[EXO LOVE Series] Choco Chip Cookies


Title : Choco Chip Cookies | Author : @ferrinamd | Genre : Sweet | Rating : Teen | Length: 1.100 words | Main Cast : Do Kyung Soo, Lee Rina

tumblr_muv7k03Mll1ruuj4io1_400 copy

Diam, hening, tanpa suara yang mendominasi. Hanya kesunyian memusatkan pikiran seorang pria mengenakan topi koki dan apron ala cheff internasional. Tangannya tekun mengolesi adonan dengan sapuan margarin dari mangkok kecil. Seulas senyum terus tampak pada bibir tebalnya. Tak hentinya menyenandungkan lagu entah untuk siapa lagu itu ditunjukkan. Yang jelas apa yang dilakukan Dio -nama pria itu diperuntukkan khusus kepada gadis tercintanya.

Manik matanya menangkap jarum jam dinding berdetak setiap harinya. Jarum pendek sudah menunjukkan angka lima sore. Tapi gadisnya belum datang juga. Dio buru-buru memasukkan loyang berisi beberapa adonan cookies lengkap dengan butiran chips di setiap bagiannya ke dalam oven dengan suhu 1600 derajat celcius selama kurang lebih lima belas menit.

Selama menunggu, Dio melepas apron dan sarung tangan khusus memasak. Mengambil smartphone miliknya. Mengetik beberapa digit nomor yang sangat ia hapal diluar kepala. Kemudian menempelkan smartphone hitamnya ke telinga.

Yeobeoseyo,” sahut Dio setelah sambungan telepon tersambung di seberang sana. Suara bising kendaraan dan hiruk pikuk orang-orang yang lalu lalang menyambutnya.

Ne, oppa. Aku masih ada di subway menuju rumahmu.” Suara perempuan terdengar merdu sampai ke telinga Dio dan dia pun tersenyum.

“Baguslah, aku masih menunggumu,” jawab Dio menyambut suara Rina senang.

“Aku segera datang. Wait a minute, okay.” Setelah itu Dio menutup sambungan telepon. Dirinya membereskan meja makan dan dapur. Rina akan datang, tak boleh ada sedikitpun sesuatu yang merusak pandangan -menurutnya.

Beberapa menit lagi Rina sudah hampir mendekat ke apartemenya yang terbilang jauh di lantai 12. Dio mengenakan sarung tangan khususnya. Memeriksa suhu oven. Sebentar lagi cookies buatannya matang. Dio berjalan mengambil piring melanin berwarna putih. Meletakkan di atas meja dapur. Menata piring itu dengan taburan meises sebagai alas cookies. Dan melapisinya dengan lelehan coklat yang dibentuk sedemikian rupa. Selang beberapa menit, bunyi dari oven berbunyi pertanda sudah 15 menit waktu berlalu. Dio mengeluarkan loyang berisi sepuluh buah chocochip cookies buatannya mengepul asap yang tercium aroma manis menusuk hidungnya. Selagi menunggu kue buatannya dingin. Dio mengambil penjepit kue yang biasa dipakai untuk mengambil makanan masih dalam keadaan panas. Satu per satu Dio memindahkan cookies ke atas piring. Mensejajarkan secara diagonal. Sederhana tapi nampak cantik.

“Selesai,” Dio meletakkan loyang bekas adonan di atas mesin pencuci piring. Membiarkannya, dan akan ia cuci setelah acaranya dengan Rina selesai.

TING TONG !!

****

Siang hari yang terik tak meluputkan semangat Rina demi datang ke apartemen Dio. Siapalagi yang ia harapkan selain ingin mencicipi cookies buatan kekasihnya. Rina melirik jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Tiga menit lagi ia akan sampai. Berjalan sebentar menuju apartemen Dio. Memasuki lift mencapai lantai apartemen Dio.

Sesampai disana, tangan Rina terulur menekan tombol bel apartenen Dio.
“Masuklah, Ri.” Sebuah sahutan dari dalam mempersilakan Rina masuk. Sementara Rina mengerutkan dahinya. Sebelum akhirnya ia mendengar bunyi tanda pintu telah terbuka. Rina meraih gagang pintu, membuka lebar daun pintu. Lalu masuk kedalam apartemen. Matanya menelusuri pandangan ke seluruh sudut setiap ruangan yang ada. Warna putih hampir mendominasi. Rina tersenyum mengingat perkataan dio,

“Aku sangat suka putih, buat aku putih itu indah, suci dan tidak menyakiti mata yang melihat,”

Rina jelas mengetahui bagaimana Dio sangat menyukai warna melambangkan kedamaian dan ketenangan. Kaki jenjang Rina melangkah mengikuti harum kue baru saja matang. Menggelitik Rina untuk segera mencicipinya. Tampak dari jarak satu meter pria berkaos hitam serta celana jeans warna senada tekun memindahkan cookies buatannya ke atas piring.

Oppa,” panggil Rina. Kepala Dio menengadah melihat siapa gerangan memanggil namanya lantang. Suara merdu Rina yang khas langsung membuat Dio tersenyum lebar. Tersenyum layaknya anak kecil menyambut hadiah yang segera diangsurkan untuknya.

“Kemarilah.” Tangan kanan Dio melambai menyuruh Rina cepat mendekat ke arahnya. Gadis itu langsung berjalan menghampiri Dio. Mengamati bagaimana telaten kekasihnya dalam hal memasak.

“Kau sungguh terampil,oppa. Aku belum tentu bisa membuat kue seperti itu,” kata Rina jujur. Dia tidak terlalu mahir dalam bidang memasak. Ibunya selalu menuntut ia untuk segera melatih diri untuk memasak sekedar kudapan atau untuk makan saja. Rina bukan tidak mau hanya saja ada beberapa alasan yang jika kau ketahui akan buatmu menggeleng tak percaya.

Ya ! aku disini bukan mau mendengar celotehanmu. Coba cicipi.” Dio menyodorkan satu cookies pada Rina. Dan Rina mengambil cookies dari tangan Dio. Bibir tipis Rina terbuka. Menggigit, mengunyah kudapan manis tersebut. Meresapi rasa coklat yang menguasai satu keping cookies itu. Seulas senyum muncul dan semburat merah timbul jelas terlihat di pipi Rina. Mengundang rasa penasaran Dio akan reaksi Rina setelah memakan kue kering buatannya.

“Bagaimana? Enak?” tanya Dio. Ia tak yakin Rina akan menyukainya. Sebenarnya Dio menambahkan agak banyak komposisi pasta coklat ke dalam adonan. Yang ia khawatirkan rasa coklat dalam cookies itu terlalu pahit. Sedangkan Rina tidak menyukai coklat yang terlalu berlebihan. Tapi semua kekhawatiran Dio tak terbukti. Rina tersenyum manis di hadapannya berjarak kurang dari satu meter.

“Enak, aku suka cookies ini,” Dia mengulurkan tangan kanannya, menyentuh bibir tipis Rina. Berusaha menyingkirkan remah-remah cookies yang tertempel di bibir Rina. Tanpa menyadari perbuatannya mengundang aliran mengejutkan jantunnya hingga berdebar lebih cepat. Manik mata Rina menangkap wajah Dio sangat fokus membersihkan bibirnya dari kotoran yang tertempel.

“Mulutmu kotor, Ri,” ujar Dio. Memanggil nama panggilan khusus Dio untuknya. Rina tak mampu lagi menahan gejolak perutnya yang semakin menggelitik dirinya. Akhirnya ia memegang tangan kanan Dio memohon untuk berhenti menyentuhnya. Kalau tidak, Rina bisa memastikan ia tak sadarkan diri di hadapan pria tersebut.

“Sudahkan? Aku tidak apa-apa.” Kata-kata polos itu yang keluar dari mulut Rina. Otaknya tak bisa bekerja normal.

“Baiklah, aku coba makan.” Dio memegang tangan Rina yang masih menggenggam cookies bekas gigitannya. Secara langsung tangan Rina menyentuh bibir tebal Dio. Sungguh, ini diluar kuasa dirinya. Rina menggeleng cepat berusah membuyarkan pikiran lugunya.

“Kau kenapa?” Rina hanya diam tak berkata.

“Ah, kamu gugup dekat denganku ?” Rina mengerucutkan bibir. Merasa kalah dengan ucapan Dio. Terkadang pria ini suka seenaknya saja bicara. Coba Dio bukan kekasihnya mungkin Rina sudah mengangkat kaki dari sini.

A,ani. Aku tidak gugup. Oppa, jangan mengada-ngada.” Dio pura-pura tak mendengar. Tubuhnya terdorong kedepan. Semakin lama, semakin dekat, sangat dekat dengan Rina. Hingga hidung mereka bersentuhan. Merasakan deru napas masing-masing. Dada Rina bergemuruh, berharap adegan ini segera berlalu secepatnya. Dio terus bergerak hingga ia menyentuh permukaan bibir Rina. Pelan dan tidak lama. Singkat namun penuh berjuta kesan untuk Rina. Dio bergerak menjauh mengamati dari kedua manik matanya. Tersenyum lebar mendapati pipi Rina kembali memerah. Bahkan kemerahannya meningkat dari sebelumnya. Gemas dengan wajah Rina yang sangat cantik. Kekasih yang sangat Dio cintai.

“Kamu sangat manis. Aku berharap cinta kita bisa semanis cookies buatanku.”

Selesai

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s