Sorry


Lay - sorry

Title : Sorry | Author : @ferrinamd | Genre : Sweet | Rating : Teen | Length : 755 words | Main Cast : Lay EXO-M, Song Yuan

 

Pagi sudah menyongsong. Matahari mulai menapaki langit lebih tinggi. Menyusupi sinar mentarinya di setiap celah tirai yang sedikit terbuka.

“Yuan, bangun Yuan.” Suara gedoran pintu membangunkan gadis berumur dua puluhan. Rambut panjangnya agak berantakan mengingat tidurnya yang tidak pernah anggun –sedikitpun.

“Iya, mama. Ada apa?” Yuan mengucek-ucek matanya. Meraba penglihatannya yang bertumpu pada cahaya matahari menyelinap masuk ke dalam kamarnya.

“Bukannya kamu ingin merangkai bunga mawar di toko. Aku sudah mau berangkat.”

“A, iya ma. Aku menyusul. Mama berangkat duluan saja,” sahut Yuan diiringi tapak kaki menjauh dari kamarnya. Yuan menghela napas kasar. Bisa-bisanya ia terlambat bangun. Padahal ia sudah ada janji dengan Lay di toko bunga milik ibunya. Cepat-cepat Yuan mengambil ponsel berada di meja nakas tepat disamping tempat tidurnya.

10 panggilan masuk

5 pesan baru.

Dan semua itu dari Lay. Pria itu pasti kesal dibuatnya. Sedetik kemudian bunyi ponselnya terdengar.

Gege.

“Kamu dimana? Jangan bilang baru bangun?”

“Maaf, aku semalam mengerjakan tugas kuliahku dulu, ge. Maafkan aku,” ucap Yuan memohon. Terdengar decakan di seberang sana. Yuan yakin Lay kesal setengah mati.

“Sudah sana mandi. Aku sudah ada di toko. Mama baru saja datang.” Suara sambungan terputus. Yuan menatap layar ponselnya. Mengingat dirinya kembali membuat kesalahan pada Lay.Yuan bergegas beranjak untuk mandi dan merapikan diri.

****

“Lihat bunga ini kamu taruh di sebelah sini. Bunga yang lebih tinggi ada tengah, yang kecilnya di sekelilingnya, yah,”

“Oke, ma. Aku kerjakan.” Lay mengacungkan jempol pada ibu kekasihnya. Harusnya ia dan Yuan sudah memulai merangkai bunga di keranjang. Sayangnya anak itu kesiangan, alhasil membuat Lay harus setia menunggu Yuan.

“Selamat pagi.” Sumber suara riang mendekat, sosok tersebut berdiri di depan pintu toko menghalangi cahaya yang menyinari bunga tengah dirangkai Lay.

“Ini sudah siang, Song Yuan,” ujar Lay ketus. Oke, sekarang dimulai. Yuan memasang muka cemberutnya, dia tahu Lay pasti marah padanya. Kakinya melangkah mendekati pria itu. Sosok itu tetap bergeming menyusun bunga pada sisi-sisi keranjang.

Gege,jangan marah padaku.” Tidak ada sahutan berarti dari Lay. Ia masih melancarkan aksi jahilnya. Yuan bergerak duduk berdampingan dengan Lay. Namun Lay menggeser tempatnya agak jauh dari Yuan. Mendapat perlakuan seperti itu, Yuan melongo tak percaya. Baru kali ini Lay memperlakukan dirinya seperti tadi. Semarah itukah Lay padanya?

“Xing-ge, kumohon jangan marah padaku,” rajuk Yuan berpindah semakin dekat dengan Lay. Menggoyang-goyangkan lengan Lay, berniat menganggu pria itu dengan tingkah merajuknya.

“Lepaskan,” perintah Lay, Yuan makin tidak percaya dengan sikap lelaki ini.

“Kubilang lepaskan,” ucap Lay sekali lagi penuh penekanan pada setiap suku kata. Tangan Yuan dengan tak rela melepas genggamannya.

“Jadi gege marah padaku? Baiklah.” Yuan bergerak mendorong tubuh Lay agar menjauh dari keranjang bunga yang masih coba disusun serapi mungkin oleh pria itu.

“Kamu mau apa? Jangan merusak bungaku,” pinta Lay menarik tangan Yuan supaya tidak menyentuh bunga mawarnya. Yuan tidak mengindahkan perkataan Lay. Ia malah asyik mengambil bunga mawar dalam keranjang tersebut. Dipindahkan sesuai keinginannya. Merombak habis tatanan bunga yang sudah Lay susun.

“Kubilang jangan merusaknya.” Tangan Lay menggapai bunga mawar merah dalam genggaman Yuan. Tetapi gadis itu tetap mempertahankan setangkai bunga di tangannya.

“Sudah aku saja yang menyusunnya.”

“Tidak usah melawan. Aku saja yang menyusunnya.”

“Aku saja,” elak Yuan. Ia merebut setangkai bunga itu.

Berhasil !

Yuan meletakkan bunga itu ke dalam keranjang. Tanpa menyadari jari telunjuk dan ibu jarinya berdarah. Hingga rasa perih mulai menjalar di sekitar jarinya.

“A –perih.” Kedua mata Lay melebar melihat pemandangan memilukan menimpa orang tersayangnya. Segera direbutnya tangan kanan Yuan. Mencoba menyembuhkan luka agak dalam tersebut dengan memasukkan ke dalam mulutnya. Menghisap darah Yuan yang keluar sedikit demi sedikit. Lay memejamkan mata berkonsentrasi menyembuhkan luka di jari telunjuk dan selanjutnya ibu jari Yuan. Sedangkan gadis itu hanya terdiam menatap bagaimana kekasihnya panik, kemudian menyembuhkan lukanya akibat tertusuk duri mawar.

“Sudah sembuh,” ucap Lay lembut. Memegang jari telunjuk dan ibu jari Yuan. Tersenyum puas karena kemampuannya berguna untuk orang terdekatnya. Yuan tak berkata atau mengucapkan terima kasih. Ia menundukkan kepalanya dalam.

“Maaf, aku sudah membuat gege marah, kesal dan sekarang gege khawatir karena ulahku. Maafkan aku,” kata Yuan penuh penyesalan. Bibir tebal Lay terulas senyum penuh makna. Tidak, dia tidak marah sama sekali. Lagipula kemarahannya tidak berlangsung lama. Semenit kemudian Lay sudah melupakan hal yang memancing amarahnya. Kedua tangan Lay memegang pipi lembut Yuan. Mengangkat dagu gadis itu. Demi melihat wajah cantiknya dari dekat.

“Aku tidak mungkin marah padamu. Aku sangat khawatir tadi. Lain kali jangan buat dirimu terluka lagi. Aku menyayangimu.” Ucapan Lay menghipnotis Yuan untuk tetap bergeming sambil melihat gerakan Lay menghampirinya. Lalu mencium keningnya sayang.

Biarkan rasa cintaku mengalir dalam setiap sentuhanku. Agar kamu merasakan bagaimana besar cintaku padamu –Lay

Selesai

 

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s