Saranghae, Kim Jong Dae


Title : Saranghae, Kim Jong Dae

Author : @ferrinamd 

Genre : Fluff, Romance

Rating : General

Length : One Shot

Main Cast : Kim Jong Dae (Chen EXO-M)

BIxq-erCcAA-d1V

“Halo, Hyunmi. Kau bisa datang ke toko kaset seperti biasa dekat dorm nanti sore?”

“Buat apa, oppa?”

“Aku mau bertemu denganmu disana, okay? Ingat jam 4 sore kau sudah ada disana, bye.”

Aku meletakkan ponsel ku lagi di atas meja seperti semula. Baru saja aku kembali dari kampus. Niat ingin beristirahat tertunda karena Chen mengajakku pergi. Tidak biasanya dia tiba-tiba bertemu denganku. Bukankah dia sibuk dengan comeback-nya beberapa hari lagi. Entahlah, aku menolak pun tidak enak. Aku juga ingin bertemu dengannya. Kenapa di toko kaset? Karena ia rasa tempat yang aman buat bertemu, walaupun tidak biasa. Tapi sungguh bagi dirinya tempat itu benar-benar berkesan baginya. Aku lupa, ditambah coffe tempat aku dan Chen mampir jika ada waktu luang. Sudah hampir sebulan tidak bertemu dengan. Terakhir kali itu juga tidak sengaja dia melihatku di dalam caffe H&G dekat dormnya. Bersama dengan Kai waktu itu. Dan awalnya Chen yang memanggilku. Kami hanya mengobrol biasa. Tidak ada kesan khusus dari pertemuan kami. Dan Kai bertanya pada Chen siapa aku sebenarnya.

“Hyung dia siapa? Kau mengenalnya?”

“Dia Hyunmi yang suka aku ceritakan padamu, Kai.”

“Oh, jadi ini Hyunmi noona. A__Annyeong haseyo, Hyunmi noona. Aku Jongin. Noona, kau cantik sekali. Pantas Jongdae hyung menyukaimu.”

Perkataan Kai yang terakhir itu membuat aku tersanjung. Ternyata diam-diam dibelakangku dia hobi membicarakan diriku pada member lain. Begitulah kesan pertama Kai begitu melihatku. Dia polos, tapi pria yang lebih muda dariku ini juga kelihatan dewasa. Dilihat-lihat pria tinggi terlihat tampan. Aku jadi menyukainya.

Mulai lagi ! khayalan tinggi ku keluar dalam sekejap. Kugelengkan kepala berusaha mengaburkan khayalan nakalku pada pria lain. Bisa-bisa Chen tergantikan dengan Kai. Aku tidak mau. Kim Jong Dae tetap dihatiku.

“Sebaiknya aku tidur sebentar. Sebelum bertemu dengan pujaan hati~” Ucapku asal. Kubaringkan tubuhku ke kasur empuk. Memiringkan diriku ke samping. Berpas-an dengan mataku menatap bingkai fotoku dengan Chen terbaru. Ketika dia ulang tahun september lalu. Chen yang merangkulku dan mencium pipi tanpa kusadari. Kontras dengan ekspresi kagetku bukan kepalang. Mengenang hal itu membuatku menangis. Aku bisa berpacaran dengan Chen. Pertemuan kami pun biasa tidak ada kata spesial didalamnya.

FLASHBACK

Toko musik disini sudah mulai sepi. Wajar saja hari sudah semakin malam. Dan aku baru pulang kuliah langsung meluncur kemari. Tidak sengaja, hanya pikiran selintas untuk kedatangan ke toko musik ini. Tanpa ada niat awalnya. Aku masuk kedalam toko. Hanya ada satu-tiga orang pengunjung yang ada disini. Pandanganku tertarik pada tempat headphone tergantung di sudut ruangan. Tempat dimana seseorang bisa mencoba mendengar lagu terbaru. Aku melangkah kesana.

Sampai disana tanganku sudah terulur menyentuh headphone tersebut. Tapi ada tangan lain juga memegang headphone di sisi lain benda berwarna hitam tersebut. Kulirik orang itu. Wajahnya tidak terlihat. Hanya memakai masker saja, namun matanya jelas kelihatan. Kedua mata tajam menyipit ke arahku. Seolah berbicara ‘Aku duluan’. Kupandangi dari atas sampai bawah. Memakai jaket dan celana jeans hitam. Dia namja.

” Maaf agasshi, aku duluan yang akan memakainya.” katanya. Suaranya sukses membuatku sedikit merinding. Bukan, tapi bergetar. Kenapa aku ini?

“Tapi aku sudah melihat benda ini. Jadi aku duluan yang memakai.”

“Jawaban apa itu? Kalau cuma melihat orang semua juga melihatnya. Tapi sayangnya aku yang memegang ini duluan.” kata-katanya begitu egois.

Pria macam apa dia. Tidak mau mengalah sama wanita. Dia tiba-tiba mengambil Headphone yang sudah aku pegang. Tanpa melirik(lagi) kepadaku. Dipakai headphone ke telinganya. Dasar pria egois.

“Cih, bisa-bisanya dia merebut seenak jidat.” cibirku pergi menjauh.

“Apa kau bilang?” Aku melihatnya menoleh kepadaku. Menatap tajam ke arahku. Aku mendelik tanpa menjawab pertanyaannya. Kepalaku menggeleng kepadanya. Langsung berjalan menjauh dari pria asing tersebut.

Jadilah aku melihat-lihat dvd-dvd yang ada di rak tak jauh dari pria itu. Bagaimanapun aku masih ingin memakai benda itu. Mendengarkan lagu Journey yang judul ‘Open Arms’. Sebenarnya itu lagu lama tapi aku selalu kesini dan mendengarkan lagu lama masih ada. Itu lagu terkenal dan tidak pernah bosan aku mendengarkannya. Tenggelam dalan aktifitas baruku melihat dvd-dvd membuatku sedikit mengantuk. Mungkin aku harus segera pulang dari sini. Sedetik setelah aku berniat pulang. Tak berapa lama terdengar suara orang bernyanyi dekatku. Menoleh ke kanan dan kiri di ruangan ini tapi tidak ada yang menyanyi sampai aku menyadari pria tadi.

Dia yang menyanyi lagu berbahasa inggris tidak tahu siapa penyanyinya. Yang jelas aku merasa nyaman mendengarnya bernyanyi. Suara yang keluar dari bibirnya memang sukses membuatku bergetar. Berbicara saja sudah membuat jantung berdetak tidak beraturan, apalagi dia bernyanyi sekarang. Bolehlah aku memuji suara emasnya.

Masih kunikmati suaranya yang melantunkan bait lagu. Hingga dia berhenti bernyanyi. Aku melihatnya meletakkan headphone itu. Ia sudah selesai. Dia menoleh ke arahku dan memandangku intens. Lalu pergi.

Tunggu, apa itu? Dia melihat kearahku. Tatapannya itu, membuat aku (lagi) merinding. Aku tidak menyadarinya, tapi apa maksudnya melihatku teduh seperti itu. Akhirnya dia meninggalkan tempatnya. Aku masih melihatnya hingga keluar toko kaset dengan satu orang pria. Mungkin itu temannya. Aku mengangkat bahu tidak mau tahu urusan orang yang baru kutemui. Langkah kakiku tergerak ke tempat yang baru saja ditinggali orang asing tadi. Kusentuh layar monitor mencari lagu itu. Tunggu ! Layar pemutar ini sudah termainkan lagu yang mau aku putar. Kutolehkan kepalaku ke pintu musik toko. Kembali pandangan ku tertuju pada layar ini. Ah, aku baru sadar lagu yang dinyanyikan pria itu sama seperti lagu yang aku pilih sekarang. Jangan-jangan pria asing tadi…

FLASHBACK END

Aku pejamkan mata mengingat pertemuan kami yang biasa tapi tidak terduga sebelumnya. Kutelentangkan tubuhku menghadap plafon kamar putihku. Kembali terawanganku mengingat kenangan manisku bersamanya.

FLASHBACK

Hari ini aku sengaja memesan coffe di kedai. Selesainya aku berniat duduk dibangku caffe. Tapi sayang tidak ada tempat kosong yang tersedia untukku. Melengos? Pastinya. Apalagi kalau tidak mendapatkan kursi. Kakiku malah melangkah keluar caffe.

“Hey, kamu, yang ada didekat pintu.” Aku berhenti berjalan mendengar teriakan yang sedikit menganggu. Kucari suara asing tersebut. Hingga pandanganku mengarah pada laki-laki kemarin. Ada apa dia memanggilku. Pandangan kami bertemu hingga dia melambaikan tangannya padaku untuk mendekatinya. “Kau kemari.”
Eh? Ada apa dia menyuruhku? Dengan mudahnya aku menuruti permintaannya.

“Kamu pasti tidak dapat tempat duduk. Kalau begitu duduklah disini temani aku.”

“Oh, ne.” aku langsung duduk tepat berada dihadapannya. Diapun kembali duduk setelah mempersilakanku.

“Kamu yang kemarinkan?” Pria asing itu tiba-tiba menanyakan kejadian kemarin. Aku saja sudah hampir melupakannnya. Hanya anggukan kepala yang ia dapat dariku.

“Maaf kemarin aku merebut headphone. Aku cuma tidak sabar mau mendengar lagu favoriteku. Kebetulan aku ke toko musik itu dan sengaja datang juga untuk mendengarkan lagu.”

“Journey- Open arms?” tebakku setelah mendapat gambaran lagu yang dia maksud. Matanya melebar mendengar ucapanku.

“Kau tahu? Bagaiman…”

“Aku mendengarmu bersenandung. Makanya aku tahu. Ohya suaramu lumayan bagus. Kebetulan aku juga lumayan menyukai lagu itu.” ucapku asal sambil menyesap coffe ditanganku. Dia hanya mengangguk.

“Terima kasih. Kau menyukai lagu itu juga? Padahal itu lagu sudah lama.”

“Iya aku menyukainya. Lagu lama bukan berarti tidak ada yang menyukai nya.” ucapku asal.

“Namamu siapa?” pria itu tiba-tiba menanyakan namaku. Untuk apa coba? Baru saja kita mengobrol pertama kalinya. Sudah seenaknya menanyakan nama orang lain. Tapi berhubung dia sepertinya tidak ada niat buruk padaku. Akhirnya aku beritahu siapa namaku. Dia mendelik tajam tidak sabar aku mengenalkan namaku.

“Aku Hyunmi, Lee hyunmi.”

“Ah, ne Lee Hyunmi-ssi.” dia tersenyum

“Namamu siapa?”

“Aku___ Jongdae.”

FLASHBACK END

Jongdae, Jongdae. Nama yang bagus. Tapi sekarang aku malah lebih sering memanggilnya Chen. Dia juga tidak terlalu ambil pusing dengan panggilan itu. Asal aku tidak lupa memakai embel-embel ‘oppa’. Padahal kami hanya berbeda beberapa bulan.

Mengingat-ingat kejadian awal perkenalan kami. Membuatku banyak mengerti. Jatuh cinta itu seperti sebuah kecelakaan, tapi kecelakaan indah yang semua orang pasti merasakannya, menikmatinya, dan juga mengenangnya. Ketidaksengajaan itu bisa membuat aku berhubungan dengan namja cuek tapi penuh kejutan. Jantungku selalu berdebar dibuatnya. Hatiku selalu berbunga akan sikapnya, hidupku penuh warna dengan sifat spontannya yang terkadang membuat aku berpikir kenapa bisa berpacaran dengannya.

Yah, walaupun dia memang member boyband tapi tidak pernah terpikirkan untuk menjalin hubungan dengan salah satu member boyband diantaranya. Cukup orang biasa sudah membuatku senang. Ini takdir, ini jalanku. Nikmati saja yang ada sekarang, dan bersyukur dapat saling mencintai.

•••••

         Tidur nyenyak dibangunkan dering ponsel. Refleks membuatku benar-benar bangun. Badanku beranjak dari pembaringanku. Beberapa detik mengimpulkan nyawa. Mengusap kedua mataku dengan tangan. Lalu mengedarkan pandanganku mencari sumber suata itu. Kudapati ponselku dibawah tempat tidur. Kebiasaan aku menaruh barang di sembarang tempat.

Yeoboseyo.” suara parauku masih kedengaran. Wajahku sedikit memerah kali ini.

“Kau baru bangun tidur yah?” Kulirik layar ponselku. Sedikit menyipitkan mata.

Chendae ❤
Calling…

Chen yang menelponku. Aku terkekeh tertangkap basah mendapati diriku sendiri yang bodoh tanpa lebih dulu melihat siapa yang menelepon.

“Iya, oppa. Aku tadi capek. Habis pulang kuliah. ”

“Cepat mandi yah, siap-siap berangkat. Kutunggu 30 menit lagi.”

“Iya, bye.” Langsung kututup sambungan telepon. Tanpa khawatir Chen akan marah. Tenang saja, pria itu tidak akan ambil pusing dengan hal seperti itu.

Lekas aku beranjak dari tempat tidurku. Masuk ke kamar mandi. Selesainya aku bergegas memakai celana jeans panjangku, tanktop biru muda dan cardigan putih menutupi tubuhku yang agak terbuka. Berhubung sekarang ini cuaca tidak dingin dan juga tidak panas. Aku sengaja memakai ini. Pakaian simple membuatku merasa nyaman.

Halte bis tidak terlalu ramai. Aku menaiki bis menuju tempat tujuanku sore ini. Sampai didepan toko kaset, kuambil ponsel di kantong tas selempangku. Menekan tombol 3 langsung tertuju pada nomor Chen.

“Oppa, aku sudah sampai.”

“Cepat sekali. Tunggu aku bersiap-siap dulu.”

“Baiklah, kutunggu. Jangan lama, nanti aku langsung pulang kalau terlambat.”

“Aish, anak ini. Aku yang ngajak ketemu kenapa jadi kamu yang mengatur, Lee Hyunmi ku tersayang. Sudah kamu tunggu disitu, aku pasti datang. Bye”

Aku tertawa mendengar celotehannya. “Kim Jongdae, babo~” kukulum senyumku. Memasukkan kembali ponsel ke dalam tas. Kakiku berjalan ke dalam toko. Hanya ada beberapa orang yang disini.

“Baguslah tidak terlalu banyak orang,” gumamku. Mengundang tatapan wanita yang berdekatan denganku. Menatapku curiga, dia petugas disini. Mungkin dia mengira aku akan mencuri. Tenang saja, aggashi aku tidak akn mencuri. -bisikku dalam hati. Hanya senyuman lewat bibir tipisku. Akhirnya pandangan dia beralih dariku. Aku menghela nafas, dan mulai masuk lebih dalam ke toko musik ini. Mencari tempat-tempat teraman untuk tempat khususku dengan Chen. Sambil melihat-lihat dvd-dvd yang tertata rapi di rak-rak kaset yang ada didepan. Pikiranku tidak folus, aku terlalu memikirkan bagaimana nanti aku bertemu dengannya. Sudah lama aku bersama Chen, tapi masih saja jantungku selalu berdebar berdekatan dengan Chen. Pasti darah ku selalu berdesir kencang ke seluruh penjuru pembuluh darah ditubuhku. Senormal mungkin aku mengendalikan sikapku didepannya. Tetap saja itu tidak bisa. Terkadang Chen selalu menyadari perubahan sikapku jika kita sedang bersama. Katanya pipiku selalu bersemu kalau dia mengucapkan kata-kata yang menurutku menyulutkan rasa gugupku.

Aku hanya tersenyum geli mengingat kejadian yang pasti akan selali terulang. Aku melirik jam tanganku. Dia sudah terlambat 5 menit. Janjinya mana. Dia bilang tepat waktu. Lagi-lagi aku mengehela nafas bosan menunggu. Seperti anak kehilangan tujuannya.

“Maaf ada yang bisa saya bantu, agasshi,” ucap suara asing tepat berada di samping kanan tempat kuberdiri. Kepalaku menoleh ke suara asing. Sosok pria yang semenjak tadi menggelayuti pikiranku sudah ada dihadapanku. Chen selalu berhasil membuat jantungku terlonjak kaget dan berdebar. Chen tersenyum lebar menampakkan gigi rapi dan bersih. Menambahkan wajahnya lebih manis. Tanpa sadar aku maju selangkah ke depan, mendekati Chen dan menjulurkan tanganku. Yang kulakukan mencubit kedua pipi tirusnya. Wajahnya yang tetap membuatnya terlihat imut. Wajah Chen layaknya anak kecil tersenyum polos.

“Ah, appo,”pekik kecil keluar dari mulutnya. Aku hanya tersenyun melihat reaksinya. Tiba-tiba aku teringat sesuatu tentangnya.

Oppa, kamu tidak pakai penyamaran?” tanyaku sedikit panik. Jelas saja, Chen hanya memakai jaket ber-hoodie menutupi wajahnya saja, Cukup tersembunyi. Tapi tetap saja itu membuatku khawatir. Bagainab kalau ada yang mengetahuinya identitas dan mengikuti Chen sampai sini. Nanti bisa ketahuan sama gadis-gadis diluar sana. Chen menjulurkan tangannya, menarikku mendekat padanya. Seketika tubuhku sudah dirangkul olehnya.

“Ayo, kita pergi. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat yang bagus.”

•••••

“Kamu yakin kita akan mengendarai ini?” sekarang aku sudah ada ditaman terdekat dengan sungai Hangang sore hari ini. Kami berdua duduk di kendaraan ‘bebas polusi’. Alih-alih menjawab pertanyaanku, Chen mengayuh sepeda.

Ya, yang kumaksud sepeda ini. Sepeda pasangan yang sengaja di sewa Chen sebelum kami memasuki taman. Aku jadi was-was pada sekeliling kami jika ada yang melihat Chen . Pasalnya dia hanya mengenakan jaketnya tadi. Tanpa memakai maskernya. Sepeda kami bergerak perlahan. Chen mengayuh dengan semangat namun lama-lama melambat. Ia menoleh kepadaku.

BIxrTU-CIAA3sPj

“Hyun, ayoooo  kayuh sepedanya kau itu berat tahu,” celetuk Chen.

Oppaaaa~ kau menyindirku.” Pria didepanku menggeleng semangat. Terdengar cekikikan kecil darinya ketika aku mulai mengayuh sepeda mengikuti permintaannya.

“Anak pintar,” sahut Chen senang. Kami berkendara sepanjang aliran sungai Hangang yang jernih. Udara disini begitu menyejukkan. Apalagi kalau berjalan di sore hari seperti sekarang. Beban terasa hilang perlahan. Begitu juga dengan lelah yang menyerang sejak tadi berkurang. Lambat laun aku tersenyum melihat tingkah kami berdua sepasang kekasih yang berkencan. Apa ini maksud dia menyuruhku bertemu tiba-tiba? Chen-ku  selalu bisa membuat kejutan-kejutan yang menyenangkan. Aku jadi tertawa mengingat hal-hal yang aku lalui selama bersama Chen. Dia memang pria yang sibuk tapi Chen masih bisa menyempatkan diri untuk menemui kekasihnya. Siapa yang tidak tersanjung? Pria ini penuh kejutan. Tawaku mengundang gerakan Chen yang menoleh ke belakang. Mendapatiku masih tertawa lepas. Dia tersenyum sekilas padaku sebelum akhirnya beralih dariku kembali fokus ke depan.

“Hyun, kamu senang?”

‘Hyun’ nama panggilan sayang yang sengaja Chen berikan padaku. Aku kembali tersenyum mendengarnya.

” Aku sangaaaat senang. Gomawoyoooo~” Teriakku padanya. Sesaat beberapa orang menatap heran pada kami berdua. Chen tertawa lagi. Aku mengulum senyum berhasil membuatnya senang. “Saranghae, Kim Jongdae~,” Bisikku pelan tak mau terdengar oleh Chen sendiri.

Kita berhenti didekat jembatan yang menghubungkan daratan yang terpisah di atas sungai Hangang. Aku turun dari sepeda, sementara Chen memarkir kan sepeda di pinggir jalan. Lalu pria bersuara merdu itu menarik pergelangan tanganku menuju jembatan. Berdiri berdua di tepi jembatan. Aku berseru pelan memandangi langit sore yang semakin menenggelamkan matahari ke peraduannya.

“Waaaah, indahnya.” Chen mengusap puncak kepalaku dengan senyum yang tidak lepas sedari tadi. Aku beralih memandang pria disampingku. Tatapan kami bertemu pandang tanpa berbicara satu sama lain. Hanya suara burung yang bersuara dan kepakan sayap yang hampir terdengar karena kesunyian yang tercipta. Senyumannya begitu menyejukkan, aku sangat menyukai senyumnya, suaranya, sikapnya. Aku menyukai segala bentuk yang ada didalam diri Chen, Kim Jongdae.

Posisiku kini sudah berubah menghadap didepan pria berlesung pipi itu. “KimJongdae,” panggilku. Sontak wajahnya sedikit berubah tapi kembali datar. Kebiasaannya dalam berekspresi sukar terbaca. Terselip sedikit kesedihan soal itu. Tapi aku enyahkan dari pikiranku.

“Hmm.” hanya gumaman dari bibirnya yang keluar. ” Aku merindukanmu, aku menyukaimu, aku mencintaimu.” Hanya kata-kata itu yang kali ini keluar dari mulutku. Entah keberanian darimana, tapi jujur itu perasaanku selama ini. Selama bersamanya jarang aku mengucapkan kata semacam itu. Aku sedikit malu mengatakannya. Tapi sekarang aku lega sudah mengatakan hal itu. Mataku yang sedari tadi terpejam tanpa mau membukanya. Tubuhku tertarik ke dalam pelukannya yang kurasakan. Dia memelukku erat tanpa mau melepaskannya. “Thank you for saying the words,” ucapnya sedikit bergetar. Bahuku terasa basah. Apa Chen menangis?

Oppa, kau menangis? Uljimmaaa~” Aku mengusap punggung tegapnya dalam lingkaran tangan yang sebisa mungkin aku gapai. Chen masih mengeratkan pelukannya, benar-benar erat.

“Aku mohon jangan seperti ini. Cengeng dasar.” Chen melepas pelukannya. Dia menatapku lekat jarak terdekat yang bisa ia lihat. mengusap kedua pipiku dengan tangan kokohnya. Aku hanya memejamkan mata menikmati kelembutan usapan yang ia perbuat. Sampai akhirnya aku merasakan puncak kepalaku tersentuh. Kubuka kelopak mataku, mendapatinya mengecup puncak kepalaku dalam. Menyalurkan rasa cinta yang ia miliki kepadaku.

” Terima kasih, terima kasih atas semua cinta yang kau berikan,” ucapan Chen seketika membuatku sedikit terenyuh. Sebegitu kah dia mencintaiku? Seharusnya aku yang bilang seperti itu karena bisa menerima gadis biasa seperti aku ini.

Oppa, jangan begitu seharusnya aku yang bilang seperti itu,” elakku pelan sedikit memukul dadanya pelan. Dia tertawa mendengar celotehanku. Kembali dia mengusapkan tangannya pada puncak kepalaku. Yang kemudian memegang  kedua pipiku dengan tangannya lagi. Wajahnya mendekat ke wajahku yang mulai memerah karenanya.

“Oppa, kau mau apa?” sahutku pelan. Matanya tetap menatapku tajam, jaraknya semakin mendekat, dekat. Dan lagi-lagi aku memejamkan mata. ngeri melihat lanjutan yang diberikan Chen. Pipi kananku basah, ada yang mencium pipiku. Kubuka kembali kelopak mataku. Chen yang melakukannya. Lalu dia mencium pipi kiriku. Hingga terdengar suara ciuman yang membuatku sedikit jijik tapi menikmatinya. “Saranghae, Lee Hyunmi,” Ucapnya lembut dan begitu membuatku mabuk kepayang.

Tapi, Loh dia kemana? Kok pergi? Pria didepanku berjalan menjauhi ku dengan tangan terentang. Merenggangkan tangannya yang sepertinya terlihat kaku. ” Aku bahagiaaaa~” teriaknya. membuatku malu serta merengut sebal. Baru saja dia bersikap seperti itu tapi dia sudah kembali pada sikapnya yang biasa.

” Kim Jongdae, kau tidak romantis. Huh~” Chen berbalik kepadaku sekilas sambil menjulurkan lidahnya. Meledekku lagi, membuatku benar benar kesal padanya. Tapi disisi lain aku senang, bahagia, dan lega. Pria itu lalu tersenyum dengan tertawa lepas melihatku yang memandangnya seolah dia mangsa yang siap kuterkam.

” Sudahlah, Ayooo pulang. Aku antarkan kamu pulang, Hyun,” Sahutnya mengulurkan tangan kanannya. Aku pun juga tersenyum dan berlari menghampirinya. Memberikan uluran tangan kecilku yang sangat cocok dalam genggamannya. Akhirnya aku dan dirinya pulang dengan meninggalkan kesan yang benar-benar berkesan. Tertorehkan dalam hatiku dan juga dia sendiri.

Terima Kasih, Kim Jong Dae ~<3

____THE END____

Iklan

2 tanggapan untuk “Saranghae, Kim Jong Dae

  1. Astagfirullah. Chen ku…. ❤
    Ish herannya padahal kan chen itu menyebalkan, keras kepala, pemaksa, membosankan, tapi justru ttp bikin tambah cinta masa -_- dan dia selalu cocok untuk hal-hal manis yg sederhana. itu yg aku suka dari dia, sederhana. romantis dengan cara dia sendiri.
    Bagus lho ff kamu fe 😀 aku cuma nemu beberapa typo dan selebihnya udah oke. aku tungguin ff jongdae lagi yak

    Suka

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s