[REVIEW] “13 PAGI”


Dimulai dari jam 10 tepat berangkat dari rumah.

Bertemu dengan Lidya dan akhirnya mempertemukan kami kembali dengan Maya. Kedua teman, ah tidak lebih tepatnya keluarga. Yah, aku selalu menganggap mereka keluarga. Menunggu bus yang tak kunjung datang hingga sejam lamanya. Membuat kami sedikit bosan.

“Bisnya kemana sih?”

“Lama banget. Udah kepanasan nih?”

“Apa ga ada bis lagi kalau hari sabtu.”

Begitulah keluhan dan umpatan yang keluar dari kami bertiga. Menunggu memang menguji kesabaran tapi setiap manusia punya batas kesabaran masing-masing pastinya. Jarum pendek menunjukkan angka sebelas pas, bus akhirnya datang. Aku, lidya dan Maya naik bus selama beberapa menit lamanya. Sejam -lagi sudah sampai di rawamangun. Niatnya kami ke UNJ (kampus Lidya) menunggu teman Lidya sekaligus sholat Zuhur. Selesai itu berangkat ke UIJ (Universitas Islam Jakarta) jaraknya tidak begitu jauh dari Kampus UNJ menaiki Metromini 46. Setelah sampai kami masuk gedung UIJ jam 1 lewat.

Penukaran tiket, dan tanda mata. Dipersilakan masuk oleh petugas. Duduk dilantai depan panggung. Terlalu santai, tapi sangat masyarakat. Tanpa membedakan apapun. Pertunjukan dimulai bertemakan “13 Pagi” yang dimainkan Ajie Fadlie Sofyan sebagai Barman, Febri Ayu Riyanti sebagai Sinta, serta Lazuardi Tri Hendarsyah sebagai Edos. Yang berasala dari Sanggar Teater Jerit. Disutradarai : Choki L G ,
karya : Cucuk Espe.

Berawal dari seorang Barman, pensiunan pejabat yang disegani. Banyak yang mengincar kematiannya dari Walikota sampai Presiden sekalipun setelah ia pensiun. Diincar layaknya teroris buronan. Dan istrinya, Sinta yang selalu diberi nasib sial lebih dari wanita manapun. Tidak ada yang tahu selama pernikahannya tanpa ada kesan berarti. Nyatanya selama itu tidak ada pengertian dari keduanya. Dia masa-masa pensiun yang ia jalani banyak sekali waktu yang ia buang hanya untuk merokok, berkhayal, bercerita sendiri yang tidak tidak. Yang menganggap dirinya dicap sebagai orang gila.

Siapa sangka, setiap harinya ia memang bercerita dari kejadian yang dia alami baru-baru ini. Bertemu seorang banci memelihara kucing kesayangan miliknya. Beryemu secara tidak sengaja dan tidak menyenangkan. Dipergoki oleh banci dan menjegalnya ketika ia lewat. Menawarkannya untuk memelihara kucing liar yang didapat dan memeliharanya dalam rumahnya, bagaikan mengurung kucing tersebut.

Tapi itu malah membuat Barman takut dan tidak berniat sekalipun memelihara binatang bernama kucing. Pertemuan singkat itu cukup membuatnya untuk sedikit benci pada kucing. Namun ada kala dimana ia merasa kasian pada kucing yang dikurung dalam rumah seakan terbelenggu penjara yang dingin. Lalu muncul Edos, sahabat Barman. Kenal dengan Barman semenjak bangku kuliah hingga sekarang bekerja bersama selama 13 tahun.

Ternyata seorang sahabat yang sangat dipercayai Barman adalah seorang yang juga mengincar kematian Barman. Dirinya memberi sesuatu yang tidak diketahui Barman. Dibantu Sinta, istri Barman menyembunyikan dekat lemari bawah meja. Tapi nyatanya tanpa sepengetahuan Edos saja, Barman sudah mengetahui semuanya. Dalam diam ia menyembunyikan kotak itu. Terpikir untuk menitipkan pada seorang banci yang waktu berpas-an dengannya. Dan Edos diam-diam ternyata selingkuh dengan Sinta dibelakang Barman. Edos bertandang ke rumah Barman. Mendapati pria tegap itu terdiam dengan pikiran kalut. Berkecamuk tidak mengacuhkan sekeliling sama sekali. Namun menyadari hal itu Barman bercerita tentang kesehariannya yang membuat dirinya begitu kalut dan beranggapan dirinya sudah tidak layak hidup. Serta istrinya yang semakin hari, semakin aneh. Tidak menduga apa yang terjadi sebenarnya. Edos yang mendapat gambaran situasi tidak stabil dalam rumah tangga Barman. Membuat dirinya terlintas menjadi Barman semakin terpuruk. Edos membuat tipu muslihat, dengan sengaja memberi bantuan pada Barman. Membisikkannnya sesuatu solusi yang sebrnarnya membuat seorang Barman pada akhirnya menjadi semakin kacau tertawa dan tertawa. Semakin keras, hingga mengundang istrinya datang. Melihat suaminya yang kacau tertidur di atas lantai yang dingin. Layaknya mayat hidup yang tergeletak bebas. Istri Barman menjadi khawatir tidak terkira. Bisa-bisanya Edos berbuat seperti itu. Meskipun kenyataannya Sinta memperlakukan hal yang tidak diketahui oleh sang suami. Masih ada rasa sayang Sinta khusus untuk Barman. Mereka berdua khawatir, mereka dilanda ketakutan. Suasana hening mencekam. Menuju puncak ketegangan, yah, hanya ada keheningan. Terlintas dipikiran Edos akan barang ‘tanda mata’ pemberiannya yang (belum) dibuka oleh Barman. Sinta mencari-cari kotak dari Edos. Namun nihil tidak ada benda yang ia cari. Ia mengadu dan meringis mendapati barang yang menurut mereka berharga hilang tanpa jejak. Selang berapa lama mereka duduk berpikir atas sofa.

Waktu terlewat begitu cepat, pagi menjelang. Tak terasa Barman bangun. Ia berkata, seusai ia tidur, tubuhnya menjadi lebih segar. Berbanding terbalik kenyataan yang ada sekarang. Raut wajahnya rumit, suasana hatinya tetap kacau. Masih meninggalkan berkas kesesakan yang masih tetap tertinggal. Berdiri dan membalikkan badan. Mendapati dua orang yang sangat ia kenali. Bertatapan tanpa berkedip, membuat percikan api cemburu yang memancar dalam hatinya. Dihampiri Edos dan Sinta masih terduduk tegang. Mereka tahu Barman kemari. Rasanya ia sudah siap menerkam , menghabisi mereka berdua. Apakah mungkin Barman cemburu? -pikir Sinta. Ya, mungkin saja. Siapa suami yang tidak slcemburu melihat istri berduaan mesra. Bertatapan intens dengan pria lain. Apalagi pria lain itu sahabatnya sendiri. Meluncur kata-kata umpatan dari Barman. Menunjukkan kebencian pada hidupnya, rumah tangganya, pekerjaan yang telah ia lepaskan, hingga orang orang yang terdekat pun tidak lepas dari celaan yang dilemparkan begitu saja dari bibir Barman. Edos dan Sinta bergeming. Mereka berpikir, berpikir cara untuk menenangkan jiwa Barman yang berantakan. Percecokanpun terjadi, tidak ada kata ‘mengalah’. Semua saling menyalahkan, Edos menyalahkan Barman yang dia anggap sudah tidak waras dan terlalu banyak mengkhayal sesuatu yang tidak penting sejak Barman pensiun. Sinta juga menyalahkan sikap Barman yang begotu arogan dan tidak ada ketenangan sedikitpun bila bertatap muka dengan Barman akhir-akhir ini. Barman sendiri merasa tersudut dan pada akhirnya menyalahkan kedua orang didepannya. Sekelebat ia teringat benda kotak dus. Yang sempat ia titipkan pada seorang banci kenalannya. Barman memberitahu, Barman menjawab kalau ia memang sudah menemukan benda itu beberapa waktu lalu. Tapi tidak ia berikan pada Sinta. Karena jelas ia tahu yang sebemarnya sekarang. Ia berniat berlari mencari benda tersebut. Tapi Edos sudah siap mencegatnya. Menghalangi Barman pergi dari tempatnya sekarang. Membuat dia menjadi tidak berkutik. Tapi apa daya keinginan Barman cukup kuat ingin membuktikan sebenarnya. Yang pada akhirnya dirinya sendiri tahu apa yang diperbuat oleh istri dan sahabatnya. Kedua lelaki kuat itu saling mendorong menjatuhkan satu dari lawan yang ingin mereka buat tidak mampu berdiri lagi. Sampaj selintas pikiran Edos untuk menghabisi Barman dengan pisau kecil yang selalu ia bawa. Ia menghujamkan benda tajam itu ke jantung Barman. Pria tegapnitu terjatuh. Sinta kaget, segera ia memapah Barman sampainia terduduk dilantai. Dielusnya wajah istrinya, menyalurkan rasa sayang yang ia miliki hanya untuk Sinta seorang. Tidak ada yang menggantikan rasa cinta Barman. Dan edos yang melihat semua itu hanha terdiam kaku. Seakan ka menyadari apa yang terjadi tapi mau dikata apa. Semua sudah terjadi hanya penyesalan yang datang terlambat.

Waktu yang berjalan terkalu cepat membakar semua mimpi. Ketidak berdayaan dalam menjalanj hidup, tapi bukan tanpa keinginan. Tak perlu benar dalam kesenangan, cerita yang salah terjadi manusiawi, cerita yang terjadi tapi suli dimengerti. Karena kejujuran telah mati jauh sebelum cerita dimulai.

Jika ingin melihat kenyataan dengan jujur, harus berani keluar dari kenyataan itu sendiri. Semuanya selesai….

Naaah benar benar selesai. Cerita do sabtu yang cerah. Menonton teater tidak begitu membosankan. Simak baik-baik alur cerita yang terjadi. Dan kau akan menemukan cerita dan pesan yang terkandung.

Ini hanya pengalaman dan cerita dariku. Sedikit tambahan yang tidak terlalu melenceng dari cerita yang sudah ada.

Terima kasih ^^

Iklan

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s