Raining


suho copy

Title : Raining | Author : @ferrinamd | Genre : Sweet, Fluff | Rating : Teen | Length : 762 words | Main Cast : Suho EXO-K , Jaehyun

Jae Hyun memainkan kubangan air hujan turun di jalan beraspal. Mengalir menuju aliran air berada di pinggir jalan.  Gadis itu masih setia menunggu di depan gedung latihan Jun Myeon. Entahlah kenapa dia berani berjalan kemari. Padahal hujan belum reda sama sekali, masih ada tetes-tetes hujan berfrekuensi sedang. Kedinginan menerpa tubuhnya, dirapatkan betul mantel masih tak mampu mengusir rasa yang menusuk sampai ke tulang. Ia pun mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Membuka look screen langsung bertubrukan penglihatannya dengan wallpaper terpasang nyata di ponselnya. Dia dan Jun Myeon. Mengingatnya saja membuat Jae Hyun merindukan pria itu. Makanya hari ini, ia kembali nekad datang. Walaupun Jun Myeon berkoar di sambungan telepon, untuk mencegah Jae Hyun ke tempat latihannya.

****

Oppa, aku ingin ke gedung latihan, yah yah ?”

Terdengar helaan napas kasar dari seberang sana. Jae Hyun terdiam beberapa saat menunggu Jun Myeon buka suara. Pria itu pasti lelah memberitahu gadisnya untuk tidak berbuat yang sia-sia. Itu hanya menyusahkan Jae Hyun saja.

“Tidak,Hyun. Jangan kesini. Disini hujan, aku tidak mau mendengarmu sakit –lagi.” Yah, sebelum ini Jae Hyun sudah terserang sakit. Demam tinggi serta flu sudah diderita seminggu lebih. Tapi kini Jae Hyun yakin dia sudah benar-benar sembuh. Hingga ia berani melangambil tindakan ini. Baru sebulan lalu Jae Hyun pergi ke dorm EXO. Sekarang ia pergi ke depan gedung latihan Jun Myeon.

“Tapi aku sudah di depan gedung, oppa. Aku… merindukanmu,” ucap Jae Hyun hampir berbisik. Namun Jun Myeon mendengarnya sangat jelas. Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat. Jun Myeon juga merindukan kekasihnya. Dia menyesal tidak bisa menjenguk Jae Hyun saat sakit kemarin.

“Kamu sudah di depan gedung? Ya, Tuhan, kenapa kamu selalu membangkang ucapanku Song Jae Hyun.”

“Maafkan aku, oppa. Tidak apa-apa kamu memarahiku. Asalkan aku bisa melihat wajahmu.”

“Oke, sekarang kamu tetap disitu. Aku akan menemui setengah jam lagi. Tidak apa-apa, kan?” Jae Hyun mengangguk. Ini resiko memilik kekasih seorang public figure.

“Baiklah, aku masih menunggu.” Sambungan terputus. Jae Hyun menunggu kedatangan Jun Myeon.

****

Kepala Jae Hyun menengok ke kiri-kanan. Melihat kehadiran seseorang yang ia tunggu. Tapi tidak ada siapa-siapa. Jae Hyun menghela napas panjang. Tubuhnya menjadi lemas, asap putih mengepul dari pernapasannya. Digosok-gosokkan tangannya demi mengaliri rasa hangat yang semakin lama, semakin menjalar ke seluruh tubuhnya. Sepasang matanya terpejam rapat, badannya jadi menggigil.

“Kamu kedinginan, sayang. Maafkan aku menunggumu lama.” Suara itu terdengar halus bersamaan dengan mantel tersampir dibahunya dan tangan melingkari bahu rapuh Jae Hyun.

Oppa,” Jae Hyun bergerak demi melihat sosok dibelakangnya. Jun Myeon tengah memeluknya dari belakang. Memberikan mantel menyelimuti tubuh Jaehyun sembari memeluknya erat.

“Biarkan seperti ini. Aku merindukanmu.” Jae Hyun susah payah menelan ludah menahan dadanya bergemuruh kencang. Tangan kanannya memegang dadanya, menghilangkan debar jantungnya. Takut-takut kalau Jun Myeon mendengarnya.

“Aku juga merindukanmu.”

“Disini dingin. Aku tidak ingin kamu sakit. Mau masuk ke dalam?” tawar Jun Myeon. Jae Hyun menggeleng pelan. Dia tidak mau menyusahkan Jun Myeon lagi. Keadaan ini sudah cukup membuatnya bernapas lega. Melihat Jun Myeon, merasakan keberadaan pria itu meninggalkan kesan mendalam terhadap Jae Hyun sendiri. Jun Myeon pasti sudah lelah sekarang.

“Tidak usah. Kita disini saja. Ini sudah lebih baik.” Jae Hyun melepas rangkulan tangan Jun Myeon. Beralih menghadap pria yang kini berada di hadapannya.

“Yakin? Aku tidak mau jadi kekasih yang jahat,” goda Jun Myeon menyentuh pipi Jae Hyun yang terkena tetesan air hujan. Lalu menyentuh puncak kepala Jae Hyun. Memegang hoodie jaket milik gadis itu dan mengenakannya di kepala Jae Hyun.

“Pakai yang benar, aku tidak mau kepalamu basah,” ujar Jun Myeon sembar tersenyum hangat. Mengaliri kenyamanan untuk Jae Hyun.

Gomawo, Jun Myeon oppa.

Hujan deras mereda seiring kedatangan Jun Myeon perlahan. Kepala Jae Hyun menengadah menatap langit malam mulai kembali terang.

‘Ini aneh’ batinnya dalam hati. Jun Myeon diam-diam tersenyum menatap tingkah polos Jae Hyun.

“Apa yang kamu lihat, sayang?” Jae Hyun kembali melihat Jun Myeon lekat-lekat. Pria itu tampak bingung dengan tingkahnya. Justru gadis ini tengah dilanda keheranan. Bagaimana bisa hujan yang tadinya deras menjadi hilang seketika? Apakah Tuhan mengijinkannya untuk bisa berlama-lama dengan Jun Myeon? Jae Hyun tersenyum tanpa disadari mengundang semu merah dari Jun Myeon yang melihatnya.

“Hujannya tiba-tiba berhenti. Oppa tidak menyadarinya?”

“Aku yang memintanya agar hujan berhenti.” Jae Hyun menatap Jun Myeon heran, tidak mengerti maksud Jun Myeon sepenuhnya.

“Maksud oppa ?” Jun Myeon memejamkan mata, lalu menggeleng pelan. Pria tersenyum penuh arti.

“Kemarilah, kamu tidak mau memelukku lagi.” Jae Hyun tidak salah dengar. Jun Myeon meminta dirinya memeluk pria itu lagi. Tiba-tiba tangan kanan Jun Myeon terulur menarik pergelangan tangan Jae Hyun. Mendekatkan gadis itu padanya. Menghirup setiap deru napasnya melalui pelukan hangat yang sangat dirindukan Jun Myeon. Begitu nyaman dan menenangkan.

 

Selesai

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s