Love Latte [Part 4 – end]


Title : Love Latte | Author : @ferrinamd | Rating : General | Genre : Romance, Comedy | Length : Chapter (4.481 words) | Cast : Kim Jong Woon ( Yesung Super Junior), Song Jong Ki.

Author Note’s : Fanfiction ending dari Love Latte. Sebenarnya judul ff ini Coffe Latte, tapi sengaja aku ubah. Apalagi ff udah lama ga aku lanjutin. Jadi aku ‘perbaharui’ lagi. Biar lebih fresh B) Happy Reading, guys ~

large

Love Latte [part 1] | [ part 2] | [ part 3]

previous

“Cepat sembuh. Hati-hati dijalan. Dan -” Perkataan Jong Woon menggantung. Jaehyun berharap ia bisa melanjutkannya. Namun sayang, kedua tangan Jong Woon sudah melepasnya.

“Sudah, kau bisa pulang sekarang.” Jong Woon mengusak rambut Jaehyun.

“Ya ! oppa.” Jong Woon mendorong tubuh Jaehyun untuk segera menuju ruang ganti. Sepertinya ia akan menangis. Dia tidak bisa mengantar gadis yang dia sukai untuk pulang bersama dan melihat keadaannya dari dekat. Untuk sekarang tidak bisa.

Jaehyunpun berjalan meninggalkan Jong Woon sendiri. Dengan isakan kecil yang keluar dari pelupuk mata Jong Woon,

”Dan aku mencintaimu.”

*****

Kini Jaehyun sudah berada di dalam mobil bersama Junsu. Beberapa menit mereka berdiam diri tanpa ada yang memulai pembicaraan. Sedikit membuat Junsu jengah. Rasanya tidak pantas untuk seorang pria untuk tak mengacuhkan gadis yang ada di dekatnya. Junsu melirik sebentar, Jaehyun memandang ke arah jendela mobil tanpa berpaling. Nyali Junsu menjadi ciut rasanya. Sikap diamnya Jaehyun mungkin tidak bisa membuat Junsu berkutik. Pada akhirnya ia memilih diam.

Hingga mobil Audi A5 milik Junsu berhenti di depan rumah Jaehyun. Pagar tinggi berwarna hitam tertutup rapat. Tapi sekarang sudah ada penghuninya yang akan membukakan pintu. Jaehyun melepas safe belt yang melingkar dibadannya.
“Kau mau kuantar sampai depan pintu?” Jaehyun berpaling, wajah lesunya sangat terlihat dari pandangan Junsu. Terselip rasa cemas dan khawatir. Bagaimana bisa gadis itu ditinggal sendirian? Tanpa ada yang mendampingi. Ah, ia lupa. Jaehyun menganggap dirinya gadis kuat, tak lemah. Namun jika kelelahan sudah menyerangnya. Dia akan langsung jatuh sakit secara perlahan. Itu yang Junsu ingat dari perkataan Jongki beberapa hari lalu. Karena sakitnya, Jaehyun belum sepenuhnya sembuh.

“Tidak usah, oppa. Lebih baik kau pulang. Malam semakin larut. Aku tidak mau merepotkan siapapun. Terima kasih tumpangannya, Junsu oppa.” Jaehyun hendak mendorong pintu mobil. Tiba-tiba tangan Junsu memegang lengan Jaehyun. Badan Jaehyun lebih dahulu terdorong ke kursi. Sontak ia kaget dengan sikap Junsu yang mendadak.

“Maaf, aku membuatmu kaget. Aku hanya ingin bilang. Hmm—“ Junsu terdiam. Kata-kata yang sudah ia sudah siapkan kacau berantakan. Rasa gugupnya mengalahkan segalanya. Pikirannya menjadi kosong menatap wajah Jaehyun. Gadis itu masih menunggu perkataan yang keluar dari mulut Junsu.

“Apa? Oppa, mau bilang apa?” suara Jaehyun menyadarkannya. Junsu melepas genggaman tangan pada Jaehyun. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

A, tidak, aku mau bilang. Kau cepat sembuh. Kalau ada waktu aku akan menjengukmu.” Jaehyun terkekeh. Tak menyangka jika Junsu, kakak kelas yang ia kenal bisa sepolos ini. Jaehyun kira ada omongan penting ingin dibicarakan. Nyatanya, hanya basa-basi yang Jaehyun tahu dan tidak perlu dibicarakan.

Ne, terima kasih sudah mendoakanku, oppa. Satu lagi, tidak usah menjengukku. Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu sebagai seorang CEO muda.” Junsu menelan ludahnya. Tahu darimana gadis itu, kalau Junsu CEO di sebuah hotel ternama di Seoul. Kepala Junsu mengangguk patuh. Jaehyun tersenyum. Dia melebarkan pintu mobilnya untuk jalan keluar dari mobil.

Okay, aku pulang dulu. Hati-hati di jalan, oppa.” Tangan Jaehyun melambai dan menghilang dari pandangan Junsu. Pintu mobil sudah tertutup. Jaehyun masih menunggu kepergian Junsu. Pria itu bisa melihat dengan jelas Jaehyun dari dalam mobilnya. Gadis itu tersenyum lebar dan –masih melambaikan tangan lagi padanya. Mau tak mau Junsu membalas lambaian tangan Jaehyun. Kemudian menyalakan mesin mobil dan pergi dari rumah Jaehyun.

Pagi hari yang masih agak dingin. Lelapnya tertidur dibangunkan oleh ketukan pintu. Jaehyun mengerjapkan matanya, memberi jeda untuk tubuhnya segera sadar dari alam bawah sadar.

“Tunggu sebentar,” sahutnya. Memerintahkan sang tamu untuk menunggunya membuka pintu. Turun ke lantai bawah. Sepi, itu kesan yang selalu menyapa Jaehyun tinggal di rumah ini seorang diri.

“Siap—a.” Ucapan Jaehyun terputus ketika mendapati seseorang yang sudah menghantuinya dalam mimpi. Baru saja tidur malamnya ditemani bayangan Jongwoon. Sekarang pria itu sudah berdiri depan rumah. Ini benar-benar tidak disangka.

Good morning,” sapa hangat Jongwoon merasuki gendang telinga Jaehyun. Senyuman Jongwoon mengalih dunianya. Sehingga tak menyadarkan dirinya. Jongwoon merasa adanya kejanggalan. Ia pun melambaikan tangan tepat di depan wajah Jaehyun.

“Jaehyun, Song Jaehyun.” Jongwoon terus memanggilnya. Sampai Jaehyun tersadar dan malu jadinya saat tahu dirinya terpana memandang senyuman maut seorang Kim Jongwoon.

“Ah, oppa.”

“Kau tidak apa-apa?” Jaehyun menggeleng pelan. Dia berbohong, dia tidak mau Jongwoon tahu bahwa dirinya terpaku menatap pesona Jongwoon.

“Tidak, aku tidak apa-apa. Oppa, ada apa datang kemari?” Jaehyun menelan ludahnya. Bodoh, kenapa harus menanyakan hal itu? Jelas-jelas pria ini tengah berkunjung sekaligus menjenguknya. Jaehyun tidak tahu harus mengajukan basa-basi seperti apa lagi. Standar saja. Sebaliknya Jongwoon malah tersenyum ketika melihat gelagat gugup dari Jaehyun. Terlihat sekali gadis ini masih malu-malu kepadanya.

“Aku menjengukmu. Ini aku bawakan buah dan bunga mawar putih untukmu.” Jaehyun mendapati Jongwoon memang tengah membawa bingkisan berupa beberapa buah yang ia sukai. Apel, Jeruk, Mangga, dan Anggur. Jujur ia tidak terlalu suka dengan buah. Entah ada rasa jijik saat memakannya. Tapi dipaksa juga, Jaehyun akan tetap memakannya. Jongwoon juga membawakan bunga mawar untuknya.

“Silakan masuk, oppa.” Jaehyun menyingkir. Mempersilakan Jongwoon untuk cepat masuk ke dalam rumahnya. Degup jantungnya tiba-tiba berpacu sangat cepat saat Jongwoon melewatinya. Jaehyun menghela napas dalam. ‘Tenang, Jaehyun-a, dia cuma menjengukmu.’ Bisik Jaehyun dalam hati.

Di tempat lain, ternyata Junsu sudah lebih dulu datang dengan mengendarai mobil hitamnya. Terparkir tepat di depan rumah tetangga Jaehyun. Ia dapat melihat dari jauh aktivitas Jaehyun dalam rumahnya. Dan sekarang ia harus melihat pria asing berani datang berkunjung di kediaman Jaehyun. Selintas Junsu pernah melihat pria itu.

Ah, itu kan Jongwoon. Dia kenapa bisa kemari? Jadi dia kenal dengan Jaehyun. Aku baru ingat, Café tempat Jaehyun bekerja milik Jongjin dan Jongwoon juga,” ujar Junsu. Dia berbicara pada dirinya sendiri. Berpikir ada hubungan apa Jongwoon dengan Jaehyun.

Junsu masih mengamati gerak-gerik ‘tamu’ tersebut. Sampai pria berada sangat dekat dengan Jaehyun itu masuk ke dalam. Junsu membuang napas kasar.

“Kenapa dia diperbolehkan masuk? Bagaimana kalau ada kejadian yang tidak-tidak?” Junsu menghempaskan punggungnya ke bangku mobil. Kekesalannya bertambah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kecuali memandang dari jauh rumah Jaehyun. Niat untuk datang tadinya, sirna seketika.

.

.

Selama empat hari tidak masuk, Handel and Gretel Café tidak kehilangan akal karena kekurangan karyawannya. Bahkan Jongjin yang memegang kuasa bersama kakaknya, Kim Jongwoon merekrut beberapa orang yang bisa menjadi karyawan baru di Café mereka. Untungnya ada dua-tiga orang yang mempunyai niat untuk bekerja. Bukan sebagai penguntit yang berpura-pura kerja di tempat usahanya dengan tujuan bisa melihat dari dekat kakaknya, Kim Jongwoon apalagi dirinya. Jongjin masih menghitung hasil usahanya di belakang kasir saat pengunjung mulai sepi.

Ya ! Kim Jongjin.” Sahutan mampir ke telinga Jongjin. Melihat sosok gadis yang  sangat ia kenal.

“Song Jaehyun !”  seru Jongjin. Jaehyun melambaikan kedua tangannya. Tersenyum lebar setelah tahu Jongjin terpana mendapati kehadirannya yang terkesan mendadak. Jongjin kira, Jaehyun akan masuk kerja seminggu setelahnya. Kenyataan berkata lain, Jaehyun berpikir untuk segera bekerja. Rasanya tidak enak harus mendapat izin yang cukup lama. Bisa-bisa ia dianggap sebagai karyawan emas atasannya.

“Kau kenapa kemari?”

Aigo ! Pertanyaan macam apa yang utarakan padaku, Kim Jongjin.” Jaehyun mencibir Jongjin. Bagaimana bisa lelaki itu berbicara seperti tadi.

Ah, anio, maksudku, kau kemari? Bukankah kau sakit? Aku sudah memberimu waktu seminggu agar kau cepat pulih.”

“Justru itu. Aku datang kesini karena sudah pulih. Terlalu lama kau memberi izin aku jadi tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan.” Jaehyun melangkah ke belakang kasir. Menyenggol badan Jongjin untuk segera pergi dari posisi pekerjaannya.

Hey ! kenapa kau mendorongku?” Jaehyun menjulurkan lidahnya.

“Aku mau kerja.” Suara decakan keluar dari mulut Jongjin.

“Lihat dirimu. Bersiap-siap dulu. Cepat ke ruang ganti.”

“Baik, tuan muda.” Jaehyun terpaksa ke arah dapur melewatinya, menuju ruang ganti. Mengenakan apron yang biasa ia pakai. Lalu dia kembali bekerja seperti biasa.

Sampai dua hari kedepan, suasana Café masih kondusif. Jaehyun masih terus menghitung uang-uang yang sudah terkumpul di mesin kasir. Beberapa menit lamanya, ia tetap menekuni kegiatannya, sampai-sampai ia tidak menyadari seseorang yang sedari tadi mengamatinya tepat di hadapan Jaehyun. Orang itu terbatuk, ternyata menunggu membuat ia tidak sabar untuk Jaehyun segera mengalihkan pikirannya dengan kehadiran laki-laki tersebut.

“O, anda mau pesan—,” Jaehyun melongo melihat siapa gerangan yang mengganggu pekerjaannya. Dia kira pengunjung yang –memang membeli minuman. Benar saja, dia pengunjung. Namun Jaehyun ragu dengan kedatangan pria itu.

Oppa,” pekiknya. Jantungnya berdetak, Jaehyun terlalu kaget menerima kenyataan. Jika pria yang datang kepadanya hari ini adalah Song Jongki, kakak laki-laki tersayangnya. Jongki terkekeh melihat ekspresi adik perempuannya. Seolah tidak percaya dengan kehadirannya disini. Di dalam café ini.

“Ada apa kau datang kemari?” tanya Jaehyun polos. Jongki melengos. Ia tidak percaya bahwa adiknya menanyakan hal yang tidak perlu diutarakan. Itu hanya membuat Jongki kesal sendiri. Adik macam apa yangbertanya seperti itu.

YA ! Song Jaehyun ! kau tidak sopan. Jelas-jelas aku kemari ingin melihat keadaan adikku tersayang. Apa kamu sudah sembuh? Junsu sudah menjengukmu bukan?” Jaehyun mengangkat jari telunjuk ke depan bibirnya. Menyuruh kakaknya untuk diam. Kemudian ia melangkah ke arah Jongki mengajak laki-laki lebih tua tiga tahun darinya untuk berbicara secara ‘pribadi’.

“Hey! Ada apa denganmu?” Jaehyun menarik Jongki ke sudut ruangan. Beruntung tidak begitu banyak orang yang datang ke kedai ini.

Oppa, aku senang kau datang kesini. Tapi waktumu tidak tepat.” Jongki melebarkan kedua bola matanya. Tak disangka adiknya sudah membuat dia kesal dua kali. Setelah ini apalagi kata-kata yang akan dikeluarkan dari bibir Jaehyun. Tangan kanan Jongki terulur memukul bahu kanan Jaehyun pelan. Tapi cukup mengundang pekikan kecil dari Jaehyun.

Oppa, kenapa kau memukulku?”

“Tanyakan saja pada dirimu sendiri. Aku mau pulang,” ucap Jongki. Oke, ini sekedar candaan. Jongki menjahili adiknya seperti biasa saat mereka bertemu. Perkiraan Jongki benar, Jaehyun pasti menghalanginya melangkah lagi. Mencegatnya untuk tetap disini. Bagaimanapun, Jaehyun memang ingin bertemu dengan Jongki, kakak satu-satunya.

Kkajima, jangan marah. Mianhae, aku hanya—“

“Hanya apa?”

“Hanya sedikit gugup, dan panik.” Sekarang Jaehyun berbohong. Sebenarnya ia tidak ingin Jongki tahu kalau dia takut ucapan kakaknya yang bertanya tentang Junsu didengar oleh Jongwoon. Apalagi sekarang laki-laki itu sedang mengamatinya dari belakang kasir. Kedua mata Jongwoon menggambarkan rasa penasaran dengan pembicaraan dua kakak beradik ini.

“Kamu gugup karena baru bertemu kakakmu. Aigo~ adikku tercinta.” Jongki langsung memeluk Jaehyun. Mendadak tubuh Jaehyun sangat dekat dengan Jongki. Pelukan erat yang sangat dirindukan Jaehyun. Tanpa ragu ia pun membalas pelukan Jongki. Menggerakan tangannya untuk membalas pelukan kakaknya.

“Aku tadi berkunjung ke rumah. Tapi baru ingat jam segini kamu sedang bekerja. Jadinya aku berniat mampir kemari. Perkiraanku benarkan?” Jongki bicara panjang lebar dengan masih memeluk Jaehyun. Pria itu sangat merindukan adiknya. Tidak bertemu hampir sebulan membuat Jongki resah. Apalagi setelah tahu Jaehyun jatuh sakit, walaupun sempat sembuh. Namun itu hanya berlangsung tiga hari. Dan habis itu ia terbaring di rumah lagi. Kesehatan Jaehyun tengah menurun. Jongki sangat tahu kondisi tubuh Jaehyun. Makanya ia terkadang mengecek keadaan adiknya sesekali selagi ia sempat. Sayangnya kali ini, ia hampir melepas kontrol mengawasi Jaehyun. Kesibukannya sebagai pemilik restoran menyita waktunya. Terlebih pembukaan cabang baru restoran seafood letaknya agak jauh dari Seoul. Terpaksa membawanya pergi jauh dari jangkauan Jaehyun.

“Kau tidak berubah, sayang. Masih saja kerja keras padahal tubuhmu sedang lemah.” Jongki melepas pelukannya. Menatap gurat wajah kelelahan Jaehyun sangat dekat. Melihatnya saja mampu mengiris hati Jongki. Sebagai kakak ia merasa gagal menjaga adik kesayangannya. Bukankah sang ayah sudah mengamanatkan dirinya untuk menjaga Jaehyun. Sedetik kemudian, Jaehyun mengulas senyum di bibirnya.

Oppa, jangan khawatirkan aku. Sakit ini cuma sebentar. Mungkin aku kelelahan. Sampai sakit untuk kedua kalinya.”

“Oke, aku kalah jika beradu argumen denganmu.” Jaehyun cekikikan dalam rangkulan Jongki yang masih memeluk pinggangnya. Mereka belum melepas kontak fisik mereka. Tak sadarkah ada beberapa orang melihat kemesraan Jongki-Jaehyun termasuk Jongwoon .Tidak, mereka tidak mengerti, Jongki dan Jaehyun hanya kakak beradik.

“Tenang, oppa. Aku sudah meminum obat darimu. Buktinya, aku sudah sembuh.” Jaehyun mengangkat bahunya. Membuktikan jika ia benar-benar sudah sembuh. Walaupun tubuhnya masih mengalami kelelahan yang melanda tubuhnya. Kalau sudah begini, Jaehyun bisa merasakan pusing pada ubun-ubun kepalanya, serta badannya agak lemas. Tapi tidak seperti kemarin. Sekarang Jaehyun sudah agak baikan. Jaehyun mencoba tersenyum pada Jongkin.

“Itu harus kau turuti. Aku tidak mau mendengar kamu sakit lagi. Jaga kondisi tubuhmu, Song Jaehyun.” Jongki mengusap kembut puncak kepala Jaehyun.

Arrasseo.” Jaehyun kembali tertawa. Jongki sudah menjadi orang terpenting dalam hidupnya. Bagaimana jika tidak ada laki-laki yang sudah menyayanginya lebih dari siapapun setelah orang tua mereka pastinya.

“Kamu masih lama?”

Ne~” Jaehyun mengangguk lemah. Jelas saja, ini masih jam tujuh malam dan menunggu dia sampai selesai itu memakan waktu lama. Kecuali Jongki mau menunggunya selama itu. Tak lama, laki-laki itu mengangguk penuh semangat. Dia berniat hari ini meluangkan waktunya untuk Jaehyun, adiknya. Kebetulan tiga hari kedepan hingga weekend tiba, Jongki mengambil hari untuk Jaehyun seorang.

“Aku akan menunggu sampai kau selesai, ya?” Jongki mau menunggunya? Jaehyun menimbang-nimbang. Tak masalah kalau harus begitu. Sekarang yang jadi persoalan bukan darinya. Kepala Jaehyun menengok kea rah kasir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Jongwoon masih melayani pengunjung, sesekali melirik ke arah Jaehyun dan Jongki. Ia rasa atasannya mengetahui jika Jaehyun bertemu dengan Jongki.

“Ya! Kamu kenapa, hyun-a?” Jongki melambaikan tangan di depan wajah Jaehyun. Sesaat gadis itu tersadar, dan berpaling.

Anni, oppa kau ikut aku. Akan aku perkenalkan pada atasanku.” Jaehyun menarik tangan Jongki. Selintas pikirannya untuk memperkenalkan Jongki pada Jongwoon. Selagi kehadiran Jongwoon masih nampak dimatanya.

Selangkah lagi, Jaehyun sampai di depan kasir. Jongwoon mengikuti gerakan mereka hingga berdiri tepat di hadapannya. Sejenak Jongki merasa bingung. ‘O, jadi ini atasan Jaehyun.’ batin Jongki.

Oppa, kenalkan, ini kakak laki-lakiku. Dan Jongki oppa, ini atasanku.” Jaehyun menatap keduanya. Berharap salah satu di antara mereka bisa saling menyapa. Terlihat Jongwoon membulatkan bibir tipisnya. Ternyata dugaannya salah, ia kira Jongki adalah kekasih Jaehyun.

Annyeonghaseyo, Kim Jong Woon imnida. Aku pemilik Café ini.” Jongwoon membungkuk memberi salam. Jongki langsung membalasnya, dengan membungkuk sempurna. Jaehyun menghela napas lega. Kali ini dia sudah mengenalkan salah satu orang tersayangnya. Agar Jongwoon tidak salah paham. Cukup sosok Junsu yang merubah sikap Jongwoon padanya. Jaehyun tidak ingin mendapati Jongwoon mendiamkannya, serta menganggap Jaehyun angin lalu.

Annyeong, Song Jongki imnida. Aku kakak Song Jaehyun. Dia adik yang paling kusayangi.” Jongki tersenyumlebar menampakkan deretan gigi rapinya. Salah satu tangannya merangkul sepanjang bahu Jaehyun. menunjukkaan keakraban Jongki dengan Jaehyun. Sontak gadis itu kaget dan agak risih dengan perlakuan kakaknya yang tiba-tiba. Jaehyun tidak berpikir sedikitpun, menatap raut wajah Jongwoon langsung tersenyum padanya dan Jongki. ‘dia tersenyum, aku kira dia –‘ pertanyaan yang menggantung. Tapi segera sirna melihat Jongwoon masih tersenyum malah tertawa menatap kedua kakak adik ini.

“Aku tahu, dia adik yang paling kau sayangi. Aku juga memiliki adik sepertimu. Namanya Kim Jongjin. Sayangnya dia sedang tidak ada. Aku tidak bisa memamerkan kemesraan kami pada kalian.” Jaehyun bergidik mendengar penuturan dari Jongwoon. ‘Memamerkan kemesraan’ dalam arti apa? Kata-kata Jaehyun terngiang di pikirannya. Tapi segera ia menggelengkan kepalanya cepat, itu tidak mungkin.

“Hyun-a, wae geurae?” Jaehyun mengangkat dagunya. Menatap Jongki yang merasa khawatir.

“Tidak, aku tidak apa-apa.” Jongki memngangguk paham. Ia menepuk sebelah bahu Jaehyun selagi ia masih merangkul. Jaehyun beralih menatap kakaknya tersebut.

Oppa, bisakah kau meninggalkanku untuk bekerja lagi. Aku tidak enak dengan Jongwoon oppa,” ucap Jaehyun setengah berbisik. Jongki tahu, artinya ia harus segera menyingkir sebentar sampai Jaehyun selesai bekerja. Tidak masalah menunggu, beruntung Jongki membawa laptop untuk sekedar menjelajahi dunia maya. Sudah lama ia tidak melakukannya.

“Baiklah, aku tunggu di pojok sana.” Dagu Jongki terangkat menunjuk satu meja dan bangku tepat di pojok ruangan. Jaehyun tahu tempat yang dituju Jongki.

“Jongwoon-ssi, aku ingin pesan—“ Jongki tengah berpikir memandang papan menu yang tergantung di atas meja kasir.

Latte, ya, aku pesan Latte,” seru Jongki. Sedangkan Jongwoon mengerutkan dahi, “Latte” bisik Jongwoon tak terdengar oleh mereka berdua. Jongwoon kini tahu tak hanya Jaehyun saja yang menyukai minuman tersebut. Malahan kakaknya juga jatuh cinta pada minuman yang menurutnya tidak terlalu enak. Tapi ia akhirnya mengangguk juga.

“Baik, akan aku buatkan. Semuanya, 1800 won.” Jongki mengeluarkan beberapa lembar uang kepada Jongwoon .

“Terima kasih.” Jongki kemudian berbalik menuju tempat yang ingin dia duduk sambil menunggu pesanan miliknya datang.

“Jaehyun, kau sekarang jaga kasir. Aku akan membuatkan kakakmu minuman.” Jaehyun melangkah cepat, sampai di belakang kasir. Kepala Jaehyun menoleh ke arah Jongki dan berbalik menatap Jongwoon tekun secangkir Latte. Jaehyun mengangkat bahunya. Ia kembali menyelami kegiatannya kali ini. Tidak ada yang menganggunya.

Satu, dua, tiga jam sudah berlalu. Jaehyun melepas pakaian khusus kerjanya sebagai karyawati. Mendengar Jongki tertidur pulas di atas kursi. Tidak tega rasanya membangunkan laki-laki tampan tersebut. Sekarang ia berniat membangunkan Jongki. Karena malam makin larut, Jongki berpesan jika ia ingin bermalam sampai hari Minggu nanti.

Jaehyun berjalan melewati Jongjin yang masih memeriksa mesin pembuat kopi setelah ia matikan tadi. Takut-takut ada yang tidak beres. Lebih baik mencegah daripada memperbaikinya, kan?

“Kamu mau kemana, Hyun-a?” Jaehyun menengok. Jongjin menatapnya penasaran.

“Aku mau membangunkan Jongki oppa. Dia sudah daritadi disini.” Jongjin seperti sedang memikirkan sesuatu. Jaehyun memiringkan kepala melihat Jongjin.

“Jongki? Siapa dia?” tanya Jongjin penuh selidik.

“Siapa? Kau tidak tahu? Ah, aku rasa aku belum memberitahumu, Jongjin.” Pria itu semakin mengerutkan keningnya. Apa maksud Jaehyun?

“Dia itu kakak laki-lakiku. Kami tinggal di tempat terpisah. Dia berada di pusat kota Apgujeong, sedangkan aku disini, di Seoul. Jongki oppa saudaraku satu-satunya.” Mata Jaehyun menerawang. Melihat itu, Jongjin menepuk bahu Jaehyun.

“Sudah sana, bangunkan kakakmu. Suruh dia pulang.” Jaehyun tersenyum lebar.

“Baiklah.” , “Tunggu !” Jaehyun berbalik –lagi.

Mwonde?”

“Kalian pulang naik apa?” Bukan menjawab dulu. Jaehyun malah tertawa cekikikan. Mendapati itu wajah Jongjin memerah. Ia merasa malu menanyakan hal yang tidak perlu ditanyakan.

“Tenang saja, Jongjin. Aku pulang bersama Jongki oppa menaiki mobilnya.” Jaehyun benar-benar berlalu meninggalkannya. Masih ada beberapa pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan pada Jaehyun. Namun ia terpaksa mengurunginya. Nanti saja jika gadis itu sedang ada waktu untuk ia ‘interograsi’.

.

.

“Kamu pulang bersama siapa kemarin? Pria itu ?” Jongwoon langsung menghampiri Jaehyun begitu melihat sosok gadis itu di depan ruang ganti. Kebetulan dia sehabis dari kamar mandi. Jaehyun mengeluarkan reaksi terkejutnya saat Jongwoon muncul tiba-tiba mendekati dirinya.

Oppa, kau mengagetkan aku saja.” Jaehyun mengelus dadanya. Dia masih berusaha menetralkan tubuhnya. Jongwoon tak merespon, yang dia tunggu jawaban pasti dari Jaehyun. Semalaman ia mencoba menghilangkan pikirannya pada sosok Jaehyun. Namun tetap saja hati kecilnya memikirkan gadis itu. Jaehyun pulang tanpa berpamitan dengannya, yang jelas-jelas Jongwoon ada di sana kemarin malam. Jaehyun berjalan, diiringi Jongwoon tetap mengikutinya. Hingga mencapai dapur.

“Aku pulang bersama Jongki oppa. Aku lupa memberitahumu. Karena aku langsung bergegas pulang ke rumah. Melihat Jongki oppa menunggu lama aku jadi tidak tega.” Jongwoon menaikan sebelah alisnya mendengar menuturan Jaehyun.

“Benarkah?”

“Kau meragukanku?” Jaehyun menghela napas kasar. Kenapa akhir-akhir ini Jongwoo kelihatan lebih protektif kepadanya? Ada apa dengan dia?

“Sejujurnya iya. Tapi berhubung kau berkata tadi. aku berusaha percaya padamu. Jangan hilangkan kepercayaanku padamu,” kata Jongwoon. Sebelum akhirnya ia pergi dari tempatnya berdiri. Meninggalkan Jaehyun sendiri. Langkah kakinya keluar dari Café.

Sekarang tinggal Jaehyun sendiri. Memikirkan perkataan Jongwoon tadi. Maksud bicara yang mengundang rasa penasaran Jaehyun. “Hyun-a,” teriak Jongjin menyadarkannya. Dia harus bekerja sekarang.

.

.

“Sudah ada berapa yang datang?”

“Lumayan banyak, setidaknya lebih banyak dari hari sebelumya. Kamu tahu sendiri, terkadang pengunjung lebih banyak datang kalau ada Jongwoon oppa. Coba dia tidak datang, sepinya seperti hari biasa,” jelas Jaehyun pada Jongjin. Mereka berdua tengah membicarakan kuota pengunjung yang datang. Tidak terlalu buruk, malahan semakin hari semakin banyak orang yang datang  ke kedai coffe ini.

“Kalian membicarakanku?” Jongwoon datang tanpa mengucapkan salam seperti biasanya. Sayup-sayup sudah terdengar suara orang berbicara. Jongwoon tahu jika itu suara Jongjin dan Jaehyun. ‘Mereka senang sekali membicarakan orang lain.’ Pikir Jongwoon. Dia melepas mantelnya. Lalu dirinya mengambil air dingin dalam kulkas yang terletak di sebelah kompor gas. Mereka semua berada di dapur. Tenang saja, sudah ada karyawan yang menjaga kantin. Jaehyun bisa berbagi tugas dengan pegawai baru setelah ia sembuh dari sakitnya.

“Lihatlah ! Orang yang kita bicarakan langsung datang. Panjang umur sekali,” tutur Jongjin. Dia bergerak pergi ke kamar mandi.

Oppa, habis darimana?” tanya Jaehyun menatap Jongwoon masih merapikan pakaiannya. Padahal tidak terlalu berantakan. Dimata Jaehyun Jongwoon selalu terlihat tampan.

“Kau merindukanku?” Kini ia ikut bersandar di sebelah Jaehyun. memandang balik gadis itu dari dekat. Seketika Jaehyun merasa risih ditatap Jongwoon intens. Terpaksa ia menjauh dari laki-laki tersebut.

“Tidak sama sekali,” jawab Jaehyun datar. Terselip rasa kecewa mendengarnya. Jongwoon cuma bisa menghela napas kasar. Dia berharap Jaehyun sedikit saja memikirkannya. Nyatanya tak seperti yang dia harapkan sama sekali.

Dilain pihak, Jaehyun berusaha menghalau debar jantungnya. Tetap saja tidak memperlambat getaran yang selalu ia rasakan ketika bersama Jongwoon. Ada satu perasaan yang tidak pernah hilang saat pertama bertemu laki-laki itu sampai hari ini. Debar jantungnya, Jaehyun meletakkan tangan kanannya di dada kirinya. Binar matanya yang tidak pernah hilang dari kedua matanya saat memandang wajah tampan Jongwoon. Serta kembang api yang selalu meluncur dari perutnya sewaktu mereka berdua benar-benar hanya ada Jongwoon dan Jaehyun.

“Kau kenapa?” Jongwoon memiringkan kepalanya melihat lebih dekat wajah Jaehyun. Semburat merah muncul di kedua pipi Jaehyun.

“Ti, tidak aku tidak apa-apa.” Jongwoon menjauh dari hadapan Jaehyun. Dia teringat sesuatu, selama perjalanan tadi. Jongwoon berniat ingin mengajak Jaehyun pergi bersamanya berdua. Kebetulan hari minggu nanti, ada waktu kosong untuk setiap member. Jadi Jongwoon memanfaatkannya untuk mengajak gadis berambut panjang itu pergi bersamanya.

“Hyun-a, hari minggu nanti ada waktu kosong?”

“Waktu kosong? Aku tidak kemana-mana seharian nanti. Wae?” Jongwoon meninmba-nimbang kata yang pas untuk ia ajukan. Suara dehaman keluar dari bibir Jongwoon.

“Aku mau mengajakmu ke Lotte World.”

“Lotte World?” Jongwoon mengangguk. Jaehyun berpikir kenapa Jongwoon tiba-tiba mengajaknya. Belum pernah sekalipun pria ini mengajaknya pergi. Rasa penasaran pun timbul dari Jaehyun. Akhirnya dia menerima ajakan Jongwoon.

“Boleh, aku juga sudah lama tidak kesan.”

Jinjayo, kamu mau, Hyun-a?”

Ne, aku mau ikut denganmu ke Lotte World.” Jongwoon langsung mengepalkan kedua tangannya. Kegembiraan yang tampak di raut wajahnya sangat tampak mengundang tawa renyah dari Jaehyun.

.

.

“Kau mengajaknya ke Lotte World?”

“Iya, aku mengajaknya. Lagipula kapan lagi bisa jalan berdua dengan Jaehyun.” Jongjin mencerna setiap pernyataan Jongwoon. Ia berkesimpulan sang kakak menyukai gadis itu. Timbul senyum penuh arti dari Kim Jongjin. ‘Cintamu tak bertepuk sebelah tangan, Song Jaehyun,’ batin Jongjin senang.

Ya ! kenapa kau tertawa sendirian?” pekik Jongwoon. Mengagetkan Jongjin tengah duduk sangat dekat dengan kakaknya. Jongjin berdiskusi dengan Jongwoon. Rencana yang akan dibuat oleh kakaknya untuk kencannya esok pagi.

Pagi hari yang cukup cerah sangat menyambut kunjungan Jongwoon hari ini ke rumah Jaehyun. Beruntung sang kakak, Song Jongki menerima kedatangannya. Mempersilakan sang main vocal Super Junior untuk menjemput adiknya pergi berkencan.

“Kamu mau mengajak adikku pergi ke Lotte World?” Jongwoon mengangguk cepat. Dia yakin ingin mengajak jalan Jaehyun ‘hanya’ berdua.

“Hmm, apa Jongwoon-ssi pergi berkencan dengan adikku. Kau menyukainya?” Jongki mencondongkan badannya. Penasaran dengan maksud kedatangan Jongwoon kemari. Walau ia tahu pria ini berniat baik, dan sangat kenal dengan kakak dari Kim Jongjin ini. Jongki menahan senyumnya yang hampir lepas. Dia tidak mau membuat malu orang yang sudah baik hati mengajak adiknya jalan berdua.

Oppa, jangan bertanya yang bukan-bukan.” Jaehyun sudah keluar dari kamarnya sedaritadi mendengar percakapan Jongki dengan Jongwoon. Jaehyun ingin menengar jawaban dari Jongwoon. Namun ia urungkan, tidak baik membuat orang menunggu lama.

“O, kau sudah siap, Hyun-a?” tanya Jongki berpaling menatap adiknya. Sangat cantik. Dress selutut dengan corak bunga-bunga biru dan putih. Serta cardigan putih menutup bahunya yang agak terbuka. Cuacanya masih terasa dingin meskipun musim dingin akan berakhir.

“Aku siap. Jongwoon oppa, ayo kita berangkat sekarang,” seru Jaehyun mengapit lengan Jongwoon. Mengundang debar jantung Jongwoon berdetak cepat.

Ey, kau meninggalkanku sendirian disini?” tanya Jongki setengah bercanda. Jongwoon tidak bisa menyembunyikan semburat merah dipipinya. Dia tidak tahu harus berbicara apalagi, selain membawa pergi Jaehyun untuk jalan bersamanya.

“Sudah, kalian pergi. Aku menunggu sampai malam ini. Setelah itu aku akan pulang lagi ke apartemen,” jelas Jongki.

“Baik, aku tidak akan pulang larut malam. Aku pergi dulu.” Jaehyun melangkah bersamaan dengan Jongwoon yang menggandeng tangannya.

“Jongwoon-ssi, jaga adikku baik-baik.” Jongki membungkukkan badannya. Meminta pria itu menjaga adiknya selama dia tidak ada disamping Jaehyun. Jongki percaya Jongwoon mampu melindungi adiknya.

Ne, aku akan mengantarnya kembali dengan selamat.” Jongwoon meninggalkan rumah Jaehyun. Membawa sang pemilik rumah jalan bersamanya. Mengendarai mobil milik Jongwoon. Berjalan berdua saja dengan gadis ini tidak buruk. Jaehyun banyak disuguhi candaan dan obrolan dari Jaehyun. Sosok yang telah membuat Jongwoon tersenyum kembali. Tak takut untuknya merasakan cinta –lagi. Jaehyun telah mengubah dirinya, hatinya, harinya, dengan senyuman, suaranya, sikap lucunya. Jongwoon tidak memungkiri sudah menyukai Jaehyun. Diam-diam Jaehyun pun merasakan hal yang sama. Dia merasa nyaman dengan Jongwoon. Tingkah konyolnya selama dalam perjalanan, maupun tiba di Lotte World. Banyak kesan tertinggal saat mereka jalan berdua. Hingga sekarang, Jongwoon menawarkan diri untuk membeli coffe untuknya.

Hari sudah semakin sore. Jaehyun bilang cukup untuk hari ini. Jongwoon tahu hal tersebut. Pria itu ingat amanat dari kakak Jaehyun, Jongki. Tapi sebelumnya, Jongwoon ingin membeli latte di kedai kopi terdekat di dalam wahana. Selagi Jaehyun menunggu, Jongwoon berpesan pada sang pemilik kedai. Jika ia ingin membuat latte dari tangannya. Beruntung ahjumma pemilik kedai tidak keberatan. Jongwoon segera menuangkan keahliannya dalam membuat cairan kental coklat kesukaan Jaehyun. Dia buat dengan segenap hati tercurahkan untuk sang gadis pujaannya. Lama menunggu, Jaehyun memainkan ponselnya seorang diri duduk di pojok ruangan. Kedai ini tidak terlalu luas saat memasuki. Tapi cukup untuk sekedar meminum kopi dan menghangatkan diri disini. Wahana ini masih sangat ramai, meskipun sore menjelang. Pandangan Jaehyun beredar ke seluruh pelosok wahana yang bisa ia lihat dari sini. Terlebih dia bisa melihat orang-orang berlalu lalang. Baginya sangat menyenangkan mengamati beberapa orang yang beragam.

Beberapa menit kemudian, Jongwoon datang dengan membawa dua cangkir latte. Satu untuknya dan satu lagi untuk Jongwoon. “Untukmu,” ucap Jongwoon mengulurkan cangkir padanya,

Gomawo.” Jaehyun mengamati lekat-lekat bentuk art dari busa dalam latte di genggamannya. Bentuk hati terbentuk sempurna. Tak ada yang menyangka jika Jongwoon dapat melakukannya dengan lihai. Sangat indah.

“Kau suka?”

“Iya, aku sangat suka. Oppa, kau yang buat ini?” Jaehyun menunjuk bentuk hati dalam busa latte. Jaehyun sangat senang ketika tahu bahwa Jongwoon yang membuatnya. Ada gerangan apa sampai-ampai Jongwoon membuat Latte art ini?

“Iya, aku yang buat, love art untukmu,” jawab Jongwoon tersenyum malu. Mematung menatap Jaehyun dari dekat.

“Aku suka bentuk love ini. Sangat cantik.” Jaehyun mengenggam cangkirnya.

“Apa kau juga suka bentuk hatiku?”

“Aku menyukaimu.”, “Jika kau menerima, minum latte yang ada ditanganmu. Dan kau ingin menolakku, kamu bisa belah bentuk hati itu,” jelas Jongwoon pelan.  Jaehyun menimbang-nimbang. Diluar dugaan Jongwoon mengutarakan perasaannya. Kembang api meluncur dalam tubuhnya. Rasa senang menjalar membuat ia mulai menampakan senyumnya, dan tak berhenti hingga keheningan usai di antara mereka berdua.

Sepersekian detik , Jaehyun mengambil sendoknya. Jongwoon sudah was-was, Jaehyun akan menolaknya. Padahal dia baru sekarang-sekarang ini dekat dengan Jaehyun. Gadis itu tidak merasa risih sedikitpun padanya. Sendok kecil dalam genggaman Jaehyun tercelup di dalam cangkir. Perlahan bergerak mengambil busa bentuk hati yang terbentuk sempurna. Hingga hilang dalam sekejap, terminum masuk ke dalam mulut Jaehyun. Jadi Jaehyun menerimanya, senyuman Jongwoon terkembang. Ia tidak tahu harus bicara apalagi.

“Kamu menerimaku, hyun-a. Benarkah?” Jaehyun mengangguk pasti. Dia tidak ragu lagi. Sekarang cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Pada awalnya terasa menyakitkan, tapi ada saat yang indah untuk mereka berdua. Jongwoon melangkah ke arah Jaehyun. Menarik tangan gadis itu untuk berdiri. Langsung memeluk erat pinggang gadis itu. Merasakan aroma lembut tubuh Jaehyun.

“Terima kasih, sayang. Aku sangat mencintaimu.” Bisik Jongwoon tepat di telinga Jaehyun.

“Aku juga mencintaimu,” jawab Jaehyun turut membalas pelukan Jongwoon. Sekali lagi mereka berpelukan mesra tanpa ragu.

Aku sangat mencintaimu. –Song Jaehyun

//

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s