Complicated


image

                         Complicated
                 Cast : Yesung & Jineul

“Sudah kubilang aku pasti menikah dengan Jineul. Kenapa eomma senang sekali mendesakku?” gerutu seorang pria di hadapan adiknya.
Kini mereka tengah berada di belakang deretan kopi yang terpajang di etalase toko. Beruntung tidak banyak pengunjung yang datang kemari.

“Ck, sikapmu seperti anak kecil. Kurasa eomma benar. Kau harus segera menikah agar sifat pemarahmu menghilang.” Yesungㅡnama pria itu melotot tajam dari ekor matanya ke arah Jongjin. Adik sama ibunya sama saja.

Meskipun ia sudah bertunangan dengan Jineul. Yesung masih harus mengurus yang lainnya, terlebih pekerjaan yang belum selesai. Jadwal menyanyi masih terus berdatangan. Kini belum akan selesai sampai hari pernikahan merekapun tiba. Leganya, gadis itu tidak protes seperti ibunya yang menuntut pernikahan segera diadakan. Memangnya mudah mengurus pernikahan sekali seumur hidup untuknya?

“Hah, kau pikir menikah itu mudah. Aku perlu memikirkan seribu kali untuk mengurus segalanya agar tampak sempurna. Apa aku harus menjelaskan secara rinci tentang semua urusan acara besar ini. Kurasa kau tidak akan mau mendengarnya.” Yesung me dengus sebal. Ia memasukkan barang-barang pentingnya sebelum pergi keluar cafe.

“Memang tidak. Itu urusanmu. Aku tak mau melibatkan diri terlalu jauh. Tapi tenang saja hyung, aku pasti akan siap membantumu kika diperlukan.”

“Cih, rasanya saja aku tak  yakin dengan ucapanmu tadi,” ujar Yesung menyudahi pembicaraannya dengan adiknya. Ia tak tahan berlama-lama berdebat dengan pria di sebelahnya. Kalau tidak ada orang di toko ini, ia pasti sudah memiting kepala Jongjin secepat kilat.

“Kau mau kemana? Toko belum tutup kan?” tanya Jongjin skeptis begitu melihat sang kakak memanggul tas ransel serta menutupi wajahnya dengan topi dan masker.

“Kemana lagi? Tentu saja bertemu kekasihku tercinta. Dah.” Yesung pergi melambaikan tangan ke arah Jongjin. Sedangkan Jongjin menggeleng tak percaya, sikap seenaknyaYesung tidak hilang.

“Temuilah sebelum rasa rindu membunuhmu,” gumam Jongjin pada dirinya sendiri sambil membereskan cangkir-cangkir ke dalam lemari kecil.

Rintik hujan mulai turun, tapi Yesung tak gentar untuk berlari. Akhirnya ia menepi di depan toko kue yang cukup ramai. Beberapa orang pun juga meneduhkan diri. Pandangannya berpaling melihat kue-kue berjejer rapi. Sepintas ia teringat kalau Jineul tengah suka mencicipi serta membuat maccaron. Kue yang cukup populer sekarang ini.

“Mungkin aku bisa membelinya untuk Jineul,” gumamnya hingga langkah kakinya tergerak masuk ke dalam toko.

“Hei.” Suara berat dan merdu mengalun menghampiri gendang telinga Jineul. Ia baru tersadar ketika seorang pria yang ia tunggu pun datang juga. Senyum langsung merekah mendapati Yesung sudah duduk di hadapannya. Cukup tiga puluh menit ia menunggu pria itu menemuinya.

“Maaf tadi hujan, jadi aku terpaksa meneduh di depan toko. Kebetulan toko itu toko kue, aku ingat kamu suka sekali mencicipi ini,” ujar Yesung menyodorkan sekotak maccaron tampak masih hangat menyentuh penciuman Jineul. Gadis itu menghirup dalam aroma maccaron yang menggodanya untuk cepat-cepat ia cicipi. Lagi-lagi senyum miliknya melebar menampakkan deretan gigi putihnya.

“Gomawo, kau masih sempat membelikannya untukku, oppa.” Yesung melepas topi serta kacamatanya. Sekali lagi, ia merasa lega tidak banyak pengunjung yang datang ke restoran ini.

“Kau sudah memesan makanan?” Jineul menggeleng serta merta Yesung langsung memanggil pelayan, memesan makanan serta minuman. Selang berapa menit makanan tiba di hadapan mereka.

“Kamu pasti lama menungguku. Makanlah yang banyak,” ucap Yesung tersenyum. Jineul hanya bisa mengangguk lemah. Gadis itu sedang memikirkan kata-kata yang disusunnya untuk ia utarakan pada pria di hadapannya. Namun Yesung selalu bersikap manis padanya buat ia kembali mengurungkan niat untuk bicara.

Akhirnya acara makanan pun dimulai dengan khidmat. Tidak ada satupun yang memulai bicara, rasanya suasana agak canggung. Bunyi sendok dan garpu beradu dengan piring menyertai kegiatan mereka.

“Apa kau memikirkan sesuatu?”

Bingo ! Yesung menyadari sejak tadi kekasihnya terdiam lama. Tak biasanya gadis itu mendiamkannya dalam waktu tak sedikit. Selesai makan adalah waktu yang tepat untuk mengobrol, termasuk menanyakan sesuatu yang mengganjal dalam diri Jineul.

“Oppa, aㅡaku tidak tahu harus bicara darimana. Ibuku sudah lebih dari sekali menanyakan kapan kita menikah sejak lima bulan kita bertunangan. Aku bingung harus menjawab apa. Jujur aku juga ingin cepat-cepat menikah biar orang tidak berpikir yang macam-macam tentang hubungan kita. Aku malu untuk mengakui ini.” Jineul menunduk. Ia bingung harus bicara apa. Yesung pasti berpikir keras untuk membalas ucapan Jineul.

“Aku –minta maaf. Karena membuatmu menunggu semakin lama. Aku rasa aku butuh persiapan matang untuk ke jenjang pernikahan. Kau tahu aku ingin ini terjadi seumur hidup dan juga aku pastikan pernikahan kita akan jadi momen terindah seumur hidup.”  Yesung memandang lembut wajah kekasihnya. Ia tahu jika dirinya menyakiti Jineul –ah tidak, ia rasa Jineul pasti mengerti keadaannya.

Gadis di hadapannya tersenyum tipis, tidak terbersit dalam otaknya untuk terus memaksa Yesung. Ia pun juga harus terus bersabar. Ya, Jineul harus mengerti posisi Yesung sekarang.

Tangan Jineul terulur menyentuh punggung tangan Yesung dan mengusapnya lembut. Mungkin dengan ini kekasihnya tidak akan merasa bersalah lagi. Jineul tidak pernah menyalahkan Yesung. Hanya saja ia ingin menyampaikan apa yang dikeluhkan ibunya. Dalam hatinya dia juga tidak suka banyak orang yang memojokkan dan menanyakan yang tidak-tidak soal hasil pertunangan mereka, apakah menikah dalam waktu dekat atau tidak.

“Oppa tenang saja. Aku pasti menunggumu. Waktu dua tahun menunggumu wajib militer saja bisa, kenapa untuk sekarang tidak? Jangan merasa bersedih lagi, oke,” kata Jineul mengedipkan matanya mengundang tawa dari Yesung. Mata sipitnya semakin mengecil saat tertawa. Jineul tersenyum lebar.

“Ya, seharusnya aku yang menenangkanmu. Ketika kamu bilang ibu tidak bisa bersabar. Aku merasa jadi calon menantu yang kurang ajar. Tentu saja aku pasti menikahimu, Choi Ji Neul.” Giliran tangan pria itu menyentuh puncak kepala Jineul dan mengusapnya. Lihat, pasangan ini sungguh menunjukkan kasih sayang mereka.

“Apa kau menyesal bersamaku?” Jineul langsung menatap wajah pria di sebelahnya. Tangan mereka saling menggenggam. Selepas acara makan malam mereka berdua, Yesung memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke rumah gadisnya. Untunglah hujan telah reda setengah jam yang lalu.

“Kenapa oppa mengatakan hal itu?” tanya Jineul. Gadis itu malah balik bertanya. Yesung mengalihkan perhatian yang sejak tadi tertuju ke depan. Mengalihkan perhatian orang-orang yang melirik mereka sesekali.

“Aku hanya takut. Takut kau akan pergi.” Jineul menyentak kuat tangan Yesung. Seketika langkah pria itu berhenti mendadak. Menampakkan reaksi Jineul tak suka. Seolah pria itu menganggap hubungan mereka berdua main-main.

“Apa oppa  meragukanku? Apa aku perlu membuktikannya agar kau percaya. Baiklah. Perhati –” Mulut Jineul tertutup rapat akibat tangan Yesung yang menutupi sebagian wajahnya.

“Aishh ! jangan berteriak disini.” Yesung memegang tangan Jineul lagi. Berusaha menyingkir dari trotoar ini. Orang-orang sudah mengalihkan perhatiannya tertuju pada mereka.

“Kalau begitu kenapa oppa bicara seperti itu? Aku rasa oppa harus buang-buang jauh rasa khawatir oppa. Benar kah?” Jineul melanjutkan perjalanan meninggalkan Yesung yang melengos tak percaya. Jineul marah padanya.

“Ya ! Choi Jineul. Aku tidak bermaksud mengatakan itu. Kenapa hari ini semua orang jadi sensitif padaku?” keluh Yesung berusaha menyamai langkah kaki Jineul.
“Pikirkan saja sendiri. Aku mau pulang. Oppa pulang saja kalau begitu. Terima kasih atas makan malam dan Maccaron-nya. Pasti aku habiskan.”

Jineul mengusir halus Yesung. Tapi pria itu tak gentar. Dirinya masih terus menyusul Jineul. Tanpa mengacuhkan omelan Jineul padanya. “Choi Jineul ! Jangan merajuk.” Yesung menyusul, menyamai langkah kekasihnya itu.

“Aku tidak merajuk. Pulanglah.” Jineul masih terus berjalan, hatinya sudah tidak mood untuk berbicara dengan orang disebelahnya.

“Ani, aku akan ikut denganmu,” ujar Yesung mengambil pergelangan tangan Jineul untuk digenggamnya.

“Lepaskan !”

“Tidak akan aku lepaskan. Jangan berharap, Choi Jineul.”  Gadis itu berusaha menepis tapi tidak berhasil. Yesung telah ‘mengikatnya’ erat, sangat erat tanpa mau melepasnya.

‘Aku rasa akan mati muda sekarang.’ –Yesung.

Cerita yang tak lebih dari hiburan semata. Jika ada kesamaan dalam alur dan tokohnya semua diluar kesengajaan. Kritik dan saran terima dengan tangan terbuka. Thank you ~

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s