Desire


Title :  Desire | Author @ferrinamd  | Genre : Drama | Rating : General | Length : Oneshot  | Main Cast : Park Chanyeol ( Chanyeol- EXO K)

Bai1_QJCcAANlx6

Selama ini mungkin tidak ada yang memberiku sesuatu yang berharga untuk hidupku. Tapi ternyata masih banyak hal yang selalu diberikan oleh orang-orang yang menyayangiku. Kali ini datang dari seseorang yang tidak pernah kusangka dapat membuatku tertarik lebih lama padanya. Dia hanya pria biasa. Jika diandaikan, seperti pria bodoh sepanjang hari tersenyum lugu yang dia punya. Sukses membuatku melupakan penderitaan hidup.

Di saat seperti ini, aku masih bisa tertawa bersamanya “Aku bawa ini,”ujarnya ketika dia masuk ke ruangan berwarna putih bersih.  “Balon? Untuk apa?” Aku mengernyit heran. Pria tampan mengenakan mantel biru tua. Begitu pantas di badan tingginya.

“Untuk kutiup.” jawaban polos meluncur dari bibir tebalnya. Aku sukses tertawa kecil melihat tingkah polosnya. Berpikir kenapa aku bisa menyukai pria yang lebih muda setahun dariku. Dia meniup balon berwarna biru langit. Warna kesukaanku. Dan dia tahu segalanya yang berhubungan denganku. Termasuk kesukaanku. Pipinya menggembung, terlihat menggemaskan. Ingin rasanya mencubit kedua belah pipinya.

Balon itu semakin membesar seiring nafasnya yang memburu. Mengingat dirinya begitu bersemangat meniup satu balon dalam genggaman. Selesai mengikat, dia memberikannya padaku. “Untukku?” Pria bermata besar itu tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala.

Thank You, Chanyeol-ie.” Dia masih tersenyum. Sekarang dengan mengusak-usak rambut pendekku.

“Kau merusak rambutku,Park Chanyeol.” Dia malah tertawa senang mendapati diriku memberengut tak rela diganggu.

“Kamu sudah siap?” Aku terdiam. Aku masih belum siap, walaupun aku terpaksa untuk menghadapi hal ini. Dan menguatkan diriku sendiri. Operasi sudah di depan mata. Aku harus berani siap atau tidak siap. Aku harus sembuh. Itu niatku sejak tahu bahwa penyakitku semakin menyerangku. Aku tidak bisa berbuat banyak, menuruti semua permintaan orang tuaku agar aku sembuh. Menjalani seluruh prosedur demi kesembuhan. Terapi yang setiap aku jalani meninggalkan perih yang amat sangat serta fisikku yang tak lagi seperti dulu. Rambut rontokku berjatuhan seiring waktu. Tidak terlalu parah. Hanya saja cukup membuatku mengingat kesedihan ketika tubuhku digerogoti penyakit dan menjadi semakin lemah karenanya.

“Aku harus selalu siap dengan semua yang aku hadapi. Doakan aku.”

“Aku selalu mendoakanmu, Ahyoung-a. Jangan menyerah. Semangat ! ” Chanyeol mengepalkan kedua tangannya memberi semangat padaku. Aku pasti tersenyum melihatnya. Sekarang sudah malam aku harus segera tidur setelah diberi obat yang mendatangkan rasa kantuk. Kedua mataku terpejam rapat membawaku hingga ke dunia mimpi.
Pagi ini tidak mengenakkan. Aku merasakan sakit yang menjalar ke seluruh kepalaku. Bagaikan ribuan jarum menusuk otakmu dalam sekejap saja. Aku mengerang kesakitan saat mata terbuka. Disambut sinar matahari yang seharusnya bisa membuatku tersenyum ketika mentari datang menyapa.

“AAA~ sakit, eomma. Kepalaku sakit.” Seorang wanita datang padaku terburu- buru. Dia hanya sendiri. Kemana Chanyeol? Dia pergi? Bukannya dia selalu ada di samping ibu ketika menungguku hingga kubangun. Dia tidak ada. Apa yang membuatnya berubah begini? Oh, aku tidak ingin berprasangka buruk padanya. Jahat rasanya aku menuduhnya yang tidak-tidak. Tapi aku membutuhkan dia sekarang. Menatap senyum Park Chanyeol sudah membuatku mengurangi sedikit rasa sakit yang menjalar. Kepalaku berat. Kembali menyerang di saat yang tidak tepat.

“Ahyoung-a, kamu kenapa,nak? Kepalamu sakit? Ibu panggilkan dokter.” Ibu pergi keluar dari ruangan. Aku masih mengerang sakit bersama dengan kedatangan dokter dan suster ke dalam ruangan. Mengecek infusku dan kondisi tubuhku yang tiba-tiba mendadak berguncang. Aku baru menyadari ada Chanyeol di sana. Berdiri di belakang Ibu. Tersenyum misterius padaku. Senyuman yang terasa asing bagiku. Wajahnya pucat, seperti bukan dia yang sesungguhnya.

“Dok, kondisinya memburuk. Apa sebaiknya kita segera lakukan operasi ? ”

“Iya, bawa dia ke ruang operasi.” Kepalaku makin terasa berat dan sakit semakin menyerangku. Aku cuma bisa mengaduh kesakitan. Ibuku menangis tak tahan melihat penderitaan putrinya. Aku juga melihat Chanyeol tetap memberikan senyuman padaku. Lama kelamaan kedua mataku terasa berat.
Aku terbangun dari tidur nyenyakku. Berada disebuah ruangan kosong. Seluruhnya berwarna putih. Entah tempat apa yang membawaku kesini. Terakhir kali aku mengaduh kesakitan. Tapi keadaannya sekarang berbanding terbalik. Yang kurasakan perasaan lega dengan beban yang melepaskanku dari belenggunya. Apa aku sudah sembuh?

Aku mengitari sekelilingku tidak ada orang. Hanya aku saja berdiri disini. Aku baru sadari, pakaian yang kukenakan berbeda. Bukan dengan pakaian khusus pasien di rumah sakit. Tetapi gaun melekat manis pada tubuh kurusku. Berwarna putih bersih.

“Ahyoung-a.” Suara berat sangat kukenali. Tiba-tiba memanggil namaku dalam. Itu suara Chanyeol.

“Chanyeol, Chanyeol-a.” Aku menengok ke kiri dan kanan. Tidak ada sosok yang aku harapkan hadir untukku sekarang.

“Aku di belakangmu.” Sekejap aku berbalik ketika suara itu semakin mendekat. Benar saja dia berdiri tegap. Senyum itu. Senyuman yang aku lihat di rumah sakit.

“Chanyeol-a.” Aku langsung memeluknya. Tak menghiraukan perasaanku yang mengganjal. Chanyeol membalas pelukan ringanku. Tubuhku tenggelam dalam rangkulan penuh kehangatan. Dia selalu sukses membuat merasakan kenyamanan. Lalu aku melepas pelukannya. Namun dengan menggenggam tangan kanannya.

“Kita dimana?” Chanyeol tak menjawabnya. Dia masih menatapku.

“Kau datang. Aku kira kamu tidak akan datang.”

“Aku selalu menepati janjiku. Aku pasti datang. Dan sekarang kita akan selalu bersama. Mulai saat ini.”

“Maksudmu?” Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan Chanyeol. Ada sesuatu yang membuatnya berbeda. Tapi aku tidak tahu.

“Aku akan mengajakmu ke tempat dimana kita akan selalu bersama. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Chanyeol menarik tanganku. Mengikutinya berjalan ke arah cahaya yang lebih terang di ujung sana. Namun aku bergeming. Masih tidak mengerti yang dibicarakannya. Meskipun aku tergoda untuk menerima ajakannya. Aku ingin dia selalu ada bersama denganku. Mengingat kami juga sudah saling mengenal sejak kecil. Tak dipungkiri aku sudah merasa nyaman berada dalam jangkauannya.

“Kamu janji kita selalu bersama?” Chanyeol mengangguk. Sedetik kemudian ia mencium bibirku lembut. Tidak lama tapi meninggalkan bekas yang mendalam. Chanyeol memandangku menyentuh pipiku dengan kedua tangannya.

“Aku janji. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Aku tersenyum senang mendengarnya. Sedetik kemudian aku mengangguk. Mantap menerima permintannya. Aku tidak bisa jauh darinya. Aku selalu ingin bersamanya. Itu salah satu harapan dan kesempatan yang membuatku mengambil keputusan secepatnya.

“Ayo kita pergi. Kita akan punya banyak waktu bersama-sama.” Chanyeol mengulurkan tangannya. Tentu saja aku menerimanya dengan senang hati. Tidak ada keraguan dalam diriku. Kami melangkah menuju cahaya misterius itu. Sampai aku mendengar suara perempuan memanggil namaku.

“Choi Ahyoung ! Ahyoung !” Aku menatap Chanyeol. Dia tetap memandang ke depan. Aku cuma bisa tersenyum. Tidak mengacuhkan panggilan lirih yang memanggil namaku.

keutt

Iklan

2 tanggapan untuk “Desire

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s