinya, ia bisa menikmati pelangi tanpa harus diburu temannya untuk mengejar mereka. Putra sangat senang begitu tahu ada pelangi muncul di balik bukit belakang rumah. Dia langsung memberitahu Dudu, Rani dan Heni untuk mengamati dari dekat lintasa bercorak kaya warna yang terdiri dari tujuh warna indah.

“Iya, pasti banyak yang suka. Bagus dong berarti ga cuman kita sendiri aja yang suka.” Putra tertawa renyah mendengar celotehan Rani.

Mereka terus berdiri menikmati pelangi yang kian samar dan kabur seperti tertiup angin sore yang kencang. Kaki kecil mereka basah karena kumpulan rumput hijau terkena air hujan menyentuh kulit lembut mereka berempat. Hingga pelangi itu menghilang dan langit sore jelas terlihat setelah awan mendung ikut pergi membawa pelangi bersamanya.

“Kamu nungguin apa, nak ?” Sejak tadi Putra memandangi langit kelabu. Tapi sudah setengah jam ia menatap langit berharap akan turun hujan. Nyatanya semua hanya harapan kosong yang terbuang sia-sia tanpa jejak.

“Pelangi. Kok ga dateng ya bu?” Sang ibu tersenyum mendapati tingkah laku anaknya yang sangat ingin tahu dengan semua yang berhubungan dengan pelangi. Sejak beberapa hari lalu, Ibu menceritakan tentang pelangi. Putra selalu setia menunggui langit mendung, berharap hujan segera datang dikala hawa dingin menyergap di perkampungan mereka.

“Ngapain kamu nungguin pelangi? Kan sekarang udah ga ada ujan lagi. Matahari aja udah sering muncul. Kamu masih mau nungguin pelangi?” Putra mengernyitkan dahi. Sejenak berpikir apa yang dikatakan ibunya. Benar juga, musim panas mulai datang dan hujan sudah jarang mampir. Jelas saja, pelangi tak mungkin datang lagi. Lalu Putra harus apa? padahal dia berharap pelangi datang. Mulai dari hulu pelangi sampai ke hilir pelangi. Putra sangat ingin menatap langsung bias-bias cahaya yang berpendar itu.

“Habisnya, bu. Aku kan baru lihat kemari. Deket banget lagi, bu. Aku jadi mau lihat lagi.” Itulah harapan Putra ingin melihat sekali lagi. Kalau perlu berkali-kali ia ingin melihat pelangi. Putra jadi menyukai, sangat menyukai pelangi. Warna-warnanya sangat indah dipandang mata.

“Kamu mau lihat lagi?” Putra mengangguk berkali-kali.

“Tunggu disini. Ibu mau ambil sesuatu.” Wanita muda itu bangun dan pergi ke belakang. Putra menunggu dengan sabar. Dirinya terus menilik ke atas langit masih mendung. Matanya tetap awas mengamati pergerakan awan abu-abu yang berjalan lambat. Percuma saja Putra jadi capek menunggunya. Pasrah kalau memang pelangi tidak datang lagi. Harus menunggu musim hujan kembali datang.

“Ibu punya ini.” Sang ibu kembali datang, bukan dengan tangan kosong. Melainkan membawa sekotak pensil warna dan buku gambar berukuran A4.

“Buat apa bu?” Putra menatap ibunya duduk di sampingnya, lalu membuka buku gambar yang ternyata milik anak laki-lakinya.

“Mau gambar,” jawabnya singkat. Senyumnya terkembang menimbulkan dekik kecil yang muncul di pipi sebelah kanan ibu.

“Itu kan punyaku,” ujar Putra. Sepertinya anak itu mulai tertarik untuk melihat apa yang dilakukan beliau sekarang. Tangan lembut ibu mengambil pensil warna merah, ia menggoreskannya di atas kertas putih. Membentuk garis melengkung dari ujung kiri bawah menuju ujung kanan bawah. Garis itu diwarnai sangat rapi dan indah.

“Ibu mau buat apa sih?” tanya Putra. Ia tidak mengerti apa yang ibunya lakukan. Sang Ibu terus mencetak garis itu, hingga warna ke tujuh, warna ungu.

“Itu pelangi ?” Pertanyaan Putra lebih menyerupai Pernyataan yang benar adanya. Wanita muda itu menggeser duduk Putra dengan merangkul Putra sepanjang bahu anak semata wayangnya.

“Betul. Ini pelangi. Mudah kan membuatnya? Kau juga bisa buat pelangi. Setidaknya Putra bisa tahu bagaimana bentuk pelangi lewat kertas gambar ini.” Putra mengangguk paham. Ia mengerti apa yang diucapkan ibu. Setidaknya yang dilakukan sang Ibu bisa melipur kegundahan hati Putra karena tiadanya pelangi di langit. Meskipun tidak ada pelangi di langit Jogja yang membentang. Masih ada pelangi terpatri di hati Putra. Terima kasih untuk ibu yang memberikan warna hidup untuk anaknya.

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s