Flower Boy


Title : Flower Boy | Author : @ferrinamd | Genre : Sweet | Rating : General | Length : 1.272 words | Main Cast : Lu Han ( Luhan EXO )
BQHI-lUCQAEde7J

Satu perhatian kecil sangat berkesan. Apalagi perhatian terus-menerus tercurahkan. Akan memberikan suatu perasaan yang semakin lama, semakin menumbuhkan benih cinta yang membesar menjadi pohon cinta abadi. Seperti yang dirasakan Dyan. Bagaimana tidak? Jika setiap hari dia selalu diperlakukan seolah dirinya seorang gadis istimewa bagi Luhan. Pria tampan yang sudah menjadi tambatan hati Dyan sejak mereka sama-sama duduk di bangku kelas satu sekolah menengah atas. Tiada yang tahu perasaan mendalam Dyan pada Luhan kecuali dirinya sendiri.
Sore itu terasa damai. Daun-daun berjatuhan menyambut musim gugur yang sebentar lagi akan tiba. Roda sepeda kian melaju menyusuri jalan setapak yang dilewatinya. Dyan bersenandung riang menikmati angin semilir menerpa wajah cantiknya. Rambut panjang yang tergerai. Menguar harum vanilla dari rambutnya. Sekarang ia sangat senang bisa bertemu dengan Luhan –lagi di toko bunga milik ibu Luhan. Seringnya Dyan mampir terkadang diberikan bunga Lily, bunga kesukaan Dyan oleh wanita tersebut. Kehadiran Dyan menjadi kesan berarti di toko bunga ‘Flower Power’ dan mengundang kehadiran pengunjung yang mampir.

“Luhan !!” seru Dyan memanggil nama laki-laki yang sekarang tengah merapikan bunga mawar dalam keranjang bunga terpanjang di depan toko.

“Kau ! Mengagetkanku saja,” ucap Luhan. Menyadari siapa yang datang hari ini. Sebenarnya Luhan sudah tahu jika gadis itu pasti akan datang hari ini di akhir pekan. Waktu yang tepat untuk mengisi hari libur. Tapi Luhan tidak tahu kalau gadis ini tiba di tempat ini tiga puluh menit lebih cepat.

“Maaf, aku terlalu senang melihatmu.”

“Benarkan? Apa kau begitu merindukanku?” goda Luhan. Sekedar untuk membuat gadis itu semakin tersenyum malu. Luhan sangat senang menyanjung Dyan. Melihat rona merah di pipinya tidak ayal memberi kesan tersendiri untuk Luhan. Ingin sekali dia mencium pipi tembam milik gadis di hadapannya sekarang.

“Dyan ! Kamu kemari? Sini, sini ikut bibi ke dalam. Luhan tolong jaga toko sebentar. Kalau ada orang yang mengambil bunga mawar pesanannya tolong diberikan, yah.” Seketika wajah Luhan tertekuk. Ibunya senang sekali menyuruh dia menjaga toko sendirian saat Dyan datang kemari. Ini tidak adil.

“Ibu ! selalu begini,” rajuk Luhan. Dyan tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya agar tak terdengar ibu Luhan. Laki-laki berambut hitam langsung bisa melihat Dyan yang tertawa kesenangan ketika ibunya menyuruh Luhan.

“Sudah kamu nurut saja. Ibu ada perlu dengan Dyan. Kamu kerjakan tugasmu dulu.” Sang ibu mengelus pipi sebelum ia pergi masuk kedalam rumah bersama Dyan.

Luhan menghela napas melihat kepergian kedua perempuan yang ia sayangi. Terpaksa ia bekerja sendirian tanpa ada yang menemani. Menunggu beberapa menit rasanya membosankan. Namun seorang gadis berkuncir kuda datang mengunjungi toko bunga. Luhan langsung berdiri menyambut kedatangan pengunjung yang baru saja Luhan lihat sosoknya.

“Maaf apa benar ini toko bunga ‘Flower Power’ ?” Luhan membungkuk dan mengangguk pelan. Suara gadis itu merdu. Luhan seakan terhipnotis akan indahnya suara yang keluar dari bibir tipis milik gadis asing tersebut. Lantas ia tersenyum seraya membawa secarik kertas yang sedaritadi digenggamnya.

“Baguslah, aku tidak perlu repot berjalan untuk mencari lagi.” Luhan mengerutkan dahi. Ia berpikir gadis ini sedaritadi mencari tempat yang dimaksudnya adalah toko bunga milik ibunya.

“Memangnya anda sedang mencari apa? Bunga?”

“Ti –tidak, aku mau mengambil pesanan sebucket bunga mawar dari ibuku.” Luhan berpikir. Dia ingat pesan ibunya.

–‘Kalau ada orang yang mengambil bunga mawar pesanannya tolong diberikan, yah.’

“Ah, iya bunga mawar. Aku akan ambilkan.” Luhan mencari-cari bunga yang dia ingat tempat ditunjukkan ibunya tadi.

“Lu, kamu mencari apa?” Luhan tidak mengalihkan perhatiannya tetap mencari bunga yang dimaksudkan. Tanpa menolehpun dia sudah tahu pemilik suara gadis.

“Aku mencari bucket coklat bunga mawar.” Dyan turut membantu mencari. Sampai matanya menangkap sesuatu sejak tadi dicari Luhan. Dia langsung mengambilnya secepat mungkin.

“Bunga mawar ini?” tanya Dyan. Luhan menengok ke arah Dyan. Melihat Dyan membawa bucket bunga tersebut. Luhan mengambil alih benda itu dan memberikannya pada pengunjung perempuannya. Dyan mengamati curiga. Merasa Luhan menyukai gadis diantara mereka berdua.

“Ini bunganya. Terima kasih sudah membeli bunga di toko kami.” Sosok gadis di depan Luhan tersenyum lebar memandang bucket bunga yang sekarang ada dalam genggamannya.

“Iya, kapan-kapan aku pasti membeli bunga disini lagi. Terima kasih –”

“Luhan, panggil aku Luhan.”

“A, Xiexie, Luhan.”

“Sama-sama. Hati-hati dijalan.” Gadis berpakaian dress selutut membuat dia terlihat indah. Luhan masih tetap memandangnya hingga pengunjungnya hilang berbelok di tikungan ujung jalan.

“Kau menyukainya?” Tiba-tiba Dyan sudah berdiri di sebelah Luhan. Laki-laki itu terlonjak kaget melihat kehadiran Dyan tiba-tiba. Luhan mengelus dada meredakan kaget yang berkelanjutan. Sejak datang Dyan selalu sukses membuatnya kaget setengah mati. Layaknya hantu di sore hari.

Hey ! bisa kah kamu tidak mengagetkanku?” keluh Luhan. Kemudian berjalan meninggalkan teras toko untuk masuk kedalam toko. Dyan tertunduk lesu. Reaksi Luhan sangat tidak ia harapkan. Kesannya kehadiran Dyan tidak diharapkan hari ini. Dia ikut melangkah masuk membuntuti Luhan.

“Aku cuma menanyakannya. Kamu suka dengan gadis itu?” Luhan cepat berbalik menghadap Dyan. Suasana hatinya jadi buruk ketika Dyan menanyakan perasaannya. Jelas-jelas Luhan baru bertatap muka dengan gadis tadi. Tidak mungkin dia langsung menjatuhkan hatinya pada orang asing. Tapi Dyan seolah mendesaknya, Luhan jadi semakin kesal dibuatnya.

“Iya, aku menyukainya. Memang kenapa?”
.
.

“DYAN !! DYAN !!” teriak Luhan di pagi hari ini. Berangkat sekolah bukannya menambah semangat baru malah mendapat serangan menyebalkan dari sikap aneh Dyan. Gadis itu seperti menjauhinya. Sejak sabtu kemarin, Dyan langsung meninggalkan toko tanpa pamit pada ibu atau Luhan. Dia merasa tidak enak hati dengan Dyan. Hari ini Luhan harus meminta maaf pada Dyan.

Sekarang percuma saja mengejar Dyan. Kecepatan mengayuhnya tidak diragukan lagi. Pantas saja kakinya sangat kuat. Sering dilatih untuk perlombaan atletik di sekolah mereka. Jadilah Luhan tertinggal setengah perjalanan dibandingkan dengan Dyan. Luhan memberhentikan sepedanya. Memutuskan untuk berjalan setelah kelelahan melandanya. Pagi hari sudah merasa capek. Mengejar gadis memang menyusahkan.
.
.

One next week

Hari berganti hari, minggu telah berganti cepat. Luhan bertopang dagu. Matanya suntuk menunggu pengunjung yang belum kunjung datang. Tangannya memegang setangkai bunga Lily. Dipandanginya, dihirup wanginya, memutar-mutar tanpa bosan sedikitpun. Seharusnya Dyan datang untuk membantunya. Tapi kehadirannya tak kunjung muncul. Menghubungi telepon rumahnya tidak diangkat. Apa Dyan dan keluarganya pergi? Padahal di sekolah Luhan masih menemukan sosok Dyan meskipun ia tidak mengobrol sama sekali dengan Dyan. Mungkin gadis itu sedang marah padanya.

“Kenapa kamu lemas begitu?” Suara familiar yang sangat dikenalnya kembali terngiang di telinga. Luhan menegakkan bahu mencari sosok dirindukannya.

“Dyan !” Luhan bergegas memeluk Dyan. Ternyata merindukan seseorang yang dicintainya sangat menyesakkan dada.

“Luhan, lepaskan pelukannya. Aku tidak bisa bernapas.” Dyan memukul punggung Luhan.

“Maaf, aku terlalu senang melihat kamu datang kemari.” Dyan tersenyum malu. Jadi begini rasanya dirindukan orang yang Dyan sayangi. Luhan menggaruk tengkuknya. Rasa malu beratus kali lipat meningkat dari biasanya.

“Kamu merindukanku?” tanya Dyan. Ia harap-harap cemas. Hanya untuk mengetes kejujuran Luhan tidak lebih. Setelah kejadian kemarin, Dyan marah dan sebal dengan reaksi Luhan yang tidak disangkanya. Ia kira Luhan tidak akan menyukai gadis lain. Ternyata Luhan berkata bahwa menyukai gadis itu. Akhirnya Dyan pergi menaiki sepedanya. Menjauh dan menangis dibawah rindangnya pohon akasia taman. Namun setelah dipikir-pikir untuk apa ia marah pada Luhan. Dia bahkan tidak mengutarakan perasaan pada Luhan yang belum tahu perasaannya. Dari rumah, Dyan sudah berniat untuk bilang pada Luhan kalau ia menyukai laki-laki pujaan hatinya.

“A –A,aku merindukanmu. Jangan marah lagi padaku.”

“Aku tidak marah padamu.”

“Benarkah?” Luhan memegang bahu Dyan seakan tidak percaya. Sebuah keajaiban jika gadis itu tidak marah dan lantas menjauhinya. Ternyata tidak terjadi, Luhan memeluk Dyan sekali lagi. Terlalu senang hatinya, hingga Dyan ikut tertawa senang. Kemudian melepasnya kembali.

“Aku tidak mungkin marah padamu.”

“Itu lebih baik. Aku juga tidak mau kamu menjauhimu. Karena –” Luhan menyematkan bunga Lily di telinga kanan Dyan. Sedangkan Dyan tersenyum malu. Senyum Dyan tergambar jelas. Tanpa segan Luhan mencium pipi Dyan. Ia berani karena ia sadar bahwa dirinya sudah tergila-gila dengan rasa cintanya pada Dyan, gadis manisnya.

“Karena aku mencintaimu.”
Selesai

Kembali lagi dengan fanfic cast Luhan. Ini ide dadakan inget Luhan setelah nonton exo showtime. Langsung aku buat cerita ini tanpa pikir panjang (?) daripada lupa langsung aku selesaiin sampai tuntas. ><

 

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s