Baby


Title : Baby| Author : @ferrinamd | Genre :  Fluff, Romance  |Rating : PG| Length : One Shoot |Main Cast : Wu Yi Fan ( Kris EXO-M )

baby - kris

“Ya! Kau berkedip?”

“Tidak, aku tidak berkedip.”

“Bohong. Kau bohong, Park Hani.”

“Aku tidak bohong.”  Kris mencubit kedua pipi Hani. Merasakan sedikit sakit yang menjalar. Membuat Hani mengaduh dengan menyentuh kedua pipinya.

Appo.” Hani nama gadis itu. Wajahnya cemberut melihat Kris menjulurkan lidah di hadapannya. Meledek Hani terang-terangan. Mereka berdua tengah membuat permainan sederhana yang mungkin orang menganggapnya hal yang lucu. Namun sangat menyenangkan bagi Kris dan Hani.

Beradu tatapan yang terkadang dilakukan. Sudah tertebak bahwa Hani lah yang kalah. Jelas gadis ini merasa tidak berdaya, jika harus bertatapan lekat dengan Kris. Kedua mata pria itu begitu tajam, sekaligus teduh. Setiap kali berlama-lama, Hani harus mengontrol jantungnya. Untuk tidak berdegup kencang. Agar tidak diketahui oleh pria ini.

“Sudah, kau kalah. Park Hani harus menuruti permintaan seorang Kris. Bagaimana?”. Dari awal mereka memulai permainan konyol ini. Hani selalu kalah. Menang pun hanya bisa dihitung dengan jari. Kris adalah pemenang sejati.

“Baik-baik, aku akan menurutinya. Memang permintaan apa? Sebutkan?”

“Itu mudah. Temani aku hari ini seharian. Habis pulang sekolah, ke lapangan basket, ke toko buku, lalu ke kedai coffe. Aku akan mentraktirmu makan.” Hani hanya melongo mendengar permintaan kris. Hingga akhirnya ia mengangguk setuju. Hani hanya bisa pasrah. Laki-laki ini terkadang bisa seenaknya saja menyuruh Hani seenak jidat. Walau kenyataannya gadis ini pasti menerima dengan senang hati.

“Mari kita pulang. Sepertinya hari ini akan menyenangkan, Park Hani.” Kris menarik pergelangan tangan Hani. Mengajaknya keluar dari lingkungan sekolah.

*****

                Keesokan harinya, setelah kemarin Hani mengikuti semua permintaan Kris. Sepulang sekolah Hani diantar pulang sampai rumah saat malam menjelang. Tapi sekarang Hani harus berangkat sekolah sendiri hari ini. Biasanya pria itu akan datang ke rumahnya. Mengajaknya berangkat bersama. Tapi kali ini tidak. Hani sudah mencoba menghubungi Kris. Tetap saja tak tersambung. Tidak biasanya ia seperti itu.

Langsung saja Hani berangkat sendiri menggunakan subway. Sampai di sekolah, ia sudah melihat Kris berdiri di lorong berdua bersama dengan Jessica, primadona sekolah ini. Siapa tak kenal dia? Gadis cantik berbakat, dan ramah. Berbeda sekali dengan Hani yang hanya seorang siswi biasa, yang begelut di ekskul Jurnalistik. Itu bidangnya dan ia menyukai apa yang sekarang jadi kegiatan di sekolah.

Mereka berdua terlihat akrab. Dalam sekejap saja Hani sudah terbakar api cemburu. Sudah menjadi pacar Kris saja tidak membuat pria itu bisa tetap aman disampingnya. Pasti ada saja yang mendekati Kris. Wanita-wanita yang masih saja melirik Kris meskipun pria itu sudah punya kekasih. Bersyukur ia mempunyai kesabaran ekstra menghadapi penghalang semacam itu. Dia tidak ingin berlebihan mengeluarkan perasaannya sendiri. Sangat kontras sekali ketika kedua orang itu berdiri di tengah lorong sekolah.  Banyak anak-anak yang melihat mereka semua sambil berbisik.

“Kau lihat? Mereka serasi kan?”,

“Kenapa mereka tidak pacaran saja?”

“Entah lah, Kris sudah memilih Hani, gadis wartawan itu.”

Hani hanya mendengar bisikan itu menelan dalam-dalam. Walaupun dari jauh pun dia masih bisa menguping pembicaraan di sekitarnya. Seolah mereka tidak melihat Hani yang tengah berdiri sendiri menonton adegan romantis tersebut. Hani merasa seperti tidak cocok untuk Kris. Pria yang terkenal di sekolah sebagai Kapten basket dan juga seorang model berusia muda yang sudah menjajal berlenggok di catwalk pagelaran busana bergengsi di Korea. Tampangnya mempesona, tubuhnya tinggi, termasuk orang yang berada. Sayang dia agak dingin dan cuek dengan orang yang tidak dia kenal dekat. Hanya Hani yang tahu bahwa Kris pria yang hangat dan ramah jika sudah lebih dekat mengenal pria itu.

Setelah Jessica pergi menjauh dari Kris, pria itu berbalik menyadari kehadiran Hani. Ia berlari kearah gadis ini. Menatap dengan penuh penyesalan.

“Maaf aku tidak bisa menjemputmu.” Hanya terdengar helaan napas. Dan itu dari Hani. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Kepalanya mengangguk. Menerima penyesalan Kris. Ia tidak sanggup harus marah berlama- lama dengan Kris. Pria itu terlalu memikat hatinya.

“Kau mau ke kelas? Kita jalan bersama.” Kris mengulurkan tangannya pada Hani. Mengajaknya pergi ke kelas masing-masing. Gadis itu mungkin tidak perlu panik dengan kedekatan Kris dan Jessica.

*****

                Lagi-lagi dia dibuat menunggu oleh Kris. Biasanya dia juga akan tepat waktu menunggu Hani di depan gerbang. Sekarang dia yang menunggu dan sekarang sudah lebih dari setengah jam menunggu setelah bel pulang berbunyi.

“Hani-ssi, kau menunggu siapa? Kris?” Hani mengangguk begitu Suho bertanya pada dirinya. Pria putih ini teman sekelas Kris. Sangat dekat dengan kekasihnya tersebut. Wajah pria tampan ini mengernyitkan dahi pada Hani. Seolah merasa heran dengan Hani sekarang.

“Loh, tadi Kris sudah keluar dari kelas. Aku kira dia menjemputmu ke kelas.”

“Dia sudah keluar?” tanya Hani datar. Kalau benar begitu, setidaknya dia sudah melihat sosok Kris sejak tadi.  tapi sekarang ia tidak terlalu memusingkan hal itu. Sepertinya ia butuh istirahat. Akhir-akhir ini dia terlalu lelah dengan kegiatan ekstrakulikulernya di sekolah. Ada rapat yang harus ia hadiri sebagai sekretaris. Apalagi sekolah beberapa hari ini ada perayaan dalam rangka ulang tahun sekolah. Dia diharuskan meliput segala kegiatan sekolah menjelas perayaan yang seminggu lagi dimulai.

“Terima kasih, Suho-ssi. Sebaiknya aku cepat pulang.” Hani membungkuk. Kemudian berdiri tegap menatap Suho yang menampakkan ekspresi khawatir.

“Lebih baik aku antarkan kau pulang. Kau terlihat tidak sehat. Aku takut kamu kenapa-napa.” Hani menggeleng pelan. Dirinya memang tidak enak badan sejak semalam. Dia sudah minum obat penghilang rasa sakit kepala. Sebab dari pulang sekolah kemarin pun kepala Hani didera pusing tidak berkesudahan. Ia benar-benar harus pulang. Jadi, menurutnya tidak salah jika ia menerima permintaan Suho kali ini.

“Baik, aku ikut dengan Suho-ssi.” Jawabnya halus

Okay. Ayo, ikut aku ke parkiran.” Suho menarik tangan Hani. Beranjak dari tempat mereka semula. Mengikuti langkah pria tampan tersebut.

Ditempat lain, ternyata Kris belum pulang seperti apa yang dikatakan Suho pada Hani. Pria tinggi itu sedang sibuk mengurus segala keperluan menjelang ulang tahun sekolah. Bersamaan dengan itu ia jarang menemani gadisnya lagi. Terpaksa Kris hanya melihat dari jauh gerak-gerik Hani. Pengawasan yang dia lakukan selayaknya bapak pada anaknya. Terkesan memata-matai memang. Tapi apa salahnya, dia kekasihnya jelas dia bisa melakukan hal itu. Terlebih sekarang, Hani sudah pulang sejak tadi. Setelah Kris melihatnya dari lantai atas tempat panitia perayaan berada.

Dia menjadi ketua panitianya. Hani jelas tidak tahu. Mungkin belum waktunya ia bilang. Jujur belum ada waktu bebas untuk mereka berdua. Hanya saja melihat Hani pulang bersama Suho membuatnya sedikit cemburu. Jelas saja, teman dekatnya menggandeng penuh harap pada Hani. Kris hanya melihatnya dalam diam.

“Kris, kau melihat apa?” Tiba-tiba gadis berambut panjang tergerai berdiri tepat di sebelah Kris. Melongokkan kepalanya mengikuti arah pandang Kris yang sedari tadi memandang kebawah.

“A, Jessica. Tidak, aku tidak melihat apapun. Aku jadi merasa khawatir apa perayaan nanti akan berhasil atau tidak.” Kris berbohong. Jessica sendiri penasaran sendiri apa yang dilihat oleh Ketua Pelaksana Acara ini. Kris mengalihkan pembicaraan sehingga Jessica tidak menyadari apa yang dia lihat tadi. Di sisi lain, dia juga merasa gugup dengan persiapan yang hampir selesai. Banyak waktu, pikiran dan ide yang dia keluarkan demi berhasilnya acara penting ini. Ada beberapa hal yang membuat dia harus mengorbankan waktu. Terpilihnya Kris karena dia selalu berhasil membuat satu, atau dua acara yang dia pimpin terbilang berhasil. Mendekati sempurna. Para dewan guru dan murid lain mengakuinya. Tetap ia manusia biasa yang takut dan cemas acara tidak akan berjalan lancar. Itu perasaan yang wajar.

“Kamu jangan khawatir, Kris. Aku yakin acara berjalan semestinya. Kita semua sudah berusaha keras. Jangan terlalu dipikirkan. Oke?” Jessica menepuk bahu Kris sambil tersenyum. Gadis ini selalu berhasil membuat dia sendiri terlena. Bukan hanya murid lelaki yang lain saja menyukai Jessica, Kris juga mneyukai gadis sempurna ini. Sebelumnya pun dia sudah pernah menyatakan perasaan pada Jessica. Gadis ini menolak dengan lembut permintaan Kris untuk menjadi kekasihnya. Hanya karena Jessica sudah mempunyai kekasih, Suho. Siapa lagi yang tidak mengenal pria berkulit putih susu dan senyum indah itu? Memukau hati setiap kaum hawa di sekolah ini. Namun sayang sekali, hubungan mereka berdua hanya berumur satu tahun. Entah alasan apa yang membuat mereka berpisah. Kris sendiri tidak tahu. Tak ada angin, besoknya sudah ramai gosip putusnya hubungan pasangan serasi itu.

“Oke, aku tidak terlalu khawatir kalau kau bilang seperti itu. Aku sedikit lega.” Jessica tersenyum lebar.

“Bagus, aku percaya acara ini sukses. Kalau begitu aku harus segera pulang. Tugasku hari ini sudah selesai. Apa kau mau pulang juga?” Kris tidak salah dengar. Jessica mengajaknya pulang bersama.

‘Jangan, Kris. Bisa-bisa kekasihmu akan melihatnya sendiri.’ Dalam hati, Kris menolak mentah-mentah permintaan Jessica. Mungkin tidak untuk saat ini. Dia tidak sedang ingin bercengkrama dengan siapapun. Waktu untuk sendiri lebih baik. Sepulang ini, Kris tertarik untuk pergi ke Coffee Shop samping sekolah.

“Tidak, terima kasih. Aku masih harus membereskan berkas-berkas yang masih ada di dalam lokerku,” elak Kris. Jessica mengangguk mengerti.

“Baiklah, aku pulang duluan.”

“Iya, hati-hati di jalan.”

“Kau juga, bye.” Kris melambaikan tangan pada Jessica yang menghilang dari balik pintu ruangan.

*****

“Aku boleh masuk ?” Hani menoleh ke arah suara yang mengajaknya berbicara. Ternyata itu Kris. Sudah hampir seminggu mereka tidak pulang bersama. Sejak kejadian itu, Hani sudah sibuk dengan liputan yang ia urus bersama anak jurnalis yang lain. Kris pun juga begitu sebagai ketua panitia. Tentu saja dia lebih sibuk daripada Hani sendiri.

“Masuk lah, kau tidak perlu meminta izin begitu.” Kris tertawa ringan mendengar tanggapan dari Hani yang tengah menata buku-bukunya yang agak berantakan di atas meja. Bel istirahat sudah berbunyi lima menit yang lalu. Anak-anak hampir seluruhnya menuju ke kantin. Demi mengisi perut dan melepas dahaga selama jam kelas berlangsung begitu lama.

Terik matahari membuat mereka cepat sekali bubar dari kelas. Hani sendiri tidak begitu ingin keluar. Ia sendiri lebih memilih di kelas. Alih-alih menghindari hawa panas yang mendera. Pria itu berjalan dan duduk berhadapan di depan meja Hani. Gadis itu tidak begitu antusias saat kekasihnya masuk dalam kelas.

“Kau tidak ke kantin?” Hani beralih sebentar

“Tidak, aku sengaja bawa bekal sendiri.” Kemudian dia mengambil kotak makanan yang dibawanya dari rumah.

“Mau? Ini.” Hani membuka tutupnya. Lalu mengambil sumpit menyuapkan telur gulung buatannya. Mulut Kris terbuka lebar. Hingga makanan meluncur sempurna memasuki rongga mulutnya.

Delicius.” Hani tersenyum hangat.

“Kau sangat pintar memasak, baby,” puji Kris. Langsung mencomot telur gulung dan memakannya kembali.

“Yak, jangan pakai tangan. Tidak sopan.”

“Kalau begitu suapi aku sekali lagi,” pinta Kris menunjuk mulutnya sendiri.

“Hmmm, enyak.” Belum makanan tertelan Kris sudah berbicara. Hani kembali tersenyum. Kali ini diiringi tawa dari bibirnya. Sampai ia teringat akan sesuatu.

“Kris, kau ada apa kemari?” pertanyaan polos Hani membuat Kris tersedak belum tertelannya makanan ke tenggorokan. Sontak Hani menyodorkan botol minum miliknya. Langsung diminum oleh Kris.

“Kenapa kamu menanyakan itu? Jelas, aku ingin melihat keadaan gadisku. Tidak perlu ditanyakan lagi.”

“Gombal, aku tahu kamu sibuk. Takut kalau kau datang kemari bisa mengganggu kegiatanmu sekarang.” Diam-diam Hani sudah tahu apa yang dikerjakan Kris sekarang. Sebagai ketua panitia membaut dia dituntut banyak untuk bekerja optimal. Sampai Hani sedikit ditinggalkan. Pasti Kris berusaha fokus pada tugasnya. Kris mengambil alih tangan Hani hendak menyuapkan makanan ke mulut Hani sendiri. Tapi mendarat mulus ke dalam mulut Kris.

“Aku tidak gombal. Itu benar kok. Sibuk kah? Nanti pulang bersama yah?” Jineul mengerucutkan bibir melihat tingkah Kris yang seenaknya. Kemudian mengernyitkan dahi mendengar perkataan Kris sendiri.

“Memangnya kamu tidak sibuk? Bukankah acara perayaan lusa besok dimulai. Pasti kamu sangat sibuk.” Kris menggeleng pelan sembari melambaikan tangannya tepat di depan wajah Hani. Memancing wajah heran dari Hani.

“Kau tidak sibuk? Lalu kenapa kamu kesini?” Beberapa detik kemudian, Kris menepuk dahinya menyadari kelemotan dari Hani, kekasihnya. Bagaimana mungkin gadis ini tidak tahu. Jelas saja kalau tidak sibuk, Kris akan menghampirinya, membagi waktu untuk mereka berdua. Kenapa harus dijelaskan lagi.

“Hani, dengarkan aku. Aku tidak sibuk, dan kalau aku tidak sibuk. Pasti aku menemuimu. Kau tidak sadar kita sudah jarang bertemu karena kesibukan aku sebagai ketua panitia dan juga kau sebagai sekretaris jurnal, bukan? Jangan bilang kau melupakan itu,” jelas Kris dengan penuh kesabaran. Reaksi Hani hanya membulatkan bibir tanda mengerti.

“Benarkah kau jadi ketua panitia? Maaf aku lupa soal itu. Aku benar-benar lupa, Kris.”

“Ah, kau sudah mengetahuinya? Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Maaf aku tidak sempat memberitahumu. Nanti pulang sekolah kita pulang bareng. Habis itu aku antar pulang. Tapi sebelumnya antarkan aku ke caffe seberang sekolah. Otte?” tawar Kris. Mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Membuat Hani jengah mengalihkan pandangannya. Yang jelas tidak melihat wajah Kris yang sedikit memuakkan

“Oke, kita pulang bareng.” Tepat setelah Hani bicara, suara bel sekolah berbunyi. Mengharuskan mereka berdua berpisah sementara. Kris mengusap lembut kepala Hani.

“Aku ke kelas. Ingat pulang bareng.”

“Iya, iyaaaa,” tukas Hani. Lalu Kris pergi keluar dari kelas dengan terburu.

*****

           Sore datang, sudah lebih dari tiga puluh menit berlangsung. Namun tak kunjung datang sosok yang ia tunggu. Hani melirik jam tangan yang terpasang. Sudah berapa kali gadis itu menghubungi ponsel kekasihnya. Tetap saja tidak ada jawaban sama sekali. Hanya ada nada sibuk yang menjadi penjawab dalam kecemasan Hani saat ini. Apa mungkin dia sudah pulang? tanyanya dalam hati.

Barusan dia berpas-pasan dengan Suho di gerbang. Ia bilang Kris sudah pulang. Namun kali ini dengan jawaban berbeda. “Dia sudah keluar dari kelas. Tapi katanya dia ingin ke toilet sebelum pulang. Coba saja kau tengok.” Jawab Suho sembari terkekeh pelan. Hani memberikan tatapan tajam pada pria berwajah rupawan tersebut. Hani mau tak mau masuk lagi ke sekolah. Mencoba mengecek kembali dengan enggan.

Langkah Hani hampir sampai. Namun dia menangkap sosok yang tidak asing lagi baginya. “Bukannya itu Kris, dan___Jessica.” Melihat kedua orang itu bediri dibawah pohon dekat lapangan yang sudah sangat sepi. Jelas Nampak terlihat wajah Kris ditekuk tak karuan. Wajahnya tersirat rasa kesal. Hani berusaha mendekat tanpa suara. Mereka berdua saling berbicara. Hani tidak begitu jelas menangkap pembicaraan Kris dan Jessica. Tapi dilihat raut wajah Jessica. Ia berbicara serius. Kris hanya menunjukkan ekspresi heran dan tidak percaya. Tiba-tiba Jessica mencium bibir Kris. Dan sontak membuat wajah kaget Kris. Lantas mendorong tubuh Jessica pelan. Terdengar suara Kris yang agak keras. Hani memandang tak percaya adegan barusan. Berani sekali gadis cantik itu mencium sembarang kekasihnya.

“Apa dia memarahi Jessica?” tanya Hani pelan. Ada rasa cemburu dalam hatinya. Kaki Hani bergerak menjauhi tempat ini dengan langkah cepat. Tak sengaja kakinya menjatuhkan tong sampah kosong. Menimbulkan bunyi nyaring. Mengundang tatapan kaget dari kedua orang menoleh ke arah sumber suara.

“Hani !” Kris yang lebih dulu memergokinya. Melihat gadis itu dari jauh. Begitu juga Jessica membelalakan mata pada Hani. Seolah dia sudah melakukan kesalahan besar dan menanggung malu. Hani langsung berlari terburu. Dia berharap Kris bisa mengejarnya. Sayangnya, tidak terdengar langkah kaki selain dirinya. Seketika sudut matanya mengeluarkan air mata yang meluncur mulus di pipinya. Dia terus berlari tanpa mau menunggu Kris. Dia terlanjur kecewa, dan malas untuk bertemu Kris sekarang.

*****

                Cuaca mulai tidak bersahabat dan malam pun sudah merambah menutupi warna jingga di sore hari. Bulan mulai tampak bentuknya. Namun tertutupi awan mendung yang bergerak mengiringi. Satu, dua tetes air turun dari langit gelap. Hani masih setia duduk di bangku taman. Tempat dia biasa menenangkan diri, dan mengusir rasa bosan. Keadaan sangat sepi mencekam. Tapi tidak menghalangi sedikitpun rasa sedih Hani untuk tetap hinggap di hatinya.  Gerimis berubah menjadi hujan lebat disambut petir yang datang silih berganti. Hani masih bergeming terduduk di bangku taman. Tak ada sedikit pun pikirannya untuk berpindah tempat tak peduli jika badannya melemah, napasnya sesak, pusing datang menjalari kepalanya. Dia tetap bertahan pada posisinya. Hatinya sudah terlanjur sakit jika harus mengingat kejadian tadi. Jessica benar-benar wanita tidak tahu malu. Apa maksudnya coba mencium kekasih orang?

Nappeun yeoja,” desisnya pelan. Kedua tangannya tergenggam erat. Menahan amarah yang menggelora. Tanpa menyadari bahwa tak ada setitik pun lagi air yang jatuh menyentuh tubuh kurus Hani. Bayangan dari lampu taman menyadarkan dirinya. Akan seseorang yang berdiri tepat dibelakangnya. Ia tidak lagi sendiri. Ia bersamanya, bersama pria itu.

“Kris,” sahut Hani lemah. Badannya semakin menggigil menanggapi respon di sekitarnya. Mata sendunya sudah mulai meredup. Tapi Hani masih berusaha bertahan meski titik kesadaran yang ia miliki tinggal sedikit.

“Kau belum pulang?” tanya Kris. Nada bicaranya menyedihkan. Pria itu merasa bersalah pada Hani. Masih bisa dibilang Hani mililknya? Kalau dia sendiri saja tidak bisa menjaga apa yang dia miliki. Sekali ‘terjatuh’ saja akan pecah berkeping-keping. Seperti hati gadisnya. Memandang sosok Hani sekarang saja, membuat Kris merasa pilu. Ingin segera memeluk Hani secepat yang ia bisa.

Hani menggeleng lemah. Ia tidak tertarik menjawab pertanyaan dari Kris. Lebih baik dia kabur saat ini. Sayang dia tidak memiliki tenaga, kecuali bertahan hingga pria itu meninggalkannya.

“Aku masih ingin disini,” jawabnya singkat. Kris menghela napas keras.

“Pulanglah. Kau bisa sakit.” Hani berdecak meremehkan perhatian Kris.

“Apa pedulimu padaku? Urus saja Jessicamu itu?” Kris mengernyitkan dahi. Tidak mengerti apa yang dibicarakan Hani sekarang.

“Aku masih peduli dan aku tetap akan menjagamu. Kau kekasihku, Hani. Aku antarkan kau pulang.” Kris bergerak tak tahan dengan sifat merajuk Hani padanya. Menarik tangan kanan gadis ini untuk berdiri bersamanya.

“Aku tidak mau pulang. Lepaskan aku !” bentak Hani. Berusaha melepas genggaman kuat Kris terhadapnya. Tapi tak menyulutkan niat Kris melindungi Hani dari hujan lebat. Masih dengan memayungi mereka berdua. Tanpa diduga tubuh Hani roboh. Kris kaget, ia segera tanggap menopang tubuh Hani agar tidak jatuh ke tanah.

“Hani, bangun Hani. Jangan buat aku khawatir. Bangun,” pekik Kris. Suaranya tenggelam dalam suara hujan lebat. Gadis itu sudah cukup menderita karenanya. Kris melepas payung yang ia pegang. Lantas membopong tubuh kurus Hani dalam gendongannya. Membawanya pergi dari taman.

*****

Sekarang Kris sudah berada di rumahnya. Dia berusaha mencoba membaringkan tubuh Hani di sofa. Membuat gadis ini senyaman mungkin. Seragamnya basah, mau tak mau dia harus mengganti baju seragam gadisnya dengan kaos besar milik Kris. Dia menelan ludah selama mengganti baju gadis itu. Menahan hormon dan reaksi dalam tubuhnya. Berusaha tidak tergoda sedikitpun dengan yang ada di depan matanya.

“Kau pasti bisa, Kris. Ini hanya mengganti baju. Bukan hal apapun.” Setelah selesai, Kris menghela napas lega.

“Benar-benar menengangkan,” ucapnya polos. Seolah dia mendapatkan petualangan yang memacu adrenalin. Setelah itu Kris menuju dapur, mengambil kompres dan air hangat, handuk kecil dan selimut tebal untuk menyelimuti Hani tidur nanti.

Dengan telaten, pria berambut pirang itu mengusap wajah, leher, tangan dan kaki Hani dengan handuk kecil. Selanjutnya meletakkan kompres yang sudah ia peras dengan air hangat di atas dahi Hani. Guna menurunkan panas Hani. Ia demam dan perlu penanganan dirinya di sini. Di selimuti tubuh Hani hingga sebatas leher.

Kris terduduk di samping sofa beralaskan karpet beludru bercorak leopard. Setelah sebelumnya juga ia mengganti pakaiannya dulu. Kedua mata tajam Kris menatap wajah Hani tengah terpejam. Tangannya terulur menyentuh pipi hangat Hani. Semburat merah sudah terlihat sejak di taman tadi. pertanda gadis itu sudah kelelahan dan melemah. Bodohnya dia membiarkan Hani kehujanan. Sakit rasanya mengingat kejadian tadi. Seolah dirinya kejam menelantarkan Hani di taman. Ia sudah mencari kemana pun Hani. Sesaat Kris melihat gadis itu kepergok melihat dirinya dan Jessica. Dia juga yakin Hani melihat dengan kedua matanya sendiri. Jessica menciumnya tidak sopan.

Entah apa yang ada dipikiran gadis berambut panjang itu. Sampai Jessica menciumnya, sesudah dia menyatakan perasaan pada Kris. Jika dia mencintai Kris bagaimanapun. Berkata kalau dia bersedia menjadi kekasih kedua atau selingkuh, terserah mau sebagai apa. Pastinya ia ingin Kris bisa menjadi miliknya tanpa melihat status hubungan Kris sekarang. Bekas ciuman Jessica masih terasa. Berdenyut ringan, tapi baginya itu tidak berarti apa-apa. Masih menelusuri pipi, mata, dan bibir.

“Aku berjanji tidak akan menyakitimu, membuatmu sakit. Sudah cukup hatiku sedih melihatmu seperti ini. Cepat pulih. Supaya kita bisa pergi minum coffe lagi. Main ‘kedip mata’ lagi. Aku pasti akan lebih menjagamu lagi. Aku janji,” bisik Kris lembut. tangannya kembali menyisir rambut Hani masih basah. Kris sangat suka menyisir rambut halus kekasihnya itu. Ia pun beranjak mencium dahi Hani dalam. Turut merasakan hangatnya tubuh Hani sekarang.

“Selamat malam, sayang,” bisiknya tepat di telinga Hani. Dan ikut tertidur tepat di atas karpet sambil menggenggam tangan Hani.

*****

                Kedua matanya terbuka. Sinar matahari menusuk penglihatannya. Mengerjap beberapa kali menyesuaikan intensitas cahaya yang memasuki kedua mata indahnya. Hingga penglihatannya jelas, mengitari sekeliling yang ada sekitarnya. Ini bukan rumahnya, dan ia tahu sekarang ia berada dimana.

“Kamu sudah bangun.” Suara berat tak asing baginya terdengar. Sosok itu mendekatinya perlahan. Sebelum akhirnya Kris duduk di pinggiran sofa. Tengah membawa nampan berisi bubur dan juga teh hangat yang dia buat untuk Hani. Gadis ini memandang Kris seolah menenlanjangi pria di dekatnya dengan tatapan penuh selidik. Kris hanya menatapnya heran, sembari menaikkan alis tebalnya.

“Kamu kenapa, sayang?” Hani menegakkan tubuhnya. Bangun dari kegiatan tidur pulasnya semalam. Ia tidak benar-benar pulas. Hani pingsan mendadak ketika hujan turun kemarin. Tubuhnya masih sedikit lemah. Pusing masih menyerang kepalanya. Tak mampu untuk bangun dari pembaringannya. Terpaksa ia tidur lagi dengan mengeluarkan ringisan kecil mengundang reaksi khawatir dari Kris. Meletakkan nampan yang dia bawa. Lantas membantu Hani untuk kembali berbaring sejenak.

“Hani, kamu masih pusing? Aku ambil kan thermometer untuk kuperiksa panasmu.” Kris hendak berdiri namun tercegat oleh tangan Hani yang menariknya tetap duduk di sebelahnya.

“Tidak usah. Sebentar lagi juga demamku akan turun,” ucapnya. Melepas genggaman dari tangan Kris setelah memastikan pria tinggi itu tetap disini. Kris menghela napas tak rela. Bukan karena tidak mau menuruti permintaan Hani . Hanya saja ia ingin memeriksa kesehatan Hani.

“Baiklah sekarang makan bubur ini selagi hangat. Aku yang membuatnya sendiri. Yah, walaupun tidak enak,” kata Kris menyodorkan semangkuk bubur. Langsung diterima Hani dan dimakannya. Belum dua puluh menit lewat, Kris memandangi Hani makan hampir habis. Bibir tebalnya membentuk senyum hangat dari Kris. Memperhatikan betapa polosnya Hani, kekasihnya. Layaknya orang kelaparan. Begitu cepat menghabiskan masakan buatan Kris.

“Apa kamu lapar?” Hani melirik Kris senyam-senyum tidak jelas. Memunculkan semburat merah di kedua pipi tirusnya. Sontak Hani mengangguk mendengar pertanyaan dari Kris. Pria itu mengulurkan tangannya. Menyentuh sudut bibir Hani dengan ibu jari miliknya. Menghilangkan noda makanan dari bibir Hani. Tanpa sadar Hani menjauhi diri dari Kris. Terbersit ingatannya kemarin sore. Masih ada rasa kecewa yang menjalari hati Hani. Reaksi yang tidak terduga sebelumnya oleh Kris sendiri. Gadis ini masih marah? Tanya Kris dalam hati.

Kris sedikit mencondongkan tubuhnya. Membuat tubuh Hani hampir terbaring sempurna di atas sofa empuk. Membelalakan mata menatap wajah Kris yang begitu dekat dengannya. Dalam radius beberapa centimeter mengundang debar jantung yang berdegup kencang. Kris masih menatap dalam kedua mata kecil Hani. salah satu yang dia sukai dari diri Hani sendiri. Menyentuh pipi kiri Hani, menelusuri kulit halus yang terawat. Bulu kuduk Hani meremang merespon sentuhan Kris. Memejamkan matanya seakan menunggu eksekusi yang diberikan Kris, seorang Algojo dalam hatinya. Sampai akhirnya, sentuhan hangat mendarat pada bibir tipis Hani. menekan dan berusaha membawa jiwa Hani melayang. Kris terus menekan bibirnya, merasakan manis bibir Hani.

Gadis ini pasrah, hingga ia terpaksa mendorong tubuh pria tegap ini sebelum mereka berdua semakin terhanyut dalam gelombang kenikmatan.

“Jangan Kris. Aku tidak__”

I know,” Kris bangkit. Kemudian duduk, dan membantu Hani turut serta duduk di sebelahnya. “Apa kau masih marah?” lagi-lagi dia memandang Hani tajam.

“Aku hanya___, aku…”

“Aku cemburu?” itu seperti bukan pertanyaan. Lebih tepatnya pernyataan yang seratus persen benar. Hani cemburu, Hani cemas, Hani khawatir Kris akan meninggalkannya setelah dia berciuman dengan Jessica. Dia belum dan tidak akan siap jika harus ditinggal sendiri oleh pusat pikirannya saat ini, Kris. Hani mengangguk malu. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi.

“Aku senang kau cemburu padaku, baby.” Sekejap Kris sudah mendekati tubuhnya. Memperkecil jaraknya dengan Hani. Merasakan kesenangan dalam hatinya. Tahu bahwa Hani memang mencemburui dirinya. Segera dipeluk erat Hani dalam dekapannya. Menciumi dahi Hani dalam. Gadis itu sedikit meringis mendapati reaksi Kris yang berlebihan. Lalu sekarang Kris mencium kedua pipinya lama.

“Kris, hentikan.” Kris menelusuri wajah Hani dengan bibirnya. Hampir menyentuh bibir Hani. Sekali lagi Hani terpejam, sontak membuat Kris tergelak. Tawanya keluar dengan masih memeluk Hani. Sayangnya gadis ini menutup telinganya. Menyumbat telingannya dari suara tawa Kris yang menurunya sedikit menyeramkan.

“Aku mau sekali lagi, baby,

“KRIIIIS!!”

kkeut…

//

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s