Mysterious Boy [P.2 – End]


Title : Mysterious Boy | Author @ferrinamd  | Genre : Romance, Drama | Rating : General | Length : Two Shot | Main Cast : Kris EXO-M 

Author Note’s : Cerita ini adaptasi dari komik jepang dengan judul yang sama.

Happy Reading, guys ^^

kris

Sinar matahari menyusup di sela-sela tirai jendela. Membangunkan sang pemilik kamar. Kedua mata Mei terbuka. Masih ada rasa kantuk mendera. Dipejamkan lagi matanya. menghirup napas di sekitarnya. Sampai ia terduduk di atas kasur. Mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamarnya. Sesaat Mei jadi teringat kejadian kemarin sore. Ketika dia berkunjung ke apartemen Kris. Ia kira memang kekasih Kris yang selama ini dibicarakan siswa-siswi di Sekolah. Nyatanya, wanita itu ibu kandung Kris. Mei merasa tidak enak turut mengira-ngira sejauh ini. Kini dia tidak mau menuduh yang macam-macam terhadap Kris. Dia sudah tahu siapa Kris sedikit demi sedikit. Mei bangun dari tempat tidurnya. Ia harus segera berangkat ke sekolah. Karena hari ini ada ulangan matematika.
Setelah selesai membasuh dirinya. Mei berangkat dari rumah, Seusai dia pamit kepada Ibunya. Selama perjalanan, Mei memikirkan bagaimana pertemuannya hari ini dengan Kris. Apa mungkin dia akan merubah sikapnya karena hal kemarin sore? Mei rasa tidak mungkin. Kris, pria yang tidak mau ambil pusing dengan hal-hal kecil. Mei berharap saja kali ini berjalan seperti semula.

Selama di kelas memang tidak ada yang berbeda suasananya. Semua berjalan lancar dan tenang. Namun hati Mei tidak tenang. Ibu wali kelasnya berkata kalau Kris tidak masuk karena sakit. Ibu Kris yang menelpon tadi pagi ke sekolah. Dalam benaknya, sakit apa yang mengganggu Kris hingga dia tidak masuk kelas. Karena merasa khawatir, Mei sengaja berkunjung ke apartemen Kris. Saat ini dia sudah berada di bus menuju tempat tinggal Kris. Entah keberanian darimana untuk kedua kalinya dia datang sendiri. Ini dorongan hatinya, Mei ingin sekali mengunjungi pria itu. Kendaraan sudah berhenti di halte berikutnya. Mei langsung turun dari kendaraan. Langkah kakinya sudah teguh akan berkunjung ke apatemen Kris.

Akhirnya dia sudah tiba di depan pintu. ”Kenapa aku deg-degan?” Mei memegang dadanya. Jantungnya berdegup kencang. Baru sekarang ia merasa berdebar. Padahal hanya kunjungan biasa saja. Solidaritas antar teman, mungkin, bisik Mei dalam hati.
Tangan kanannya sudah terulur di depan pintu. Hitungan dalam hati Mei semakin membuat ia yakin untuk mengetuk pintu.

Tok,tok,tok,’ Suara ketukan terdengar. Mei menunggu hingga pintu terbuka. Sayangnya tidak ada orang pun yang membukakan pintu untuknya.

”Apa tidak ada orang?” Diketuknya sekali lagi. Nihil, hasilnya sama. Selintas Mei berpikir untuk mengayunkan kenop pintu. Membuka pintu tersebut.

”Tidak terbuka.” Benar saja, pintu tersebut tidak terkunci. Kalau pintu tak terkunci, pasti ada orang di dalam apartemen.

”Mom, kau sudah pulang?” Itu suara Kris. Pria itu mengira Mei adalah ibunya. Mungkin tadi ibu Kris pergi keluar sebentar. Mei berjalan ke dalam. Membuka sepatunya menggantikan dengan sandal rumah. Ada rasa tidak enak pada Kris. Memasuki rumah orang sembarangan. Itu tidak sopan. Tapi mau bagaimana lagi. Mei sudah terlanjur datang kesini. Ia sangat khawatir dengan keadaan Kris. Apa sakitnya parah atau tidak?

Kaki Mei terhenti di depan pintu kamar Kris yang terbuka. Dari tempatnya berdiri, Mei bisa melihat sosok pria tinggi terbaring lemas di atas tempat tidur. Mata Kris tertutup rapat. Jadi ia tidak melihat siapa yang datang ke apartemennya sekarang.

Mei perlahan berjalan, ”Mom,” Kris membuka matanya. Merasa hal yang ganjil disini. Sosok lain tertangkap retina matanya, bukan sang Ibu yang ia nantikan.

”Kris,” sahut Mei setengah berbisik. Wajah Kris tetap datar. Menunjukkan ketenangnan dalam dirinya. Ia tidak berbicara maupun menolak kehadiran Mei.

”Masuklah.” Kali ini Kris yang menyuruh Mei masuk ke kamarnya. Tidak ada keraguan sedikitpun dari perkataannya. Beberapa langkah dibuat Mei, hingga ia menghampiri tempat tidur Kris.

”Kau sakit, Kris?” Ucapan Mei menyiratkan kesedihan dalam hatinya. Menatap orang yang dia sukai terbaring lemas tak berdaya. Langkah kakinya tetap bergerak. Ia berdiri disamping Kris. Tiba-tiba tangan Kris memegang tangan Mei. Menautkan jari satu sama lain. Mei merasakan tangan Kris yang hangat. Suhu tubuhnya tinggi. Salah satu tangan Mei yang bebas terulur memegang dahi Kris. Dia terkena demam.

”Aku hanya kecapekan. Kau jangan khawatir.”

”Gimana aku tidak khawatir? Tubuhmu panas Kris. Sebaiknya aku akan mengompres dirimu.”

“Aku ijin ke dapur.” Mei pergi ke dapur. Melepas genggaman tangan Kris. Mei kembali ke kamar membawa baskom berisi air dingin. Serta handuk kecil untuk mengompres dahi Kris. Mei merawat Kris dengan cekatan. Selesai memeras handuk, langsung ia letakkan di atas dahi Kris. Pria itu hanya tersenyum memandang Mei yang telaten merawat dirinya. Seolah Mei tahu apa yang harus ia lakukan dan dibutuhkan Kris sekarang. Ibunya pergi sebentar membeli obat untuknya dan membelanjakan sesuatu agar bisa dimakan oleh Kris selama dia sakit.

”Xie xie, Mei Lin. Maaf aku merepotkanmu.” Mei tersipu malu. Kris berterima kasih padanya tulus.Dari sekian banyak senyuman yang diberikan Kris. Baru kali ini Mei bisa melihat senyum manis dari Kris. Mei hanya terdiam seraya membalas senyuman Kris.

”Kau tidak merepotkan. Sudah sebaiknya aku sebagai teman saling menolong.”

”Teman? Kenapa tidak sebagai kekasih.” Mei tidak mendengar jelas pembicaraan Kris.

”Maksudmu?” tanya Mei. Suara Kris setengah berbisik.

”Ah, tidak. Mei, aku ingin ke kamar mandi. Kau bisa membantuku untuk bangun.” Dengan Sigap, Mei duduk di samping Kris. Memegangi bahu dan tangan Kris. Demi membantunya untuk duduk dan berdiri. Mei memegangi tangan Kris. Lalu ia letakkan di bahunya. Sambil berjalan berdua menuju kamar mandi. Sesampainya di depan pintu. Kris menarik tangan dari bahu Mei.

”Kamu bisa kembali.” Mei termangu menatap wajah Kris. Walaupun dia sedang sakit begini. Ketampanan Kris tidak pernah luput.

”Baiklah, aku akan kembali ke kamar.” Mei berjalan meninggalkan Kris yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Memasuki kamar Kris mengingatkan dia tentang kejadian tadi.

”Teman? Kenapa tidak sebagai kekasih”  Ucapan Kris melayang di atas kepalanya. Mungkinkah Kris menyukainya?

”Ah, tidak mungkin.” Mei menggelengkan kepala. Lebih baik sekarang dia membereskan tempat tidur Kris. Agak berantakan rasanya kalau dibiarkan begitu saja. Niat untuk membantu sukses membuat Mei langsung memungut barang-barang dan menempatkan di tempat semula. Seketika itu juga Mei menemukan sesuatu yang membuat dirinya penasaran. Sebuah album foto yang terbuka tergeletak di atas kasur. Tampak foto tiga orang, satu perempuan yang Mei yakini ibu Kris, salah satu anak laki-laki langsung Mei ketahui kalau itu Kris. Dan satu pria dewasa merangkul kedua orang di dekatnya.

”Apa itu ayah Kris?” tangan Mei meraba foto tersebut. Serta satu foto lain, hanya ada anak kecil yang sama pada foto sebelumnya.

”Kris?” Mei tersenyum memandang tawa Kris kecil. Album foto tersebut Mei ambil, kemudian diletakkan di atas meja belajar. Satu lagi benda yang tertinggal di atas kasur. Mei memungutnya,

‘SURAT PINDAHAN’

Dua kata itu yang mengalihkan perhatian Mei. Ia baca seksama lembaran kertas. Isinya pindahan sekolah milik Kris. Lalu Mei membuka kertas lainnya. Membaca kembali kertas tersebut.

”Dua minggu lagi?” Pertanyaan mengganjal hati Mei. Dalam waktu dua minggu sebelum Kris akan pindah sekolah. Mei merasakan kehilangan.

Bagaimana kalau Kris tidak ada?

Bagaimana kalau tidak ada orang yang menarik perhatiannya lagi?

Semua pertanyaan menghinggapi pikirannya. Terbersit bayangan Kris pergi dari hidupnya. Jika itu terjadi, Mei tidak bisa membayangkan kehidupan selanjutnya. Kertas dalam genggaman Mei hilang. Seseorang telah merebutnya. Mei berbalik, sudah ada Kris berdiri di belakang dengan mengacungkan kertas yang tadi dipegang Mei. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan atas tindakan Mei tadi.

”Kau lancang memegang barang milik orang lain,nona.” Kris melangkah lemas memasukkan kertas surat pindahan di dalam map. Kemudian kembali menidurkan diri ke tempat tidur.

”Kris, kamu akan pindah? Kenapa tidak bilang padaku? Lalu bagaimana keadaan Milky nantinya?”

”Aku bisa menyuruhmu mengurus Milky. Kita sudah berjanji akan merawat hewan itu kan? ” Mei menggeleng. Bukan itu jawaban yang ingin dia dengar. Kris tidak menjawab kenapa dia pindah. Setidaknya Mei harus tahu alasan dia pindah dari sekolahnya sekarang. Berbagai alasan muncul di benak Mei. Namun tak satupun yang bisa membuat Mei yakin alasan terdasar dari Kris. Pria ini terlalu tertutup dan mereka baru berkenalan. Ia menyerah, Mei tidak ingin mendesak Kris lebih jauh. Dia masih sakit, dan Mei takut pembicaraan mereka berdua malah memperparah sakit Kris.

”Okay, aku berjanji akan merawatnya. Cepat kamu berbaring aku akan mengompres dahimu lagi.” Mei membantu Kris berbaring. Tatapan Kris kecewa, ia berharap Mei menanyakan dan mendesak Kris untuk tidak pergi. Memancing seberapa besar rasa Mei jika kehilangan Kris dari sisi Mei. Ternyata hanya sebatas itu saja. Mei tidak  berbicara lagi setelah Kris mengajukan permintaan agar Mei merawat Milky. Tingkah Mei terasa kaku. Sekarang ia masih menunggu kompresan yang dia lakukan sendiri. Kris bisa melihat ketelatenan Mei dalam merawatnya. Gerak-gerik Mei sangat ia amati dengan jelas. Menyadari hal itu, kedua pipi Mei memerah. Merasa malu bila Kris memandang dirinya dalam waktu yang cukup lama. Lama kelamaan Kris merasa kantuk mulai menderanya. Akhirnya kedua mata Kris terpejam dalam buaian mimpi indahnya.

 *****

Kris sudah pulih dari sakitnya. Sekarang Kris sudah mulai masuk sekolah. Sepanjang perjalanan di lorong sekolah. Banyak orang yang melirik Kris yang berjalan.

“Kenapa mereka semua?” Kris berusaha tidak mengacuhkan pandangan aneh siswa lain. Ia lebih baik cepat pergi menuju kelasnya. Tiba di kelas, Kris segera mencari tempat duduknya. Melewati bangku Mei, gadis yang kemarin datang menjenguk dirinya dan lenyap saat ia terbangun dari tidurnya. Kris melihat Mei, tapi Mei mengalihkan perhatiannya ketika pandangan mereka bertemu. Kris langsung duduk di mejanya. Masih memandang kejauhan sosok Mei. ‘Dia marah?’ Tanya Kris dalam hati. Tangannya merogoh ponsel putih dari kantung celana. Mengetik beberapa kata dan mengirimkannya pada seseorang. Kris melihat Mei meraba tasnya, lantas mengambil ponselnya. Membuka pesan, dan itu dari Kris.

“Kris.” bisik Mei. Mengundang penasaran Lyn yang ada di sebelahnya.

“Kris? Kris siapa?” Mei mengalihkan pandangan dari alat komunikasinya tersebut.

“Kris? Ah, kau salah dengar. Hehe.” Lyn mendengus kesal. Mei selalu saja mengelak. Lyn tahu apa yang dikerjakan Mei. Dia tahu kalau Mei berhubungan dengan sepupunya. Kris sendiri yang cerita langsung padanya. Lyn tidak melarang Mei berteman dengan siapa saja. Apalagi dengan sepupunya. Justru Lyn senang dengan pertemanan mereka berdua. Lyn jadi tidak perlu khawatir. Sepupunya bisa mempunyai seseorang yang memperhatikan Kris.

From : Kris~

Kamu marah? Apa ada yang salah?

Mei hanya tersenyum geli. Pria itu peka juga kalau Mei sedang marah padanya. Dia hanya kesal pada Kris. Dia langsung tertidur begitu saja. Setelah mendengar perkatan Kris yang mengaduk-aduk hatinya. Kertas Surat Pindahan itu penyebabnya. Mei ingin menanyakan hal ini pada Lyn. Tapi dia takut sahabatnya menanyakan hal yang tidak-tidak. Niat ingin menanyakan sesuatu malah berujung interograsi dari Lyn. Lebih baik dia tidak menanyakannya. Mei memilih mengabaikan pesan dari Kris. Sampai jam pulang, Mei masih tidak mengacuhkan kehadiran Kris yang sengaja memberi ‘kode‘ untuk Mei mendekatinya selama jam belajar berlangsung. Ia langsung berjalan keluar setelah berpamitan pada Lyn. Kris berlari menyusul Mei dengan berjalan di belakangnya. Hingga mereka berdua keluar dari gerbang sekolah, Kris masih mengikutinya. Mei daritadi sadar kehadiran Kris yang menguntit dirinya. Tapi Mei menunggu waktu yang tepat dan suasana sepi. Dia pun berhenti. Kris kaget, dirinya ikut berhenti  melangkah. Menunggu reaksi Mei. Gadis itu berbalik menghadap Kris. Wajah Kris berusaha menampakan ketenangan. Berbeda hatinya merasa was-was dengan sikap Mei hari ini. Kris tahu perasaannya menjadi tidak wajar. Sejak berkenalan dengan Mei. Hatinya selalu berdegup kencang membuat dirinya resah. Justru dengan respon tubuhnya terhadap Mei, menjadi candu baginya. Menginginkan Mei berada dalam jangkauannya.

“Kenapa mengikutiku terus?” Mei langsung menodongkan pertanyaan berupa kekesalan pada Kris.

“Kenapa kau tidak mengacuhkanku (peduli)?” Kris balik bertanya tanpa mengindahkan pertanyaan Mei. Kris maju mendekati Mei.

“Jangan mendekat ! Kau mau apa?” Mei mengulurkan kedua tangan di depan Kris. Demi menjaga jarak aman dengan pria di hadapannya. Namun Kris menyingkirkan tangan Mei dan maju selangkah. Jarak keduanya sangat dekat. Mei hanya memejamkan mata tak mau menatap Kris. Itu hanya membuatnya semakin tidak berdaya.

“Kau marah padaku? Ada salah apa aku denganmu?”  Mei membuka matanya. Mengerutkan dahi seraya menatap tajam Kris. Tangannya langsung mendorong Kris pelan.

“Bukan urusanmu. Lebih baik aku pulang.” Mei berbalik membelakangi Kris. Baru melangkah , Kris suah menahnnya. Mei memandang tangan Kris yang menggenggam erat jemari kurus Mei. ‘Gelang itu? yang ada di toko.’ Mei melihat dengan jelas aksesoris yang dikenakan Kris. Dia tahu persis benda berbinar itu diterpa sinar matahati. Gelang emas putih yang memilik pasangan. Tapi siapa pemilik gelang pasangan yang dikenakan selain Kris. Mungkinkah Kris sudah memiliki kekasih? Harapan Mei sudah pupus saat tahu akan jadi seperti ini.

“Kau mau kemana? Kita belum selesai.”

“Kita? Tidak, itu cuma kamu.” Mei menghempaskan genggaman tangan Kris.

“Mei, kau mau kemana? Aku belum selesai bicara.” Sahutan Kris tidak disambut oleh Mei. Dia langsung melenggang pergi tanpa menengok ke belakang lagi. Seolah tidak ada satupun yang memanggilnya. Kris meremas rambutnya frustasi. Tidak tahu harus melakukan apalagi untuk merubah sikap Mei yang dingin terhadapnya. Kris merasa bersalah, tapi dia tidak tahu letak kesalahannya dimana. Yang pasti Kris berharap esok hari Mei kembali bersikap biasa seperti sebelumnya.

*****

Sudah hampir dua minggu lewat, suasana kelas seperti biasa. Mei kembali bersikap biasa. Terkadang dia masih memperhatikan Kris yang juga diam-diam memandangnya dalam dia. Kris ingin sekali mendekati Mei. Hanya saja ia takut. Takut Mei akan kabur lagi sama seperti waktu yang lalu. Ia membuang napas kasar. Mengeluarkan reaksi berlebihan. Seakan menyerah dengan keadaan yang ada. Kris menutupi wajahnya dengan buku biography. Dia menyukai bacaan mengenai perjalanan hidup seseorang. Mulai dari nol sampai sukses. Semua terangkum dengan singkat padat dan jelas. Memunculkan motivasi dalam diri Kris setelah membacanya. Ada angan baginya untuk menjadi pengusaha sukses. Merintis karir dengan berdagang. Lumayan menjanjikan, mengingat sang ibu memiliki toko minuman di pinggir jalan yang ramai dilewati orang banyak. Berharap nanti, Ibu bisa menyerahkan warisan pekerjaan milik kakeknya untuk dia olah menjadi usaha yang besar. Itu impian Kris kedepannya. Kalau dia tidak menyerah dengan jalan karirnya ke depan setelah lulus nanti. Kenapa ia harus putus asa menghadapi wanita itu? Mei hanya kesal padanya. Itu mungkin saja. Selama ia tidak merasa membuat marah Mei Lin. Masih terbilang aman. Terpikir di otak Kris, untuk menemui Mei nanti sepulang sekolah. Selagi waktu istirahat masih lama, Kris bisa tidur sementara. Sampai Luhan, teman karibnya membangunkan Kris nanti.

Sepulang sekolah ini, seharusnya Kris sudah menemui Mei. Tapi orang yang ditunggu tidak kunjung kelihatan batang hidupnya. “Kemana dia?” Kris menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri. Tidak berhasil. Di kelas tadi, Mei buru-buru pergi ke luar ruangan. Setelah jam pulang berbunyi. Ia menanyakan Lyn, tapi sepupunya itu tidak tahu menahu kemana perginya Mei.

“Gadis itu menyusahkan saja.” Kris menendang kaleng kosong yang tergeletak bebas di atas tanah. Melayang tak tentu arah saat ia menuju gerbang sekolah. Kris menemukan sosok Mei terduduk diam memandang lurus ke depan di halte subway. Kris biasa menaiki subway untuk pulang ke rumah. Kebetulan sekali, Kris menghampirinya, menyadari hal itu. Mei menoleh cepat pada sosok Kris yang datang mendekat. Mei segera berdiri menyambut Kris. Ia sudah dari tadi menunggu pria di depannya. Dari kemarin Mei memikirkan bagaimana cara bisa bertemu langsung dengan Kris. Ketika tahu Kris akan pindah dari Beijing. Mei tidak mau memaksa Kris untuk tetap bertahan disini. Dia bukan orang tua Kris, saudara Kris, apalagi kekasih Kris. Mei hanya orang yang baru dekat dengan seorang Wu Yi Fan. Dia ingin bilang selamat tinggal pada Kris. Tapi kali ini dia tidak bisa. Selalu ada halangan yang mengganjal. Bagaimana kalau Kris tiba-tiba pergi tanpa memberitahukannya? Oh, Mei belum siap.

“Kris, aku mau bertemu dengan Milky,” ucap Mei. Berusaha berbohong agar bisa melihat keadaan Kris setelah beberapa hari mereka tidak berbicara berdua lagi.

“Ikutlah denganku.” Kris berjalan menaiki bus yang kebetulan sudah tiba di depan halte. Mei menyusul naik ke dalam kendaraan panjang tersebut. Mereka berdiam tanpa ada satu suarapun. Hanya suara orang-orang di sekitar mereka dan juga deru bus melaju. Mei menatap ke luar jendela bus. Sedangkan Kris mengenakan headset pada kedua telingannya seraya memandang lurus dengan sesekali melirik gadis di sebelahnya. Memperhatikan wajah Mei mengundang rasa penasaran Kris padanya. Gadis yang selama ini selalu memperhatikannya. Kris tahu siapa yang diam-diam mencuri perhatiannya. Yang memberinya sekotak susu di laci meja miliknya secara sembunyi. Dia tahu siapa orangnya. Sekarang dia ada di sini bersamanya. Kris tersenyum manis tanpa disadari. Mei juga baru saja menyaksikan ekspresi yang jarang Kris lakukan. Hati Mei berbunga. Dia bisa mendapatkan moment yang pas di saat lelaki itu menunjukan wajah bahagianya.

Pemberhentian halte bus selanjutnya. Membuyarkan kegiatan mereka berdua. Kris berdiri melangkah keluar, diikuti Mei yang agak kesusahan menyusul Kris. Kedua orang itu terus berjalan. Mei masih mensejajarkan langkahnya dengan Kris. Dia menatap geram Kris. Sayangnya Kris tetap asyik dengan alunan musik yang didengarnya. Mei berhenti melangkah, tangannya terjulur menarik tali tas Kris dari belakang. Otomatis pria itu berhenti melangkah.

“Kau apa-apaan sih?” tanya Kris menampakkan muka tidak bersalahnya. Mei mendengus sebal.

“Kamu yang apa-apaan. Mau mempermainkanku? Kamu tidak sadar kakimu itu panjang. Aku agak kesusahan menyamai langkahmu yang lebar. Bisa agak pelan, tuan muda,” jelas Mei sedikit menyindir Kris.

“Oh, maaf. Baiklah aku akan berjalan pelan seperti yang kau mau.” Kris mulai berjalan. Diiringi Mei yang sudah menyamainya.

“Begitu lebih enak,” gumam Mei. Mengundang kekehan keluar dari bibir tebal Kris.

“Kenapa tertawa?” tanya Mei polos.Memandang heran Kris tengah menertawainya.

“Kau aneh.” Kris memasang kembali headset  ke telinganya.

Mereka sudah sampai di apartemen Kris. Mei masuk setelah melepas sepatunya. “Milky, Milky,” sahut Mei begitu masuk ke dalam ruangan. Kris keluar dari kamar membawa Milky di pangkuannya.

“Tadi dia habis tidur. Baru saja aku bangunkan.”

“Kasian sekali kamu bangunkan dia.” Kris memandang tajam pada Mei.

“Bukankah kau meminta bertemu dengan Milky? Jangan bilang kau melupakan niatmu untuk hal ini.” Kris berbalik dan kembali masuk ke kamar. Mei hanya menatap sosok Kris yang menghilang dari lorong apartemen milik Kris.

“Bagaimana ini…” ucap lirih Mei pada dirinya sendiri.  Suara meong Milky menyadarkan Mei.

“Ah, Milky. Aku merindukanmu.” Mei mendekatkan Milky. Menempelkan hidungnya pada hidung kucing putih bersih. Tangan Mei mengelus-elus bulu Milky lembut. Membuai kucing peliharaan Mei dan Kris tertidur. Memejamkan mata perlahan. Kucing memang binatang manja. Seperti Milky ini. Mei senang melihat kucing tersebut masih bisa mengenalinya. Walaupun hanya beberapa hari mampu membuat Mei merindukan Milky. Tapi ia juga merindukan sang majikan Milky.

“Ini coklat hangat. Minumlah selagi hangat. Cuaca akhir-akhir ini cukup dingin.” Kris datang meletakkan cangkir berisi cairan coklat hangat yang mengepul dari dalamnya. Kemudian menyesap cangkir yang ada dalam genggamannya sekarang. Mei mengambil cangkir untuknya dan turut meminum coklat hangat pemberian. Rasanya enak, pria ini jago membuat minuman. Mei menjadi ketagihan. Tanpa sadar, minuman di tangannya tinggal setengah. Diletakkan kembali cangkir tersebut di atas meja. Mei jadi teringat gelang yang dikenakan Kris. Kedua mata sipitnya mencari-cari gelang tersebut. Benar saja, gelang berwarna perak itu bertengger manis di pergelangan tangan kanan Kris.

“Gelang itu?”

“Apa? Ini?” Kris menunjukkan gelang yang ada di tangan kirinya. Mei hanya bisa mengangguk lemah. Serasa tak berminat mendengar jawaban dari Kris.

“Ini__ sebenarnya gelang milik Ayah. Tapi sejak mereka berdua bercerai. Ayah memberikannya padaku. Beliau bilang tolong jaga baik-baik hadiah pernikahan milik mereka berdua.” Kris menyatakan jawaban itu dengan hati-hati. Karena dia mencoba untuk jujur meskipun perasaan sakit mulai melingkupinya. Masa lalu sebenarnya ingin dia kubur. Menyakitkan jika harus mengingat kembali kejadian pahit. Yang menjadikan dirinya haus akan kasih sayang seorang ayah sejak Sekolah Dasar. Ayah dan Ibu tidak lagi bisa bersatu. Ada banyak perbedaan dalam hubungan mereka. Jika tetap dipaksakan bersama yang ada hanya menyakiti satu sama lain. Lebih baik berpisah. Selama mereka masih bisa berhubungan dalam jarak yang cukup jauh. Kris bisa menyanggupi permintaan Ibunya untuk jadi anak yang baik untuk wanita yang sangat ia cintai.

“Maaf aku menanyakannya. Aku tidak bermaksud__” ,

“Tidak apa-apa. Kau juga bertanya karena tidak tahu. Aku berusaha menjawabnya dengan jujur.” Mei hanya berdiam diri. Dia telah salah sangka pada Kris. Tidak seharusnya Mei membuat  statement yang tidak tidak dengan pria di sebelahnya.

“Mei, besok aku akan pindah. Kau sudah tahu kan? Aku kira kau memang sudah melihat surat itu. Dan benar aku akan pindah.” Mei masih menyimak pembicaraan Kris. Kepalanya menunduk mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Kris.

“Alasan aku pindah, karena mengikuti keinginan ibuku. Dia ingin aku tinggal bersamanya setelah hampir 3 tahun aku tinggal sendiri disini. Selain itu aku akan melanjutkan usaha bisnis Caffe milik kakekku. Maaf aku baru bilang sekarang.” Kris mengambil tangan kanan Mei yang mengelus Milky lembut. Meremas pergelangan tangan Mei, menyalurkan perasaan terdalam dari seorang Kris. Wajah Mei berusaha terangkat dan menatap Kris lekat-lekat.

“Tidak apa-apa. Aku yakin keputusan yang kamu ambil demi kebaikan kamu dan ibumu. Lakukanlah. Aku akan selalu mendukungmu.” Mei tersenyum. Tapi bagi Kris senyuman itu menyakitkan. Dia kesal bagaimana bisa di saat begini, Mei masih bisa tersenyum tulus. Padahal sebentar lagi mereka akan berpisah. Perlukah Kris menyatakan yang sejujurnya? Tidak, belum saatnya. Kris akan mengutarakannya nanti. Itu pasti.

*****

Hari ini sudah tiba. Mei sudah siap dengan semua konsekuensinya. Sepulang sekolah nanti ia harus bertemu dengan Kris sebelum ia pergi ke Guangzhou.

From : Kris~

Sepulang sekolah nanti. Aku ingin bertemu. Sebelum berpisah. Ada yang ingin aku bicarakan padamu.

Selama pelajaran berlangsung, pikiran Mei melayang. Raganya seolah kosong tidak menangkap materi yang disampaikan gurunya. Sampai-sampai Lyn menyadari perubahan sikap sahabatnya itu. Wajah Lyn menatap Mei khawatir.

‘Apa yang dia pikirkan?’ tanya Lyn dalam hati. Tangannya menepuk bahu Mei pelan. Gadis itu bereaksi. Sontak menoleh ke arahnya.

“Lyn,” gumam Mei pada Lyn. Dia terlihat agak syok. Kesadarannya kembali setelah seluruh pikirannya terbang entah kemana. Dia tidak fokus. Berharap jam pulang secepatnya datang.

“Ada apa? Kau memikirkan sesuatu? Ceritakan.” Mei menunduk. Lyn memperhatikan Mei, menunggu jawabannya. Sesekali melihat guru yang masih tenang mengajar di kelas mereka.

“Hari ini Kris akan pergi. Kamu pasti sudah tahu, Lyn. ” Lyn mengangguk, dia menyimak dengan intens setiap kalimat yang dikeluarkan Mei. “Aku mau menyusulnya. Tidak, aku mau mengucapkan selamat tinggal pada Kris.”

“Jangan merasa sedih. Kris hanya pergi sementara. Bukan dalama waktu yang lama. Apalagi jarak yang jauh. Kita masih dalam satu negara.” Mei mengangguk lemas. Dia tidak tahu harus bicara apalagi. Pikirannya masih kalut dan campur aduk.

Jam pulang tiba. Mei segera membereskan perlengkapan sekolah miliknya. Kemudian meminta izin pada Lyn untuk pulang lebih dulu. Mei sudah bilang kalau ia ingin menyusul Kris di stasiun kereta yang jaraknya agak jauh dari sekolah.

Selama di bus, pikiran Mei kembali melayang. Membayangkan Kris sudah pergi. Satu-tiga pesan Kris ia terima . Pria itu menanyakan apakah Mei sudag pulang atau belum. Selang beberapa menit lagi kereta tiba dan itu artinya Kris harus segera berangkat l.

Kejarlah dia selagi sempat. Kapan lagi kamu bisa mengutarakan perasaanmu? Coba katakanlah. Kris pasti mengerti perasaanmu.”  Itu yang dikatakan Lyn. Sebelum ia meninggalkan sekolah. Sahabatnya itu tahu yang harus dilakukan Mei nanti. Dia tersenyum mempunyai seseorang yang mengerti dirinya.

        Bus menepi di halte berikutnya. Stasiun tidak begitu jauh dari tempat pemberhentian bus. Mei cepat-cepat berlaribergegas melangkah. Tiba disana, Mei mengedarkan pandangan ke seluruh sudut stasiun yang cukup luas. Banyak orang beredar di sekitar Mei. Ia mencari jalur kereta tempat Kris akan menaiki kendaraan tersebut.

“Dia kemana? Apa mungkin Kris sudah pergi. Tidak, aku belum bilang padanya.” sekali lagi Mei mencoba mencari sosok pria tinggi yang diharapkannya masih berdiri di tempat yang sama dengannya. Dia mencoba menghubungi Kris, tapi sama saja. Tidak ada jawaban yang bisa melegakan perasaan Mei. Gadis berambut panjang ini terduduk menumpu pada kedua lututnya. Mengabaikan pandangan orang yang menatapnya aneh. Tidak ada lagi yang Mei pedulikan sekarang. Kecuali kehadiran Kris di sisinya. Kedua mata kecilnya terpejam menahan isakan. Keluarlah air dari sudut mata indahnya. Jatuh meluncur mengenai pipi tirus Mei. Dia menyerah, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini.

“Nona, kau kenapa? Cepat bangun.” Mei membuka kelopak matanya. Menangkap sosok tidak asing lagi baginya.

” Krissss !” pekik Mei. Dirinya langsung beranjak memeluk Kris erat. Melingkari lengannya pada leher Kris. Mei senang, Mei bahagia. Harapan dia masih terbuka. Kris yang kaget hanyabisa diam. Dia masih syok. Mei melakukan hal yang tidak bisa Kris duga.

“Mei, lepas pelukanmu. Aku sesak.” Mei tersadar dari rasa harunya. Ia menatap Kris. Pria itu mengenakan mantel berwarna hitam dan celana jeans hitam. Semua serba hitam membuat ia semakin tampan. Mei cuma bisa tersipu merasakan pesona Kris yang tidak pernah hilang.

“Kamu darimana saja? Aku mengkhawatirkan kamu, Kris.” Kris tersenyum lebar. “Kenapa kamu tertawa?”

“Benarkah? Kau sangat mengkhawatirkan aku? Aku tersanjung.”

“Kris jangan bercanda. Aku serius.” Perkataan Mei disambut kekehan dari Kris. Lelaki itu tertawa renyah mendengar kata-kata polos dari Mei.

“Kamu serius? Aku juga serius.”

“Serius apa?” Kris memilih diam dan membantu Mei berdiri dari duduknya. Lelaki itu memegang kedua tangan Mei. Meremasnya lembut, mengundang rona merah di pipi Mei.

“Serius mencintaimu. Aku menyukaimu.” Mei terkejut tidak percaya. Kris benar-benar penuh kejutan. Di satu sisi Mei senang Kris bisa mengungkapkan perasaan tanpa harus dia bilang terlebih dahulu. Sisi lain, Mei harus bisa merelakan Kris pergi sementara. Itu pilihan yang menyakitkan. Mendapat cinta, dan juga kepergian yang mendadak.

“Maaf aku harus pergi. Ini tidak lama, kau perlu menungguku. Aku janji akan kembali. Mei boleh marah, aku terlambat menyatakannya.” Mei menggeleng cepat. Dia tidak salah. Itu sudah pilihan yang harus dijalani Kris. Mei menerimanya dengan lapang dada. Tidak ada yang perlu disesalkan. Semua sudah berjalan semestinya.

“Kris tidak perlu merasa bersalah padaku. Aku tahu itu semua pilihan yang terbaik buat kamu. Aku percaya Kris pasti kembali lagi.” Kris melepas kalung berbandul salib. Dikenakannya di leher Mei.

“Jaga kalung ini sampai aku kembali. Kau percaya padaku, kan?” tanya Kris. Perlahan air mata mendesak keluar dari pelupuk matanya. Mengundang tangisan menyesakkan dari Mei. Dia berusaha menahannya walau menyakitkan. Mei mengangguk pelan  tetap memandang Kris.

“Jangan menangis, Mei. Aku tahu kau gadis kuat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Oh, aku lupa. Rawat Milky sampai aku pulang nanti. Kita pasti bertemu lagi. Aku janji.” Kris menghapus titik air mata yang masih membekas di pipi Mei dan mengelus puncak kepala Mei. Badan tegapnya mendekat, lalu merangkul badan kecil Mei. Membuat gadisnya nyaman dalam pelukan yang dibuat Kris.

Benar, tidak ada yang perlu disesalkan. Semua harus berjalan semestinya. Mei percaya Kris akan kembali padanya. Membawakan cinta penuh untuk dirinya dan juga Kris. Dia akan menjaga sesuatu yang sudah mempertemukan mereka berdua, Milky.

Mungkin kita akan berpisah jarak dan waktu. Tapi hatiku tetap akan mengingat dan merindukan dirimu. Aku mencintaimu. –Kris

keutt~

give me a comment 😀

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s