Comeback Again


comeback again copy

Title : Comeback Again | Author : @ferrinamd | Genre : Sweet, Romance | Rating : Teen | Length: 1.434 words | Main Cast : Tao, Lyn

Sejak tadi aku berbaring tidak jelas, menghadap ke kiri susah, menghadap ke kanan pun susah. Aku belum mengantuk. Lagipula aku juga tengah memikirkan keberadaan Tao. Sore tadi, banyak berita beredar kalau pria China itu akan kesini, Qingdao. Dia tidak mengabari apapun padaku soal ini. Apa dia mau memberiku kejutan lagi?

Kupejamkan mata demi melepas penat. Memikirkannya saja membuatku gila. Sekali lagi aku coba untuk tertidur. Membayangkan diriku menghitung domba satu per satu. Metode klasik yang cocok untuk anak kecil. Tiba-tiba ponselku berdering. Otomatis badanku terbangun dari kasur empuk. Beralih mencari-cari posisi ponselku berada. Ah, disana, seruku. Menggapainya dengan tangan kanan.

“Dapat !” Kubuka lock screen smartphone. Melihat ada pesan masuk. Dari Tao.

Kamu tahu? Aku sudah tiba di Qingdao.

Kamu tidak merindukanku?

Percaya diri sekali dia.

“Ya, aku merindukanmu. Aku ingin bertemu. Tapi ini sudah malam. Lebih baik aku tidur sebelum besok ada kelas di kampus.” Aku langsung meletakkan ponsel tanpa perlu membalas pesan Tao. Dia pasti tahu aku sudah tidur. Sekarang sudah larut malam, sekitar jam sebelas malam waktu setempat.

Badanku tergeletak manis di atas tempat tidur. Kembali memejamkan mata menyambut esok hari

****

Tok, tok,tok

Bunyi ketukan pintu keras terdengar menghampiri telingaku. Mengganggu saja. Mata kecilku mencoba menyesuaikan cahaya matahari memasuki lewat celah tirai jendela kamarku.

“Lyn, bangun. Ada yang ingin menemuimu.” Itu suara ibu. Ada apa sepagi ini repot-repot membangunkanku. Masih jam empat pagi. Aku mengerang pelan sebelum akhirnya membuka pintu kamar. Tampak ibu sudah rapi.

‘Apa dia sudah mandi?’

“Ada apa bu?”

“Cepat ke ruang tamu. Ada orang mencarimu,” ucap ibuku langsung meninggalkanku dengan senyum jahilnya. Aku mencium ketidakberesan disini. Untuk jaga-jaga, aku melihat ke cermin. Menyisir rambutku yang agak berantakan dan mencuci muka sekenanya. Lantas kuberjalan keluar kamar. Langkahku terhenti melihat sosok pria tengah menatapku intens.

“Tao,” seruku. Pria itu hanya senyum malu melihat reaksi kagetku.

“Aku datang.” Tao masih tersenyum. Dia berdiri, mendekatiku, lalu memelukku erat.

“Aku merindukanmu,” bisiknya tepat di telingaku. Mataku berair, aku menangis. Dasar cengeng.

“Apa kamu tidak merindukanku?” Tao merenggangkan dekapannya di tubuhku demi melihatku. Aku cuma bisa mengangguk. Suaraku tercekat melihat kehadirannya. Baru saja semalam aku memikirkannya. Sekarang dia sudah ada di depan mata. Dekat, sangat dekat.

“Jangan menangis. Aku disini,” ucapnya lembut. Tao kembali mendekapku erat. Melampiaskan rasa rindunya padaku. Sampai aku mulai memberanikan diri membalas pelukan hangatnya. Kedua tanganku melingkar sempurna di pinggangnya. Menyentuh punggung tegapnya. Indera penciumanku merasakan wangi tubuh yang sangat kurindukan.

Tiba-tiba suara dehaman muncul di sela adegan romantis kami. Tao melepas pelukannya, sepasang matanya kaget melihat kehadiran ibu sudah berdiri sambil tersenyum jahil, senyuman yang sama saat menggedor pintu kamarku.

“Ibu.” Wanita paruh baya itu berjalan mendekat. Tangannya menepuk bahuku dan Tao. Aku jadi bingung dengan sikapnya.

“Tao, kamu bilang ingin mengajak anakku sarapan bersama.” Aku mengernyit heran. Makan bersama? Sepagi ini?

Pria di hadapanku mengangguk. “Iya, bu. Baru aku mau memberitahu Lyn.”

“Maksudmu? Mau mengajakku sarapan? Ini masih pagi, Tao,” sahutku. Tao hanya tersenyum semakin lebar. Ibu berdecak mendengar ucapanku. Aku tidak salah bukan. Ini masih jam empat pagi.

“Tidak usah berpura-pura bodoh Zhen Yilyn. Apa kamu lupa, Tao terkenal dimana-mana. Jadi dia tidak ingin orang-orang melihat keberadaannya. Lagipula dia juga tidak mau mendapatimu kerepotan dikejar-kejar para fans Tao disini,” jelas ibu panjang lebar. Aku hanya mengangguk paham. Kalau ibu sudah berceramah seperti tadi, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Beruntung beliau sangat mendukung hubunganku dengan Tao. Terima kasih, bu.

“Kenapa diam saja? Cepat kamu mandi dan ganti baju.” Aku cemberut mendengar perintah ibu. Aku jadi malu sendiri, Tao menahan tawanya dengan mengulum senyum tertahan.

“Tertawa saja, Mr. Huang.” Aku berbalik dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.

“Aku mandi dulu.”

****

Aku turun dari mobil yang Tao kendarai. Kami sudah ada di kedai makanan dan minuman yang berkumpul. Tempat biasa kami berkumpul bersama teman-teman yang lain. Yah, aku berteman dengan Tao, hingga aku tidak menyangka dia mengatakan perasaannya padaku. Dia bilang, dia menyukaiku, dia mencintaiku. Ah, mengingatnya bisa buatku gila.

Aku susah menebak perasaan Tao sebenarnya. Dia pandai menutupi. Dan aku orang yang tidak terlalu peka dengan lingkungan sekitarku.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” Aku menoleh pada Tao yang berjalan berdampingan bersamaku. Lalu tangan Tao meraih pergelangan tanganku, mengenggamnya erat. Kulirik kedua tangan kami yang bertautan.

“Kamu senang aku pulang?” Aku menatap Tao beberapa saat.

“Iya, aku sangat senang.” Tentu saja aku senang dia pulang. Aku jadi teringat kesibukannya selama ini. Apa dia baik-baik saja? Aku ingin menanyakan keadaannya. Tapi kuurungkan niatku. Tunggu saat yang tepat.

Tao berhenti melangkah di depan kedai. Agak ramai. Aku melihat sekumpulan orang berbaur menjadi lingkaran kecil. Tunggu, bukankah itu Chenchen teman kami yang sangat dekat dengan Tao dan juga denganku, itu Justin bukankah dia ada di L.A, Ivan, seingatku dia tengah sibuk dengan kuliah dan bisnis yang dia jalani. Mereka berkumpul disini?

“Hey, Lyn,” sahut Justin melambaikan tangannya menyuruhku untuk mendekat. Kuhampiri mereka semua, kupeluk Justin sangat erat. Hingga terdengar dehaman dari Tao berada di belakangku. Gelak tawa keluar dari mereka berempat. Chenchen tersenyum manis. Dia terlihat baik-baik saja. Aku senang melihatmu, Chen. Lantas kupeluk Chenchen,

“Aku kangen padamu.” Chen mengangguk mengerti. Sepertinya dia juga merindukanku. Terakhir, kupeluk Ivan. Dia bertambah gemuk saja.

“Gege, kamu terlihat gemukan,” ucapku frontal. Ivan menatapku tajam, tawa pun meledak mendengar ocehanku. Meledek Ivan yang hanya bisa menggeleng.

“Tao, ajari kekasihmu agar sopan padaku,yah.” Ivan menepuk bahu Tao. Sedangkan pria China itu tersenyum lebar sambil menatapku.

“Ayo, kita sarapan.” Aku dan keempat pria ini duduk mengelilingi meja berukuran sedang. Sudah terhidang soup hangat dan bubur di atas meja.

“Untukku?” Kutunjuk mangkok di hadapanku, bertanya pada Justin. Dia mengangguk seraya tersenyum manis. Dia tampan. Aku menyukai senyumnya.

“Makanlah yang banyak,” ujar Justin. Kemudian kami pun makan dalam diam. Sesekali Tao melempar candaan yang membuat kami kembali tertawa tanpa memedulikan orang-orang yang tersenyum heran pada kami. Mangkok kami pun habis, aku meneguk gelas berisi air putih hinggat tak tersisa.

“Sudah kenyang?” Tao melihat ke arahku. Memandangku intens. Lagi-lagi tatapan itu. Dadaku berdebar kencang. Aku menunduk menghindari tatapannya.

“Iya, aku kenyang.” Ah, bodoh. Tidak ada jawaban yang pantas untuk kau ucapkan, Lyn.

“Lyn, bagaimana kuliahmu? Kudengar design yang kamu buat untuk perancang Wang Lei diterima.”

“Iya, dia bilang, puas dengan rancanganku.”

“Kau hebat. Aku bangga padamu,” sahut Ivan mengacungkan jempol padaku, diikuti Chen mengacungkan dua jempol untukku.

“Terima kasih semua.”

“Oya, Justin sekarang berlibur sebulan disini. Sayangnya, aku tidak bisa ikut berlibur dengan kalian nanti,” keluh Tao. Aku tahu yang dia bicarakan. Tao hanya berlibur sebentar disini. Aku tersenyum kaku. Beginilah rasanya mempunyai kekasih paling sibuk.

“Dan aku tidak bisa mengajak kencan kekasihku ini. Apa kamu tidak sedih kita tidak bisa kencan?” Tao merangkul bahuku. Menatapku dengan tatapan menggoda. Justin dan yang lain tertawa. Aku yakin wajah ku memerah karena ucapan Tao.

Awas, Mr. huang akan aku beri kau pelajaran.

“Memang sekarang kau tidak kencan dengan Lyn?” tanya Ivan memancing suasana. Aku terpojokkan dengan candaan mereka. Kulihat Chen tertawa lebar melihat tingkahku dan Tao.

“Tidak, kami akan kencan jika tidak ada kalian disini.” Justin menatap Ivan dan Chenchen.

“Anggap saja kami hantu. Dan kalian bisa berkencan sepuasnya.” Celotehan Justin kembali mengundang tawa diantara kami berlima. Aku menahan malu, melihat Tao tertawa senang. Kemudian mendekati wajahnya padaku.

“Tenang saja, sayang. Sebentar lagi kita akan berkencan.” Bisikan Tao terbawa angin menghampiri telingaku.

****

“Kamu terlihat tidak senang aku datang?”

Aku menatapnya dalam diam selama beberapa saat. Menatap mata sayunya tajam. Setelah sarapan tadi, Ivan, Justin dan Chenchen menunggu kami di mobil. Mereka memberi kami waktu untuk berdua saja.

“Tidak, Tao. Aku senang kamu kembali lagi. Bukankah kita tidak bertemu sejak tahun baru China kemarin?” Tao mengangguk layaknya anak kecil baru mengerti.

“Ya, kita tidak bertemu selama itu. Bagaimana kalau setahun? Aku tidak berpikir untuk tidak mengingatmu. Aku sangat merindukanmu,” katanya berbisik hampir tak terdengar. Tapi aku menangkap dengan jelas apa yang dikatakannya.

Aku juga merindukanmu, Huang Zi Tao.

“Apa kamu disana baik-baik saja? Aku khawatir keadaanmu akan mem –”

“Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Kamu tak usah khawatir. Bukankah aku pernah bilang aku pria kuat? Aku pasti bisa melewatinya bersama member EXO yang lain.” Aku tersenyum . Baguslah, kamu baik-baik saja.

“Aku senang mendengarnya. Kamu pria yang kuat. Aku yakin itu.” Aku menggenggam kedua tangan Tao erat. Aku memejamkan mata sejenak.

Tuhan, aku berdoa padamu. Semoga Tao bisa menjalaninya dengan baik. Ini impiannya, ini keinginannya, dia pasti bisa meraihnya hingga dapat mencapai segala yang dia inginkan. Kuharap Tuhan mendengar doaku. Amin.

Sebuah kecupan lembut menyentuh keningku. Hangat dan membekas. Aku membuka kelopak mataku, melihat Tao sangat dekat denganku. Lalu ia melepas kecupan manisnya di keningku. Dia memandangku lembut, sangat lembut. Aku sangat mencintainya.

“Aku merindukanmu, Lyn.” Tao mendekapku dalam pelukannya.

“Jangan pernah tinggalkan aku. Aku baik-baik saja jika kamu selalu ada disisiku.”

Selesai

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s