Memories [P.2 – End]


Title : Memories Author @ferrinamd  | Genre : Fluff | Rating : General | Length : Two Shot | Main Cast : Kris EXO-M 

Gambar

“Besok? Bagaimana?” 

“Besok?” Kris langsung duduk memandang Tao.


Dengan mudahnya pria China itu bilang seperti tadi. Besok bukankah mereka masih ada kesibukan yang lain.

“Kau gila, Tao. Kenapa besok? Itu terlalu mendadak. Bukankah kita masih harus menghadiri acara?” Kris tidak tahu jalan pikiran Tao. Bisa-bisanya mengucapkan hal itu. Bukan sesuatu yang bisa diwujudkan mengingat mereka merupakan public figure. Pasti banyak kesibukan yang menyita waktu mereka. Untuk beristirahat saja, Kris harus mencuri-curi waktu luang yang ada. Apalagi kalau harus melakukan pertemuan mendadak seperti ini. Perlu berpikir dua kali sebelum memutuskannya.

“Kau tidak usah khawatir, gege. Aku yakin ini akan berhasil. Bukannya kalian juga sudah lama tak bertemukan? Aku ingin melihat bagaimana reaksi Lyn sewaktu kalian bertemu. Pasti dia kaget setengah mati.” Jelas Tao. Tak ayal membuat kepala Kris menggeleng mendapati Tao berbicara tanpa memikirkan hal yang kemungkinan bisa terjadi. Bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau tidak diperbolehkan? Bagaimana kalau…..

“Huh, terserahmu. Aku cuman tidak ingin kita dimarahi karena melanggar peraturan disini. Tahu sendiri manager hyung terlalu ketat mengawasi kegiatan kita diluar. Jika nanti menganggu, aku tidak mau tahu.

“Tenang saja. Aku yang urus semua.” Kris meninggalkan Tao yang tengah menelpon seseorang.

“Lyyyn,” sahut Tao ketika panggilannya tersambung.

Kau dapat foto itu darimana?” Lyn tanpa basa-basi sekalipun menanyakan kiriman foto dari Tao. Dia tidak menyangka pria itu bisa mendapatkan foto tersebut. Padahal setahunya, foto itu hanya disimpan oleh ibu dan tantenya, ibu Kris. Tapi Tao bisa mendapatkannya. Apa mungkin dari Kris. Kenapa bisa dia dapatkan foto itu?

“Kamu mau tahu aku dapat dari mana? Kamu pasti bisa menebaknya, sayang.” Suasana hening, Lyn berpikir keras siapa pelakunya. Tetap saja orang yang ia kira adalah Kris. Siapa kalau bukan dia. Tapi buat apa dia mengirimkan foto itu untuk Tao. Lyn tidak ingin asal menuduh. Lebih baik dia pura-pura tidak tahu.

 “Tao, jangan bercanda. Aku sedang tidak ingin bergurau. Memang siapa yang mengirimi?”

“Ada deeeh. Kamu pasti akan tahu jawabannya sayang.” Gurauan Tao tidak membuat suasana hati Lyn membaik. Ia masih kesal dengan Tao. Tidak mudah baginya membujuk Tao untuk meminta sesuatu padanya. Lyn juga tidak mau memaksakan kehendaknya sendiri. Biarlahberlalu, dia tidak mau ambil pusing.

“Kamu menyebalkan.”

Jinjja? kalau aku menyebalkan, kamu tidak akan mencintaiku kan?”

Terserah kalau kamu ga mau kasih tahu,” ucap Lyn pendek. Di seberang sana, Tao tertawa tanpa bersuara. Dia tahu Lyn tak akan marah berlama-lama dengannya. Sangat tahu betul tabiat kekasihnya. 

“Jangan marah. Aku hanya bercanda, sayang. Besok kamu pasti tahu jawabannya. “

Besok? Memang kamu tidak sibuk?” Tao menggeleng walaupun Lun tidak melihatnya. Hanya tersenyum penuh arti.

“Tidak, makanya aku ingin bertemu denganmu. Kamu bisa?” Lyn sejenak berpikir. Ia masih bimbang untuk besok. Kebetulan ada kelas di kampus yang tidak bisa ia tinggalkan. Tapi tetap saja ia ingin bertemu kembai dengan Tao. Mengingat terakhir kali mereka berdua bertemu ketika Tao cedera. Sekaligus ingin melihat kondisi Tao.

Baik, aku usahakan.” ucap Lyn penuh keyakinan. Ia mampu menyempatkan waktunya. Meskipun sebentar saja.

“Oke, besok sore di tepi sungai Han.”

Sungai Han? Kenapa disana?”

“Biar aku bisa melihatmu.”Terdengar tawa khas dari Tao. Terdengar nyaring di seberang sana. Lyn menggelengkan kepala. Kekasihnya susah ditebak apa yang dia inginkan.

Tapi___.” 

“Tidak ada tapi-tapian. Kita bertemu disana. Oke, bye.” Sambungan telepon terputus membuat Lyn geram. Saking kelasnya dia melempar ponselnya. Untung di atas kasur, kalau bukan di tempat itu. Coba di tempat lain, Lyn tidak mungkin berani. Persiapkan diri untuk besok. Lihat apa yang akan dilakukan Tao terhadapnya.

                               ***** 
Ini di luar perkiraan manusia sekalipun. Inginnya Lyn cepat keluar dari kelas sebelum waktunya. Tapi barusan ada diskusi dadakan yang diadakan dosennya. Terpaksa ia harus terlambat setengah jam. Namun sampai sekarang Tao tidak menelpon atau mengirim pesan sekalipun. Apa mungkin pertemuan mereka batal?

Sialnya, Lyn tidak bisa menghubungi Tao. Kendala baterai ponselnya habis, menghalanginya demi mengetahui kabar sosok Tao berada.

“Apa aku kesana saja? Tapi dia juga tidak tahu kabarku.” Lyn menaiki sepeda miliknya. Dia biasa mengendarai sepeda. Lagipula jarak dari tempat tinggalnya berupa rumah petakan dan tinggal bersama sepupunya yang lain dekat dari kampus. Begitu juga dari kampus menuju tepi sungai Han tak jauh. Sore hari mendukungnya untuk cepat sampai tujuan. Semilir angin sepoi-sepoi menyegarkan pernapasannya. Melepas penat sejak di kelas tadi. Baru berjarak beberapa meter dari lokasi, Lyn berhenti. Ia mencari sosok Tao. Namun ia harus menelan kecewa, dia ternyata belum datang. Lyn kira Tao sudah datang dan menunggu di sana. Saatnya ia menunggu kedatangan kekasihnya tersebut. Biarlah di sisi lain tidak perlu merasa tak enak hati, kalaupun Tao menunggu lama di sana.

“Aku tunggu sini saja,” katanya. Lyn berjalan menepi di bawah pohon rindang tak jauh dari tepi sungai. Cocok untuk bersantai di sore hari ini. Selagi menunggu, Lyn mengambil botol minum. Meminumnya hingga tandas tidam tersisa. Rupanya Lyn kehausan. Mengayuh pedal sepeda sampai sini lumayan melelahkan juga. Lyn memasukan kembali botol minumnya. Masih dalam posisi menunggu. Lyn melemparkan pandangan ke seluruh tepian suangai Han. Jalan tak begitu ramai ataupun sepi. Masih ada orang berlalu lalang. Sekedar berjalan  santai atau olahraga di sore hari.

Lyn tidak menyadari sedikitpun karena tengah asyik memandang orang yang berjalan melewatinya. Sosok tinggi berbadan tegap tengah menatapnya dari kejauhan. Rambut pirang miliknya tertutupi kupluk hitam. Wajah yang dihiasi kumis tipis serta kacamata baca bertengger di hidung mancungnya. Masih mengawasi gerak-gerik Lyn di tempatnya berdiri sekarang. Terselip ada rasa enggan pada Kris. Dia masih tidak percaya harus bertemu Lyn. Ide konyol Tao benar-benar membuatnya gila. Anak itu memaksa Kris menuruti permintaannya. Sebab sebelum kejadian ini akan terjadi, Lyn sudah menginginkan bertemu dengan dirinya. Udara di sekitarnya terhirup sedalam-dalamnya oleh Kris. Kemudian ia berjalan dengan langkah sedang. Menghitung detik persiapan dirinya. Semakin dekat, semakin ia harus berani menyapa Lyn terlebih dahulu.

‘Kenapa harus segugup ini?‘ tanya Kris dalam hati.

Bayangan hitam yang terbias berasal dari matahari mengintip di ufuk barat. Menyadarkan Lyn dari kegiatan kosongnya. Wajah cantik Lyn menoleh memberi perhatian pada sosok tinggi Kris. Mata Kris mengunci pandangan Lyn hanya padanya.

“Kris gege.”  Lyn berdiri, saat tahu siapa gerangan yang mendekatinya. Pria itu tersenyum padanya. Walaupun semua penyamaran sukses menutupi wajah tampan Kris. Lyn sangat tahu siapa orang dibalik persembunyian itu. Senyuman pertama setelah dua belas tahun tidak bertemu. Lyn melangkah mendekati Kris. Berdiri tepat di sebelah Kris.

“Kau tidak ingin memeluk sepupumu ini.” Kris merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Lyn menghambur ke dalam pelukan Kris. Memeluk erat kakak sepupu kesayangannya. Seolah tak rela untuk dilepaskan.

I miss you, gege. Really miss you.” Hanya deretan kata itu yang terucap dari bibir tipis Lyn. Kris mengusap punggung rapuh Lyn dalam diam. Senyuman kembali terkembang tatkala kata-kata itu mengalir dari Lyn.
Dia juga rindu.

“Aku juga merindukanmu, Lyn. My little girl.” ucap Kris dengan bahasa mandarin. Lyn tertawa pelan isakan yang sebenarnya sudah keluar dari kedua mata kecilnya. Memeluk leher Kris, menyembunyikan mukanya yang memerah. Lalu Lyn memberi jarak  untuk mereka berdua. Saling bertatapan dari dekat. Menyadari satu hal yang mengganjal di hatinya.

Gege, kenapa bisa datang kesini? Bukankah aku harusnya…” Lyn tidak berani melanjutkan. Ia takut Kris merasa terganggu setelah Lyn mengutarakan pikirannya.

“Bertemu dengan Tao?” Lyn menatap Kris heran. Dia tahu, jadi kalau begitu. Kris dan Tao bekerja sama. Lyn tidak terpikir sampai kesitu. Bisa Lyn simpulkan, Tao mengajaknya bertemu Kris dengan berpura-pura mengajaknya jalan bersama. Sekali lagi Lyn tidak habis pikir dengan jalan pikiran Tao.

Gege tahu? Jadi kalian bekerja sama.”

“Tidak, aku tidak bekerja sama. Dia yang menyusun rencana ini. Awalnya aku menolak. Kamu pasti tahu kita sibuk. Aku takut ini mengganggu.” Lyn menundukkan kepala. Merasa tak enak dengan segala pertemuan hari ini. Ia pikir Kris kemari dan pasti menganggu jadwalnya.

“Tapi kamu jangan khawatir, Lyn. Semua sudah diurus Tao. Dia yang merencanakan semuanya.  Maaf kalau aku tidak pernah menemuimu. Aku takut kamu merasa gugup,” jelas Kris. Lyn balik menatap Kris yang sejak tadi juga memandangnya. Menolehkan kepala ke kiri dan kanan.

“Tidak, sekarang aku gugup bertemu dengan gege. Kau lihat kan.” Lyn memutar tubuhnya. Menepis anggapan Kris bahwa dia akan gugup. Tidak, dia memang gugup. Namun dia berusaha menyembunyikan semuanya dengan baik. Dia penyimpan yang handal, bukan?

“Sebentar, gege. Tunggu disini.” Lyn berlari mengambil sepedanya. Dan mendekati Kris lagi.

“Kamu bawa sepeda? Aku kira kamu naik subway.”

“Karena aku lebih suka memakai sepeda.” jawab Lyn ringan. Dia memang sangat menggemari kegiatan bersepeda. Sejak kecil Lyn selalumengajak Kris bersepeda. Dari awal dia tak bisa mengayuh sepeda, dan Kris memboncengi dirinya. Sampai Lyn bisa bersepeda sendiri. Terlintas dalam diri Kris, dia jadi ingin memboncengi Lyn sekali lagi. Kebetulan mereka berdua bisa bertemu. Kapan lagi bisa memanfaatkan waktu saat ini.

“Bagaimana kalau kita berboncengan? Aku yang mengenderai sepeda ini.” Kris mengambil alih stang sepeda Lyn. Gadis itu hanya melongo tak percaya. Ragu dengan tawaran Kris. Walaupun sebenarnya ia rindu bersepeda bersama Kris sewaktu kecil dulu.

Jebal, duduklah di belakangku,”sahut Kris. Menyadarkan Lyn dari lamunannya. Kris sudah menaiki sepedanya. Membujuk Lyn supaya duduk di belakang Kris.

Lyn bergerak mendekat, dan akhirnya duduk di atas bangku belakang sepeda. Mencoba mencari kenyamanan dalam duduknya. Masih agak ngeri mengingat pertama kalinya sejak saat itu ia diboncengi sepeda oleh Kris.

“Berpeganganlah,” pinta Kris. Langsung dituruti Lyn dalam diam. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kris. Menempelkan kepalanya pada punggung kokoh Kris. Lyn rindu saat-saat seperti sekarang. Bersyukur semua bisa terulang lagi. Sepeda mereka mulai bergerak meninggalkan tempatnya.

“Kita berangkat.” Kris mencoba mengayuh sepeda. Meskipun beban yang masih menganggu Kris mengayuh sepeda yang telah lama tidak ia lakukan. Tapi Kris tetap mengayuhnya. Menikmati momen berdua bersama adik sepupu tersayangnya. Sepeda menyusuri sepanjang aliran sungai Han.

Setengah perjalanan berlalu, Kris sedikit menoleh ke belakang dapat ia lihat wajah Lyn yang berseri. Bibirnya membentuk senyuman damai. Gadis yang sudah beranjak besar menjadi wanita cantik. Terpikir untuk Kris menyukai saudara jauhnya sendiri. Dia menggelengkan kepala. Lalu kembali fokus dari perjalanannya.

“Kamu menyukainya?” Lyn menegakan tubuhnya dari sandaran di punggung Kris. Ia tersenyum lebar dan akhirnya tertawa mendengar ucapan Kris. Hatinya senang, sangat senang.

“Sangaaaaat senang.” ujar Lyn. Mengundang kekehan dari Kris.

“Kita melakukannya lagi bukan? Aku tidak melupakannya. Kamu tidak usah khawatir.” Lyn langsung tertawa. Begitu ingat kah Kris dengan kegiatan kesukaannya. Sampai dulu menyusahkan Kris setiap hari. Hanya untuk menemaminya bersepeda sepanjang hari. Mengingat hal itu, Lyn memejamkan mata, hingga semburat merah muncul di kedua pipinya. Tepat saat Kris menoleh ke belakang. Melihat ekspresi Lyn yang malu-malu.

“Tidak usah malu. Aku tahu kamu senang. Iya kan?” Tak ada jawaban. Kris tersenyum lebar. Dia tahu pasti Lyn masih malu akibat gurauan darinya.

“Lyn? Kau senang kan? Jawab aku.”

Yes, i am happy. Thank you, gege.” pekik Kris. Tak ayal orang-orang di sekitar teralihkan karena suara nyaring Lyn. Kris cuma bisa cekikikan tanpa bersuara. Gerakan punggungnya terlalu mencolok, sehingga orang yang ada di belakangnya bisa merasakan.

“Tidak usah tertawa, gege. Jangan buatku malu.” Lyn memukul pelan bahu Kris. Namun orang yang memboncenginya hanya tertawa senang. 

Arraseo. Aku mengerti. Tapi terima kasih saja tidak cukup. ”

“Memang kamu mau aku melakukan apa?” Tiba-tiba Kris memberhentikan laju sepedanya. Dia menopang kendaraan roda dua itu dengan standar sebagai penopang. Lalu ia berdiri, dan menghadap Lyn.

“Berdiri.” Lyn masih dalam kebingungan. Namun tetap mengikuti perkataan Kris. Pria China tersebut hanya tersenyum senang melihat tingkah polos Lyn.

“Pejamkan matamu. Aku punya sesuatu untukmu.” Lyn memejamkan matanya. Pasrah mengikuti segala yang diucapkan Kris. Kejutan apalagi diberikan Kris hari ini.

“Lyn, terima kasih kamu bisa menyempatkan datang kesini. Aku harap kita bisa bertemu lagi. Amu menyayangimu, seperti aku menyayangi ibuku. Adik sepupu kesayanganku. Kau sudah jadi wanita cantik. Kuharap kamu bisa terus menjalani hubungan dengan Tao.” Lyn mengernyitkan dahi. Ia mencium gelagat aneh dari Kris, tapi berusaha menepis semua keraguan itu.

“Tunggu sebentar.” Beberapa detik berlalu, sampai rasa dingin menyentuh leher Lyn. Ia seakan tahu Kris mengenakan kalung untuknya.

“Ini kalung?”

“Ya, kalung berbentuk bintang. Bukankah kamu suka bintang? Aku rasa kamu pasti menyukainya.” Lyn tersenyum mendengar ucapan Kris yang begitu damai menenangkan dirinya.

“Terima Kasih, Wufan gege.” Lyn menyebut nama China Kris. Dia biasa memanggil Kris dengan sebutan itu. Lyn tidak perlu khawatir Kris marah padanya, karena dia tahu Kris sayang padanya.

“Aku akan merawatnya baik-baik.” Lyn tersenyum manis pada Kris.

“Bolehkah aku memelukmu lagi.” Lyn menganggukan kepala. Lalu dia merasakan pelukan hangat. Mencium aroma maskulin yang sangat ia kenali. Begitu hangat, dia seperti bukan memeluk Kris. Ah, mungkin perasaannya saja.

Pelukan itu berlangsung lama, Lyn merasa nyaman. Tapi dia juga tidak enak dengan Kris. Pasti kakak sepupunya itu akan pergi lagi setelah ini. Lyn membuka kelopak matanya. Benar saja, ia bukan lagi memeluk Kris.  Pria bertubuh tinggi itu saja sedang berdiri tak jauh dari tempatnya. Sontak Lyn melepas kontak fisik yang ia lakukan.

“Tao !!!”

                           kkeut 

 

 

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s