Secercah Harapan


Human-Traffic-hope

Bandung.

Sepanjang jalan dalam kota terlihat lengang, mobil-motor berjalan lambat. Maklum saja hari ini menjelang akhir pekan.Hanya beberapa orang yang pergi keluar rumah di udara dingin pagi ini.Reena terus mengayuh sepedanya. Berangkat dari rumah kecil yang ditinggalinya bersama sang nenek. Menempuh perjalanan cukup jauh menuju panti asuhan yang terletak di pusat kota. Melewati Masjid Raya Bandungtak jauh dari sana, berdirilah bangunan yang tampak sederhana dari luar. Masuk ke dalamnya kau bisa melihat lapangan hijau kecil nan asri membuat siapapun yang memandangnya akan tertuju ke sana.

Gadis itu perlahan masuk, di punggung tersampir tas khusus berisi gitar kesayangan miliknya. Sepasang matanya menangkap beberapa anak yang bermain di luar.“Pasti mereka habis olahraga,” gumamnya sambil terus masuk. Bibirnya terulas senyum manis seiring dirinya mendekati bangunan berwarna putih pucat tersebut.

“Kak Reena, kau datang !” Teriakan lantang dari Dimas, teman panti asuhan yang ia kenal sejak Reena berkunjung bersama neneknya. Neneknya selalu mengajaknya kemari, selain memberikan sumbangan untuk panti asuhan ini yang rutin beliau lakukan.Karena beliau merupakan donatur tetap di panti asuhan ini.Reena pun sering berkunjung ke tempat ini ketika ada waktu kosong seperti sekarang.

“Ya, aku pasti datang.Dimana bu Nani?”Reena memeluk erat Dimas. Mereka berdua terpaut jaraklima tahun. Laki-laki muda itu sangat tertarik mendekati Reena. Entah ia suka atau hanya sebatas kagum. Tapi Dimas senang berada di dekat Reena.

“Ada, Bu Nani lagi membereskan meja makan untuk sarapan kami pagi ini.Kau harus ikut sarapan bersama kami, kak.”Kedua orang itu masuk ke dalam setelah Reena menyapa anak-anak yang tengah bermain di luar.Melewati ruang tamu serta ruang tengah yang cukup besar.Reena melihat bu Nani meletakkan beberapa piring di atas meja makan.Diikuti Dimas berada di belakangnya.Mereka berdua menghampiri wanita yang sudah menginjak umur setengah abad itu.

“Ibu Nani.” Wanita  yang dipanggil, Bu Nani menoleh mendapati seorang gadis berumur dua puluh tahun mendekatinya. Kemudian merangkulnya sangat erat seakan baru saja bertemu hari ini.

“Aku merindukanmu.”

“Aku juga.”

“Bagaimana kabarmu?” tanya Bu Nani melepas pelukannya dan mempersilakan Reena untuk duduk. Bu Nani adalah Kepala Panti Asuhan di Laskar Harapan ini.Ia sangat baik pada semua anak panti asuhan.

“Aku baik,sangat baik,” jawab Reena dengan senyum yang masih setia menghiasi wajahnya. Bu Nani mengelus rambut Reena.Beliau tampak senang dengan kedatangan Reena kemari.Matanya mendapati tas hitam yang ada di punggung Reena. Tahu bahwa benda itu adalah gitarmerah muda milik Reena. Gadis yang sudah ia anggap sebagai cucunya ini, sangat suka memainkan gitar.

“Apa kau ingin memamerkan kemampuan gitarmu itu pada anak-anak?” tanya Bu Nani. Reena sadar lalu melepas gendongan tas hitam miliknya ke depan, agar sang Kepala Panti tahu bahwa beliau tidak salah.

“Aku tidak memamerkan, aku hanya ingin memainkannya, bu.”Tawa terdengar dari mereka berdua.Hingga menimbulkan ketertarikan anak-anak dengan Reena yang hendak mengeluarkan gitar.

“Ini apa kak?”

“Bukankah itu gitar?”

“Aku ingin mendengarnya.”

“Tolong mainkan kak.”

Begitulah seruan anak-anak panti yang meminta Reena untuk cepat-cepat memainkan gitar miliknya.“Baiklah. Dengarkan melodi ini,  ya.

Akhir pekan ini sungguh menyenangkan.Reena baru saja berkunjung ke panti asuhan.Acara yang diselenggarakan sederhana dalam rangka Ulang Tahun Kepala Panti Asuhan, Bu Nani. Reena mengayuh kecepatan sepedanya lurus ke depan. Tidak cepat tapi cukup membuatnya terkejut. Tepat di perempatan jalan,  ketika mobil dari arah berlawanan berbelok ke arah kanan. Mobil mewah keluaran terbaru itu menabrak sepeda milik Reena.Salah mobil itu tidak menyalakan lampu sein ke kanan.Hampir membentur sepeda milik Reena.Tasgitar miliknya terlempar ke jalan beraspal menimbulkan bunyi keras. Reena yakin gitar miliknya terkena beberapa lecet yang diakibatkan tabrakan tadi.

Mobil hitam mengkilap itu berhenti.Pintu kemudi mobil tersebut terbuka, menampakkan sosok pria seumur dirinya menghadap dengan kacamata hitamnya.

“Sial, kau hampir saja merusak mobilku.Apa kau tidak lihat jalanan? Untung kau tidak tertabrak. Lain kali hati-hati, nona,” omel pria itu tanpa ada rasa bersalah, berlagak congak menatap tajam meskipun dirinya tengah memakai kacamata.

Lantas pria asing itu langsung masuk ke dalam mobil, melanjutkan perjalanannya tanpa menghiraukan keadaan Reena yang terjerembam masih dalam keadaan syok.

“Dasar.Tidak bertanggung jawab.Memangnya siapa yang salah? Bukankah dia yang duluan menabrakku,” bisik Reena meringis merasakan luka kecil yang ia dapatkan di lutut dan sikunya. Reena mencoba bangun dan mengambil kembali tashitam gitarnya. Ia mencoba menghalau rasa sakit yang menjalarinya. Lalu mulai mengayuh kembali sepeda biru mudanya.

“Benar-benar.Gitarku terkelupas.”Reena mengedarkan pandangannya ke sekeliling gitarnya.Setelah sampai di rumah, gadis itu langsung memeriksa kondisi alat musik kesayangannya.Tepat dibagian belakang melihat lubang yang menganga hampir terlepas dari perekatnya.Dalam diam cairan bening mengalir di sudut mata lembutnya.

“Bagaimana ini?Aku tidak bisa memainkannya lagi,” gumamnya meletakkan gitar di atas pangkuannya.Jari-jarinya menghapus jejak air mata yang terlanjur mengalir membasahi pipi di wajahnya.

Selang beberapa hari setelah insiden tidak mengenakkan itu, Reena mengayuh sepedanya membelah jalan kota. Ia harus ke Panti Asuhan, wanita lanjut usia itu menyuruhnya datang untuk mewakilinya menghadiri acara khusus di sana. Tapi baru saja ia berbelok ke tikungan pertama dari rumahnya, suara dentuman keras memekakkan telingannya.

“Apa itu?”Perlahan Reena memelankan laju sepedanya. Di hadapannya berjarak sepuluh meter dari tempatnya berdiri. Sebuah mobil dengan bagian depan mobil terbuka menabrak bahu jalan dan berakhir di pohon besar yang berada di sisi jalan. Tak butuh waktu lama, Reena langsung menghampiri lokasi kecelakaan itu, bersamaan dengan orang-orang yang menyadari baru saja terjadi kecelakaan di jalanan kota ini.

“A –nyonya !”Reena memekik melihat seorang ibu yang terjepit di bangku penumpang di sebelah bangku kemudi.Gadis itu segera membuka pintu mobil di sebelah wanita tersebut.Takut-takut kalau mobil yang ditumpangi terbakar.Bagaimana tidak?Asap mengepul cukup banyak di bagian depan mobil sedan abu-abu tersebut.

Sedangkan di bangku kemudi, seorang pria dengan kepala mengeluarkan darah di pelipis dan belakang kepalanya.Beruntung orang-orang di dekat lokasi kejadian cepat menolongnya.Begitu juga, wanita asing yang sudah ditolong Reena.Tak ada luka berarti dari tubuh kurusnya.

“Tolong aku…”

“Tenang, bu. Ambulans akan segera datang.”

Tak disangka, Reena menunggu dengan hati tak tenang.Ia takut korban kecelakaan yang ditolongnya tidak selamat. Jelas saja, perawat mengatakan jika luka yang dialami wanita separuh baya itu cukup berat.Serta pria yang bersama wanita itu mengalami luka parah, Reena rasa mereka adalah suami-istri.Ia terduduk di bangku pengunjung tak jauh dari ruang ICU menunggu korban kecelakaan di rumah sakit ini. Setelah beberapa orang membawanyake rumah sakit.Tinggal dirinya saja setia menunggu kesadaran dari korban suami-istri tersebut.

Derap langkah terburu-buru mengganggu pendengaran Reena. Ia melihat seorang laki-laki yang tampak tak asing baginya. Orang itu berjalan melewati Reenamendekati ruang ICU yang masih tertutup rapat dengan menandakan lampu berwarna merah.Tubuh laki-laki itu berpaling mendapati Reena yang ada di luar ruang ICU ini.Sepasang matanya menelisik wajah Reena, begitu juga Reena membalas tatapan sosok yang ada di hadapannya.

“Kau yang waktu itu?”

Sudah dua hari berlalu, Reena tidak menjenguk pasangan suami-istri –korban kecelakaan yang ia tolong. Ketika tahu bahwa mereka merupakan orang tua dari laki-laki yang menabraknya, Joni atau siapalah namanya.Dia enggan menampakkan dirinya lagi di depan Joni.

Setelah kesadaran korban kecelakaan itu, Reena bersyukur.Joni tidak kehilangan kedua orang tuanya.Tapi mengingat sikap Joni yang tak tahu terima kasih.Ia malah mendapatkan sikap tidak menyenangkan. Sifat angkuh laki-laki yang baru dikenalnya itu memuakkan.Reena bukan mengharap pamrih dari insiden waktu lalu.Hanya saja melihat reaksi Joni, Reena semakin tak ingin menemuinya.

Kepala Reena menoleh ke arah belakang.Pandangannya tertuju pada mobil mewah berwarna hitam mengkilat.“Kayanya aku kenal mobil itu,” gumamnya mengangkat bahunya tak tahu sambil terus membawa dirinya ke Panti Asuhan.Sesampainya di gerbang Panti Asuhan ‘Laskar Harapan’, Reena turun dari sepedanya berjalan mendorong gerbang hingga terbuka lebar.Gadis itu tersenyum, kepalanya menengok ke belakang menangkap basah seorang pria mengikutinya sampai ke sini.

“Aku tahu.Kau pasti mengikuti, Joni.Masuklah.”

“Apa gitarmu rusak?”

“Kau masih peduli dengan korban yang kau tabrak?”Reena mengeluarkan gitarnya. Kini mereka duduk di taman belakang bangunan panti ini…

Reena mengajak Joni untuk mengikutinya masuk ke dalam panti. Anak-anak panti melemparkan banyak pertanyaan setelah melihat ia bersama dengan orang asing.

“Kak, dia siapa?”

“Wah !Tampannya.”

“Dia pacar kakak,yah?”

Reena menggeleng pelan mendengar ocehan polos anak-anak.“Bukan, dia bukan pacarku.Dia temanku,Joni.Joni kenalkan ini anak-anak panti.”Joni tersenyum kikuk.

Setelah ia membuntuti Reena sejauh ini. Entah keinginan apa yang membuatnya ingin mengetahui apa yang dikerjakan Reena –gadis baru dikenalnya.

“Salam kenal.Panggil saja aku Joni.”Reena tertawa renyah menatap tingkah malu-malu Joni.“Tidak, panggil dia Kak Joni, oke?”Ucapan Reena disambut teriakan riang dari mereka yang ada disini.Beruntung Bu Nani tidak banyak menanyakan kehadiran Joni dengannya.

“Bukan begitu.Aku hanya menyesal.Sungguh, aku merasa tidak enak denganmu,” ucap Joni. Baru sekarang Joni mengucapkan beberapa kata, sebelumnya ia hanya mengucapkan sedikit kata yang membuat Reena gemas sama tingkah cuek pria di sebelahnya.

“Tidak usah disesali.Aku tidak apa-apa.Ya, hanya gitar ini yang tergores –bahkan terkelupas karena insiden waktu itu.”Joni tersenyum penuh arti.Ia bersyukur menemui gadis –korban kecelakaannya. Reena, gadis yang baik dan mudah sekali tersenyum itu. Joni rasa ia jatuh cinta pada gadis yang baru ditemuinya ini. Keheningan akhirnya melanda keduanya.Tidak ada perkataan yang terlontar di antara mereka.Selain petikan gitar yang mengiringi suasana yang mendayu-dayu.

“Aku lega tahu bahwa orang tuamu tidak mengalami luka parah.Waktu aku membantu mereka dan membawanya ke rumah sakit.Aku jadi teringat orang tuaku yang juga mengalami kecelakan. Sayangnya mereka tidak tertolong –”

“Aku menyesal tidak mengucapkan kata sayang pada orang tuaku.Mereka pergi begitu saja tanpa berkata apapun.Aku sangat menyayangi orang tuaku.Kau juga harus menyayangi orang tuamu.Mereka adalah harta paling berharga yang kau punya.Bahagiakan mereka semampumu.”Cairan bening meluncur membasahi mata Reena.Gadis itu menunduk setelah mengucapkannya.Suara Reena bergetar membicarakan tentang orang tuanya.Joni hanya memperhatikan wajah Reena lekat-lekat, mendengarkan setiap kata yang diucapkan Reena padanya.

Jujur saat mengetahui orang tuanya mengalami kecelakaan, rasanya Joniakan jatuh ke dalam kesedihan yang nyata. Kecelakaan yang dialami orang tuanya cukup membuat Joni syok.Ia pun tak sempat mengucapkan terima kasih pada Reena. Setelah tahu gadis itu tidak ada lagi di rumah sakit, Joni kembali menyesal.Sifat angkuhnya mengalahkan segalanya.Rasa gengsi yang terlalu besar hanya untuk mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf pada Reena.

“Aku minta maaf atas semuanya.Maaf karena aku baru menemuimu hari ini.Sungguh aku minta maaf,” ujar Joni. Sungguh ia menyesal dan tak akan mengulangi perbuatan memalukannya kepada siapapun. Sebuah sentuhan di bahu Joni menyadarkannya.Ketika tahu bahwa Reena tengah menepuk bahunya lembut.

“Kau tak perlu minta maaf. Aku tahu apa yang kau rasakan. Aku juga tidak ingin mengalami kesedihan yang berlarut.Hidup terlalu singkat untuk kau tangisi.Oke,” tutur Reena.Tangan Reena terlepas dari bahu Joni.

Kemudian gadis itu memanggil anak-anak yang ada di taman itu. Suara merdunya menarik perhatian mereka untuk mendekati Reena serta Joni.

“Ada apa kak?”

“Kau mau memainkan gitar lagi?”

“Nyanyikan lagu, kak.”

“Iya, nyanyikan satu lagu,kak.”

Reena tersenyum lebar. Sepasang matanya berseri, ia berhasil menutupi kesedihannya. Joni ikut tersenyum lebar, diakhir tertawa tanpa suara olehnya.

“Baiklah, aku nyanyi lagu ini.”Jari-jari lentik Reena memetik gitar.Tampaknya Joni tahu nada-nada dari setiap petikan gitar yang dimainkan gadis disebelahnya.Anak-anak duduk merapat mengelilingi Joni dan Reena.Tangan-tangan kecil mereka bertepuk tangan, bersenandung nada mengiringi musik yang diiringi Reena.

Kini Joni tahu betapa pentingnya arti orang tua baginya.Ia tak mau lagi membantah semua perkataan orang tuanya. Sekali lagi, Joni tak ingin mengalami penyesalan seperti yang dirasakannya kali ini. Cukup trauma kecil yang dialaminya sekarang. Reena telah menyadarkannya, serta dia pun mulai jatuh cinta pada gadis berambut panjang sebahu ini.

“Ayo, kita mulai !”

‘Menarilah dan terus tertawa,

Walau dunia tak seindah surga,

Bersyukurlah pada yang kuasa,

Cinta kita di dunia. Selamanya…’

 

 

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s