Loving You [The Letter Writer – Epilog]


Title : Loving You | Author @ferrinamd  | Genre : Romance, Life, Friendship | Rating : General | Length : Oneshot | Main Cast : Kim Jongwoon ( Yesung – Super Junior) , Kim Jonghyun ( Jonghyun – SHINee), Choi Minho ( Minho – SHINee)

Author Note’s : Annyeong, cerita ini akhir dari ff The Letter Writer. Bagaimana kelanjutannya? Happy Reading, guys ^^

photography403


Sudah lebih dari sejam, Ji Neul menunggu di toko milik Yesung. Tapi sang pemilik toko itu tidak kunjung datang. Yesung berpesan mengajak bertemu di tokonya. Sayang, ditunggu berapa lamapun Yesung tidak kelihatan batang hidungnya. Menghubungi ponselnya juga tidak tersambung. Ji Neul mulai jengkel ingin segera cepat pegi dari tempat ini. Lagipula kantin sudah mulai sepi. Ia berpikir tidak mungkin Jong Jin apalagi Yesung akan kemari. Terlebih hari ini tokonya tutup. Aneh memang Yesung mengajak bertemu di toko miliknya yang sudah tutup. Dia akhirnya beranjak dari duduknya, setelah menimbang-nimbang, lebih baik ia memutuskan untuk segera pergi. Baru selangkah dibuatnya. Sayup-sayup mendengar namanya dipanggil seseorang.

“Ji Neul-ssi.” Jong Jin datang berlari menghampirinya. Dengan tergesa-gesa, Jong Jin mendekat. Pandangan Ji Neul terpaku pada kertas yang tergenggam erat di tangan kanan Jong Jin.

“Jong Jin-ssi, ada apa?” Beberapa saat Jong Jin mengambil napas sebanyak yang ia bisa. Setelah ia berlari. Ini terpaksa karena membantu sang kakak membuatkan suatu kejutan untuk Ji Neul. Tentu saja tanpa sepengetahuan gadis itu.

“Ini ada surat dari Yesung hyung,” Dahi Ji Neul berkerut memandang kertas tersebut. Lalu ia mengambilnya dari tangan Jong Jin.

“Terima kasih,” Ji Neul membuka lipatan kertas berwarna krem yang diperuntukan untuknya. Terdapat deratan kata tertera di atas kertas.

Mungkin kamu merasa sendirian di dunia ini. Namun seseorang sedang mengawasimu dan memperhatikanmu, walaupun tidak terlihat olehmu.

“Surat ini dari Yesung-ssi,” tanya Ji Neul merasa tak yakin dengan yang dia baca sekarang.

“Iya, itu darinya. Hyung menyuruhmu ke taman.” Ji Neul mengamati lagi setiap kata yang tertulis jelas. Sampai bait terakhir ia menemukan suatu petunjuk.

‘Temui aku di taman dekat sungai Han tempat biasa kita sering bertemu.’

Ji Neul hanya bisa tersenyum. Yesung selalu bisa membuat dirinya bahagia. Beralih pada Jong Jin, Ji Neul membungkukan badan di depan lelaki itu.

Jeongmal Gamshamnida,Jong Jin-ssi. Aku segera kesana.” Ji Neul berlalu meninggalkan Jong Jin yang tersenyum hangat menatap orang terkasih kakaknya.

Ji Neul masih berlari. Sampai disana, hanya keheningan yang menghampirinya. Tidak ada seorang pun yang ada di sana. Bagaimana bisa Yesung membohongi dirinya. Ji Neul tahu Yesung tidak akan membohonginya. Tapi setelah yang dia lihat sekarang. Ji Neul merasa kesal dan kecewa. Yesung tidak ada disini.”Dimana dia?”

Yang dia temukan beberapa balon yang terikat di antara arena bermain anak-anak. Supaya tidak terbang jauh ke langit luas. Balon-balon berwarna warni membuat Ji Neul tertarik untuk menghampiri lokasi bermain anak-anak. Ji Neul sangat menyukai balon terbang. Dari kecil yang beranggapan untuk menjadi balon terbang yang membumbung tinggi. Bebas terbang kemana saja tanpa ada beban sama sekali. Ringan dan melayang kemana saja. Lalu Ji Neul melangkah mendekati ayunan kosong. Duduk di atasnya, dan digerakkan maju, mundur berulang kali. Ia sangat menyukai permainan itu dari kecil. Selalu memainkannya bersama Minho. Sepupunya selalu menggerakkan ayunan untuk dirinya. Ji Neul menyenangi hal itu. Coba sekali saja, Minho bisa di ajak bermain ayunan kembali. Sayangnya dia sangat sibuk. Tidak ada waktu sedikitpun hanya sekedar meluangkan waktu bersama.

Selama ayunan bergerak, seseorang muncul dari balik semak-semak. Berjalan perlahan mendekati Ji Neul masih termenung mengingat memori masa kecilnya. Pria itu memegang tiga balon dengan warna berbeda mengikat erat pada sebuah cincin perak . Kali ini gadis itu tidak menyadari, ayunan yang dia duduki bergerak sendiri. Bukan dia yang memaju-mundurkan. Melainkan Yesung, pria asing tersebut. Hingga Ji Neul merasa ada yang aneh. Kepalanya menengok ke belakang. Menemukan Yesung berdiri di belakangnya. Masih setia mendorong ayunan yang di tumpanginya.

“Yesung,” Ji Neul menatap Yesug tengah tersenyum padanya. Hingga pria itu berjalan dan berhenti di hadapannya. yesung berjongkok di depan Ji Neul. Gadis itu melihat balon  tergenggam erat  pada tangan Yesung.

“Itu balon?” tanya polos Ji Neul mengundang tawa geli dari Yesung. Suasana menjadi tidak terlalu kaku seperti semula. Ji Neul mengamati Yesung dengan pakaian tebal yang melekat pada dirinya. Mantel hitam tebal dan kupluk senada dengan warna mantel yang dikenakannya. Terlihat tampan dengan berpakaian seperti itu. Ji Neul yakin semburat merah muncul kedua pipinya. Merasa kagum dengan pesona yang keluar dari diri Yesung. Hari ini sudah memasuki musim dingin. Tapi Ji Neul masih berani keluar dari dorm sekedar untuk berjalan. Apalagi sekarang, Yesung masih berani mengajaknya pergi dari dorm.

“Benar, ini balon. Balon untukmu. Genggamlah.” Yesung menarik tangan kiri Ji Neul. Meletakkan balon sekaligus sebuah benda menjadi pemberat dalam balon udara yang telah berpindah tangan.

“Cincin?” Yesung mengangguk. Dia melepas ikatan dari cincin yang terikat. Satu persatu balon itu melayang ke udara. Melepas beban dari cincin yang mengikatnya. Satu, dua, dan tiga balon pergi. Ji Neul mamandang takjub. Dia suka melihat balon terbang tertiup angin. Menghiasi langit biru di siang hari.

Yesung memasangkan cincin perak di jari manis Ji Neul.Menandakan cinta mereka yang tulus. Yesung berusaha memberikan sesuatu sederhana namun manis untuk Ji Neul. Tak perlu sesuatu yang mewah jika kau bisa memberikannya dengan baik. “Kau suka?” Ji Neul masih diam memandangi cincin terpasang di jarinya.

“Kuharap kamu menyukainya. Aku sengaja membelikan ini untuk kita. Lihat, aku juga memakainya.” Yesung menampakan jari manis di tangan kirinya Juga terpampang cincin perak yang sama persis yang dipakai Ji Neul.

“Aku memberikan ini biar orang lain tahu kalau kamu punyaku.” Ji Neul bersemu merah tapi pada akhirnya dia melengos.

“Kamu gombal,” seru Ji Neul.

“Itu bukan gombal tapi serius. Mau bukti apalagi, eoh?”

“Coba mana buktinya?” Yesung menyentuh kedua pipi Ji Neul mendekatkan dia dengan dirinya. Dahi mereka bersentuhan. Hanya ada helaan napas mereka berdua yang terdengar. Semua serasa sunyi, suasana mendukung untuk mereka berdua.

“Choi Ji Neul, aku benar-benar mencintaimu. Meskipun kamu tidak menyadari. Lambat laun aku bisa memperlihatkannya padamu. Sampai kamu sadar akan kehadiran cintaku.” Ji Neul memejamkan mata mendengar pernyataan Yesung. Baginya itu cukup memberi bukti cinta Yesung padanya. Mungkin terdengar gombal, tapi dia menyukai hal itu. Yesung semakin lama, semakin mendekatkan dirinya dengan Ji Neul. Mempersempit jarak antara mereka berdua tanpa ada halangan sedikit pun.

‘Klik’ suara kamera mengalihkan fokus Yesung. Dia menoleh ke sumber suara. Dan dia tahu siapa gerangan yang membuat Yesung menjadi malu.

“Ada apa? Kau melihat apa?” Ji Neul  mengikuti arah pandangan Yesung pada semak-semak di samping mereka.

“Tidak ada apa-apa. Hanya binatang yang lewat tadi.” Ji Neul memicingkan mata curiga dengan perkataan Yesung.

“Kau tidak percaya padaku?”

“Ya, ya aku percaya, percaya.” Yesung membelai puncak kepala Ji Neul. “Bagus, kalau begitu. Sekarang apa yang kamu inginkan untuk hari ini sebagai hadiah dari cintaku?” Ji Neul mendesis pelan mendengar ucapan Yesung.

“Aku mau kamu main ayunan bersamaku. Bagaimana?” Yesung mengernyit heran pada Ji Neul. Permintaan yang sebenarnya dan tidak ia duga sebelumnya. Gadis ini penuh kejutan.

“Hanya itu? Tidak ada yang lain?” Ji Neul menggeleng pasti. Ia yakin dengan keputusannya. Sudah terbersit dari awal dia kemari ingin memainkan ayunan tersebut bersama-sama. Berhubung ada Yesung disini. Sengaja ia mengajak kekasihnya untuk bermain ayunan berdua.

“Mau tidak? Kalau tidak mau yasudah?” Yesung panik. Dia tidak mau mengecewakan Ji Neul hari ini. Yesung bertekad menyenangkan kekasihnya sendiri di hari jadi mereka.

“A, baiklah. Aku akan naik.”Yesung menduduki ayunan. Gadis di sebelahnya tersenyum jahil.

“Ayooo, coba ayunkan. Seperti ini,” Ji Neul memperagakan dirinya bermain ayunan dengan caranya. Diayunkan tubuhnya ke depan dan belakang secara bergantian dengan kecepatan sedang. Yesung mengamatinya tersenyum lebar. Dia senang melihat Ji Neul tersenyum, Ji Neul tertawa, dan Ji Neul bahagia. Yesung mencintai Ji Neul sepenuhnya. Ia tidak salah, takdir yang menyatukannya dengan Ji Neul.

“Oke, itu mudah, aku juga bisa. Seperti ini?” Ji Neul langsung tertawa melihat tingkah laku Yesung yang menurutnya sangat lucu. Yesung sukses membuatnya tidak lagi menjadi orang yang terlupakan. Masih ada yang menyayangi dan mencintai dirinya.

“Terima Kasih, Kim Jong Woon,” -Choi Ji Neul.

tumblr_lsf5aoOJQR1qd5mnho1_500

kkeut

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s