I Miss You


Title : I Miss You

Author : @ferrinamd

Genre : Drama

Rating : Adult

Length : Ficlet

Main Cast : Zhang Yi Xing (Lay EXO-M)

Lay masih bergerak, ia masih saja menari. Meski, malam sudah larut.Dia tetap saja berkeras latihan. Sedari tadi Kai sudah mengajaknya untuk berhenti dan lebih baik istirahat di dorm. Lay memang pria kolot. Dia tetap berkeras. Ada satu sosok yang akhir-akhir ini menganggunya. Wanita, orang terkasih. Lay dengannya sedikit ada kesalahpahaman dengan hal ini. Song Yuan menolak bertemu dengannya. Beralasan kalau nanti Lay bertemu itu akan menganggu kegiatan Lay. Dia akan comeback. Banyak persiapan yang harus Lay lakukan dengan member lainnya. Recording, latihan dance, dan berbagai macam persiapan lain. Song Yuan tahu Lay harus berkonsentrasi penuh. Tapi pria seperti Lay butuh kerinduan yang harus terpenuhi bersama orang tersayang.

Belum lama ia berpulang ke kampung halaman selama seminggu ini. Setelah kembali dari Changsa, Lay berencana menemui Song Yuan. Sayangnya, anak itu tidak ingin menemuinya. Alasan itu lagi yang dia pakai, takut Lay terganggu kegiatannya yang padat. Terlebih lagi Song Yuan juga kuliah dan bekerja paruh waktu berposisi sebagai karyawan di sebuah caffe. Tak hayal membuat mereka juga jarang bertemu. Sekalinya bertemu itu pun tidak mudah. Hal seperti ini membuat Lay suntuk dan ia jenuh. Ia ingin sekali bertemu Song Yuan-nya.

“Lay, kumohon berhentilah. Kau tidak menyayangi tubuhmu yang sudah lelah?” Luhan akhirnya masuk menggantikan Kai untuk membujuknya. Kai pun lelah memberitahu kakak tersayangnya ini untuk istirahat barang sebentar. Lay berhenti menari. Kalau sudah Luhan yang datang. Terpaksa ia berhenti. Andai ia terus lanjutkan, malahan Lay yang bertambah pusing dengan mulut cerewetnya Luhan jika sudah khawatir dengan member yang lain, termasuk dirinya. Lay duduk di kursi terdekat dengan meja. Diatasnya tergeletak minuman milik Lay. Langsung diminumnya hingga tetes terakhir.

“Aku lebih menyayangi waktu yang terbuang kalau kita berleha-leha.”

“Kau menyindir Lay. Ada apa denganmu? Ceritakan.”

“Aku belum bisa bercerita, gege. Ini terasa berat jika aku cerita sekarang,” keluh Lay. Luhan menghela nafas kasar. Ditatap kedua pasang mata teman satu kamarnya.

“Baik, kalau kamu memang tidak ingin bercerita sekarang. Lain kali kau bisa ceritakan masalahmu.” Lay tersenyum tipis. Memunculkan dekik kecil di pipi kanannya.

“Xiexie, gege,” sahut Lay menepuk bahu Luhan yang bersandar diatas meja.

“Tapi aku harap kau sekarang juga istirahat, Lay. Aku tahu kamu lelah.” Luhan memohon. Lay tahu tabiat Luhan. Dia ingin Lay segera beristirahat. ‘Lay kali ini kau memang harus jadi anak penurut kali ini’ batin Lay.

“Ya, ya aku mengerti. Aku memang harus istirahat,” ujar Lay. Bangkit dari duduknya, dibantu Luhan. Badan Lay agak terhuyung akibat kelelahan yang mendera berlebihan. Membuat dirinya agak sempoyongan untuk sekedar berdiri, apalagi dipaksa berjalan. Luhan memapah tubuh lelah Lay. Diletakkannya tangan kanan Lay dibahu Luhan. Tangan lainnya memegang erat pinggang Lay membantunya. Mereka akhirnya kembali ke dorm. Lay benar-benar butuh istirahat cukup.

•••••

Pagi menjelang. Matahari muncul, sinarnya nampak menyusup sela-sela gorden jendela kamar. Lay mulai terusik dengan bias kekuningan makin lama, makin membesar. Matany sedikit terbuka, tertutup lagi belum terbiasa dengan cahaya yang langsung menusuk retina matanya. Lay terbangun. Badannya tidak lagi nyeri seperti semalam.

“Sepertinya sudah siang,” suara serak keluar dari bibirnya. Dilirik jam dinding tergantung.

“Jam 9?” pekik Lay setelah tahu jam sekarang.

“Kenapa Luhan gege tidak memberitahuku?” Lay segera bangun. Ia membersihkan diri dahulu. Selesainya, ia bergegas ke dapur.

“Sepi,” ucap Lay. Setelah memastikan dalam dorm habya dia saja. Berjalan kedapur, menemukan semangkuk bubur hangat dan segelas susu terletak diatas meja. Pada sisi kanan ada secarik kertas. Ada kata-kata yang tertulia dalam kertas putih tersebut.

Makanlah bubur selagi hangat. Dan habiskan segera susumu. Maaf kami tidak membangunkanmu. Supaya kau punya istirahat cukup karena latihanmu kemarin.

Nb : jangan paksakan diri kalau masih lelah.

Lay yakin ini tulis tangan Kris. Leader itu diam-diam memperhatikannya. Lay sedikit terharu. Dia hanya terkekeh membayangi pria menjulang tinggi tersebut menulis surat semanis mungkin.  Kelihatan itu bukan kris batin Lay geli.

Akhirnya dimakan masakan -yang entah siapa yang membuat- bubur seenak ini.Lantas meminum susunya. Segera ia berkemas untuk kegedung latihan. Sebelumnya ia mengunjungi kedai coffe yang tidak jauh dari temparnya dan yang lain berlatih. Sengaja ia berkunjung. Selain bermaksud membeli minuman kafein itu demi menghangatkan tubuh di cuaca yang agak dingin, tapi dia juga sengaja menengok keadaan Song Yuan. Dua -tiga kali gyung bersambut, tepat Lay datang dan perempuan yang Lay harapkan muncul dengan siap melayani pesanan Lay.

Song Yuan kaget, tak menyangka akan bertemu dengan pria tercinta pada situasi seperti ini. Hanya kebetulan -pikir Song.

“Selamat datang, ada yang ingin anda pesan?” tawar Song begitu Lay berjalan mendekati kasir. Beruntung tidak banyak orang yang ada disekitar kedai. Dyan sendiri sedang menunggu gilirannya nanti sore. Anak itu entah kemana setelah tadi datang kemari.

“Jangan bersikap sopan seperti itu. Seolah kamu tidak mengenalku, Song,” ucap Lay lembut. Bibir tipis Lay melengkung ke atas membentuk senyuman khas menampakkan dekik kecilnya. Membuat pipi Song merona mendapati Lay hanya tersenyum untuk dirinya.

“Lay, kumohon tidak berbicara disini. Bisa temui aku ditempat lain. Kau mau pesan apa?” Song memohon. Lay mengangguk.

“Seperti biasa, kamu pasti tahu pesanan ku,” Song bernafas lega. Lay bisa mengerti keadaan dan situasi sekarang. Lebih baik begini daripada mereka semakin banyak mengobrol, semakin ada yang mencurigai mereka berdua. Apalagi jika ada fans Lay yang mengikutinya. Bisa lebih berat perkara yang ada.

Beberapa saat kemudian, Song memberikan minuman pesanan Lay. Pria itu menerima dengan santai. Kemudian memberikan uang pada Song.  “Song, aku tunggu kau setelah sift kerjamu selesai,” ujar Lay. Kembali tersenyum dan berlalu. Song melihat gerak-gerik Lay yang ternyata dia bukan pergi menjauhi kedai ini. Melainkan duduk di salah satu kursi milik Kedai tempat Song bekerja. Dirinya mulai dilanda panik, namun segera ia mengusir rasa itu. Kembali bekerja hingga siang menghampiri sore. Lay yang sebelumnya pergi keluar dan kembali lagi. Bersamaan selesainya Song.

“Dyan, aku pergi duluan. Kau tak apa sendiri?” Dyan rekan kerja sekaligus sahabat terdekatnya menggeleng.
“Aku tahu kamu pasti mau menemui Lay kan? Pria itu sudah menunggu. Cepat pergi temui dia,” ada raut kebingungan tampak pada wajah Song  selang beberapa saat. Sampai Dyan mendorong tubuhnya pelan.

“Aku tahu sendiri. Kamu tak usah khawatir. Sana pergi.” Dyan mengusir halus Song dengan nada bercanda. Song terkekeh dan tersenyum hangat.

“Thank you, aku pergi.” Dyan melambaikan tangannya begitu Song pergi menjauhi kedai. Giliran dia yang bekerja sekarang.

•••••

“Menunggu lama?” Song   menghampiri pria yang sejak tadi menunggunya. Lay sekarang ini hanya ingin berdua dengan Song. Kerinduannya kian membuncah semenjak tadi melihat Song yang bekerja. Ya, diam-diam Lay menunggu Song. Dari awalnya duduk dikedai, keluar untuk ke tempat latihan sekedar menelisik latihan apa saja grup-nya hari ini. Nyatanya hanya latihan biasa. Tidak seperti biasanya, apa karena memang ini disengaja agar Lay bisa sedikit lega disela-sela kesibukan mereka. Tapi sudahlah mungkin hanya kebetulan belaka. Untung saja Lay memanfaatkan untuk bertemu kekasihnya saat ini. Setelah meminta izin dan meminjam motor manager hyung-nya.  Pria itu menggeleng pelan.

“Pakai ini.” Lay memakaikan helm di kepala Song. Song lagi-lagi tersenyum. Ia berharap Lay tidak marah karena keterlambatannya tadi di tempat kerja. Sebab hari ini lumayan banyak orang berkunjung membeli minuman dikedai. Sampai akhirnya ia terlambat, meskipun tidak mengulur waktu banyak.

“Kita kemana?” tanya Song. Begitu Lay menstarter motor. Bergerak perlahan memasuki jalan yang ramai kendaraan.

“Kita ke apartemenmu. Bagaimana?” Song termenung. Dia kira Lay akan mengajaknya ke suatu tempat. Sampai ia tersadar tidak mungkin mendadak Lay mengajaknya ke suatu tempat. Apalagi mereka baru saja bertemu secara tidak sengaja.

“Baiklah, aku ikut saja,” jawab Song datar. Tidak tahu jawaban yang pas untuk diutarakan.

“Kau marah?” Lay sadar rasanya Spng sedikit kecewa. Mau bagaimanapun pasti Song menginginkan pergi ke suatu tempat. Tetap saja ini pertemuan dadakan. Bertemu dengan Song saja membuatnya lega.

“Tidak, kamu tenang saja. Aku marah karena apa coba.” Lay terkekeh. Jawaban polos Song terkadang membuatnya tertawa geli. Itu salah satu yang Lay sukai. Jawaban jujur dan polos.

“Baik, kusarankan kamu berpegangan dipinggang. Karena aku tak sabar untuk sampai ke tempat tujuan kita.” Lay mempercepat kendaran bermotornya.

Hingga mereka kini sampai didepan  apartemen Song dan Dyan. Mereka berdua tinggal bersama. Selagi Song memencet password pintu apartemen. Lay memeluk pinggang Song dari belakang. Song sedikit terkejut, kemudian Lay menaruh kepalanya di bahu Song. Nafas Lay sangat terasa di leher gadis berambut pendek tersebut.

“Lay,” seru Song. Menoleh ke arah Lay yang begitu dekat dengannya. Bulu kuduk Song meremang merasakan deru nafas Lay semakin terasa. Mata pria didekatnya terpejam. Begitu nyaman dengan pelukan yang dia lakukan terhadap Song.

“Biarkan seperti ini. Aku rindu padamu,” Pintu terbuka.

“Lay, lebih baik kita masuk ke dalam. Itu akan nyaman daripada didepan pintu.” Song menepuk tangan Lay yang masih memeluk erat. Lay segera menarik diri dari Song.

“Baiklah, kita masuk.” Mereka memasuki ruang tamu yang terkesan rapi dan bersih. Kelihatan sekali penghuni apartemen disini menjaga kebersihan tempat tinggalnya.
Song menutup pintu. Ia melangkah ke dapur.

“Kamu mau minum apa Lay?” Tidak ada jawaban. Song berbalik dan mendapati Lay berjalan mendekatinya yang masih berdiri terpaku. Tatapan Lay begitu tajam menatapnya. Sarat kerinduan dalam mata teduh milik Lay. Song tidak kuat memandangnya lebih lama. Ia tertunduk dalam. Lay semakin dekat, Song memejamkan mata. Tidak membayangkan tangan Lay yang kini menyentuh pipi Song lembut.
“Aku merindukanmu Song. Sangat,” ujar Lay hampir seperti orang berbisik. Song membuka kedua kelopak matanya. Akhirnya berani memandang mata Lay.

“Aku juga Lay. I miss you so much,” kata Song melembut. Menatap Lay sudah meneteskan air matanya. Menunjukan betapa membuncahnya gejolak kerinduan yang dirasakan Lay pada Song. Lay menangkupan kedua tangannya di pipi Song. Tiba-tiba Lay menyentuhkan bibir tebalnya kepada bibir ranum Song yang begitu manis dan memabukkan bagi Lay. Ciuman berawal dari sekedar ciuman biasa menyalurkan kasih sayang semakin  menggila. Lay terus mencium Song hingga gadis itu hampir kehabisan nafas kalau saja Song tidak menepuk dada Lay. Pria berkulit putih itu memang melepas ciumannya. Membiarkan Song sedikit bernafas. Tapi tidak dengan Lay terlanjur mencium leher sang gadis. Song yakin nanti akan menimbulkan bercak kemerahan jika diteruskan.

“Lay kumohon berhentilah,” mohon Song. Tapi Lay masih melakukannya. Bagaikan tamparan keras menghantam Lay. Membuat dirinya kembali menarik diri dari perbuatannya sendiri. Lay menatap nanar Song yang kelihatan begitu berantakan karenanya. Wajah wanita itu hampir menangis. Tubuh Lay membelakangi Song. Lay menarik nafas dalam-dalam menghilangkan klise kejadian yang tadi terjadi. Jika saja Lay tidak dapat mengendalikan nafsu liarnya, hal gila bisa terjadi. Ia tidak ingin menyentuh Song sebelum mereka berdua menikah. Beruntung akal sehat Lay masih berfungsi. Dia langsung teringat apa yang terjadi barusan. Ternyata rindu yang menggila bisa membuatnya benar-benar gila -batin Lay tersenyum miris.

“Lay kau tidak apa-apa?” Lay mendengus kesal. Kenapa jadi Song yang menanyakan hal itu? Padahal Lay yang sudah membuat Song hampir terjamah oleh dirinya sendiri.

“Seharusnya aku yang menanyakan itu, Song. Maafkan aku. Aku lepas kendali,” Tanpa bisa terkontrol, air mata Lay jatuh perlahan membasahi kedua pipi tirusnya. Seharusnya ia tidak seperti ini. Song memeluk pinggang Lay dari belakang.

“Jangan menangis. Kumohon,” lirih Song. Dia tidak ingin Lay merasa terpojok karena kejadian tadi. Hal itu wajar. Mana ada pria yang bisa menahan rindu yang teramat sangat pada kekasihnya sendiri. Pertemuan dadakan yang terjadi, tapi Lay tahu dia pasti bertemu dengan Song di kedai. Dan itu sudah menjadi dugaan yang benar baginya. Hanya saja ketika mereka hanya berdua. Entah kenapa hormon pria didalam tubuh Lay bergejolak. Bingung antar kerinduan atau nafsu semata. Mungkin antara keduanya.

Lay menggenggam tangan Song yang melingkari pinggangnya. Perempuan ini masih saja bersikap biasa setelah apa yang terjadi pada dirinya.

“Kau tidak takut padaku? Kenapa kau bersikap seperti ini?”

“Lalu aku harus seperti apa? Menjauhimu? Tidak Lay aku tahu kita berdua sama-sama merindu. Jangan terlalu jauh kau menyiksa dirimu.” Song masih memeluk Lay dari belakang. Menikmati tubuh hangat pria dalam dekapannya, dan detak jantung Lay terdengar jelas di telinga Song.

“Maafkan aku,” Lay melepas pelukan Song. Berbalik menghadap sosok ramping dihadapannya. Menyentuhkan tangannya pada wajah cantik Song. Tuhan memang adil. Menciptakan Song hanya untuknya. Yah, untuknya. Saling belajar melengkapi satu sama lain. Begitu banyak rintangan yang mereka lalui dalam menjalani hubungan ini. Tetap hati mereka berdua tidak berubah sedikitpun. Song mengangguk sembari tersenyum tulus. Dia tahu Lay sangat menyayangi untuk apalagi ia meragukan cinta Lay. Tidak ada yang perlu diragukan.

“Aku mencintaimu Lay, sungguh,” bisik Song menyuarakan isi hatinya yang terdalam.

“Aku tahu. Terus lah berada disampingku.” Lay mencium dahi Song lembut. Menghantarkan cinta dan rindu dalam sentuhan berarti.

“Pasti, Lay. Kau tidak perlu meragukannya. ” Song memperkecil jarak diantara mereka berdua. Lay memeluknya erat tubuh kecil Song Yuan.

“Aku merindukanmu.”

THE END

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s