Conscience [P.1]


Title : Conscience | Author @ferrinamd  | Genre : Romance, Fluff, Drama | Rating : General | Length : Chapter | Main Cast : Kim Jongwoon ( Yesung – Super Junior), Kim Joon Myun ( Suho – EXO K)

Author’s Note : Cerita ini terinspirasi dari Film Indonesia berjudul ‘Kata Hati’ diperankan oleh Boy Hamzah, Joanna Alexandra, dan Kimberly Rider yang menurutku film yang sederhana namun sangat menyentuh hati. Selamat membaca ^^

tumblr_lr1m2z99Gs1qayk20o1_500

Mengenang masa lalu itu memang menyakitkan. Tapi terkadang ada saja godaan yang membuat siapa saja menengok ke belakang. Kebanyakan dari mereka yang mengingat akan kenangan manis. Justru akan membuatnya merasa semakin terjerumus ke dalam pusaran menyakitkan. Itu yang tengah dirasakan oleh seorang Kim Jong Woon. Bagaimana mungkin ia masih bisa mengingat masa lalunya. Terlebih dengan mantan kekasihnya yang sudah meninggalkan dirinya. Demi mengejar karir. Namun disamping itu wanita yang dulu sangat ia cintai juga selingkuh diam-diam. Tidak tahu maksudnya apa melakukan hal itu. Yang pasti Jong Woon merasa tercampakkan. Sejak ditinggal pergi mantan kekasihnya, hidupnya menjadi tidak karuan.  Sempat berpikir untuk apa ia hidup, kalau saja kekasihnya pergi meninggalkan dia. Mengosongkan isi hati dan cintanya.

Yang namanya cinta itu memang kejam ada saja kejadian yang membuat siapa pun terasa tersakiti dan menyakiti. Jong Woon mencoba terus berjuang demi meneguhkan hatinya. Bahwa dia bisa bangkit lagi. Bisa kembali hidup , seperti saat bersama mantan kekasihnya, Yoona. Sayangnya sekarang tidak seperti dulu. Ia sudah mencoba untuk terus bersikap biasa. Meski itu masih susah baginya. Waktunya masih panjang. Masih banyak orang disekitarnya yang masih memperhatikan dan menyayanginya. Terlebih keluarganya sendiri.

“Masih sibuk?” tanya laki-laki yang menyembulkan kepalanya pada celah pintu kamarnya. Sedikit terusik dari kegiatannya memilah-milih foto dalam kamera kesayangannya.

“Tidak, ini lagi meriksa foto-foto yang tadi baru aku potret. Ada apa?” Dalam waktu dekat ini dia akan mengadakan pameran foto. Tidak besar, hanya saja ini saran dari teman seprofesinya. Untuk bisa membuka pameran foto-foto karyanya sendiri. Siapa tahu bisa mendulang penghasilan yang cukup untuk profesinya sebagai fotografer.

Ani, eomma memanggilmu. Kita makan malam bersama. Ayah juga baru pulang dari MoBit (Mouse and Rabbit).” MoBit merupakan Caffe milik keluarganya. Lelaki terpaut 4 tahun ini adik kesayangannya, Kim Jong Jin. Berprofesi sebagai Barista di tempat usaha mereka.

“Baik, sebentar lagi aku turun. Kau ke bawah saja dulu.”

“Okay, di tunggu.” Jong Jin langsung menutup pintu kamar kakaknya. Membiarkan pria berumur 29 itu berkutat kembali dengan dunianya sendiri. Sampai akhirnya dia menyelesainkan tugasnya, menutup laptop dan mematikan kamera DSLR miliknya. Setelah membereskan barang-barang kerjanya, Jong Woon melangkah keluar kamar. Menuju ruang makan tempat Ayah, Ibu, dan adiknya berkumpul.

*****

“Kamu masih sibuk? Gimana persiapan pameran fotomu?” tanya ibu. Begitu Jong Woon menghempaskan tubuhnya di atas kursi makan. Sudah ada Ayah dan Jong Jin duduk berhadapannya dengan dia. Sedang ibunya tengah mengambil nasi pada mangkok yang ditujukan untuk suami tercintanya. Jong Woon tersenyum melihat sikap ibunya sampai sekarang masih sangat memperhatikan Ayahnya sendiri. Cinta mereka berdua tidak luput walaupun umur mereka sudah beranjak tua. Mengingat hal itu, kembali menghubungkan hatinya pada Yoona. Sekarang senyum meringis yang keluar dari bibirnya. Mengundang rasa penasaran dari adiknya.

“Kau kenapa, hyung?

“Ah, tidak. Aku tidak apa-apa,” jawab Jongwoon singkat.

Ibunya sudah duduk sehabis memberikan nasi di setiap mangkok penghuni rumah ini termasuk dirinya. “Woon-ah, bagaimana persiapannya?” tanya wanita berambut pendek keriting ini dua kali. Gemas akan tingkah anak sulungnya. Dia tahu kalau Jong Woon masih mengingat-ingat wanita yang sudah berpredikat sebagai mantan kekasihnya.

“Ah, iya eomma. Persiapannya tinggal sedikit lagi. Doakan aku semoga berjalan lancer pameran perdana ku,”ujarnya sambil tersenyum kepada keluarganya. Jong Jin mengangguk kembali.

“Aku doakan, hyung. Pameranmu pasti berjalan sukses. Itu pasti,” Jong Jin mengacungkan ibu jarinya.

“Jaga fisikmu supaya tidak terlalu lelah. Keseahatan itu penting,” kata Ayah yang sedaritadi diam menyaksikan perbincangan tiga orang terkasihnya.

“Baik, appa. Aku pasti akan menjaga kesehatanku. Tenang saja,” seru Jong Woon mengundng gelegak tawa dari Jong Jin. Secepat itu pula Jong Woon melempar tatapan tajam untuk Jongjin.

“Kalau begitu, mari kita makan,” ujar Ibu mereka. Seketika memutuskan tatapan tajam yang menjadi lelucon bagi Jongjin sendiri. Mullai makan bersama dengan suasana hangat.

*****

Terik matahari, tak urung membuat wanita ini terus memperlihatkan tubuh indahnya dengan pakaian pantai di depan lensa kamera milik fotografer terkenal, Choi Siwon.

“Coba mengarah kesini, bahunya gerakan ke arah kanan. Nah,” Klik. Siwon melihat hasil jepretannya dan lama kelamaan tersenyum puas memanadang foto wanita cantik yang merupakan model terkenal dan naik daun setahun terakhir ini, Im Yoona.

“Kamu bisa istirahat, Yoona-ssi. Lima menit lagi kita balik lagi ke hotel.”

“Okay, Siwon-ssi. Terima kasih kerja samanya.” Yoona membungkukkan badan pada pria bertubuh atletis itu. Siwon turut membungkuk. Dan berbalik pergi tak lupa tersenyum pada Yoona.

Seorang wanita berumur tak jauh darinya itu mendekat. Membawa perlengkapan Yoona, dan meletakkan di atas meja bundar dekat kursi malas yang berada tak jauh dari pantai.

“Kau sudah menghubunginya?” tanya wanita itu. Duduk di atas kursi malas tersebut sambil memberikan minum pada Yoona. Lantas berpindah tangan botol tersebut dari tangan Sooyoung, nama wanita itu.

“Belum. Aku baru saja selesai pemotretan, eon. Kamu sudah mencecar pertanyaan semacam itu.”

“Ey, jangan marah-marah. Aku juga tidak tahu kamu belum menghubunginya. Secepatnya hubungi dia.” Yoona mengangguk malas, dan mengambil handuk kecil. Mengusap wajahnya, menghilangkan keringat yang membasahi dahi dan pipinya.

“Nanti aku telepon dia. Semoga saja dia tidak sibuk.” Sooyoung tersenyum. Beranjak dari duduknya. Merangkul bahu adik sepupu kesayangannya.

“Tak usah gugup. Aku pasti akan membantumu bertemu Yesung oppa.” Yoona mengernyitkan dahinya. Memandang heran Sooyoung, tidak sangka apa yang diucapkan wanita terpaut satu tahun darinya.

“Aku tidak akan gugup. Seperti baru bertemu saja.” Yoona melangkah pergi dengan membawa tas yang sebelumnya dibawa kemana-mana oleh Sooyoung. Sejak tadi pagi menemani dirinya dalam pemotretan.

*****

Noona ! Jineul Noona!” Teriakan menggelegar mengisi seluruh sudut kamar bergradasi biru. Membangunkan sang pemilik kamar “Ada apa sih? Tidak bisa pelan, yah?” Jineul masih bergelung dalam selimut. Enggan untuk bangun barang sejenak saja. Karena ia tahu hari ini hari minggu. Berniat untuk tidur sepanjang siang in. Tidak terasa kalau jam sudah menunjukkan jam sebelas siang.

Noona, ini ada telepon dari Suho hyung.” Seketika Jineul bangkit mendengar perkataan Ji Soo, adik laki-lakinya. “Siapa? Suho?” Jineul mendekati ponselnya yang masih bordering nyaring.

“Ah, benar dia menelpon,” seru Jineul masih menggenggam ponsel miliknya.

“Makanya jangan molor terus.” Sahutan Ji Soo tidak dihiraukannya. Segera Ji Neul menyentuh ponselnya. Terdengar suara Suho dari seberang sana.

“Kamu tahu sejak pertama kali kita bertemu. Aku sudah jatuh cinta padamu. Kedua matamu memancarkan cahaya semakin menarik hatiku untuk mendekatimu. Dan kini aku sudah berhasil mendapatkan hatimu. Maukah kau menerima cintaku, Jung Soo Jung?”

“Jung Soo Jung? Krystal?” ucap Ji Neul pada dirinya sendiri. Kenapa Suho menyebut nama Krystal, teman dekatnya?

“Ya, itu untuk Krystal. Bagaimana ucapanku? Cocok tidak untuk pernyataan cintaku padanya. Menurutmu bagaimana?”  Serasa dibakar api cemburu, ia memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ji Neul menyukai Suho, Ji Neul mencintai Suho. Tapi pria itu tidak peka sedikitpun apa yang dirasakan Ji Neul. Hingga beberapa kali mereka bertengkar cuma masalah sepele. Antara Ji Neul, Suho, dan Krystal.

Suho selalu meminta bantuan Ji Neul untuk bisa berdekatan dengan Krystal sampai beberapa kali. Sukses membuat Ji Neul jengkel dan Badmood. Abaikan rasa tidak sukanya jika harus melihat mereka berdua bertemu. Memasang senyum palsu, yang menurutnya  berhasil menutupi rasa cemburunya.

“Apa-apaan dia? Mau bikin aku cemburu lagi?” Tingkat kesabarannya sudah habis. Ia sudah lelah harus menanggung semuanya. Ji Neul harus menghapus semua perasaan ini. Selintas dipikirannya. Beranjak dari tempat tidurnya, melangkah menuju spot pribadinya, meja belajar. Lalu dengan cepat ia mengambil foto dirinya bersama Suho. Dia copot dari dinding, dan menyembunyikan foto itu di sela buku yang ia ambil secara acak. Diletakkan dengan kasar buku tersebut. Tak berani baginya buat merobek foto dirinya dengan Suho. Masih ada perasaan dan sayang pada Suho walaupun hanya melihat fotonya saja.

Kembali menuju kamar tidur. Merebahkan kembali tubuhnya diatas kasur. Sedetik kemudian terdengar bunyi ponselnya berdering. Tapi berusaha ia abaikan panggilan ponsel yang ditujukan padanya.

Noona, itu ada telepon,” sahut Ji Soo datang tiba-tiba dari celah pintu kamar. Ji Neul melirik sebentar adiknya. Langsung beralih menutupi wajahnya dengan bantal.

“Biarkan saja. Tak usah diangkat.” Ji Neul bergelung dalam selimut. Mencoba melanjutkan acara tidur (siang)nya. Ji Soo hanya berdecak melihat tingkah laku kakak perempuannya yang terpaut tiga tahun dari Ji Soo.

*****

Menjelang sore hari, Ji Neul sengaja keluar dari rumah. Mencari udara segar untuknya. Tadinya ia ingin mengajak Ji Soo pergi dengannya ke Caffe langganannya. Sayangnya anak itu tidak bisa karena harus berlatih futsal setiap hari minggu.

Ji Neul menghembuskan nafasnya pelan-pelan. Duduk di kursi setelah memasuki Caffe. “Jong Jin-ah !” panggil Ji Neul ketika melihat lelaki mengenakan apron keluar dari dapur Caffe. Ia sangat mengenal Jong Jin, barista di sini. Pria berwajah manis itu sudah ia kenal semenjak pertama kali mengunjungi Mouse and Rabbit atau bisa disingkat MoBit, nama Caffe  ini. Lucu bukan, apalagi logo Caffe tersebut menggunakan gambar binatang tikus dan juga kelinci.

Pria bernama Jong Jin itu menoleh setelah dia sibuk melayani pembeli setelah ia membuatkan kopi tentunya. “Kau datang?” Ji Neul mengangguk ringan.

“Aku mau pesan__”

“Coklat panas dengan sedikit gula.” Sambung Jong Jin sebelum Ji Neul melanjutkan perkataannya. Lantas tertawa mendengar ucapan Jong Jin dan mengangguk cepat.

“Baiklah, tunggu disitu. Akan aku buatkan untukmu.” Jong Jin beringsut pergi. Selagi menunggu Ji Neul mengedarkan pandangan ke setiap sudut Caffe ini. Sudah hamper setahun ia sering kemari. Sekedar berkumpul dengan temannya atau menyendiri di sudut toko kecil ini. Suasana nyaman kental terasa hingga ia betah seharian berada di luar rumah hanya untuk bertandang ke tempat mungil yang sekarang ia kunjungi. Melihat sekeliling, sampai pandangan matanya terpaku pada sosok pria yang selalu ia lihat jika datang kesini. Selalu memilih tempat duduk di dekat jendela. Timbul rasa penasaran untuk mengetahui siapa pria di seberang sana.

“Ji, Ji Neul.” Suara orang memanggil namanya. Menyadarkan Ji Neul yang masih menatap pria misterius itu.

“Ah, iya. Gamshamnida, Jong Jin-ssi,” sahut Ji Neul mengambil alih cup berisi Hot Chocolatte pesanannya.

“Sama-sama, agasshi. Silakan dinikmati selagi hangat.” Jong Jin duduk berhadapan dengan Ji Neul. Gadis itu menatap heran pria di depannya.

“Kau tidak kembali ke belakang?” Jong Jin tergelak mendengar pertanyaaan Ji Neul yang menurutnya lucu. Jelas saja ini toko milik keluarganya ia bisa bebas melangkah kemana saja. Apalagi duduk di kursi Caffe.

“Kamu lupa ini toko milik siapa?”

“A, iya maaf aku melupakan hal itu.” Ji Neul meringis sambil memegang tengkuknya.

“Gwenchana. Kalau begitu aku pergi dulu. Masih ada pekerjaan menunggu.” Jong Jin tersenyum kepada salah satu pelanggannya ini. Sebelum ia beranjak pergi meninggalkan Ji Neul sendiri. Namun baru beberapa langkah, “Jong Jin-ssi.” Panggil Ji Neul memanggilnya. Langkah kaki Jong Jin terhenti. Menatap wajah polos gadis berkuncir kuda tersebut.

“Kau tahu siapa pria yang memakai kemeja krem di dekat jendela itu?” Ji Neul menunjuk pria di seberang sana dengan kedua matanya. Tak pelak membuat Jong Jin menghela napas pelan. Hingga ia tersenyum kembali pada Ji Neul . “Itu kakakku,” jawab Jong Jin. Gadis itu hanya bisa membulatkan bibirnya mengetahui kalau pria manis itu memang kakak seorang Kim Jong Jin.

“Aku tinggal yah,” ujar Jong Jin meninggalkan Ji Neul. Gadis ini masih mengamati pria itu dari tempatnya duduk sekarang. sepertinya Ji Neul penasaran dengan lelaki itu. Bunyi dering ponsel memecah keheningan di dalam Caffe. Bersamaan dengan dering ponsel berasal dari pria tersebut. Ji Neul segera merogoh tasnya meraih ponsel miliknya. Tertera nama adiknya,

Ji Soo.

Calling

.”Ada apa?”

“Suho Hyung mencarimu. Noona ada dimana?” Ji Neul sesekali melirik pria tersebut yang juga mengangkat telepon yang tak tahu siapa yang menghubunginya.

“Seperti biasa aku ada di Caffe.” Sejenak suasana hening di seberang sana. “Kalau Noona masih disana Suho hyung mau ke Caffe.

“Tidak usah. Biar aku saja yang ke rumah. Sebentar lagi aku pulang.” Ji Neul memutuskan sambungan telepon dari Ji Soo. Di tatapnya lagi sosok misterius itu tengah memainkan kamera DSLR miliknya. “Ia sedang memotret apa.” Ji Neul beranjak dari duduknya menuju kasir membayar pesanannya.

“Jong Jin-ssi, aku bayar pesananku.” Jong Jin menghampiri Ji Neul setelah ia berada di dapur.

“Baik, terima kasih. Lain kali berkunjung lagi kemari.” Ji Neul tersenyum melambaikan tangannya.

“Sip, aku pasti akan sering kesini kok. Aku pamit.” Jong Jin mengangguk sambil membungkukkan badan kepada Ji Neul yang berlalu pergi keluar toko mungil ini.

*****

Tiga hari setelahnya, Ji Neul kembali datang mengunjungi MoBit. Setelah tadi di kantor mengerjakan beberapa deadline penting yang harus segera ia berikan pada Kepala Redaksi majalah ternama tempatnya bekerja.

“Mau minum Hot Chocolatte?” tawar pria sesaat Ji Neul telah duduk di atas bangku Caffe.

Ne,  Kim Jong Jin-ssi.” Ji Neul tersenyum lebar melihat penampilan pria di hadapannya. Berpakaian kemeja biru langit yang rapi beserta celana jeans. Sangat pas berpadu dengan tubuh tegapnya.

Jong Jin berbalik segera membuat Hot Chocolatte untuk pelanggan setianya. Ji Neul lagi-lagi melempar pandangannya pada pria yang notabener kakak dari Jong Jin. Pria tampan, misterius, dan penuh pesona. Ji Neul merasa tertarik untuk mengenalnya lebih dekat. Kebetulan sekali, dia ada disana. Duduk dengan serius membersihkan kamera kesayangannya. Ji Neul menatapnya dengan seksama. Hingga akhirnya pria yang sedang dipandangnya merasa risih dengan perbuatan yang dibuat Ji Neul sendiri.

Pria bermata kecil itu sadar dan balik memandang Ji Neul yang masih menatap Jongwoon, kakak seorang Kim Jong Jin. “Ji Neul-ssi,  Ji Neul-ssi,” sahut Jong Jin sopan setelah beberapa menit ia membuatkan Hot Chocolatte untuk Ji Neul.

Ne. Gamshamnida, Jong Jin-ssi,” kata Ji Neul menyambut pesanannya di atas meja. Menyesapnya beberapa kali selagi uap hangat masih keluar dari minuman miliknya.

“Kau tertarik dengan kakakku?” tanya Jong Jin. Sontak Ji Neul tersedak mendengar pertanyaan yang sebenarnya bagi dia adalah sebuah pernyataan sukses membuat seorang Choi Ji Neul kaget. Gadis itu terburu menggeleng cepat menghilang praduga dari Jong Jin. Dia memang penasaran tapi untuk satu kata ‘tertarik’ perlu dipikir lagi.

“A. Aku tidak tertarik dengan kakakmu. Kami saja belum pernah kenal. Bagaimana bisa kamu sudah menduganya sejauh itu?”

“Jangan mengelak. Aku selalu tahu gerak-gerik seorang wanita pada lawan jenisnya. Termasuk kamu sendiri.” Ji Neul memutar bola matanya setelah mendengar perkataan Jong Jin yang terkesan sok tahu. Jujur ia penasaran juga dengan sosok asing itu.

“Sana, pergi ke sana. Berkenalan lah dengan kakakku. Dia pria yang baik.” Jelas Jong Jin mendorong Ji Neul untuk memancingnya bertemu dengan Jong Woon, kakaknya. Gadis itu tetap bergeming di tempat duduknya. Mengundang kesal bagi Jong Jin sendiri. Buru-buru ia mendorong bahu Ji Neul perlahan sampai dia berdiri dan terpaksa melangkahkan kakinya.

Arrasseo, jangan mendorongku,” ucap Ji Neul tidak suka. Mau tak mau dia sudah melangkah menuju meja tempat Jong Woon duduk santai dekat jendela Caffe ini. Jong Jin tersenyum lebar diam-diam mengamati gerak-gerik Ji Neul dari tempatnya berdiri sekarang. Semoga rencananya berhasil.

To Be Continue

//

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s