[#2] HZT – He’s Coming


tumblr_mly7j8yAZG1sp6tino1_500

Lihatlah, langit kembali cerah. Aku bisa melihat dirinya datang padaku. Memelukku penuh kehangatan. Langit biru bersinar cerah. Secerah hatiku ketika melihatnya tersenyum, membelai dan memelukku sangat erat. Terima kasih untuk semuanya, my love

“Kamu yakin ingin pulang hari ini?” Lyn menengadahkan kepalanya. Melihat Tao membereskan baju dan memasukkannya ke dalam tas agak besar milik Lyn. Sejak kemarin siang, Tao menemaninya di rumah sakit. Seharusnya Lyn sudah bisa pulang semalam. Tapi Tao memaksa untuk menginap disini. Mengawasi dirinya apa benar-benar sudah sembuh. Keprotektifan Tao mulai muncul jika sudah begini. Lyn tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa menuruti perkataan pria itu.

“Iya, aku yakin seratus persen, Mr. Huang,” jawab Tao sambil bercanda. Menimbulkan gelak tawa dari Tao sendiri.

“Baiklah. Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku masih harus menemanimu sampai di rumah.” Tao sudah selesai membereskan baju Lyn. Pagi ini, Tao sengaja menyuruh Song Yuan untuk tidak datang kemari. Biarkan Tao yang akan menemani Lyn sehari lagi. Gadis berusaha berdiri, namun Tao segera memapah tubuh Lyn saat ia ingin membawa tas milik Lyn.

“Aku tidak apa-apa,Tao,” cegah Lyn. Tapi Tao tetap menggiring Lyn menuju kursi roda yang agak jauh dari tempat tidurnya.

“Tidak apa-apa bagaimana? Berjalan saja masih susah. Jangan memaksakan dirimu, sayang.” Ucapan Tao tak ayal mengundang semu merah di kedua pipi Lyn. Tentu saja gelak tawa Tao terdengar melihat wajah merah Lyn sangat dekat dengannya.

“Aku tidak mau terlalu merepotkanmu, Tao.” Lyn sudah duduk di atas kursi roda. Kini mereka berdua keluar dari ruang ini. Setelah Tao melunasi semua administrasi rumah sakit Lyn.

“Kenapa begitu? Bukankah itu kewajibanku untuk menjagamu. Jangan menghindar dariku, Lyn.”

Kehadirannya membuatku sangat tergantung padanya. Tanpa melihatnya saja sudah hilang arah. Bagaimana ia jika akan pergi jauh? Aku yakin saat itu juga aku tidak akan pernah mau hidup lagi. Dialah candu, dalam hidupku.

LYN

“Apa yang kamu tulis? Bolehku lihat?” Tao duduk di atas tempat tidur Lyn. Menelisik apa yang dikerjakan Lyn, setelah mereka berdua tiba di rumah Lyn. Selama hampir sebulan, Tao tidak pernah lagi datang ke kediaman Lyn. Sekarang berkunjung ke sini, semua tetap sama. Sama seperti saat ia terakhir bertemu dengan Lyn. Ah, mengingat hal itu, Tao menjadi menyesal. Pria bodoh yang membiarkan keadaan kekasihnya memburuk.

Lyn menggelengkan kepalanya. Mendekap buku berukuran sedang, bersampul coklat lembut. Warna kesukaan gadis itu. “Kenapa?”

“Bukan saatnya, Tao.” Tangan Lyn terulur memegang tangan Tao tergeletak bebas di samping tubuh Lyn. Lantas sekarang tangan itu berpindah menyentuh wajah Lyn. Itu pergerakan dari Lyn. Ia yang menyentuhkan telapak tangan kekasihnya di pipi tirus miliknya.

“Aku pegang kata-katamu,” ujar Tao bersamaan dengan bunyi bel rumah. Mengalihkan perhatian mereka berdua, Tao bergegas berdiri dan berjalan mendekati pintu rumah kayu jati tersebut. Daun pintu pun tergerak melebar menampakkan sosok pria membelakangi Tao. Wajahnya agak kaget mengingat hampir tidak pernah seorang laki-laki datang ke rumah Lyn. Apa baru kali ini ada lawan jenis yang berani menginjakkan kaki kemari? Setelah ini Tao perlu bertanya pada kekasihnya.

“Maaf anda siapa?” tanya Tao. Menyadari pria berambut pirang di depannya. Tentu saja sosok bertubuh tinggi itu berbalik menunjukkan wajah rupawannya.

“Aku bisa bertemu dengan Lyn.” Bukan menjawab, lelaki bermata tajam itu malah menyampaikan niatnya kemari. Syukurlah, Tao tidak perlu menanyakannya lagi. Yang ia ingin tahu sekarang, siapa dia dan darimana dia mengenal Lyn –nya.

“Ada urusan apa anda dengan Lyn?”

“Aku ingin menengok keadaan dia. Kenalkan namaku Kris.” Tangan lelaki bernama Kris itu mengulurkan tangan berniat berjabat tangan dengan Tao. Tetapi pria di depannya bergeming. Tak membalas uluran tangan Kris. Pikiran dalam diri Tao terlalu berkecamuk mengingat keberadaan lelaki ini. Perlahan tangan Kris turun dengan memasang senyum sesopan mungkin.

‘Menyebalkan’ rutuk Kris dalam hati. Kalau bukan karena untuk menengok keadaan Lyn. Ia juga tidak ingin menemui lelaki yang berdiri di depannya.

Gege, kamu datang,” sahut suara gadis memanggilnya. Lyn berjalan sangat pelan. Keadaannya masih agak lemah. Mendengar suara berat yang sangat ia kenal dan ia rindukan, Lyn langsung bangun dan menemui siapa gerangan seseorang yang datang ke rumahnya. Benar saja, Kris, pria yang sangat ia kenal baik. Ketika gadis ini tinggal sendiri. Kris banyak membantu dalam segala urusannya. Sehingga perlahan Lyn bisa hidup mandiri. Untuk rumah yang ia tempati saja, Kris yang mencari dan mengurus segalanya.

Kris bergerak mendekati Lyn masih berjalan menghampiri pria itu. Lalu mereka berpelukan erat dan lama. Tao sendiri cuma menatap heran tingkah dua orang ini. Tatapan Kris pada gadisnya sungguh berbeda. Seakan menyirat sebuah perasaan mendalam. Tao tidak tahu persis apa arti sorot mata Kris itu. Apa mungkin hanya perasaannya saja? Entahlah, Tao belum mau memikirkannya terlalu dalam.

Lima detik berlalu, Lyn melepas pelukan terlebih dahulu. Sebelum Tao sempat berpikir macam-macam tentang hubungannya. Ia akan menjelaskannya nanti.

“Aku datang menengokmu. Kudengar dari Song Yuan, kamu sakit.” Kris menempelkan punggung tangannya di kening Lyn. Gadis itu tersentak. Ujung matanya melihat tingkah Tao hanya memandang dalam diam. Keberadaan Tao seolah hilang ditelan bumi. Hanya ada dunia Lyn dan Kris.

“A –gege, kenalkan ini Tao. Kekasih –”

“Tidak, lebih tepatnya tunangan.” Tao merangkul bahu Lyn mesra. Sengaja mengumbar kemesraan di depan pria yang baru saja dikenalnya.

“O, kalian sudah tunangan. Selamat,” seru Kris menepuk pelan bahu Tao dan Lyn. Kedua pasang itu hanya tersenyum malu.

“Terima kasih, Kris.” Tao masih tersenyum penuh bangga. Kebanggaannya bisa menunjukkan kemesraan pada pria lain. Ia bisa buktikan menjadi kekasih yang baik.

Gege, aku ambilkan minum,yah?”

“Tidak usah aku mau pergi sebentar lagi.” Kris melambaikan tangannya melarang Lyn untuk tidak merepotkan dirinya sendiri. Kris tahu diri, gadis itu masih sakit.

“Aku cuma mau bilang, kalau kau sudah sembuh minggu depan aku ingin menemuimu di Café milik Song Yuan. Bagaimana?” Tanpa pikir panjang, Lyn menganggukkan kepala. Muka tidak percaya Tao muncul melihat reaksi Lyn. Dengan mudahnya gadis itu menerima tawaran pria lain. Apa-apaan ini?

Okay, kita janjian jam tiga sore. Jangan lupa. Sampai ketemu lagi.” Kris mengusap rambut Lyn, lalu pergi sambil melambaikan tangan pada Lyn –dan Tao. Pintu pun tertutup meninggalkan Tao dan Lyn dalam keheningan. Suasana menjadi kaku. Tangan Tao melepas sentuhannya di bahu Lyn. Pria itu berjalan menuju dapur, mengambil botol mineral yang ia bawa dari rumah sakit tadi.

“Tao,” sahut Lyn hampir berbisik memandang wajah Tao yang menegang. Perasaannya menjadi kacau. Rasa cemburunya menjangkit cepat sampai ke hati dan pikiran Tao. Pria itu menghempaskan tubuhnya di atas kursi kayu. Lyn mengikuti gerakan Tao dan hanya terdiam tetap memandang kekasihnya.

“Kamu mau datang menemuinya?” Lyn menundukkan kepala. Jadi benar dugaannya, Tao cemburu. Lyn tahu bagaimana ekspresi dan reaksi lelaki tersebut. Termasuk hari ini, ketika raut muka Tao menegang. Pria itu pasti sedang menahan gejolak perasaannya dalam hati. Siapa yang tak mengenal Tao selama hampir dua tahun? Lyn sudah sangat hapal semua yang ada dalam diri Tao. Mungkin yang ia tidak tahu adalah tentang hubungan Tao dengan mantan kekasihnya. Lyn tak mau mengingatnya. Yang ada ia sakit hati karena mengingat hal tersebut.

“Ya, aku mau menemui Kris –ge. Sudah hampir setahun aku tidak pernah menemuinya lagi,” jawab Lyn masih memandang lantai yang baginya tak menarik sama sekali. Ini demi menghindari tatapan Tao.

“Jangan pergi menemuinya. Aku tidak suka dengannya.”

“Kenapa? Dia sudah seperti kakakku sendiri, Tao. Kenapa kamu melarangku?”

“Aku tidak suka dan aku tidak mau melihatmu bersama dengannya.” Tao membetulkan kemeja mahalnya. Sudah semalaman ia tidak mengganti baju. Lebih baik ia pulang ke rumah sekarang.

“Alasanmu tidak masuk akal, Tao.” Lyn pergi meninggalkan Tao sendirian. Berlari menuju kamarnya, menangisi sikap Tao yang terlalu protektif padanya. Sudah lama sekali, Lyn tidak pernah bertatap muka dengan Kris. Apa salahnya Lyn menyempatkan waktu untuk orang tersayangnya?

“Lyn, maafkan aku. Aku hanya tidak mau kamu kenapa-napa. Jadi kuharap kamu mendengar ucapanku.” Keheningan kembali terjadi. Tao berdiri di depan pintu kamar Lyn. Memandang sendu ke arah daun pintu yang tertutup rapat.

“Kalau begitu aku pulang, Lyn. Bye.” Terdengar derap langkah menjauh beserta debam pintu halus pertanda pria itu sudah pergi. Lyn mencoba untuk tidak menangis lagi. Oke, ini hal sepele. Tapi untuknya itu terlalu berlebihan untuk dirinya. Lyn sangat merindukannya.

 

Pria itu datang lagi. Sejak kepergiannya bagai ditelan bumi. Kini ia muncul ke permukaan hidupku. Kembali menghantuiku dengan sosok wibawa dan pesona yang terpancar kuat di mataku. Bisakah aku menemuinya?

Udara sejuk cocok untuk hadir di tempat terbuka seperti ini. Duduk di tepi sungai tanpa ada yang mengganggu. Itulah yang sedang dirasakan Lyn. Sejak tiga hari lalu, Lyn belum menghubungi Tao lagi. Ia pikir pria itu sibuk mengurusi Departement Store-nya. Lyn tidak mau ikut campur urusan pekerjaan Tao. Kekasihnya terlalu sibuk, sampai melupakan Lyn. Masa bodoh apa yang akan dikerjakan Tao di kantor. Lyn tengah merajuk dengan mendiamkan Tao beberapa hari. Ketika Song Yuan tahu rencananya, ia menggeleng kepala. Tak habis pikir dengan rencana Lyn yang terlalu kekanak-kanakkan. Lyn sebal dan ia akhirnya pergi dari Café sahabatnya itu. Untuk menenangkan diri.

Aliran sungai tampak begitu deras. Muncul niatnya untuk menyentuh basah air sungai. Pasti sejuk namun juga dingin. Kaki-kaki Lyn melangkah menuruni turunan agak terjal dari pinggir jalan menuju tepi sungai. Satu, dua langkah ia masih bisa seimbang. Namun saat tiba di tepi sungai, kakinya terpeselet. Kecerobohannya kembali mendatangkan petaka. Matanya terpejam erat. Dirinya pasrah harus tercebut ke dalam sungai yang dingin. Dua detik berlalu, ia menunggu kemalangannya tiba. Ternyata dugaannya salah.

Kedua mata Lyn terbuka, mendapati tubuhnya terperangkap dalam pelukan aman dari seorang pria sangat ia kenali. Kris.

Gege,” panggil Lyn. Gadis itu langsung berdiri tegak menjauh dari pelukan tangan Kris di pinggangnya. Lyn menjadi salah tingkah. Sedangkan Kris tersenyum penuh arti. Kebetulan Kris lewat dan menyaksikan insiden yang hampir mencelakai Lyn. Tepat waktu, Kris bisa menolong gadis cantik itu dari bahaya.

“Hati-hati. Jangan pernah kamu ke tepi sungai.” Kris mendekati dan memeluk Lyn. Kebiasaan yang tidak pernah hilang sampai sekarang. Kris merindukan harum tubuh Lyn. Hingga ia tak sadar jika sudah memeluk gadis itu tanpa izin. Kecanggungan pun terjadi. Keduanya saling terdiam tak berkata.

“Tadi aku cuma ingin menyentuh air sungai. Ternyata aku hampir terjatuh,” ucap Lyn seraya tertawa kaku. Kris menatap Lyn. Dia masih tersenyum. Lyn tidak menjauhinya, ia masih menjadi gadis polos yang Kris rindukan.

“Kamu mau ke sana?” Kris menawarkan bantuan. Tapi Lyn ragu, ia lagi-lagi merepotkan Kris dengan hal sepele yang ia keluhkan.

“Tidak usah. Aku takut terjatuh lagi.”

“Aku akan membantumu. Ayo,” ajak Kris mengulurkan tangannya. Tangan Lyn langsung memegang erat tangan besar Kris. Pria itu membantunya berjalan ke tepi sungai. Pelan-pelan Kris menjaga keseimbangannya agar tidak membuat Lyn terjerembam jatuh di atas rumput hijau. Agak terjal menuju tepi sungai, sampai akhirnya Kris dapat membawa Lyn menuju tepi sungai. Gadis itu langsung menyodorkan tangan kanannya menyentuh air sungai. Seketika rasa dingin mengerjap memasuki pori-pori kulit Lyn. Ini tidak buruk.

Gege mau coba.” Kris tersadar dari lamunannya menatap sosok Lyn. Lalu tergerak mengikuti permintaan Lyn.

“Sejuk tapi masih dingin. Wajar saja musim semi baru saja tiba.” Lyn mengangguk. Bibirnya membentuk lekukan senyum manis. Tentu, Kris melihatnya dari tempatnya berjongkok sekarang. Tubuhnya kaku, jantungnya berdegup kencang. Kupu-kupu seakan terbang di dalam perutnya. Menimbulkan sensasi menggelitik yang berkesan bagi Kris.

“Kamu cantik,” bisik Kris yang terdengar sampai ke telinga Lyn. Sepasang mata gadis itu menatap Kris. Menyipitkan kelopak matanya, berusaha mencari kebenaran dari ucapan pria itu. Namun tidak ada kebohongan sama sekali dari sorot mata Kris. Lelaki di depannya serius mengatakan hal itu. Semu merah muncul di kedua belah pipi Lyn. Seketika kepala gadis itu tertunduk malu. Hal itu justru semakin melebarkan senyum Kris yang menampakkan deretan gigi putihnya.

“Aku serius mengucapkannya.” Lyn kembali menatap Kris. Lalu ia memutuskan kontak mata dengan pria itu. Genggaman tangannya dengan Kris terlepas. Lyn memutuskan untuk berjalan menuju tepi jalan menghampiri sepedanya yang terparkir disana.

“Kamu mau kemana?” Kris mengejar Lyn, sampai ia berdiri bersebelahan dengan gadis itu.

“Aku mau pulang, ge.” Lyn memegang sepedanya untuk ia naiki. Tapi Kris menahan sepedanya.

“Aku antarkan kamu pulang,yah,” tawar Kris.

“Tidak usah. Bagaimana dengan mobil gege?”

“Aku berjalan kesini. Boleh, yah?” Kini Lyn jadi bimbang. Apa ia harus menerima tawaran Kris atau tidak? Karena perkataan Tao kembali terngiang di kepalanya. Berlawanan dengan hatinya masih ingin menemui Kris. Lyn sangat merindukan sosok kakak kandungnya.

“Ya, boleh,” jawab Lyn singkat. Sepede Lyn pun berpindah tangan kepada Kris. Pria itu menaiki sepeda milik Lyn.

“Naiklah, aku bonceng.” Lyn tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara langsung menaiki jok belakang, berpegangan di pinggang Kris.

Roda sepeda pun melaju pelan memasuki jalanan yang agak lengan di sore hari ini. Meninggalkan kesan tersendiri, serta seseorang yang mengamati mereka dalam diam. Tak berkata dan tak juga bergerak untuk menghampiri dua orang yang sejak tadi mencuri perhatiannya. Deru mobil terdengar, membawa pergi pria itu dengan perasaan yang berkecamuk.

“Kamu pergi bersamanya?” Tao sudah berdiri di depan Lyn. Menghadangnya yang tengah meletakkan buku-buku berdasarkan kategori yang sudah ditentukan. Lyn hari ini sangat sibuk membereskan buku-buku yang baru saja tiba di toko buku miliknya. Ia ikut membantu karyawan-karyawannya. Dan sekarang Tao datang tanpa salam atau ucapan yang lebih sopan. Lyn mengabaikan keberadaan Tao. Masih memegang lima buku dengan jenis yang sama. Mencari-cari rak buku yang tersedia. Itu dia !

“Kamu tidak mendengarku, Lyn,” ucap Tao dengan nada kesal. Dia tidak suka tidak diacuhkan. Masih menenteng jas di tangannya, sengaja datang ke sini. Untuk menanyakan satu hal yang sejak kemarin menganggunya. Retina matanya jelas melihat dua orang itu sedang berbonceng sepeda dengan mesranya. Beruntung saat itu, Tao tidak mendekati Kris dan memukulnya. Entahlah, rasa cemburunya sudah tidak bisa ditolerir kali ini.

“Tao, kembalikan,” pekik Lyn begitu sadar buku di tangannya terampas oleh orang yang sekarang tidak ia inginkan.

“Tidak, sebelum kamu menjawab pertanyaanku.” Lyn tidak menjawab. Ia berusaha mengambil buku dari dekapan Tao. Pada akhirnya mereka saling berebutan buku di dalam toko. Alhasil menjadi pusat perhatian pengunjung. Dasarnya perempuan memang kalah kuat daripada seorang pria. Lyn terjerembab, mulutnya mengaduh kesakitan bersamaan tubuhnya yang menghempas agak keras ke lantai dingin. Tao langsung meletakkan buku sembarang tempat dan segera membantu kekasihnya untuk berdiri.

“Tidak usah, aku bisa sendiri.” Lyn menolak uluran tangan Tao yang memegang tubuhnya. Pria itu terdiam tanpa berbicara. Lyn bisa berdiri sekarang. Kembali bekerja lagi, menyusun buku-buku. Mengabaikan Tao –lagi.

“Lyn, Lyn,” sahut Tao mengikuti Lyn dari belakang.

“Pulang, Tao. Kamu pasti lelah. Istirahatlah di rumah.”

“Aku tidak mau.” Suara Tao tersirat ketegasan. Mata Lyn langsung menatap Tao. Memohon pada pria itu untuk pergi dari tempat kerjanya.

“Pulanglah, Tao. Kumohon.” Tao menghela napasnya. Permintaan gadis ini semakin membuatnya bersalah sejak insiden tadi. Tapi kalau itu keinginan Lyn. Tao akan pergi.

“Baiklah, aku pulang. Jaga dirimu baik-baik.” Tao mengusap bahu Lyn lembut. Sampai Tao berbalik dan menghilang dari pintu tokonya, Lyn tetap menatap sosok pria itu.

Malam hari sudah tiba. Lyn tidak sadar dan ia terlalu sibuk mengurus buku-buku yang baru saja datang. Toko buku ini milik orang tuanya. Gadis itu yang sengaja membujuk ayah dan ibu, agar Lyn dapat mengurusi toko buku cabang Qingdao. Berusaha melatih kemandiriannya supaya hidup lebih mandiri. Selain itu juga agar ia bisa selalu dekat dengan kekasihnya. Menunggu untuk beberapa hari, sampai ayahnya luluh mengizinkan anak perempuan satu-satunya tinggal sendiri. Beliau juga mengetahui hubungan Lyn dan Tao. Sebagai orang tua, ayah dan ibu tidak melarang sama sekali, namun tetap mengawasi buah hati tercintanya supaya tetap dalam keadaan sehat dan aman. Lyn menutup pintu toko bukunya. Ia pulang duluan, biar karyawannya yang mengunci toko miliknya. Lyn sudah percaya dengan pegawai-pegawai yang bekerja disini.

“Kau mau pulang? Aku mau ajak kamu minum coffe.” Lyn menggeleng mendengar tawaran Suho. Dia teman sekaligus karyawan bekerja di tokonya. Pria baik dan sopan. Sebenarnya Suho yang menjadi pria idaman Lyn. Sayang, Lyn sudah terlanjur jatuh hati pada pria protektif macam Tao. Itu terdengar lebih baik, ketika melihat posisi Suho sebagai temannya. Pria berparas tampan itu selalu berperilaku baik pada semua orang. Senyumnya pun memancarkan ketenangan. Sekali melihatnya tersenyum, Lyn yakin satu gadis akan langsung tertarik pada Suho.

“Tidak usah. Aku baru seminggu kemarin dari rumah sakit. Maaf aku tidak bisa ikut.” Suho membulatkan matanya. Ia lupa kalau Lyn baru saja sembuh. Suho pasti akan diomeli Song Yuan –sahabat Lyn begitu tahu Suho mengajaknya meminum minuman bercaffein.

“O, Aku lupa soal itu. Maaf,” ucap Suho meringis tanda menyesal. Lyn tertawa melihat wajah lugu Suho. Semakin membuatnya gemas untuk mencubit pipinya.

“Tidak apa-apa, Suho. Lebih baik aku pulang ke rumah. Sebelum malam semakin larut.” Lyn jalan beriringan bersama Suho. Hingga mereka tiba di halte bus. Tak berapa lama bus yang mereka tunggu sudah datang. Lyn menaiki bus, begitu juga Suho yang mengikutinya dari belakang. Lyn menyadari Suho masih berjalan dengannya. Ia kira pria itu serius untuk meminum coffe.

“Kamu tidak jadi membeli coffe?” Suho menggelengkan kepalanya. Ternyata Suho menaiki bus yang sama. Tak heran jika Suho selalu pulang bersama Lyn. Karena arah rumah mereka sama.

“Tidak, aku ingn mengantarkanmu ke rumah. Sudah lama aku tidak ke rumahmu.” Lyn bergeming. Bukannya ia melarang Suho untuk ke rumahnya. Hanya saja, ini sudah malam.

“Ah, pasti kamu berpikir. Aku mau main ke rumahmu kan?” Lyn melirik ke arah Suho. Kemudian menganggukkan kepalanya ragu. Suho tertawa lepas melihat wajah polos Lyn.

“Kenapa?” tanya Lyn.

“Tidak apa-apa. Kamu tidak usah khawatir. Aku mau mengantarkanmu saja.” Suho tersenyum tipis. Semu merah muncul begitu saja di pipi Lyn melihat senyum Suho yang mempesona.

Gulungan Koran terlempar begitu saja di atas meja kayu. Song Yuan melihat dengan jelas wajah Lyn yang memerah. Gadis itu marah, gadis itu tak sanggup membaca lebih lanjut berita hari. Yang memuat mengenai pertunangan dari Direktur Real Estate ‘The Star’ Qingdao dengan seorang anak pengusaha tekstil terkenal di China. Tentu saja, direktur itu adalah Huang Zi Tao dengan Bao Zu Mi, nama wanita itu. Lyn tidak bisa melakukan apapun, kalau berita itu sudah termuat. Lyn harus bilang apa pada orang tuanya. Mereka pasti tidak akan yakin lagi dengan hubungan Lyn dan Tao.

“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Bisa saja itu cuma gosip.” Lyn menutup wajah dengan kedua tangannya. Song Yuan mengusap bahu Lyn, berusaha menenangkan sahabatnya. Kedatangan Lyn pagi ini begitu mendadak. Gadis itu langsung saja masuk ke dalam Café. Lalu terduduk di sudut Café. Tanpa ada yang mengganggu. Koran yang sejak tadi digenggamnya pun terlempar setelah beberapa menit lalu teremas-remas oleh Lyn. Kekesalannya memuncak, darahnya seolah mendidih.

“Gosip? Kamu bilang itu gosip? Apa kau berpikir itu gosip, saat tahu berita itu muncul di Koran terkenal di Beijing sana.” Song Yuan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lyn sepertinya butuh waktu untuk sendiri. Lebih baik ia pergi perlahan. Setelah Lyn membaik baru ia akan menghampirinya. Yah, itu ide baik.

“Aku tinggalkan kamu dulu. Kalau ada apa-apa, panggil aku.” Song Yuan pun mengundurkan diri. Serius dengan kata-katanya meninggalkannya sendiri Lyn tidak menjawab sama sekali. Pikiran dan hatinya masih kalut. Sifat sensitifnya muncul. Sekali lagi ia menghirup dan menghela napas kasar. Air matanya turun dari pelupuk matanya, membasahi pipinya. Segera Lyn menghapus jejak air matanya, sebelum ada seseorang yang melihat. Tubuhnya berdiri tegak dan melangkah meninggalkan Café. Tanpa pamit dengan Song Yuan sama sekali.

“Lyn !” Pekikan Song Yuan tidak diindahkan. Bagaikan angin lalu yang tak berarti apa-apa. Mencuri perhatian pembeli yang berkunjung kesini. Song Yuan melemparkan senyumnya pada pembeli dan ia tahu senyumannya terlihat dipaksaan.

Beberapa menit berlalu, lonceng Café berbunyi nyaring. Menandakan seseorang memasuki toko. Song Yuang sigap berdiri menyambut tamu tersebut. Ternyata itu Kris.

“Lyn kemana? Aku tahu dia pasti kemari.” Song Yuan mendecakkan lidah. Lyn dn Kris sama saja. Datang tanpa salam. Apa yang membuat mereka begitu sama?

“Kamu terlambat, gege. Dia baru saja keluar dari sini. Pergi tanpa pamit sama aku,” jelas Song Yuan. Kris sudah tahu berita tersebut. Tao, kekasih Lyn yang ternyata telah tunangan dengan anak pengusaha gas terkemuka di China. Perasaan Lyn campur aduk menjadi satu. Nyatanya Kris terlambat mencium keberadaan Lyn disini.

“Kemana dia?”

“Aku tidak tahu,” jawab Song Yuan singkat. Ia tidak mau disalahkan karena meninggalkan Lyn sendiri. Kris tengah berpikir, mungkin gadis itu pulang ke rumahnya.

“Baik, aku pamit. aku akan mencarinya. Kalau ada kabar dari Lyn, beritahu aku. Bye.” Satu yang berbeda. Kris berpamitan pada Song Yuan sebelum pergi. Song Yuan cuma menggeleng tak percaya. Masalah ini akan menjadi besar.

Tak lama, bunyi lonceng terdengar lagi. Kini dengan seseorang yag berbeda. Ia berlari kecil menghampiri meja kasir. Melihat wajah Song Yuan sejenak, sebelum akhirnya ia berbicara. Mengucapkan salam terdengar, setelah itu ia akan mengatakan niatnya kemari.

Hey, Song Yuan.” Song Yuan hanya berdeham mendengar sapaan dari Tao yang menurutnya lucu. Tao tersenyum kaku. Baru saja berita tadi menghebohkan perasaan sahabatnya. Sekarang pelakunya datang dengan wajah paniknya. Setelan kaos dan jaket tetap membuatnya terlihat keren. Song Yuan akui itu.

“Mau mencari Lyn? Tadi dia datang kesini. Lalu membawa Koran tentang–”

“Sstt, jangan bicara keras-keras.” Song Yuan langsung mengatupkan bibirnya saat pria itu mengacungkan telunjuk tepat di depan bibir Tao.

“Maaf.”

“Lalu sekarang dimana dia?”

“Dia pergi keluar. Tapi aku tidak tahu. Setelah aku memberinya waktu sendiri. Ternyata dia pergi begitu saja.” Tao tampak berpikir. Ia pasti akan menyusul Lyn.

“Terima kasih. Sekarang aku harus mencarinya. Akan kujelaskan semua berita yang muncul hari ini.” Tao langsung pamit dan melangkah pergi. Song Yuan menggelengkan kepalanya –lagi. Ia berharap masalah ini bisa terselesaikan dengan damai.

continue…

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s