Mysterious Boy [P.1]


Title : Mysterious Boy | Author @ferrinamd  | Genre : Romance, Drama | Rating : General | Length : Two Shot | Main Cast : Kris EXO-M 

Author Note’s : cerita ini adaptasi dari komik jepang dengan judul yang sama. Happy Reading, guys ^^

kris

“Kamu masih suka memandangi pria dipojok itu?” Mei Lin menoleh ke  arah sahabatnya, Lyn.

“Dia punya nama, Kris.” Lyn mengangguk mengerti. Dia sangat mengerti kebiasaan sahabat karibnya tersebut. Setiap hari jika ada waktu kosong, Mei selalu mengamati gerak-gerik Kris di kelas. Semua orang tahu siapa pria itu. Orang misterius yang jarang berkomunikasi dengan orang lain terutama wanita. Banyak desas-desus beredar, kalau dia pria yang sudah memiliki pacar. Dan katanya pacar Kris itu seorang wanita paruh baya. Yang bisa mereka panggil tante. Padahal itu tidak benar, Lyn tahu siapa Kris.  Lyn tidak habis pikir dengan kelakuan Mei Lin. Mungkin temannya ini penggemar rahasia dari Kris.

“Dan, dia sepupumu,” lanjut Mei selanjutnya. Kalau sudah bawa-bawa nama saudara Lyn hanya diam. Diam dalam arti tidak mau memperpanjang lagi. Kris selalu tahu kalau ada yang membicarakannya.

“Aku tahu.” Lyn menghela napas berat. Dia duduk di sebelah Mei sambil mengikuti arah pandang gadis di sebelahnya.

“Kamu tahu betapa tampannya dia? Aku tahu dia pria yang misterius. Tapi itulah daya tariknya. Apalagi kalau kau sudah bertatapan dengan kedua mata tajamnya. Kuyakin tidak akan beranjak dari pandangan matanya.” Lyn berdecak mendengar ocehan Mei. Gadis itu berlebihan. Dia sudah sering melihat Kris. Kedua matanya memang sangat tajam. Tak jarang banyak wanita yang terjerat dengan pesonanya.

Bel pulang berbunyi. Langsung membuat semua siswa berhambur keluar dari kelas. Kris berjalan keluar tanpa menghiraukan teriakan dari para siswi di lorong kelas. Lyn memandangnya dari jauh. “Kris kau tidak pernah berubah.” Setelah berkata begitu, Mei tiba-tiba melintas di hadapannya. Berlari keluar kelas. Meninggalkan dirinya sendiri.

“Mei, mau kemana tunggu aku.” Lyn mengikuti Mei berlari. Sayang, dia tidak menemukan sahabatnya.

“Kemana dia?” Lyn menormalkan dirinya. Napasnya terengah-engah sehabis berlari tadi. Mau tak mau dia berjalan pulang sendiri –lagi.

Ternyata Mei sudah sampai di tepi sungai. Sedaritadi perjalanannya diisi dengan mengikuti Kris diam-diam. Pria itu tidak menyadarinya sampai Kris menuruni tanah agak terjal menuruni jalan dekat tepi sungai. Hingga ia menghampiri tiang beton jalan layang yang membentang di atas sungai. Mei masih penasaran apa yang dilakukan Kris. Ternyata Kris berjongkok tangannya terulur, mengeluarkan bunyi dari jari telunjuk dan jari tengah kanan miliknya.

“Dia sedang apa?” bisik  Mei dari tempatnya berdiri. Lalu muncul seekor kucing keluar dari persembunyiannya dari balik tiang beton. Hewan berbulu putih menghampiri pria itu. Kris menyambutnya dengan belaian lembut dari tangan kanannya. Tak ayal membuat kucing tersebut terbuai. Kebetulan Mei sangat menyukai kucing. Ketika tahu Kris mengundang seekor kucing hadir di sana. Membuat Mei ingin sekali mendekat dan memeluk kucing tersebut.

“Lucu sekali.” Sahutan keras Mei yang terlihat gemas dengan perlakuan Kris pada kucing itu sekarang. Menyadarkan Kris ada seseorang selain dirinya. Sontak ia menoleh ke arah sumber suara. Sangat jelas ia melihat sosok Mei berdiri di atas sana. Tengah memperhatikannya bermain dengan kucingnya. Kris memicingkan mata memperjelas pandangannya yang agak kabur karena pantulan sinar matahari. Setelah tahu itu Mei, teman sekelasnya dan juga teman karib Lyn, sepupunya. Dia tersenyum tipis. Langsung membuat Mei bersorak gembira dalam hati memandang senyum Kris yang baru pertama ia lihat sekarang.

“Kemari,” Kris meletakan kucing dari pangkuannya.

“Aku?” Mei menyadarinya kalau Kris tadi sedang berbicaranya dengannya.

“Iya, kamu. Sini,” Kris melambaikan tangannya pada Mei. Menyuruh gadis itu untuk mendekat ke arahnya. Entah kenapa ia dengan mudahnya mengajak gadis asing masuk ke dalam jangkauannya. Hanya beberapa saja yang bisa mendekati Kris. Tapi biarlah, lagipula ia merasa penasaran dengan gadis itu. Kris sudah memperhatikan sejak kepulangannya dari sekolaht tadi.

Mei berjalan menuruni tanah terjal dengan hati-hati. Kris masih berdiri menunggu Mei datang. Setelah keduanya berdampingan, Mei berjongkok mengikuti gerakan Kris. Tangan besar Kris terulur memegang dan menyentuh lembut bulu kucing itu. Suara kucing tersebut terdengar, seakan meminta makan. Kris sangat tahu gelagat kucing sudah hampir satu bulan ini ia pelihara. Dari tas punggung miliknya, keluar sebuah kaleng. Mei mengira itu makanan kucing. Kris membuka penutup kaleng dengan mudah. Dijulurkan ke arah kucing putih itu, tentu hewan berkaki empat tersebut berjalan perlahan. Tergoda dengan harum khas makanan kucing pemberian Kris.

“Namanya Milky, dia kucing jalanan yang kutemukan di jalan tak jauh dari sini.” Pelan-pelan Kris mulai bercerita. Dia memberi nama kucing itu karena nama Milky sangat pas dengan warna bulu kucing tersebut. Mei tersenyum dalam diam. Secara pasti Kris sudah mulai membuka dirinya. Mei menjadi lebih tertarik mengetahui lebih jauh tentang jati diri Kris.

“Kau menyukai kucing?” tanya Mei hati-hati. Kris kembali tersenyum. Berbeda dengan sebelumnya, Mei bisa melihat lebih dekat. Senyuman penuh pesona itu. Langsung membuat Mei tersipu malu. Mendapat senyuman yang khusus Kris perlihatkan untuk dirinya di sini.

“Tidak begitu, aku hanya menyukai kucing yang kutemukan sekarang. Karena hewan ini penurut aku jadi semakin menyayanginya.” Mei mengangguk penuh perhatian. Setiap perkataan dari Kris didengar antusias.

“Tapi karena aku tidak setiap waktu menengok Kucing itu di sini. Jadi, dia sedikit terlantar.” Kris mengusap kucing itu berulang kali. Makanan pemberiannya sudah setengah ia habiskan. Sangat rakus hewan ini, bisik Mei dalam hati.

“Apa kamu mau memeliharanya bersamaku? Kita bisa bertukar kabar tentang keadaan Milky.” Mei memandang heran Kris. Tiba-tiba berkata seperti itu. Mei kaget sekaligus senang jika tahu Kris mengajaknya berbicara hanya berdua dengannya. Kris tetap memasang muka datar dan tenang.

“Maksudmu?”

“Maksudku, kita pelihara Milky berdua. Bagaimana?” tanya Kris seakan memberikan tawaran pada Mei. Terkesan membuat Mei bimbang. Tapi dengan cepat, ia menyanggupi permintaan Kris.

“Bagus, kalau begitu. Berapa nomormu? Biar aku bisa mudah menghubungimu untuk menanyakan kabar Milky. Jika kau memang sudah bertemu dengan kucing ini. Dengan lancar, Mei menyebutkan satu persatu deretan nomor miliknya yang ia ingat. Kris tersenyum puas, mengundang decak kagum dari Mei dalam hati.

“Baiklah, ayo kita pulang. Lebih baik, kembalikan Milky ke tempatnya.” Kris membawa Milky ke tempat rumah sementaranya. Meletakkan kucing itu ke dalam kardus. Mei penasaran dibuatnya. Kenapa Kris tidak membawa pulang kucing itu ke rumahnya? Tanya Mei dalam hati. Dia tidak mau menanyakannya langsung. Terlalu terburu-buru rasanya menanyakan hal itu langsung.

“Tidak apa kalau dia ditinggal disana?” Kris mengangguk. Dia berjalan meninggalkan Mei masih memandang kucing itu. Kepala hewan berbulu lembut tersebut menyembul dari balik kardus yang melindungi dirinya dari lingkungan sekitar.

“Ayo, kita pulang.” Kris mengajak Mei segera pulang. Karena cuaca sekarang mulai tidak lagi mendukung. Walaupun Kris masih ingin berlama-lama bermain dengan Milky. Mei berjalan menghampirinya. Mereka berdua akhirnya pulang berdampingan. Jantung Mei berdebar kencang tatkala dia akhir bisa berjalan berdua dengan Kris. Lelaki yang banyak orang kira dia itu misterius. Sayangnya anggapan itu salah. Kris pria yang ramah menurutnya. Tidak ada kesan seram dan misterius ketika ia berbicara dan mendekati Kris. Mei bersyukur hari ini. Kris dapat berbicara dengannya meskipun tidak banyak. Namun cukup membuktikan kalau Mei tahu karakter lelaki yang ada di sampingnya. Dan berharap dapat berbicara dengan Kris lagi.

Mei sudah ada di rumah sejak tadi. Malahan dia tengah asyik mengusak-usak rambutnya tengah basah sehabis keramas tadi. Cuaca di luar sangat buruk, padahal hari masih sore. Mei melihat langit luas dari balik jendela kamarnya. Hatinya khawatir mengingat Milky, kucing milik Kris.

“Apa Milky baik-baik saja disana?” Perasaannya jadi tidak enak hati. Janji dirinya dengan Kris untuk menjaga Milky . Mei berlari keluar kamar, menuruni tangga, dan langsung keluar menerjang hujan yang mulai membersar menjadi hujan angin. Seorang Mei takut akan hujan deras berbeda saat ini. Tak ada yang Mei takutkan kecuali memikirkan nasib hewan yang baru ia temui hari ini. Tanpa menghiraukan teriakan ibunya dari dalam rumah. Mei terus berlari sampai ia menuju tepi sungai. Ia menuruni tanah yang terjal. Nihil, tidak ada kardus tempat Milky berlindung. Kemana dia?

“Sial,” pekik Mei. Hujan mulai turus semakin lebat. Terpaksa ia harus mencari tempat berteduh. Dari kejauhan kedua mata sipitnya berhasil menemukan box telepon di pinggir jalan tak jauh dari sungai. Segera ia berlari sekencangnya. Hingga dirinya berhasil masuk membuka pintu box telepon. Dirinya bersandar pada dinding box. Meratapi kesialannya tak menemukan Milky. Ia tidak berhasil, ia takut Kris kecewa. Kris pasti marah padanya. Mei menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Menyembunyikan wajah putih Mei yang memerah menahan tangis yang kini sudah keluar dari sudut matanya. Tidak ada yang bisa ia lakukan atau diandalkan untuk membantu Kris. Menyelamatkan Milky saja dia tidak bisa. Mei mengingkari janjinya. Ia merasa bersalah.

“Bodoh, kenapa menangis?” Suara ketukan mampir memukul kecil puncak kepala Mei dengan tangan besar Kris. Pria itu datang padanya.

“Kris,” sahut Mei. Hanya panggilan yang ditujukan untuk seseorang yang baru hadir dalam kehidupannya.

“Kenapa kamu keluar rumah? Sudah tahu sedang hujan badai. Tapi kamu malah keluar. Bahaya. Terus kamu menangis? Menangisi siapa?” Mei terdiam. Kris benar-benar marah padanya. Tapi kemarahan Kris, menjadi Mei tahu rasanya dikhawatirkan seseorang yang dia sukai. Begini rasanya? Tanya Mei dalam hati. Tanpa sadar pun tangisan kembali pecah mengingat rasa khawatir Mei pada Milky. Kris pasti juga mencarinya.

“Aku mencari Milky. Tapi tadi dia tidak ada di sana. Aku sudah mencarinya ke sekitar. Dia pasti kabur mencari perlindungan,” Kris berdecak sebal. Ia sudah kira pasti Mei datang untuk melihat Milky. Padahal tidak perlu seperti itu. Dirinya pasti sudah datang mencari Mily. Tidak usah Mei ikut menghampiri ke tepi sungai. Bagaimana kalau gadis ini sakit. Kris juga yang merasa bersalah dengan ibunya. Bahkan tadi ibu Mei yang mengangkat panggilan darinya. Menanyakan kabar Mei pada Kris, padahal dia sendiri juga memastikan apakah Mei sudah sampai rumah apa belum. Ternyata Mei ada disini. Dugaan Kris tidak salah.

Meong’ kepala seekor kucing muncul dari dalam baju seragam Kris yang belum sempat ia ganti.

“Milky !” Mei sontak kaget dengan kemunculan Milky yang tak terduga. Menjadikan dirinya malu di depan Kris. Pria di hadapannya sudah menemukan Milky. Pria tinggi di hadapannya ternyata telah mencari-cari kucing miliknya. Mei mengulurkan tangannya, mengambil kucing tersebut di balik kemeja Kris. Ada rasa berdebar ketika tangannya bersentuhan dengan dada Kris. Ia baru menyadari kalau mereka berdua dalam jarak sedekat ini. Tidak ada halangan apapun. Kecuali box telepon berwarna merah yang membuat mereka berdua terhindar dari dinginnya air hujan yang menerjang tanah.

“Kau sudah menemukannya?” Mei membelai bulu Milky. Seketika Milky terbuai dengan belaian tangan lembut Mei. Mengundang tawa dari Mei sendiri. Kris hanya tersenyum dalam diam memandang kedua makhluk yang sekarang sudah terjun ke dalam kehidupannya sekarang. Dia menjadi penasaran lagi kepada gadis cantik ini.

“Sebaiknya kita pulang, hujan sudah tidak terlalu deras.” Kris berdiri, membuka pintu box telepon. Setelah melihat sekitar sudah tidak ada bunyi hujan turun. Kecuali rintik-rintik hujan yang mengundang dinginnya malam. “Lalu kucing ini?” Mei masih berdiri di tempat. Kris berbalik, dia memandang kucing tersebut. Sejenak berpikir. Apa ia harus membawanya ke apartemen atau tidak? Tapi sepertinya situasi mengharuskan dia membawa Milky ke dalam tempat tinggalnya.

“Biar kubawa ke apartemenku.” Kris berjalan lebih dahulu. Menyusul Mei berjalan sejajar dengan Kris.

“Aku akan mengantarmu pulang.” Mei melihat ke arah Kris. Mendongakkan kepalanya ke atas, memandang wajah tampan Kris. Karena tinggi Kris jauh melebihi tingginya. Mei harus selalu menengadahkan kepalanya ke atas jika berbicara dengan Kris. Pandangan pria itu tetap ke depan. Mei hanya tersenyum malu menatap wajah datar Kris. Ia kembali membelai Milky dalam dekapannya. Sekarang Kris yang memandang Mei dalam diam. Ia juga tersenyum karena Mei.

*****

Hari-hari berikutnya, Kris dan Mei selalu bersama-sama menjaga Milky. Terkadang Kris selalu mengirimkan pesan berisi foto-foto dia bersama Milky. Hal tersebut selalu berhasil mengundang tawa Mei saat melihatnya. Ada kesan tersendiri, ketika tahu Kris mulai membuka diri untuk Mei. Gadis itu merasa beruntung. Itu hal yang ia inginkan sejak mengenal Kris.

Hari ini mereka berjanji untuk pergi ke toko hewan. Mei menerima pesan dari Kris.

From : Kris~

Kamu mau ikut membeli barang-barang untuk Milky. Mulai sekarang dan seterusnya dia akan tinggal di rumahku. Lain kali kamu bisa mengunjunginya, Mei.

Mei tersenyum dibuatnya. Lyn melongok melihat Mei memandang ponsel miliknya. Ia penasaran sejak tadi yang dikerjakan Mei sejak tadi. “Kau sedang apa?” Mei mengangkat kepalanya ketika tengah bersandar pada meja. Sekarang sedang istirahat, dan Mei hanya asyik bermain dengan ponsel putih Mei. Dia kaget  tahu kalau Lyn sudah sangat dekat dengannya.

“Tidak ada apa-apa? Aku  hanya sedang mengirim pesan dengan Bao Xian.”

“Bao Xian? Sepupumu?” Lyn pernah dengar nama itu. Kata Mei itu sepupu laki-laki yang sangat dekat dengan Mei. Bahkan Lyn sudah bertemu Bao Xian sebelumnya. Pria imut yang menurutnya cocok sebagai adik daripada kakak sepupu dari Mei. Karena dia manis, tidak terlihat jika Bao Xian berusia dua puluh tahun dibanding mereka berdua yang masih berumur tujuh belas tahun.

“Iya, sepupuku. Hehe.” Mei mengangguk seraya tersenyum lebar. Menampakkan gigi putihnya yang berjajar rapi. Lyn tidak mencurigainya lagi. Walaupun nyatanya bukan Bao Xian yang mengirimi pesan, melainkan Kris sendiri. Lyn beranjak di dekat Mei. Kembali menghabiskan makanan pesanannya sebelum bel istirahat.

Sepulang sekolah ini, Mei buru-buru memasukan peralatan sekolahnya, Kris sudah memberitahu akan menunggunya di depan gerbang sekolah. “Kamu mau kemana? Kenapa buru-buru?”

“Aku ada urusan mendadak dengan Bao Xian. Dia mengajakku pergi. Maaf aku tidak bisa pulang bersama. Aku duluan.” Mei berjalan duluan. Setelah meminta izin pada Lyn. Sedangkan Lyn masih memandang heran Mei yang sudah hilang dari pandangannya.

‘Maaf kan aku Lyn’, bisik Mei dalam hati. Ia sengaja berbohong pada Lyn untuk sementara ini. Selanjutnya ia akan bicara jujur berdua dengan Lyn. Mei masih berjalan terburu-buru. Sampai ia melihat Kris dari kejauhan. Pria itu pasti bosan menunggu lama Mei yang baru sekarang keluar dari kelasnya.

“Maaf aku membuatmu menunggu lama.” Mei sudah berdiri di sebelah Kris. Dia melihat Kris tengah memandangnya intens. Mei segera menunduk begitu sadar Kris menatapnya lekat-lekat.

‘Meong’ suara kucing keluar dari balik tas selempang Kris. Munculah kepala Milky, si kucing berwarna putih. Mengundang kekagetan dari Mei.

“Kau membawanya ke kelas tadi?”tanya Mei. Ia tidak mengira kalau Kris membawa hewan ke dalam kelas. Padahal sejak tadi Mei memperhatikan Kris sejak jam terakhir di kelas. Tak kelihatan Kris risih membawa hewan berkaki empat itu. Kris cuman mengangguk tanpa wajah bersalah. Itu memang tidak salah. Namun bukankah tidak diperbolehkan membawa hewan dari luar sekolah. Sekarang Kris nekat membawa kucing tersebut ke dalam lingkungan sekolah.

“Aku tidak tahu kamu membawa Milky ke dalam kelas. Tapi kan?”

“Sudah kubilang dia kucing yang penurut. Kamu tidak usah khawatirkan. Lebih baik kamu ikut aku membeli perlengkapan untuk Milky.”

“Baiklah,” ucap Mei pasrah. Kris menarik tangan Mei. Tanpa sadar membuat Mei berdebar kencang.

Mereka berdua telah sampai di depan apartemen Kris. Mei mengikuti Kris dari belakang. Saat pria itu membuka pintu tempat tinggalnya. Meninggalkan Mei masih berdiri di depan pintu. “Masuk sini.” Kris meletakan barang-barang di atas meja ruang tengah. Mei perlahan masuk seraya mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan yang ada di hadapannya.

“Kamu tinggal disini sendiri?” Kris berdeham membalas pertanyaan Mei. Kris rasa gadis itu begitu penasaran dengan kehidupannya. Namun Kris tidak terasa terusik dengan hal itu. Malah dia dengan senang hati menerima Mei jika dia ingin berkunjung kemari.

“Sekarang kita mandikan Milky di dalam. Sini biar aku bawa ke kamar mandi.” Kris mengambil Milky dari dekapan Mei. Berjalan ke kamar mandi, untuk ia mandikan. Kris dan Mei sudah memberi barang-barang Milky. Dari perlengkapan mandi, makan, dan permainan kucing untuk Milky.

“Ikutlah kemari. Bantu aku membersihkan badan Miky.” Mei melangkah mengikuti arah Kris berjalan tadi. Tiba dirinya di kamar mandi. Melihat Kris terlihat kesusahan mengurusi Milky sendiri.

“Kemari. Aku bantu.” Perlahan Mei membasuh air yang di dalam baskom. Milky hanya bisa mengeong mendapati dirinya terkena air. Ketika kucing tidak menyukai berada di air. Tapi Kris terpaksa melakukannya. Karena seluruh tubuh Milky kotor. Karena butiran tanah dan bahkan kutu ada di sela-sela bulu halus Milky.

“Ternyata memandikan hewan itu tidak mudah. Aku kerepotan dibuatnya.” Kris mengelap Milky dengan handuk yang baru dibelinya. Mei ikut membantu mengeringkan bulu bulu Milky dari air masih tersisa pada bulu Milky. Kris menatap Mei dengan senyumannya. Tanpa membuat Mei menyadari jika dirinya tengah diperhatikan. Ada dorongan dari dalam tubuh Kris untuk memeluk tubuh gadis polos di depannya. Segera saja Kris menarik bahu Mei. Membawanya ke dalam dekapan tubuhnya. Kris tidak mengerti arti dari semua ini. Dia mengikuti naruni hatinya. Kris menyukai gadis dalam pelukannya. Dia kembali tersenyum saat Mei juga memeluknya. Menghantarkan rasa hangat di antara dinginnya air yang mengalir.

“Kris, bisa kau lepas? Aku kedinginan.” Mei memohon. Reaksi tubuhnya tidak tahan lama dalam keadaan basah seperti ini. Ia harus cepat-cepat berganti baju. Kris segera beranjak dari tubuh Mei. Membawa Milky keluar dari kamar mandi. Lagi-lagi Kris meninggalkan Mei sendiri. Dari dalam kamar mandi, Mei masih terdiam memikirkan kejadian barusan.

“Apa yang Kris lakukan tadi? dia memelukku,” bisik Mei pada dirinya sendiri. Dia pun berdiri dan berjalan keluar dari kamar mandi. Menengok Kris yang kini sedang mengeringkan Milky dengan Hair Dryer.

“Kris, aku harus segera pulang. Ibu mungkin akan mencariku.” Mei pamit pulang. Bukan karena ibunya. Tapi dia ingin menghindari Kris sementara. Syok dengan perlakuan Kris terhadapnya. Ia tidak marah pada Kris. Mei masih bersedia bertemu dengan Kris lagi. Gadis itu masih kaget dengan kejadian tadi. Mungkin waktu sendiri bisa membuatnya kembali tenang.

“Tunggu, tapi bajumu agak basah.”

“Tidak apa-apa. Aku bisa naik taksi nanti. Biar cepat sampai rumah.” Kris mengangguk mengerti.

“Tunggu sebentar,” pinta Kris. Dia beranjak pergi menuju ke ruang kamarnya. Kembali ke ruang tengah membawa mantel berwarna krem milik pria tersebut.

“Pakailah. Sekedar untuk mengurangi hawa dingin.” Mei menatap Kris. Berusaha meyakinkan dirinya, kalau Kris memang memberikan ini. “Agar kau tidak kedinginan.”

“Baiklah, aku pakai.” Mei mengambil mantel Kris. Langsung memakainya, sebelum Kris memarahinya. Terlihat sekali kalau Kris mengkhawatirkannya.

“Mei Lin, maafkan aku atas kejadian tadi. Aku refleks melakukan hal itu.”

“Tidak apa-apa. Jangan kau pikirkan. Aku pulang yah.” Mei melangkah menuju pintu apartemen. Kris membukakan pintu, mempersilakan Mei keluar dari apartemennya. Gadis itu menghadap Kris dan tersenyum hangat. Mei mulai berani melemparkan senyuman khas pada Kris.

“Hati-hati di jalan. Segera hubungi aku jika sudah sampai.” Mei mengangguk, dan tersenyum lagi. Lalu Mei kembali melangkah meninggalkan Kris yang masi memandangi punggung Mei hingga hilang dari pandangan kedua mata Kris.

*****

       Sudah dua minggu ini, Mei bertemu Kris tiap harinya untuk mengurusi Milky. Di saat itu pula Kris selalu mengiriminya pesan berisi foto Milky bersama dengan Kris. Pria itu selalu intens memberi kabar mengenai Milky. Tapi seharian ini dia tidak melihat Kris. Dikelas pun dia tidak ada di kursinya sendiri. Mei sudah menanyakan kabar Kris pada Lyn. Namun  gadis itu tidak mengetahui bagaimana keadaan Kris. Mei merasa khawatir. Baru keluar dari gerbang sekolah, dia sudah mendengar bisik-bisik dari siswi lain.

“Kau tahu aku semalam melihat Kris berjalan bersama seorang tante-tante.”

“Benarkah? Kamu tidak salah lihatkan?”

“Tidak, aku yakin itu dia. mereka berdua bergandengan tangan mesra. Aku rasa Kris sedang mengencani wanita tua itu.”

Seketika mendengar gosip murahan itu, hati Mei terasa sakit. Tidak mungkin Kris seperti itu. Walaupun pria tersebut misterius dan penyendiri. Mei yakin, Kris pria baik-baik. Ia langsung berjalan cepat melewati kumpulan siswi yang tengah berkumpul. Mei terburu-buru bukan untuk pulang. Tapi dia berjalan ke apartemen Kris. Sesampainya tangga terakhir tempat tinggal Kris berada. Mei melihat dari sini, Kris berangkulan dengan seorang wanita. Benar saja, mereka berpelukan mesra. Seakan dunia milik sendiri. Mei tetap berjalan ke arah pintu apartemen Kris. Semakin dekat, dan dekat. Kris menyadari kehadiran gadis itu. Setelah melihat Mei berdiri tak jauh darinya. Kris melepaskan pelukan perempuan yang ada dalam rangkulannya.

“Mom, ada temanku.” Wanita yang terpaut jauh darinya itu segera melepaskan kontak fisik mereka berdua. Langsung melihat Mei berdiri kaku disana.

“Ini temanmu? Ajak masuklah,” ajak wanita itu langsung masuk ke dalam. Kris mengenggam tangan Mei. Menyuruhnya untuk masuk ke dalam tempat tinggalnya. Mei hanya diam tak berkata sampai mereka duduk berdampingan.

“Tidak usah kaku. Silakan diminum tehnya selagi hangat,” ucapnya. Kris tersenyum kaku.

“Kris kenalkan dia pada Mommy.” Wanita yang merupakan ibu kandung Kris bicara dengan akrab seolah sudah kenal lama dengan Mei.

“Mei, dia.. bukan beliau ibuku. Mom ini Mei. Dia yang selalu membantuku merawat Milky.” Ibu Kris mengangguk paham. Senyumannya tak pernah lepas dari bibir tipisnya. Wajah cantiknya menutupi usianya yang hampir memasuki setengah abad. Tidak ada keriput yang berarti muncul di sekitar wajah mulusnya.

“Jadi dia gadis itu? Kenapa tidak kamu jadikan paca__”

Mom, “ sahut Kris menghentikan ucapan ibunya. Dia malu pada Mei. Mereka baru-baru ini berkenalan. Tak seharusnya sang Ibu bilang secara langsung. Kris tidak mau Mei kelihatan jengah mendapat perlakuan dari Ibunya.

Okay, ibu minta maaf. Lebih baik kamu mandi biar badanmu lebih membaik lagi.” Kris bangkit dari duduknya. Meninggalkan kedua perempuan duduk bersama di ruang tengah.

“Apa Kris sakit?” Ibu Kris hanya berdeham pada Mei. Menatap wajah manis seorang Mei Lin.

“Dia hanya tidak enak badan. Kamu tenang saja. Dia pasti akan sembuh secepatnya.” Mei tersenyum ramah mendapat perilaku bersahabat dari Ibu Kris. Gadis itu mulai menyenangi berada di sekitar Kris. Ibunya sangat menyambut Mei dengan hangat.

“Kenapa kamu tidak pacaran dengan Kris. Ibu rasa kalian cocok satu sama lain. Ibu akan mendukung hubungan kalian.”

“Ah, itu. Aku baru saja dekat dengan Kris.”

“Tidak apa-apa. Langsung berpacaran juga tidak masalah. Ibu merestui kalian berdua.” Mei hanya bisa tersenyum membalas perkataan Ibu Kris. Dia tidak harus berkata apa. Mei merasa malu mendengar penuturan beliau. Ibu Kris benar-benar mengizinkan mereka berdua menjalani hubungan. Padahal Mei dan Kris baru dekat akhir-akhir ini. Semua karena Milky. Mei jadi begitu lekat dengan Kris.

“Ibu mau ke kamar Kris dulu, yah? Kamu tunggu disini dengan tenang sebentar lagi Kris segera datang. Ibu akan menyuruhnya.” Beliau berdiri dan langsung melangkah ke dalam apartemen. Dia memang menuju kamar Kris yang berada di ujung lorong itu. Mei tetap menunggu sampai Kris tiba.

Sore sudah beranjak datang menghampiri langit luas. Mei baru saja akan pulang ke rumah. Sepanjang jalan, Mei memikirkan kejadian hari ini. Ibu Kris sangat mendukungnya. Apa mungkin Mei dan Kris akan menjadi sepasang kekasih? Mei lagi-lagi cuma bisa tersenyum. Ia serahkan saja pada Tuhan. Yang pasti Mei tidak berhenti berharap Kris bisa menyadari rasa cinta Mei untuknya.

Tiba-tiba Mei berhenti di depan toko perhiasan. Pandangan matanya tertuju pada sepasang gelang putih nan cantik. Ia jatuh hati dengan benda itu. Andai saja ia bisa memilikinya bersama Kris. Selintas Mei datang dan masuk ke dalam toko perhiasan tersebut. Tidak begitu banyak orang yang berkunjung ke sini. Mei langsung berjalan menuju tempat sepasang gelang terpajang di etalase toko. Memperhatikan benda memantulkan cahaya dari lampu sorot yang mengarah pada gelang itu.

“Ada yang bisa saya bantu, nona?” seorang pelayan wanita datang padanya. Menanyakan maksud Mei datang kemari.

“Aku ingin melihat gelang itu.” Pelayan wanita itu dengan sigap meraih sepasang gelang berbahan emas putih tersebut. Mei melihatnya dengan takjub.

“Ini gelang untuk sepasang kekasih. Pertanda kalian berpasangan. Aku yakin kekasihmu pasti akan menyukainya.”

“Oh, begitu. Terima kasih, lain kali aku datang kemari lagi.” Mei membungkuk sebelum pergi dan tersenyum sopan pada pelayan itu. Lama-lama ia memandang gelang itu, ia jadi ingin membelinya. Mei cepat melangkah sebelum malam datang. Bisa-bisa ibu memarahinya jika pulang terlambat sampai rumah.

 Continue…

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s