Walking at Seaside


Title : Walking at Seaside  | Author :  @ferrinamd | Genre : Fluff, Romance, Friendship Rating : General | Length : Oneshoot Main Cast : Huang Zi Tao ( Tao EXO-M)

66797_433390003413261_721719524_n

“Selamat sore,” teriakan riang seorang gadis memasuki caffe sederhana, dan nyaman. Satu gadis lain dibelakang kasir menyambut dengan senyum sumringah mendapati salah satu teman baiknya baru saja datang.

“Lyn, kau datang? Bagaimana kabarmu?” Dyan keluar dari tempatnya. Menghampiri gadis asing yang tidak lain bernama Lyn. Segera Dyan memeluk ringan tubuh kurus tinggi Lyn.

“Aku sangat baik. Bahkan lebih baik setelah bertemu denganmu. Aku merindukanmu, Dyan,” kata Lyn hampir berbisik. Menyalurkan kerinduan lewat pelukan kedua gadis ini.

“Aku juga merindukanmu. Sudah lama kita tidak berjumpa.” Berpelukan lama membuat mereka berdua tak sadar sesaat ketika tahu kalau mereka masih berdiri di tempat umum. Tak rela, Dyan melepas pelukannya.

“Aku lupa. Selain bertemu denganmu hari ini. Aku mau memesan minuman selagi menunggu Tao.”

“Tao kemari? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Tapi kami masih saling berkomunikasi meskipun hanya sesekali.” Dyan melangkah ke belakang kasir guna melayani Lyn.

“Dia tidak terlalu baik aku rasa. Kegiatannya semakin menyita waktu. Karena kamu tahu sendiri ia sebentar lagi akan comeback. Aku khawatir dia jatuh sakit. Oiya, aku pesan moccacino latte satu.” Lyn memberikan selembar uang kepada Dyan. Tak berapa lama sudah dikembalikannya uang kembalian ditangan Lyn.

“Aku harap dia tidak sakit, Lyn. Aku yakin dia sehat-sehat saja. Kau pasti tahu dia pria kuat yang sangat menjaga kesehatannya.” Dyan menoleh kebelakang mendapati rekan kerja, Song Yuan sebagai barista menghampirinya.

“Jiejie, satu moccacino latte nya,” sahut Dyan dengan bahasa mandarin.

“Baiklah,” sahut gadis berwajah manis itu tersenyum tengah memakai apron dan mengangguk segera menuju alat pembuat coffe.

“Dia bisa bahasa cina?” tanya Lyn polos. Mendengar itu Dyan tertawa kecil menampakkan gigi kecil dan rapi miliknya.

“Jelas saja, dia gadis cina. Kau tidak tahu? Dia kekasih Lay gege.” Lyn melebarkan mata tidak percaya. Jadi gadis itu adalah kekasih Lay.

Jujur Lyn tidak menyangka dan kaget. Perlu dicatat, sebelum bersama Tao. Lyn sangat mengagumi Lay. Diam-diam selama itu pula ia penasaran siapa gadis yang akan beruntung menarik perhatian pria lembut seperti Lay. Senyum Lay yang menenangkan, cara bicara yang begitu sopan, dan perilakunya yang sangat menonjolkan rasa saling menghargai.

“Lyn, Lyn…” panggilan seseorang pada Lyn. Membuat ia tersadar beberapa saat. Hingga ia kembali memusatkan diri pada kenyataan hari ini.

” Ah, iya.”

“Kau kenapa? Ada masalah?” tanya Dyan penuh selidik. Tapi dijawab dengan gelengan penuh dari Lyn. Gadis itu menggaruk tengkuknya menghilangkan rasa gugupnya.

“Tidak apa-apa kok.” Lyn tersenyum sumringah. Mendapati hal itu Dyan hanya menatap heran sebelum akhirnya dia pergi sebentar ke dalam dapur. Mengambil pesanan Lyn. Sekembalinya, Dyan menyerahkan cup gelas pada Lyn. Anak ini sedaritadi melongok ke dapur tempat Song Yuan berada. Hingga Dyan sedikit risih dan penasaran pada sahabatnya ini.

“Ya ! Lyn. Kau kenapa sih?” Lyn terlonjak kaget sampai ia melangkah mundur dua langkah. Bibir Lyn mengeluarkan ringisan yang entah kenapa bagaikan menelan kekecewaan tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

“Maafkan aku, Dyan. Jujur saja aku masih penasaran dengan wanita itu. Dia cantik dan santun. Pantas saja Lay gege menyukainya.”

“Memang kenapa?” Lyn bergeming. Ia meminum moccacino latte miliknya melalui sedotan yang terpasang.

“Kau cemburu?” Bingo ! Dua kata tepat menohok hati Lyn. Langsung saja dia tersedak ketika tengah meminum. Tahu akan hal itu Dyan mengulurkan tissue untuk menutupi batuk yang mendera Lyn.

“Kau membuatku celaka, Dyan.” Ucapan Lyn seolah mengecam perbuatan Dyan. Sedangkan gadis di belakang kasir itu tertawa menampakkan wajah tanpa dosa.

“Kau juga membuatku yakin kau cemburu pada Lay gege kan? Mengaku saja aku tidak akan memarahimu, sayang.” Lyn mendengus sebal mendengar perkataan Dyan. Dia memang iri tapi tidak pernah ada kata cemburu yang terselip dalam perasaannya pada Lay. Cukup rasa kagum adik kepada kakaknya.

“Aku bersumpah tidak cemburu, Dyan. Jangan membuat perkara di tempatmu bekerja sebelum aku melaporkan dirimu pada atasan,” sahut Lyn setengah bercanda. Reaksi Dyan terkekeh pelan berhasil menggoda Lyn hari ini. Kedua gadis ini suka sekali saling menggoda satu sama lain. Hanya sekedar bergurau tanpa ada maksud menyakiti siapapun. Lyn mengibaskan tangan ke arah Dyan.

“Aku bercanda, Lyn Wu.”

“Dyan, tidak usah membawa-bawa margaku disini,okay?”

Lyn berlalu dengan muka sedikit masam. Masih terdengar tawa Dyan perlahan menghilang sampai Lyn tiba di bangku tempat ia duduki sekarang. Tidak menduga Dyan menyebut marga itu. Lyn saja sudah lupa kalau ia mempunyai marga itu, Lyn Wu. Akhirnya ia memakai nama lain sebagai identitas, Lyn Rose.

Lyn Wu, marga Wu sama dengan nama Kris, Wu Yi Fan. Mereka berdua satu keluarga besar. Kedua ayah mereka kakak beradik. Lyn pikir Kris memang tak mengenalnya walaupun beberapa kali bertemu dengannya sejak di Korea. Jelas Kris dan Lyn jarang bertemu. Terakhir bertemu pun ketika mereka duduk di sekolah dasar. Berbeda 3 tingkat dengan Kris. Lyn tidak akan memikirkan hal itu. Biar waktu menjawab apakah Lyn bisa bertemu berdua saja. Hanya untuk menanyakan kabar Kris dan ibunya. Lyn sangat merindukan Ibu kris, tantenya.

Seringkali mereka bertemu, tiap itu pula Ibu Kris selalu mengajaknya pergi berbelanja atau sekedar jalan-jalan. Ibu Kris menyayangi Lyn seperti anak sendiri. Gadis itu mengetuk-ngetuk meja menimbulkan bunyi kecil masih mengantarkannya pada kejadian-kejadian yang ia alami. Begitu banyak cerita yang ia lewati dan lantas memunculkan rasa rindu pada keluarganya di Negeri China. Sudah seharusnya ia pulang ke kampung halaman untuk menghapus rindu yang sudah teramat dalam. Tanpa sadar air mata timbul menyeruak keluar dari sudut mata indah miliknya. Segera Lyn menghapus titik air asin yang bersumber.

Kemudian sebuah tangan besar merangkul bahu Lyn sangat dekat. Lyn menoleh ke kanan mendapati wajahnya sangat dekat dengan pria sangat dikenalinya. Seseorang yang tengah ia tunggu kehadirannya hari ini. Lyn menghirup aroma maskulin pria itu dari dekat.

“Tao, kau membuatku kaget,” bisik Lyn tanpa bereaksi berlebihan pada pria bermasker dan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.

“Tapi kau tidak terlihat kaget, sayang.” Lyn melepas rangkulan tangan pria bernama Tao. Lekas berdiri bersama dekat sosok pria tinggi disebelahnya. Lyn tersenyum lembut, Tao akhirnya bisa datang. Pasti sangat susah mempertemukan mereka berdua.

“Seperti itu kah keadaanmu saat menungguku. Pasti kau merindukanku,Lyn?” Tao meledeknya. Menyenggol bahunya pelan. Pria itu hobi menggodanya setiap bertemu. Hal tersebut yang selalu ia rindukan bertemu dengan Tao.

“Apa aku memang terlihat orang yang rindu berat dengan seseorang?”

“Sangat jelas dari wajahmu, sayang. Apalagi kau rindukan selain rindu padaku.”

“Percaya diri sekali kau.” Lyn merengut mendengar bicara Tao. Walaupun itu fakta yang ada memang benar. Ia rindu, sangat rindu.

Mereka baru saja bertemu beberapa minggu lalu. Tapi itu tidak cukup. Dua kekasih sedang kasmaran pasti berbeda cara dan waktu mereka mengekspresikan kasih sayang mereka satu sama lain. Untuk kali ini Tao mengajak Lyn ke suatu tempat, tidak tahu kemana. Kata Tao, itu rahasia. Akan jadi kejutan khusus untuk Lyn. Yang ada dipikiran Lyn sesuatu yang sangat berkesan. Lihat saja, Lyn harus mengenakan dress lembut selutut berwarna biru lembut layaknya lautan biru yang terhampar luas. Cocok untuknya yang tinggi dan ramping. Dipadu dengan cardigan berwarna krem muda. Tidaklah buruk baginya. Permanis dengan tas selempang coklat yang selalu menjadi teman jalannya. Tao sangat menyukai dandanan Lyn hari ini lebih feminime dari biasanya. Mengenakan dress pemberiannya yang sengaja ia kirim melalui jasa kurir kebetulan dekat dengan dorm EXO. Tidak sulit memang, meskipun harus meyakinkan hyung-hyungnya agar dia bisa mengirim paket khusus dan pergi keluar seperti saat ini. Bersyukur hyungnya bisa memberi keleluasaan padanya.

“Tao, kau sudah bertemu Dyan?” Tao tersadar dari lamunannya sesaat memandang Lyn dari atas sampai bawah. Entah kenapa hormon dalam tubuhnya bergejolak menatap tubuh Lyn yang tinggi, ramping, dan hmm seksi. Kepala Tao menggeleng kuat memancing perhatian Lyn yang sedaritadi melihatnya menunggu jawaban Tao.

“Kau belum bertemu dengannya?”

“Ah, iya bertemu siapa?” Tao gugup. Dia tahu Lyn menatapnya keheranan. Seakan ada yang salah pada Tao.

“Kau tidak fokus Tao? Ada apa denganmu?” Sekali lagi Tao menggeleng. Ia tidak mau memberitahu apa yang dia pikirkan sekarang. Akan kelihatan konyol nantinya.

“Maksudku kau sudah bertemu Dyan? Kalau belum aku mau kesana pamit dari sini. Tidak enak kalau kita langsung pergi.” Lyn mengambil cup minumannya dan melenggang pergi meninggalkan Tao yang menyusul dari belakang. Dyan hanya tersenyum ditempatnya berdiri melihat sepasang kekasih. Yang menurutnya sangatlah cocok berdampingan satu sama lain. Terselip perasaan iri pada Lyn. Andai saja dia bisa bersebelahan dengan Luhan.”Aduuuh aku memikirkan apa sih !” seru Dyan. Bersamaan dengan Lyn datang mendekati kasir tempatnya berdiri.

“Dyan aku pamit yah? Tao sudah datang. Kau sudah berbincang dengannya?” Lyn menunjuk Tao yang sudah berdiri disamping Lyn dengan wajah sumringah. Bertemu lagi dengan Tao, temannya.

“Sudah, berlangsung lama pula. Ketika kamu melamun. Tao sudah datang sejak tadi. Pasti kau tidak sadar.” Pipi Lyn bersemu merah. Dia tersenyum malu sembunyi-sembunyi.

“Dia selalu memikirkan aku,Dyan,” celetuk Tao melirik Lyn yang sudah merubah mimik wajahnya. Kemudian gadis itu menoleh ke arah Dyan.

“Dyan aku pergi dulu yah. Kuharap kau tidak menganggap serius ucapan Tao. Dia sudah tergila-gila denganku sampai mengakui hal yang tidak mungkin kulakukan,” sindir Lyn. Tao mencelos mendengar perkataan Lyn. Gadis berambut panjang itu langsung meninggalkan tempatnya. Tao menatap heran.

“Dyan, aku pamit dulu yah. Lain kali kita bertemu lagi. Jujur aku masih merindukanmu. Sampai jumpa.” Tao pergi. Tinggal Dyan yang tertawa pelan melihat tontonan gratis dari kedua orang kekasih.

“Dyan, itu temanmu?” Dyan menoleh kebelakang menatap Song Yuan dengan tersenyum.

“Iya, mereka teman baikku.”

“Bukankah itu Tao? Member EXO M kan?” Dyan menarik tangan Song Yuan ke dapur. Berbicara berdua saja, karena arah bicara mereka sudah sensitif takut kalau ada yang mendengar itu bisa berakibat buruk.

“Memang benar itu Tao, dia teman baikku. Dan juga Lyn. Kedua orang yang paling aku sayangi.” Song Yuan tertawa mendengar ucapan polos seorang Dyan, gadis campuran Korea- China.

Song Yuan sangat mengenal gadis rambut panjang bergelombang tesebut. Gadis baik, mudah bergaul, dan selalu tersenyum menampakkan gigi kecil dan putihnya. Song Yuan bersyukur mengenal Dyan. Dia menawarkan diri berbagi tempat tinggal dengan Song Yuan di apartemennya. Mereka tinggal berdua. Song Yuan mengenal Dyan ketika gadis China ini sangat putus asa mencari pekerjaan kesana kemari tapi tak ada lowongan. Dia ke Korea karena menerima tawaran keluarga ibunya yang mau menampungnya semenjak kedua orang tua Song Yuan bercerai. Sedangkan ibunya tidak ikut. Hanya dia dan juga kakak perempuannya, Song Qian. Song Yuan sendiri baru tahu kalau Dyan, gadis itu blasteran Korea-China. Dia beruntung sekali bisa dipertemukan Dyan yang sangat membantunya.

“Jiejie, kau kenapa?” Dyan menepuk bahu Song Yuan lembut. Menyadarkan dirinya dari lamunan manis yang terkenang untuknya.

“Tidak apa-apa. Aku ke dapur dulu,” ujar Song Yuan sembari tersenyum manis kepada Dyan, adik kesayangannya.

•••••

“Tao,sebenarnya kita mau kemana?” Sudah daritadi Lyn menanyakan pertanyaan yang sama. Sejak mereka berdua akan berangkat. Hingga sekarang ada di atas motor yang melaju. Dikendarai Tao berboncengan dengan Lyn memeluk erat pinggang Tao. Laju motor yang Tao kendarai cukup kencang. Maklum saja karena jalanan tidak terlalu banyak kendaraan yang melintas. Pria itu hanya tersenyum misterius dalam hati ia berbisik,’Aku akan beri kejutan yang sangat manis, sayang.’ Sikap diamnya Tao memancing rasa penasaran yang berlebihan dari Lyn. Ingin ia marahi Tao setelah sampai tempat yang dituju. Lyn menghela nafas kasar. Lalu memejamkan mata merasakan anak rambut di sekitar dahinya keluar dimainkan angin sepoi yang berhembus kencang. Rasanya mata Lyn berat, ia mengantuk. Baru semalam tadi ia mengerjakan beberapa deadline yang harus segera ia serahkan kepada manajer. Kelelahan sangat menderanya. Tak lama ia tertidur dalam diam.

“Kita sudah sampai.” Tidak ada jawaban dari Lyn. Teriakan Tao tidak dihiraukan. Kepalanya melongok ke belakang mendapati Lyn tertidur damai dengan pelukan lewat belakang pada punggung tegap Tao dan kepalanya yang bersandar. Tangan Tao meremas dekapan tangan Lyn di pinggangnya. Lalu melepas tautan tangan halus gadis pujaannya. Menautkan kedua tangan Lyn terganti dengan tangan kokoh Tao. Sangat pas dan erat.

Semilir angin kembali menerpa keduanya. Suasana damai yang melanda membuat ketenangan suasana menghangat. Karena keadaan diam dan nyamannya udara sekitar. Sampai menimbulkan gerakan dari Lyn. Gadis itu membuka kelopak matanya perlahan. Disambut pemandangan hamparan pasir luas dan indah. Nyaris memabukkan dirinya kedalam pusaran keindahan birunya sebelum akhirnya Tao turun dari motornya. Memaksa Lyn duduk tegap tanpa sandaran di hadapannya.

“Turunlah,” ucap Tao. Memegang tangan Lyn erat. Beberapa saat Lyn termenung, memikirkan dan mencerna ucapan Tao barusan. Hingga ia turun dari motor dibantu pegangan lembut Tao.

Pria bernama lengkap Huang Zi Tao itu membawa Lyn menuju garis pantai. Butir-butir pasir menyapa halus kaki telanjang Lyn. Menggelitik kulit kaki Lyn setiap injakan yang dibuat gadis tersebut. Sama halnya dengan Tao, dia membuka sepatu kets miliknya membawa dengan satu tangannya yang bebas. Menuntun Lyn sampai ke bibir pantai. Air hangat menyengat kulit. Menimbulkan sensasi segar dan nyaman. Lyn melempar sandal miliknya tidak jauh dari tempatnya berdiri. Melihat hal itu, Tao mengikuti perilaku Lyn tadi melempar sepatunya tepat disamping sandal Lyn.

Air beriak yang ditimbulkan dari gerakan Lyn menyibakkan air asin menjadi ombak kecil buatan. Tao tertawa renyah. Dia melihat dekik kecil muncul dari pipi kanan Lyn. Satu hal yang paling ia sukai dari kekasihnya. Tao tidak tahan untuk segera mencium pipi Lyn. Atas dorongan keinginan yang amat sangat dari dirinya. Tao langsung mencium lembut pipi kanan Lyn diatas dekik kecil itu berada. Sontak Lyn kaget mendapati pipinya tersentuh oleh sesuatu yang lembut dan menggelitik perutnya. Setelah Tao melepas ciumannya, Lyn sedikit menjauh memandang wajah Tao yang sangat dekat berada di depan wajahnya.

“Kau menyukainya?” bisik Tao. Menggugah rasa dalam tubuh Lyn.  Pikirannnya kacau. Tidak tahu menjawab apa. Tao bergerak menjauh. Lyn cemberut kesal pada sikap Tao yang mendadak tadi. Tapi tak ayal hatinya berbunga dan berbisik mengucapkan ‘Tao, i love you so much’ berkali-kali.

“Suka apa?” oh, tidak hanya itu yang Lyn ucapkan? Dua kata yang tidak perlu dijawab dan pasti dia akan suka semua hal yang diberikan Tao hari ini.

“Suka sama semuaaaaa kejutanku hari ini.” Lyn berdiri tegap setelah tadi membungkuk membuat riak air laut. Tiba-tiba Lyn menarik leher Tao. Dirangkul dengan kedua tangan rampingnya. Lyn mencium sekilas bibir Tao. Bersentuhan langsung dengan bibir tipis Tao yang memabukkan dan mengharap lebih. Ingin diciumnya lagi tapi tidak di tempat ini. Bisa-bisa ada orang yang melihat jika Lyn tidak segera melepas tautan bibirnya dari Tao. Kemudian Lyn berpikir untuk berlari menjauhi Tao yang kali ini kaget mendapat kejutan dari Lyn.  Lyn berlari kecil sepanjang bibir pantai. Tao mengejarnya. Hingga tangan Tao berhasil menggapai pinggang ramping Lyn. Merengkuhnya kedalam pelukan dari belakang.

“Tertangkap kau. Mau lari kemana?” Lyn sedikit berontak. Tapi apa daya, dia tidak kuat melepas dekapan Tao yang kuat dan terkesan protektif.

“Tao, lepas nanti kita jatuh,” ucap Lyn khawatir.

“Tidak akan. Kau mau kemana memangnya sayang?” Tao menurunkan Lyn. Kaki Lyn menyentuh butiran pasir halus nan lembut. Dengan cepat Tao membalikkan badan Lyn. Mata sayunya memandang dalam wajah Lyn yang bersemu merah akibat tatapan tajam dibuatnya. Hingga akhirnya Tao mencium dahi Lyn perlahan. Tanpa ada hasrat atau nafsu sedikitpun. Hanya rasa sayang yang menguasai ciuman Tao kepada Lyn. Bertepatan dengan tenggelamnya matahari sore. Melukiskan langit  jingga kemerahan yang makin lama semakin berubah warna pekat. Tao melepasnya, kembali memandang wajah berseri milik Lyn seorang.

“Kamu masih malu saat aku memandangmu?” Tao mengulurkan tangannya mengusap kedua pipi Lyn halus dan kenyal. Hanya semburat merah menjadi jawabannya. Tao kembali tertawa pelan.

“Kamu sungguh menggemaskan,” seru Tao mencubit gemas pipi temban Lyn.

“Appo…”

“Kamu sangat lucu, sayang. Sampai ingin menciummu lagi.”

“Jangan menciumku. Disini tempat umum, Tao.” Pria didepan Lyn memegang pundaknya dan meremas lembut.

“Kenapa tidak boleh? Aku mau dan kau harus menurutinya.” Lyn berdecak kesal.

“Aish, mesum sekali kau.” Tanpa sadar, Lyn menyentil dahi lebar Tao. Tepat di atas dahi yang tidak tertutup poni. Memaksimalkan sakit akibat sentilan dari jari lentik Lyn.

Tao meringis. “Kau tega sekali denganku.” Dielus-elus dahinya sendiri. Lyn menjulurkan lidahnya meledek Tao.

Tiba-tiba, Tao memeluk Lyn kedalam jangkauannya sedalam mungkin. Seluruh kupu-kupu bertebaran di perut Lyn. Tao mengusap lembut punggung Lyn.

“Lyn Wu, terima kasih selalu mencintaiku, menyayangiku, mendukungku, dan mendoakanku. Maaf jika aku jarang menemuimu karena kesibukanku yang amat sangat menyita waktu kita berdua. Aku tahu pasti kamu iri pada pasangan lain kan. Tapi aku juga yakin kamu pasti bisa kuat dan bersabar menghadapinya.” Hati Lyn mencelos mendengar setiap bait kata yang terucap dari Tao. Satu kata per kata keluar menggambarkan isi hati Tao. Lyn tahu Tao sebenarnya. Pria kelihatan kuat dan memiliki wajah manly tapi tidak seorangpun tahu dia pria yang sensitife dan juga lembut kalau tidak mengenalnya lebih jauh. Namun ada hal yang terganjal dari Lyn. Tao tahu nama aslinya.

“Mr. Huang, tahu darimana nama…” wajah Lyn menatap dari dekat wajah tampan Tao.

“Lyn Wu, kan? Jelas aku tahu, sayang. Kau sebenarnya sepupu Kris gege, bukan?” Lyn menggigit bibir bawahnya menanti perkataan Tao. Tao tidak suka kebohongan. Dia tidak berniat memberitahu karena tidak terlalu penting juga.

“Kamu jangan takut Lyn. Aku tidak akan marah. Buktinya sekarang aku mengajakmu berkencan bukan?” ujar Tao bermaksud bercanda mencoba mencairkan suasana mulai kaku.

“Tapi darimana kau tahu?”

“Kris gege yang bilang sendiri padaku. Katanya dia mengenalmu walaupun seingatnya sudah lama tidak pernah bertemu setelah 12 tahun berlalu. Benarkan?” Lyn mengangguk agak ragu karena kebenaran yang ada. Kris masih mengingatnya meskipun lebih dari satu dekade tidak bertemu. Mustahil jika seseorang bisa mengingat sesuatu atau seseorang dalam waktu sepuluh tahun lebih. Tidak dipungkiri jika Lyn dan Kris lumayan dekat sejak kecil. Karena Ibunda Kris sendiri sangat dekat dengan keluarganya. Dan selalu berkunjung ke rumah Lyn membawa serta Kris. Lama-lama Lyn menjadi rindu sepupu tersayangnya.

“Lyn, apa kau ingin bertemu dengan Kris gege? Kalian sudah lama tidak bertemu. Aku kagum pada Kris gege masih mengingat keluarganya sendiri padahal kalian tidak pernah bertemu lagi. Kamu pasti orang yang sangat dia sayangi mungkin melebihi aku.” Lyn menghapus titik air matanya sudah dua kali hampir keluar untuk hari ini.

“Kamu jangan bilang begitu. Aku tahu kau menyayangiku.” Lyn menggerakkan tangannya memeluk pinggang Tao lebih dekat dengan tubuhnya. Gadis dalam dekapan Tao menangis dalam diam. Tao tersenyum lembut sambil mengusap rambut panjang Lyn yang terurai. “Soal Kris, aku sangat ingin menemuinya,Tao sangat.”

“Okay, jika kau ingin kita bisa bertemu dengannya sekarang. Aku ajak kamu ke dorm, sayang. Kris gege pasti sangat merindukanmu.” Lyn tertawa kaku. Ia tidak akan bertemu dengan Kris. Tidak secepat itu, ia butuh persiapan.

“Aku merasa kau sudah menyiapkan ini sebelumnya, Tao.” Tepat sekali, pria dalam dekapannya mengangguk semangat menyambut pertanyaan Lyn.

“Oh, Tao aku belum siap. Kris pasti juga belum siap. Apa dia tidak sibuk?”

“Tidak, kami sedang waktu istirahat. Makanya aku mengajakmu keluar sekarang.” Tao melepas pelukannya. Setelah itu menautkan tangannya pada Lyn. Gadis itu hanya menurut. Lalu ikut berjalan bersama Tao.

“Tao,” panggil Lyn memecahkan keheningan beberapa saat lalu sepanjang mereka berjalan. Tao menyahut beralih ke arah Lyn semenjak tadi memandang lurus ke depan merasakan waktu berdua bersama kekasihnya.

“A…terima kasih untuk hari ini. Aku sangat senang.” ucapnya hampir berbisik. Tao melihat itu tersenyum lebar. Lyn merasakan beban dibahunya. Tangan Tao yang mendekap -lagi dirinya.

“Aku lebih senang karena kau merasa senang hari ini. Kau tahu aku selalu suka berjalan di tepi pantai sendirian. Rasanya damai dan nyaman. Mendengar bunyi ombak yang berkejaran itu menyenangkan bagiku.”

“Aku tahu itu,Tao. Banyak yang bilang begitu terutama fansmu.”

“Benarkah? Tapi aku merasa lebih senang lagi jika berjalan di tepi pantai bersamamu. Tidak ada salahnya jalan berdampingan dengan seseorang. Apalagi seseorang itu orang yang paling kau sayangi.” Tao mencium pipi Lyn lagi. Dia yakin tidak akan pernah puas mencium Lyn lebih dari apapun. Aroma vanila yang menguar lembut menusuk indera penciumannya sangat jelas terasa. Tidak rela harus menjauhinya. Lyn cuman bisa tertawa geli merasakan ciuman Tao di pipinya berlangsung lama. Sambil mendorong pelan dada bidang Tao darinya.

“Tao, hentikan,” berusaha menjauhi Tao. Tapi tidak berhasil. Malah Tao semakin gencar mencium pipinya gemas.

Beberapa saat kemudian Tao melepas sentuhannya dengan perasaan tidak rela. “Kau sangat manis, sayang. Aku tidak bisa berhenti menciummu,” goda Tao. Mendengar itu Lyn lagi-lagi hanya bisa tertawa. Pria yang sampai sekarang masih setia bersamanya. Yang akan terus membutuhkan cinta, kasih, dan sayang darinya. Begitu sebaliknya. Tao sangat menyayangi Lyn, juga Lyn sangat menyayangi Tao.

Udara sore ini mengantarkan mereka kedalam lembutnya lembayung senja diiringi tawa bahagia dari kedua pasangan tersebut.

Iklan

3 tanggapan untuk “Walking at Seaside

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s