Beautiful Liar


Title : Beautiful Liar | Author @ferrinamd  | Genre : Friendship, Drama, Fluff | Rating : General | Length : Oneshoot |  Main Cast : Lee Hyun Mi (OC), Kim Joon Myun ( Suho – EXO K), Kim Jong Dae (Chen – EXO M)

Cerita ini aku ambil dari kisah aku. sedikit perubahan dan Happy Ending. Selamat membaca ^^

hfii

 

Lee Hyun Mi POV

Setiap orang pasti menginginkan hubungan pertemanan yang langgeng tanpa ada halangan sedikitpun. Tapi yang namanya perjalanan dari waktu ke waktu pasti selalu ada halangan. Apalagi perubahan dari perasaan terhadap teman lawan jenis kita sendiri.
Dari biasa, suka, lama-lama menjadi cinta. Untungnya aku tidak pernah sampai ke tahap mencintai temanku sendiri. Mungkin lebih kepada rasa suka yang aku alami. Rasa suka milikku sama halnya dengan rasa suka teman perempuanku lainnya. Namanya Lee Marin. Kita berdua sama-sama menyukai Kim Joonmyun, biasa orang memanggilnya Suho. Pria itu lebih tua setahun dari kami.

 

Suatu ketika secara tidak langsung aku menyatakan perasaan sukaku kepadanya. Dibantu oleh Marin. Banyak cerita yang aku bagikan pada Marin mengenai rasa sukaku kepada Suho. Temanku ini memaksaku agar segera mengutarakan isi hatiku pada Suho. Mengesampingkan segala reaksinya setelah mengucapkan sebuah perasaan diriku.

******

“Oppa, kau tahu. Hyunmi menyukaimu,” ucap Marin secara tiba-tiba. Setelah kami bercerita panjang lebar membahas berbagai topik. Jadi ini maksud Marin kemarin, ‘Kau harus siap-siap. Akan ada kejutan untukmu besok.’ Ternyata ini kejutan darinya. Aku tidak menyangka.

“Suka denganku?” Suho menunjuk dirinya sendiri dengan menampakkan wajah polosnya. Kumohon wajahmu itu sudah tampan. Jangan bereaksi berlebihan karena aku semakin tenggelam dalam pesonamu. Marin mengangguk. Aku tidak berkutik sedikitpun mengenai hal ini. Waktu terasa sangat lambat. Kuperhatikan Suho hanya tersenyum. Senyum yang dipaksakan.

“Hyunmi, cepat kamu bilang sesuatu. Aku sudah membantumu.” Marin menyenggol bahuku. Menyuruh untuk cepat berbicara langsung dariku sendiri.

“Jadi Hyunmi kita menyukai Suho? Wah, akan ada pasangan baru nih.” Chen yang sedaritadi terdiam. Dia sahabat baikku sejak kecil. Dirinya ikut bicara. Membuat nyaliku semakin ciut saja. Kutegakkan badanku, menarik napas dalam.

“Ya, aku suka sama Suho oppa,”jawabku singkat. Suho melihatku lagi-lagi hanya tersenyum. Tapi beda dengan sebelumnya. Lebih tepatnya senyum malu-malu. Aku hanya terdiam memandang senyumannya. Semakin membuatku tidak berani berbicara saja.

“Hyunmi menyukaiku. Tapi maaf aku hanya menganggapmu sebagai adik. Dan aku lebih nyaman kita berteman.” Aku mengerutkan dahi. Omongan macam apa itu. Aku tidak bermaksud menembaknya. Aku hanya ingin bilang kalau aku menyukainya. Bukan untuk menyatakan kalau dia menerimaku atau tidak. Sudah runtuh suasana hatiku. Apa-apaan semua ini.

******

“Hyunmi-ah, kenapa kamu dari kemarin menghindari Suho oppa? Kan kemarin sudah bilang suka padanya.” Marin menghampiriku dengan membawa beberapa buku yang ia bawa dari perpustakaan untuk nantinya dibagi ke kelas. Karena guru bahasa kami menyuruh muridnya untuk membaca buku sastra. Aku mengulurkan tangan berniat membantunya.

“Sini aku bawakan.” Tidak berniat sama sekali menjawab pertanyaan semacam itu untuk hari ini. Sudah dua orang menanyakannya. Pertama Chen, pria itu sudah bertanya sejak tadi pagi. Kami biasa berangkat pulang bersama. Tapi untungnya dia tidak mempersalahkan aku yang hanya terdiam. Selanjutnya dia bercerita mengenai audisinya yang kini membuatnya berhasil lolos dan menjadi pemenang. Aku bersyukur, sahabat kecilku ini berhasil.

“Kenapa kamu tidak bertemu dengannya?” tanya Marin. Kami masih jalan bersama sampai ke kelas. Aku masih terdiam hingga Marin jengah melihat reaksiku yang tidak menanggapi sama sekali pertanyaannya.

       Keadaan di kelas lumayan ramai. Maklum bel sekolah sudah berbunyi. Dengan langkah cepat, kuletakkan buku-buku di atas meja guru. Menyusul Marin. Aku cepat bergegas sebelum guru masuk. Meninggalkannya selangkah lebih dulu. Sampai akhirnya kami duduk berdua. Kami terdiam begitu guru masuk. Pelajaran sudah dimulai. Kami pun belajar kembali dalam keheningan.

******

        Hari demi hari, bulan demi bulan terlewati, kami berempat berkumpul seperti biasa. Bercanda, berdiskusi seolah tidak ada yang terjadi. Entah kenapa semakin hari, kedekatan Marin dan Suho kulihat sangat intens. Begitu mencolok. Dalam hati aku bertanya, ‘Mereka pacaran? Kenapa begitu dekat? Aku dengan Suho saja tidak sampai seperti itu?’. Tentu saja aku mencium kecurigaan. Chen yang aku tahu dekat dan suka bertukar pikiran dengan Suho saja tidak tahu mereka pacaran atau tidak. Pastinya setelah aku bertanya mengenai hal itu padanya. Tapi namanya lelaki pasti cuek dan tidak berpikir sejauh itu. Malahan Chen menggodaku kalau aku cemburu pada Suho. Aku dengan tegas menolak. Tidak mau perasaanku terbawa lebih jauh lagi.

Genap dua tahun kami menjalin pertemanan dengan Marin, dan Suho sudah seperti kakak adik. Aku juga sudah tidak terlalu memikirkan perasaan sukaku pada Suho. Karena yang jelas aku merasa sangat nyaman seperti ini. Tidak tahu kedepannya akan jadi seperti apa. Liburan selama sebulan lebih membuat aku dan mereka bertiga tidak lepas kontak. Kami tak pernah putus komunikasi walaupun Marin pulang sementara ke kampong halamannya, Busan. Suho bekerja sebagai asisten profesor orang tuanya yang notabene berprofesi sebagai professor. Sama halnya dengan Chen, dia dari panggung caffe ke panggung lainnya menyanyi solo. Itu salah satu passionnya. Dan aku sangat mendukung apa yang dia tekuni sekarang. Kelak nantinya dia bisa menjadi penyanyi yang hebat. Aku bangga dengan Chen.

August 19th, 2013

         Untuk pertama kalinya. Setelah libur panjang, mengistirahatkan otak dan badan para siswa. Kami sudah memasuki hari pertama. Aku datang ke sekolah seperti biasa. Belum banyak orang di sekolah. Mungkin mereka masih di perjalanan atau bisa jadi masih bersembunyi dalam selimut. Udara hari ini terasa dingin. Angin bertiup agak kencang sedikit membuatku menggigil walaupun sudah memakai dua lapis baju terluar. Guna melindungi tubuh kurusku. Musim panas akan segera datang. Masih memasuki pancaroba yang agaknya rawan terkena penyakit ringan. Semisalkan aku sendiri. Pilek menderaku dari dua hari lalu.

Aku duduk tenang sesampainya di bangku kelas. Meletakkan tas punggungku. Segera kuambil botol minum dan meneguknya hingga haus hilang. Beberapa detik selanjutnya, suara tapak kaki dan sosok yang tak asing bagiku muncul tepat di depan kelasku.

“Sudah datang?” tanya Suho memasuki kelas aku dan Marin. Aku dengannya berbeda kelas. Ah, aku dan Marin maksudku. Lantas dia duduk bersebelahan denganku. Wajahnya menampakkan senyum yang tak jelas. Sambil tangannya terulur mengambil sesuatu di dalam tasnya. Kuperhatikan dia dengan seksama. Muncul benda berbentuk kotak panjang menyembul keluar dari tas selempang miliknya.

“Ini untukmu.” Aku mengernyit heran. Tangan kanannya terulur menggenggam kotak tersebut. Tak ada respon dariku. Satu tangannya lagi, menarik tangan kananku. Meletakkan benda itu di atas telapak tanganku.

“Ini coklat untukmu. Bukankah kau suka coklat. Makanlah.”

“Untukku?” Terdengar suara tawa berasal darinya. Aku hanya merengut. Lalu mengambil alih benda tersebut. Membuka penutup kotak yang kugenggam. Benar, itu coklat dengan bentuk persegi panjang terbungkus rapi. Tapi diteliti lebih jauh lagi. Aku melihat namaku tercetak jelas di atas coklat tersebut. Walaupun dibungkus rapat. Warna yang transparan terlihatnya begitu jelas bentuk coklat itu.

“Iya, untukmu. Memang untuk siapa lagi?” Aku beralih memandangnya lagi. Masih dengan senyum menawannya.

“Ada namaku?”

“Yes, and this is just for you,” ucapnya. Bahasa inggris dengan fasih namun kumengerti maksudnya. Hanya untukku seorang.

“Terima kasih, oppa. Akan aku makan nanti.” Suho mengelus puncak kepalaku. Mengantarkan rasa nyaman dalam diriku. Hawa dingin yang tadi membekap lingkup di sekitar kami. Berganti kehangatan yang sangat jelas terasa. Memunculkan semburat merah di kedua pipiku. Hingga pria itu tergelak pelan dari tempatnya terduduk sekarang. Aku hanya senyum malu di hadapannya.

“Baiklah. Makan sampai habis. Aku kembali ke kelas yah. Nanti ketemu lagi sepulang sekolah.” Aku mengangguk. Tinggal dia sekarang berdiri sambil melambaikan tangan padaku. Menjauh dari bangku tempat ku duduk nyaman. Memperhatikannya yang tersenyum manis. Dia romantis.

“Oppa, kau kemari?” Suara yang sangat kukenal membuatku langsung beralih melihat Marin sudah ada di ambang pintu kelas. Aku memperhatikannya berpas-pasan dengan Suho. Tangannya menggelayut manja memegang lengan kanan Suho.

“Ya, aku habis bertemu dengan Hyunmi. Aku ke kelas dulu.” Marin tersenyum dan meninggalkan Suho yang juga sudah hilang dari pandanganku. Aku kembali menatap coklat di genggamanku. Segera saja kusembunyikan coklat tersebut ke dalam tas. Marin sudah sampai dimeja sebelahku. Kami berdua sebangku.

“Suho oppa ngapain ke sini?”tanya Marin ketika ia sudah menghempaskan pantatnya di atas bangku. Aku menunjukkan wajah tanpa rasa bersalah.

“Hanya menghampiriku dan sekedar menyapa. Kamu pasti tahu Suho oppa orang yang terlalu rajin untuk melakukan sapaan di pagi hari.” Aku memberitahu kebiasaan Suho yang memang selalu menyapa kami jika sedang berpas-pasan. Alih-alih menutupi kejadian barusan. Marin percaya dan aku tersenyum lega.

“Ah ! Aku lupa soal itu. Hahaha. Dia ada-ada saja.” Marin meletakkan tasnya. Dan tenggelam pada majalah yang dia pegang sekarang hingga bel masuk berbunyi.

******

The Next Week

                Setelah jam pelajaran habis. Kami semua berkumpul seperti biasa di Caffe dekat sekolah. Kami memang biasa bertemu disana sepulang sekolah. Aku memasuki caffe bernuansa nature. Kusuka dinding kayu yang menjadi tema untuk caffe ini. Sungguh natural dan nyaman. Bergegas menuju tempat biasa kami duduk di pojok samping jendela. Baru ada Chen yang hadir. Jadi Suho dan Marin belum datang.

Kuhampiri sahabat kecilku ini. Dia sedang asyik mendengarkan musik dari I-pod kesayangannya sembari memejamkan matanya. Menikmati lagu yang dia putar. Aku memperhatikan dia agak lama. Sampai dia tersadar ada seseorang mengamatinya dari jarak dekat. Chen terlonjak kaget. Badannya agak mundur ke belakang. Memasang muka masam setelah tahu kalau aku mengagetkannya. Aku tertawa melihatnya sambil memegang perutku sendiri.

                “Ya ! Lee Hyunmi. Kau mau buatku mati,” pekiknya. Menatapku tajam yang masih saja tertawa. Aku berhenti setelah Chen mengacungkan coklat kesukaanku. Kudekati pria bersuara merdu itu. Menggapai coklat dalam genggamannya.

Namun aku kalah cepat, “Eits, tidak boleh. Kau sudah terlanjur membuatku kaget. Jadi aku batal memberikanmu ini.” Chen hendak memasukkan coklat tersebut ke dalam tasnya. Kutahan tangan kanannya.

                “Jangaaaaan, masa kamu marah aku kagetin. Itu cuma bercanda. Please,berikan padaku,” mohonku sambil menyatukan kedua tanganku seolah terlihat seperti orang yang memohon. Chen memperlihatkan senyum death glare miliknya. Ia senang sekali menggodaku.

                “Tidak akan. Kecuali kalau kamu menciumku.” Chen menunjuk pipi kanannya.

                “Aku? Mencium pipimu?” Chen mengangguk semangat. Aku kaget dia mengatakan hal itu. Pria ini menyukaiku semenjak kami masih di bangku sekolah dasar hingga kini. Tapi sayang aku menganggapnya sebagai kakakku walaupun umur kami hanya berbeda beberapa bulan. Dia masih menyukaiku. Namun tidak memaksakan aku harus mencintainya atau tidak. Chen pria yang baik dia menghargai perasaanku. Jangan karena dia menyukaiku dia tidak bisa menyukai gadis lain. Sudah pernah sekali berpacaran dan berhubungan cukup lama. Aku mensyukuri itu. Kami masih bisa bersahabat sampai sekarang. Karena bagiku Chen sudah menjadi bagian yang berharga untukku.

                “Shirreo ! Aku tidak mau.” Chen mendecakkan lidahnya mendengar keluhanku. Tapi masih dengan senyum usil dari bibir tipisnya. Tuhan, kenapa jantungku menjadi berdegup kencang. Aku tidak mungkin menyukainya kan? Ah, Hyunmi kau berlebihan sekarang. Rilekskan dirimu. Dia cuman tersenyum saja. Tidak lebih dari itu.

                “Serius tidak ingin coklat ini? Baiklah aku masukkan lagi ke tas.” Chen serius dengan perkataannya. Tangannya sedikit lagi bergerak membuka tas dan langsung memasukkan coklat kesukaanku ke dalam tas. Membayangkannya saja membuatku tidak rela. Tanpa pikir panjang, langsung aku memajukan badanku sedikit. Ketika Chen akan memasukkan coklat itu. Aku mencium pipinya, aku nekat melakukannya. Entah atas dasar apa. Yang pasti aku menginginkan coklat itu.

                Hari ini aku seperti bukan diriku. Aku menjadi diriku yang lain. Diriku yang benar-benar dari hati. Hatiku seakan menguasaiku sepenuhnya. Aku tidak tahu, dan tidak mau  tahu.

                “Aigoooo! Ada adegan apa ini?” Kedua orang telah hadir dan menghampiri kami dalam keadaan yang seketika kaku. Aku menarik tubuhku dan duduk tegap. Kikuk, itulah yang aku alami sekarang. Tidak tahu harus melakukan apapun. Kecuali terdiam sunyi. Suho berbicara barusan. Langsung mengambil bangku. Kemudian duduk di hadapanku. Langsung saja membuatku semakin ciut. Marin hanya tersenyum tidak jelas melihat kami berdua. Chen apalagi, dia memasukan coklat ke dalam tasnya.

                “Kalian pacaran?” Aku membelalakan mata sesaat Marin mengeluarkan pertanyaan yang menurutkan lebih pantas disebut pernyataan. Secepat kilat aku menggeleng kepala. Chen tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya. Anak ini kelihatan sekali malu-malu kucingnya.

                “Tidak. Aku tadi hanya…”,

                “Hanya apa? Akui saja kalian memang pacaran,” ucap Suho tersenyum jahil didepanku. Kalau saja aku bisa mengutuk orang dan terkabul kutukanku, sudah kulakukan sejak tadi. Belum tahu saja aku akan marah seperti apa.

                “Bukan seperti itu. Kami tadi cuma bercanda. Tidak melakukan hal itu serius.”

                “Benarkah? Tapi kalian seperti pacaran.” Sedetik kemudian, sebuah tangan merangkul bahuku. Dan menarikku lebih dekat dengan Chen. Orang itu yang melakukannya.

                “Kami memang pacaran. Iyakan Jagi?” Aku menoleh ke arah Chen. Dia tersenyum tidak jelas. Aku menggeleng pasrah dengan apa yang dia lakukan.

                “Jinjja? Kalau begitu sama dengan kita. Kita juga pacaran. Berarti sekarang kita melakukan double date dong?” tanya Marin senang.

                “Sejak kapan kalian pacaran? Aku tidak tahu,” tanya Chen menatap kedua manusia di depan kami. Suho memandangku dalam. Matanya seakan berbicara padaku. Seolah ia meminta maaf atas apa yang dia lakukan padaku. Aku jadi merasa seperti orang merana. Tidak, aku pasti kuat. Siapa memangnya dia?

Apalagi Marin bicara seperti itu. Polosnya dia mengeluarkan pernyataan yang membuatku berpikir dia dan Suho berpacaran. Jadi benar selama ini perkiraanku. Feelingku sangat tepat bukan? Tapi sebelumnya aku berusaha menghilangkan hal tersebut. Karena hanya akan menyakiti hatiku. Kutepis, dan berusaha kuhilangkan. Tetap saja sia-sia. Pikiran selama ini terkubur dalam. Kenyataannya memang benar adanya. Aku mengeluarkan senyum miris. Melihat Marin menampakkan wajah cerianya seperti biasa. Tanpa dosa dan peka pada keadaan di sekelilingnya.

Sontak membuat Chen langsung menoleh ke arahku. Dia sangat tahu suasanaku dengan cepat. Aku melepas tangannya yang masih merangkul bahuku. Aku merasa risih dengan perlakuan Chen barusan. Tapi disisi lain, aku merasa senang Chen berusaha menormalkan suasana hatiku yang tidak karuan dalam seketika waktu. Walaupun tidak jelas terlihat. Tetap saja tidak bisa kubendung perasaan lelah ini. Aku capek dengan kepura-puraan mereka sejak awal. Pandai sekali mereka berbohong dan baru bilang sekarang. Kenapa tidak di depan kami semua, Marin dan Suho pacaran? Apa susahnya sih mereka berterus terang dari awal?

                “Kami pacaran sudah 8 bulan 18 hari. Benarkan, oppa?” Marin menggelayut manja lengan Suho. Sedangkan Suho hanya menampakkan senyum tidak jelas dan menatapku dengan perasaan tidak enak hati. Perasaan jijik muncul tiba-tiba. Segera aku alihkan wajahku dari mereka berdua.

                “Selamat yaaah. Aku baru tahu kalian pacaran. Kenapa tidak bilang sejak awal?” tanya Chen. Pertanyaan sama yang sebenarnya ingin aku ajukan pada Marin dan Suho. Aku dan pria di sebelahku ini merasa dibohongi dengan sikap mereka berdua. Kami ini dianggap apa jika akhirnya kami seperti tidak berarti bagi Suho dan Marin. Hal sepele yang seharusnya tidak perlu dianggap serius. Hanya saja aku kecewa, marah, dan sedih. Aku kalah dalam persaingan ini. Suho sudah memilih Marin daripada aku.

                “Sebenarnya kami mau bilang pada kalian. Tapi aku tidak enak dengan Hyunmi. Dia juga awalnya suka dan cinta Suho oppa. Tapi aku coba utarakan perasaanku. Dan ternyata oppa membalas perasaanku. Terima kasih oppa,” jelas Marin begitu senang mengungkapkan segala perasaannya. Aku cuma bisa tersenyum. Tak bisa aku marah di depan mereka. Aku juga sekedar bilang suka sama Suho. Tidak lebih dari itu. Aku masih cemburu.

                “Chukkaeyo, beruntung kalian bisa pacaran. Jadi aku kalah denganmu Marin,” ungkapku sambil tertawa hambar. Chen melihatku merasa terheran. Ia rasa aku bukan Hyunmi yang sesungguhnya. Hyunmi yang sekarang bukan lagi Hyunmi yang lugu. Tidak ada gadis pendiam, tidak ada gadis yang pasrah. Aku berusaha tegar. Mungkin ini jalannya aku menerima semua ini dengan lapang. Cinta memang tidak bisa ditebak. Cinta itu buta. Hingga teman bisa memakan temannya sendiri. Mendahului perasaan temannya dan memacari pria yang disukai temannya itu. Semua sudah terlambat.

Perasaanku terasa sesak. Aku tidak bisa mendengar omongan mereka bertiga. Chen yang mengobrol pun seperti mengacuhkanku. Suho dan Marin masih berbicara tampak pancaran wajah bahagia mereka. Semuanya sedang bercanda. Aku tersenyum tak jelas. Menutupi rasa sedihku.

                “Aku mau ke toilet dulu,” sahutku meninggalkan mereka bertiga. Chen melebarkan kedua matanya memandang sikapku yang terkesan mendadak.

                “Jangan lama-lama,” kata Chen halus. Aku menanggapinya dengan tersenyum –lagi. Aku buru-buru melangkah membawa serta tas punggungku. Melangkah keluar Caffe bukan menuju toilet seperti yang kukatakan barusan pada mereka. Aku berbohong. Aku tidak kuat. Aku ingin lekas pergi dan mengistirahatkan semua organ dalam tubuh. Aku lelah.

******

                Sungai Han menjadi tempat favorit buatku saat hati sedang tak karuan. Tidak terlalu jauh dari Sekolah dan Caffe tadi. Aku duduk diatas rerumputan hijau di tepi sungai. Kedua kaki kuselonjorkan mengarah ke arah sungai Han. Mengambil napas dalam, mengisi rongga dadaku yang masih saja sesak. Angin sore mengusap wajah mulusku. Membawaku terbuai untuk memejamkan mata. Menenggelamkan ke alam bawah sadar. Perlahan kelopak mataku lama-lama tertutupi dan berat.

15 minutes later

Kesadaranku kembali. Kubuka mataku menatap sekeliling. Masih di dekat aliran Sungai Han. Aku teringat kalau aku tertidur. “Kamu sudah bangun?” Aku menoleh ke samping menemukan bahu pria yang menjadi sandaranku selama tidur singkat.

“Chen,” panggilku pada pria ini. Chen tersenyum manis. Senyuman khasnya selalu ampuh membuatku terbuai dalam pesonanya.

“Kamu ada disini?”

“Ada disini sejak kau pergi dari Caffe. Kenapa berbohong?”

“Ya, aku bohong. Aku langsung pergi dari tempat itu !” pekikku pada Chen. Pria itu tetap saja memasang ekspresi datar. Namun tatapan matanya yang tajam masih memandangku terpaku. Seolah objek penglihatannya hanya padaku. Aku diam terpana. Merasa tersedot oleh kedua pasang mata tajamnya. Dia sangat tampan.

                “Kenapa pergi? Kamu cemburu melihat Suho dan Marin?” Bagai petir menyambar mengagetkan gejolak hatiku. Amarah seakan tersudut dengan pertanyaan yang justru membuyarkan imajinasiku pada sosok Che. Tatapan pria itu malah semakin membuatku sebal dan ingin segera pergi dari sini.

                “Cemburu? Kau bilang aku cemburu sama mereka? Buat apa aku cemburu sama mereka? Kau bodoh,” hardikku sebagai amarah dalam semua kepuraan mereka. Suho dan Marin sudah membohongiku dan Chen. Walau akhirnya kami tahu sendiri dari mulut mereka. Tapi tetap saja aku terasa menyakitkan. Aku masih percaya.

Chen mengangguk pelan tersenyum manis padaku. Tanpa memunculkan ekspresi marah sekalipun. “Ya, benar. Aku pria bodoh yan sangt peka dengan perasaan seorang gadis bernama Lee Hyunmi. Benarkan?” Mendengar perrnyataannya, aku jadi terdiam. Ingin rasanya aku tenggelam ke dalam perut bumi. Amanah yang tadinya membara malah mengecil hingga akhirnya hilang tertiup hembusan angin. Aku beralih memandang aliran sungai Han yang mengalir.

                “Kau marah saat tahu mereka pacaran? Kenapa kamu kabur? Itu tidak akan menyelesaikan masalah.”

                “Kamu salah. Aku tidak marah, aku tidak…,” nafasku tercekat. Suara seakan hilang seiring aku mengambil napas dalam-dalam. Kututupi mulut dan hidungku. Berusaha menyembunyikan tangisku dalam suasana diam. Chen menyadarinya. Ia bergerak duduk di depanku. Memegang bahu rapuhku dan meremas lembut. Dirinya memberiku kekuatan lewat sentuhannya. Lantas mengajakku masuk kedalam pelukan hangatnya. Tangisku semakin keras terasa. Tidak peduli tatapan orang yang berlalu lalang melihat kami berdua berpelukan.

                “Menangislah jika itu kau inginkan. Keluarkan semua bebanmu, tidak boleh tersimpan lagi. Buang jauh-jauh semua perasaan yang hanya membuatmu tertekan. Aku tetap disini.” Kedua tanganku terulur memeluk pinggang kokoh pria yang sangat aku sayangi. Entahlah aku tidak hanya menyayangi Chen. Mungkin aku juga mencintainya. Dia terlalu baik padaku. Aku pun sangat nyaman berada di dekatnya.

 

        Keheningan menyambangi kami berdua. Chen masih setia meminjamkan pelukannya untukku. Hari sudah semakin sore, tidak membuatku berpikir untuk pulang ke rumah. “Kau sudah lega?” suara Chen memecahkan keheningan. Aku hanya mengangguk dalam pelukannya. Bergerak melepas kontak kami berdua.

Pria itu menatapku sendu. Mungkin ia ikut merasakan kesedihanku. Aku berusaha tersenyum, walaupun kedua mataku masih berair. Lama-lama aku tertawa kecil mengingat tangisanku beberapa menit lalu. Aku jadi malu mengingatnya kembali. Chen termangu heran memandangku tertawa tiba-tiba. “Hyunmi, kamu kenapa?” Aku menggeleng. Kupeluk lagi badan tegap Chen. Begitu nyaman dalam jangkauan pria tampan ini. Aku jadi mencintainya.

        “Terima kasih, Kim Jong Dae. Aku sangaaat lega.”

        “Kau masih marah?”

        “Marah dengan siapa?”

        “Denganku?” Chen menunjuk dirinya sendiri dengan takut-takut. Aku tersenyum lebar melihat tingkahnya. Sungguh menggemaskan ><

     “Aku marah padamu? Tidak mungkin. Aku tidak sanggup marah sama Kim Jong Dae,” ucapku sambil tersenyum semanis mungkin. Kedua pipi Chen merona merah mendengarkan aku mengucap kata-kata tadi.

     “Aku justru minta maaf padamu. Kalau aku membentakmu tadi.” Kulepas pelukanku padanya. Lalu duduk di sebelahnya. Merasakan dirinya memandangku lagi.

     “Tidak masalah aku tahu suasana hatimu. Aku minta maaf juga sudah sok tahu soal tadi.”

      “Anio, kamu benar, aku cemburu. Aku terlalu dibutakan dengan namanya cinta. Ternyata cintaku ini tidak terbalas sama sekali.”  Aku menghela napas kasar. Memangku daguku dengan telapak tangan sebagai penopangnya.

      “Itu tidak benar. Cintamu terbalaskan kok.” Dahiku berkerut memandang wajah Chen yang sekarang senyam-senyum tak jelas. Suasana sekitar kami terasa hangat, seusai Chen tersenyum seperti itu. Aku memundurkan diriku. Tak mau aku terlihat malu-malu di hadapannya. Siapa yang mau tertangkap basah terkena rayuan gombal pria ini?

      “Maksudmu?” tanyaku berusaha bersikap biasa.

      “Aku mencintaimu. Jadi cintamu terbalas olehku. Hyunmi juga mencintaiku kaaaan?” Chen mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku melebarkan mata bereaksi dari apa yang dia ucapakan. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Tapi aku akui mulai mencintainya. Sangat cepat, dan aku baru menyadarinya sekarang.

      “Ya, aku mencintai Kim Jong Dae. Puas?” Aku beranjak berdiri. Lalu melangkah meninggalkannya yang termangu tidak percaya dengan ucapanku.

       “Jinjja? Hyunmi mencintaiku. Lee Hyunm mencintai Kim Jong Dae !” seruan Chen terdengar keras. Aku berhenti berjalan beralih melihat pria dengan senyuman khasnya itu merentangkan tangan. Memperlihatkan wajah bahagianya. Tak lupa Chen menyusulku. Diapun langsung menggenggam tanganku erat. Berusaha menjagaku agar tetap dalam jangkauannya.  Senyuman terkembang dari bibirku menggantikan kesedihan yang tidak patut berlarut dalam hati. Chen sudah menghapusnya, dan mulai sekarang dia akan terus mengisi hatiku dengan curahan cintanya.

******

         Dibalik itu semua aku mengetahui bahwa secara bersamaan aku mulai mencintai sahabatku, Chen. Pria yang selama ini sudah bersama-sama denganku. Sejak kecil kenal dengannya, hingga kami beranjak dewasa. Aku bersyukur dipertemukan dengan mereka. Karenanya aku tahu kalau cintaku hanya untuk Kim Jong Dae. Thanks God.

keutt~

Iklan

Satu tanggapan untuk “Beautiful Liar

  1. menurut aku supaya ga bingung bacanya mungkin kamu bisa kasih pov. lalu main cast lebih dijabarkan. masukin aja oc yang kamu buat. pada awalnya aku kira ini cuma soal suho-chen, tapi ternyata ada oc yg terlibat. hehehe.
    itu pendapat aku fe 🙂

    Suka

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s