The Letter Writer [P.1]


Title : The Letter Writer

Author : @ferrinamd 

Rating : General

Length : Chapter

Main Cast : Yesung ( Super Junior) , Kim Jonghyun (SHINee), Choi Jineul

sungieee

Gadis berkuncir kuda itu masih setia duduk di bangku taman dengan tatapan lurus menuju langit jingga yang membawa arak-arak awan putih. Situasi semakin dingin tapi tidak mengurungkan niatnya untuk pergi.

“Aku malas pulang,” bisiknya pada diri sendiri. Kepalanya menunduk memandang pasir-pasir kecil yang ia mainkan dengan kedua kaki rampingnya. Ia eratkan kupluk yang terpasang di kepalanya. Merasa dingin semakin menusuk, namun ia tetap bergeming. Tangan kokoh terulur di hadapannya menggenggam se-cup cappucino kesukaannya. Mata sang gadis terbelalak, melihat siapa pemilik tangan tersebut.

“Yesung !” pekik sang gadis menatap wajah laki-laki yang ada dekat dengannya sekarang. Pria putih tersebut langsung  duduk disebelahnya.

“Minumlah,” Ujar suara berat namun terdengar lembut. Tangan Yesung masih berada didepan wajahnya. Dengan paper cup yang tergenggam erat ditangan kanan milik Yesung.

“Terima kasih.” Ia menerima cup coffe pemberian Yesung, yang langsung di minum olehnya.

“Hangat.” mulutnya mengeluarkan uap. Terasa sekali dingin yang semakin menusuk. Yesung tersenyum melihat tingkah lakunya.

“Pulanglah, Jineul. Orang-orang pasti mengkhawatirkanmu.”  gadis bernama Jineul itu menggeleng enggan untuk kembali pulang.

“Nanti saja. Aku masih ingin berlama disini,” katanya pelan. Kedua tangan Jineul menggenggam erat gelas plastik berwarna coklat. Hangat yang bersumber dari benda itu tersalurkan lewat jari lentiknya. Suasana menjadi hening. Berkutat dengan pikiran masing-masing. Dengan Yesung yang menyesap kopi miliknya dan Jineul tenggelam ke dalam lamunannya.

“Yesung.” panggil Jineul bukan teriakan. Tepatnya berbisik. Yesung mendengar namanya disebut hanya bergumam.

“Hmm.” Jineul tersenyun kecut. Pikirannya menerawang pada kehidupannya yang menurut dirinya terasa begitu melelahkan dan juga membosankan. Sejak ia lolos dalam kontes menyanyi dalam agensi yang kini dia naungi. Ia ditawarkan mendapat pelatihan dan sekolah khusus yang diberikan agensi tersebut. Dengan kehidupan barunya yang sampai sekarang ia jalani. Ia rasa titik jenuh dalam tubuhnya sudah sampai batas titik puncak. Ingin sekali ia kabur dari tempat itu. Tapi hati kecilnya pun berkata lain. Ini impiannya, ini harapannya. Sebuah gerbang menuju kebebasan yang membuatnya diakui oleh orang-orang bahwa dia bisa melakukannya. Melakukan hal yang menjadikannya orang yang menonjol di antara yang lain. Jineul selalu berharap dan berjanji ia bisa, bisa, dan bisa.

“Aku rasa aku jenuh, aku bosan dengan latihan,latihan,latihan. Dan juga belajar,” akunya pada Yesung. Yang kini fokus mendengarkan gadis itu. Ternyata suatu keluhan yang menurutnya wajar bagi anak muda seperti Jineul. Apalagi dia gadis yang pasti tidak begitu kuat menahan semua beban hidup yang terkadang kelewat batas. Yesung tahu juga bahwa gadis ini butuh hiburan. Penyegaran lebih tepatnya. Memulihkan pikiran, dan tubuhnya. Yesung mengeluarkan ponsel miliknya dan keluarlah suara melodi yang biasa ia pakai untuk sekedar berlatih. Sebagai konsumsi dirinya sendiri, pastinya. Kemudian keluar suara merdu yang keluar dari bibir Yesung. Jineul memandang namja yang berada di sebelahnya. Mendengar suara yang ia dengar selama beberapa detik.

“Suaramu sangat merdu. Aku menyukainya,” . Hanya senyuman yang Jineul dapat dari pria tampan itu. Yesung menyimpan sebuah potensi dan keinginannya menjadi bintang besar seperti Jineul. Hanya hal itu tidak bisa terwujud. Terbentur dengan keadaan yang mengharuskannya bekerja membantu meringankan beban orang tuanya yang saat ini juga membiayai biaya hidup keluarganya. Dan, keluarganya tidak mampu membayarkan segala urusan bila dia mau menggali bakatnya di agensi terkenal yang Jineul tempati. Hanya harapan, dan usaha kerasnya menggali bakat dirinya sendiri. Dengan pengalaman yang ia punya semenjak kecil dulu mendapat penghargaan dalam kontes menari hingga ia sekarang duduk di bangku sekolah menengah atas seperti Jineul meski mereka terpisah dengan sekolah yang berbeda.

Mengenang perkenalannya dengan Jineul di gedung tempat ia selalu mengantar makanan. Dan tak sengaja bisa bertemu dengan gadis manis berkuncir kuda. Kesan polos tercetak jelas di wajah gadis di sebelahnya. Selalu ada semburat merah ketika dia tertawa. Serta ketulusan yang selalu dia tampakkan pada semua yang ia kenal, termasuk Yesung sendiri.  Hanya saja kekurangan yang tidak selalu bisa Jineul tutupi, Sensitif. Satu sifat yang benar-benar menggambarkan Jineul. Entah saat dia sedih, lelah, kecewa, ataupun hal yang bisa merubah mood-nya. Walau belum cukup lama ia mengenal Jineul.  Yesung sudah tahu Jineul lebih dalam tentang berbagai hal mengenai gadis ini. Jiwanya sudah tertarik ke dalam pesona Jineul. Seseorang yang menjadikan dirinya lebih hidup dan berwarna saat-saat mengenal dia, gadis pujaan Yesung. Membuat pria bermata kecil itu yakin dengan segala impian yang akan ia capai dengan kemampuan menari yang dimiliki. Bisa membuat Yesung lebih percaya pada bakat terpendamnya.

Seketika suasana hati gadis itu membaik. Kedua tangannya bertepuk mengeluarkan bunyi sorakan kecil yang dihasilkannya. Tiba-tiba suara memanggil nama Jineul. Suara berat dan sukses menghasut mengalihkan perhatian kedua orang tersebut.

“Jineul ! Jineul !”  Nama itu yang berkali memanggil. Hingga muncul sosok pria lain selain Yesung sendiri. Dia sudah berdiri di hadapan Jineul, sesaat setelah Jineul memandang biasa pada pria yang baru saja hadir antara mereka berdua.

“Jonghyun-ssi,”sahut Jineul. Jonghyun hanya tersenyum senang mendengar namanya disebut dari bibir Jineul. Sedangkan Yesung berjalan mundur dan mendaratkan tubuhnya pada bangku taman. Menyesap kembali Moccacino yang ia letakkan tadi. Alih-alih menghindari tatapannya dari pria yang ia ketahui sebagai teman dekat Jineul.

“Kau ada apa kemari? Bukannya hari ini jadwalmu latihan bersama temanmu yang lain,” Tanya Jineul pada Jonghyun masih bergeming berhadapan dengan pria didepannya. Ia pun juga kembali duduk berdampingan dengan Yesung. Tapi mengejutkan, Jonghyun sudah duduk di tengah-tengah antara Jineul dan juga Yesung. Sebelum gadis itu menghempaskan bokongnya lebih dulu di bangku taman yang terbuat dari semen itu.

“Jonghyun-ssi, sudah sana pulang. Ngapain duduk disini?” Namun pria ini tetap terdiam memandang Jineul. Ia lalu menggeleng semangat dengan senyum yang masih terhias di bibir tebalnya. Tanpa menghiraukan kehadiran Yesung yang ada di samping kirinya.

“Tidak mau, aku ingin kamu juga ikut pulang denganku .” sela Jonghyun. Teguh pada niat awalnya menjemput Jineul pulang ke asrama. Karena sebelum ia ke tempat latihan ia sengaja mampir ke dorm diam-diam. Ia tahu bahwa lelaki ataupun perempuan tidak boleh mampir ke dorm satu sama lain. Jonghyun sengaja mengambil resiko ini. Meskipun nantinya ketahuan dan dia akan di-skors. Tapi ia yakin kalau dilakukan diam-diam itu tidak akan terjadi. Demi melihat Jineul, gadis polos yang sejak awal sudah merebut hatinya. Selain di sekolah dan juga gedung manajemen tempat mereka sama-sama bernaung. Dia tidak mengucapkan perasaannya, hanya menunjukkan dengan sikapnya yang berbeda terhadap gadis lainnya. Asal Jineul nyaman berada di dekatnya. Itu cukup membuat Jonghyun senang dan tanpa membuat dirinya khawatir.

“Kenapa kau memaksaku? Aku tidak mau.” Ternyata tidak hanya Jonghyun yang keras kepala tapi juga gadis ini. Dia tetap tidak mau pergi. Jineul masih betah menikmati malam disini. Ditemani Yesung, yang bisa membuatnya nyaman berada di dekatnya. Meskipun dalam keadaan buruk sekalipun, Yesung bisa membuatnya membaik tanpa membutuhkan waktu lama untuk ‘memulihkan’ dirinya. Sepertinya, ia mulai menyukai Yesung.

“Jineul, sudah lebih baik kamu pulang. Sebelum kamu sakit karena akhir-akhir ini cuaca tidak menentu.” ujar Yesung. Entah keberanian dari mana menyuruh Jineul untuk lekas pulang. Secara tidak langsung Yesung seolah sudah mengusir Jineul dari taman ini. Ia juga mengkhawatirkan gadis itu jika harus berkeliaran di malam hari tanpa tujuan. Beruntung  Yesung menemukannya disini. Kalau tidak? Yesung tidak bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya jika hal buruk menimpa ‘gadisnya’. Kedatangan Jonghyun kesini membuatnya sedikit bernafas lega. Walaupun Yesung harus rela melihat kedekatan kedua pasangan ini. Seperti yang pernah Jineul ucapkan sebelumnya. Tapi baginya ini bukan sekedar sebuah persahabatan, tapi seperti pasangan kekasih. Dan kabar yang dia tahu Jonghyun menyukai Jineul diam-diam.

“Dengar, Yesung saja menyuruhmu pulang, Jineul-ah. Lagian ini sudah malam,” Jelas Jonghyun. Dia kelihatan sekali mengkhawatirkan gadis ini. Yesung jadi sedikit bersalah dengan kata-katanya. Ia melihat Jineul tersenyum kecut begitu mendengar perkataan dari Yesung tadi. Akhirnya gadis itu berdiri, sesudah ia bergelut dengan pikirannya. Antara pergi dari tempat ini atau tidak. Tanpa disangka, Yesung mengucapkan kata-kata yang secara tidak langsung membuat dirinya terjatuh kedalam lubang dan berusaha untuk menggapai tepi lubang . Tapi tetap tak bisa, yang pada akhirnya dia menyerah. Pasrah dengan keadaannya sekarang. Pulang memang jalan terbaik untuknya malam ini. Setidaknya dengan beristirahat dia bisa meringankan beban dan jenuh yang menggelayuti pikiran jernih saat ini. Tidur nyenyak  benar-benar ia butuhkan.

” Ayo, Jonghyun-ssi, kita pulang. Aku juga sudah mengantuk,” ucapnya seraya berjalan mendahului Jonghyun dan meninggalkan Yesung yang masih terduduk di tempatnya.

“Baiklah, tunggu aku. Thank you.” Jonghyun menepuk bahu Yesung sebentar. Kemudian pergi menyusul Jineul yang sudah pergi beberapa langkah darinya. Yesung menatap kedua punggung mereka dengan senyum yang tak bisa tergambarkan. Hingga mereka menghilang dari sudut matanya. Hanya kesunyian yang kini menghampiri dirinya di malam yang semakin gelap.

—–

17.30

S.M art School Entertainment

Sore menjelang, Jineul keluar dari sekolah seni yang kini ia tempati. Sekolah yang bergabung dengan manajemen yang menaungi dirinya. Keluar bersama Heemi  dan Minrin yang ia kenal dekat dibandingkan dengan teman lainnya. Bukan dia tidak ingin dekat dengan yang lain. Hanya saja Jineul merasa nyaman bersama dua teman perempuannya ini. Mereka bertiga berjalan menuju halte bis.

“Choi Jineul !” seru seorang pria yang ia yakini itu adalah Choi Minho. Jineul berbalik bersama dengan kedua temannya.

“Ji, bukan kah itu Minho? Sepupumu?” tanya Minrin yang kini berada di antara Heemi dan juga Jineul. Sapaan ‘Ji’ yang biasa orang sematkan padanya. Gadis itu mengangguk sembari melihat Minho, sepupunya yang kini datang .

” Ada apa , Minho oppa?” tanya Jineul pada pria tinggi dan kulit sedikit lebih gelap darinya itu begitu mendekat. Perlu diketahui Minho adalah alasan dia bisa sampai kemari di Seoul. Meninggalkan  kampung halamannya dengan Minho. Jineul ingin seperti sepupunya yang sekarang ini sudah hampir debut dengan grup barunya. Impian dia sebagai artis akan segera terbuka. Tinggal selangkah lagi dirinya akan menjadi idola,mimpi yang tak pernah putus ia panjatkan doa kepada Tuhan. Jineul bersikeras mengikuti jalan yang ditempuh Minho. Bukan karena Jineul ikut-ikutan. Melainkan karena dia menyadari dirinya mempunya bakat dalam musik, contohnya menulis kata-kata yang bisa dijadikan sebuah rangkaian lagu. Hal itu ia dapat dari Minho. Pria itu merasa sepupunya memang berbakat di musik. Termasuk dalam memainkan beberapa alat musik yang ia kuasai. Dan juga keterampilannya dalam menari.

Namun itu hanya sekedar hobi yang ia rasa bisa membuat dirinya senang jika menggerakkan anggota tubuhnya. Jineul sangat beruntung akan hal itu jika orang tuanya mengizinkan dirinya menjalani kegiatan yang merupakan proses menuju cita-citanya terlebih sebagai komposer dan entertaint tentunya. Dengan syarat ia tidak akan jauh-jauh berada dalam jangkauan Minho, pria yang sudah ia anggap sebagai kakak baginya.

“Kau mau pulang?” tanya Minho sekilas memandang kedua teman yang berada disamping kiri dan kanannya. Jineul mengangguk menanggapi pertanyaan dari Minho. Jelas-jelas dia memang ingin pulang. Lagipula tidak biasanya pria tinggi ini menemui dirinya sore -menjelang malam ini.

“Cepat pulang dan istirahat yang cukup.” Perintahnya pada Jineul. Tangan kanannya mengusap lembut kepala Jineul. Membuat reaksi iri dari kedua teman wanita Jineul yang berseru pelan. Minho hanya terkekeh mendapat reaksi tersebut. Sudab biasa baginya melihat orang-orang yang melihat adegan mesra dari hubungan saudara ini. Minho sangat menyayangi Jineul. Sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Ketahuilah bahwa Minho hanya anak tunggal dari orang tuanya. Sejak Jineul terlahir didunia, Minho merasa senang mengetahui kalau ada sepupu yang lebih muda darinya, apalagi berjenis kelamin perempuan. Langsung ia menganggap Jineul sebagai adiknya. Berbeda dengan kakak Jineul , Sooyoung. Perempuan terpaut setahun darinya. Cukup ia menjadi kakak bagi Minho. Pria ini sangat mencintai saudara-saudaranya.

“Iya, aku tahu itu. Kamu hanya ingin mengatakan hal itu?” Minho menatap Jineul dan dua temannya yang lain satu persatu. Hingga akhirnya ia menatap Jineul kembali.

“Tadi Jonghyun menanyakanmu. Soalnya dia menunggumu daritadi tapi tidak muncul,” jelas Minho.

“Aku tadi buru-buru keluar dari kelas. Ini kami mau ke halte bus.” Minho mengusap tengkuknya. Mengundang tatapan heran dari Jineul.

“Memang ada apa dia mencariku?” Minho langsung tersenyum.  Dia menyembunyikan tawanya yang tertahan.

“Masa kamu tidak tahu.  Jonghyun menyukaimu. Apalagi yang ia lakukan untuk mencarimu. Selain ingin melakukan pendekatan padamu,” Minrin dan Heemi berdeham mendengar perkataan Minho yang terkesan menggodanya. Jineul merasa tersudut. Hatinya mencelos ketika mengetahui kalau Jonghyun ingin bertemu dengannya. Bukannya ia tidak suka, hanya saja ia sedang tidak ingin mengurusi hal-hal semacam itu. Akan bertambah rumit nanti jika ketahuan berjalan berdua dengan sesama trainee.

“Bilang padanya aku sudah pulang,” tukas Jineul. Tersirat ada rasa enggan dalam nada bicaranya. Minho mengangguk mengerti.

“Tenang saja aku sudah bilang padanya kalau kamu pasti sudah pulang. Lagipula aku juga tidak ingin dia menganggu sepupuku tercinta yang sedang fokus belajar.” Minho mengusap kepala Jineul lebih. Itu tidak bisa dikatakan mengusap tapi membuat berantakan rambut Jineul yang terkuncir rapi. Sedetik kemudian tanpa diduga gadis itu menyentil dahi Minhoyang dengan mudah dapat ia gapai hanya mengangkat tangannya tinggi.

“Ya! Kasar sekali gadis ini.” Minho mengelus dahinya meringis kesakitan akibat serangan dadakan dari Jineul.

Minrin melingkari tangannya pada bahu Jineul. Kemudian melirik gadis disampingnya.

“Hati-hati dengan Jineul, Minho-ssi. Dia bisa seperti nenek sihir saat sedang marah.” ucapan Minrin mengundang tatapan tajam dari Jineul. Namun Minrin berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.

” Tenang saja, aku selalu hati-hati dengan anak kecil ini.” Minho mengacak rambut Jineul pelan. Lalu ia mundur beberapa langkah dari hadapan Jineul.

Satu, Dua, Tiga….

“Choi Minho !!? ” pekik Jineul pada Minho. Teriakan sedikit menganggu. Minrin dan Heemi saja menutup telinganya takut takut indera pendengaran milik mereka berdua rusak akibat suara melengking gadis tomboy ini. Untung tidak banyak orang yang ada di sekitar mereka hanya ada tiga-empat orang yang melewati trotoar  menatap heran kearah mereka. Jineul berniat mengejar Minho yang pada akhirnya ia kalah cepat dengan sepupunya yang kini sudah menjauh dari Jineul dan berlari kecil meninggalkan dirinya yang yang sadar ditertawai oleh kedua temannya. Menghiraukan pandangan heran dari orang-orang.

Bye, my girl.” teriak Minho dari kejauhan. Menarik perhatian orang-orang yang melihat mereka.

“Aish ! Anak itu menyebalkan. ” Jineul tersenyum sumringah mendengar panggilan itu selalu diucapkan Minho. Meskipun mereka sepupu, kedekatan mereka melebihi dari saudara, selayaknya seperti sepasang kekasih. Lebih dekat dibandingkan dengan Sooyoung, kakak perempuannya. Kini mengambil jurusan desainer di Perancis. Orang disekitar mereka selalu memandang mereka berpacaran karena kecocokan mereka berdua. Ada saja kesalahpahaman yang dulu terjadi ketika Minho berpacaran, mengira kalau dirinya berselingkuh dengan wanita lain. Siapa lagi yang tidak akan cemburu dengan pria tampan , tinggi seperti Minho, dan juga Jineul yang cantik, polos, dan langsing.

Aigo, Minho-ya, kau membuatku cemburu memanggil Jineul dengan sebutan My girl. Apa kau tahu? Aku juga ingin kau memanggilku seperti itu.” Jineul melirik Minrin. Temannya ini brbicara seolah patah hati pada seseprang yang ia cintai.  Pandangan tetap tertuju pada Minho yang sebenarnya sudah hilang dari penglihatan mereka.

Eonnie ! buat apa kau cemburu padaku? Kau tahu sendiri aku sepupu Minho.” Jineul mulai berjalan mendahului mereka yang masih diam, namun sedetik kemudian ikut menyusul Jineul berjalan beriringan.

” Tapi kedekatan kalian selalu menimbulkan banyak salah sangka. Aku saja awalnya mengira kalian pacaran. Karena kalian memang cocok jika disandingkan.” ujar Heemi yang daritadi terdiam ikut angkat bicara berada disebelah Minri.

“Aish ! Kenapa kamu jadi ikut-ikutan curiga seperti itu?” Sela Jineul tidak terima perkataan Heemi.

“Aku tidak curiga. Aku cuman bilang itu fakta yang ada.” elak Heemi yang sekarang merasa dituduh yang tidak-tidak dari gadis ini. Padahal Heemi dan Minri hanya bercanda kepada dua saudara itu. Sifat Moody-nya Jineul kembali muncul. Semoga ini tidak berlangsung lama, bisik Heemi dalam hati

“Lalu ada masalah dengan hal itu?” Jineul berbicara sengit pada Heemi.

“Sudah, sudah~ lebih baik kita pulang. Pasti semua kelelahan jangan salah satu dari kita memancing emosi satu sama lain. ” Minri daritadi bingung memikirkan cara melerai dua anak gadis ini. Karena dia lebih tua dari mereka. Bagaimanapun harus bisa membuat suasana seperti ini kembali normal.

“Aku harap kalian tidak bertengkar karena masalah sepele. Jineul kendalikan sifat moody-mu itu. Heemi lebih baik kamu tidak terlalu blak-blakan jika ingin bercanda. Siapapun tidak ada yang tahu reaksi orang lain mendengar celotehanmu itu.” ceramah Minrin yang kemudian menarik kedua tangan milik Jineul dan juga Heemi. Tampak wajah keduanya merengut dan mengutuk apa yang terjadi hari ini.

“Arrasseo,” hanya Heemi yang berani buka suara. Tanpa Jineul hanya bergumam menanggapi nasihat dari wanita yang lebih tua setahun darinya. Ia tidak tahu harus menanggapi bagaimana lagi. Suasana hatinya tidak baik malam ini. Selalu ia duga ini karena kondisi tubuhnya yang mengakibatkan pikiran dan tubuhnya tidak bekerja normal. Hanya emosional yang ia pakai kalau sudah menyangkut dengan kelelahan pada tubuhnya.

“Mari pulang. Aku berharap setelah sampai kita bisa langsung tidur dan bertemu dengan kalian dalam keadaan segar dan baik-baik saja. Ayo !” Minri masih berbicara sambil berjalan dengan masih memegang pergelangan tangan kedua gadis muda tersebut.

Senyum Minri tidak hilang sampai mereka betiga sampai di dorm mereka. Memasuki menuju lobi apartemen yang mereka tempati.  Bersamaan dengan pria yang keluar  dari dalam dengan terburu-buru. Menabrak Jineul terlanjur jatuh terjerembab ke belakang. Sosok tinggi tegap itu berhenti sesaat. Heemi dan Minrin membantu Jineul berdiri. Sedangkan orang asing tersebut membungkuk beberapa kali tanpa mengucapkan satu patah katapun.

“Aduh, gimana sih? Jalan tuh hati-hati.” Jineul menepuk-nepuk bokongnya yang sedikit kotor. Pria didepannya membungkuk rendah.

“Jweoseomnida.” ucapnya. Kemudian ia langsung pergi meninggalkan ketiga gadis itu dengan pandangan heran.

“Tidak sopan. Dia langsung pergi begitu saja.” Heemi masih memegang salah satu lengan Jineul.

“Sudahlah, tidak usah diurusi orang asing itu.” sahut Minrin. Beralih memandang Jineul yang daritadi dia masih mengurusi pakaiannya. Yang sebenarnya tidak apa-apa. Hanya saja pikirannya terlintas kalau pria tadi itu seperti pernah mengenal ia kenal. Tapi dimana???

“Kalau begitu masuklah. Kita harus…”

“Aku lupa.” Pekik Jineul memegang kepalanya. Gadis ini melupakan hal penting yang harus segera ia selesaikan.

“Kau lupa apa sih?” gerutuh Heemi melihat reaksi mengejutkan dari teman dormnya.

“Aku lupa membeli barang-barang milikku yang hampir habis. Aku pergi dulu kalian masuk saja.” Jineul bergegas berlari keluar gedung meninggalkan Minrin dan Heemi penasaran dengan sikap Jineul. Minrin mengangkat bahu tak mau memikirkan hal-hal yang menurutnya tidak perlu terlalu dipikirkan.

“Ayo, masuk kita tunggu Jineul didalam.” Minrin mendorong pelan bahu Heemi sehingga ia masuk kedalam gedung walaupun enggan untuk berpindah ke dalan dorm sebelum melihat Jineul kembali dari luar.

Tiga puluh menit kemudian Jineul sudah sampai di apartemen. Jarak dari tempatnya dan super market memang dekat. Tak salah jika Jineul hanya membutuhkan waktu sedikit. Tanpa membeli barang yang banyak. Hanya ada beberapa makanan untuknya, pelembab, dan keperluan pribadi untuknya. Jineul memasuki gedung apartemen, menaiki tangga menuju lantai dua. Sengaja tidak menaiki lift, lebih memilih memakai tangga biasa. Kakinya terus melangkah, terhenti di depan pintu. Tangannya terulur menekan tombol bel pada intercom yang terpasang di sebelah pintu berwarna hitam. Mata coklatnya menatap pintu. Menunggu membuatnya bosan, matanya melihat ke sekeliling , kemudian memandang pintu apartemen yang sudah ia diami beberapa bulan. Hingga matanya menangkap benda tipis persegi panjang tergeletak bebas di sela-sela pintu. Muncul rasa penasaran dalam benak. Tidak ada siapapun di lobby lantai. Berarti hanya dia yang ada disini. Dan benda itu ada di depan dormnya.

Jineul memungut kertas itu yang ternyata secarik kertas yang terpotong rapi serta tertutup menyembunyikan isi didalamnya. Tertulis di sisi depan kertas itu ‘To :Choi Ji Neul’.

Namanya tertera di sana sudah pasti surat itu diperuntukkan dirinya. Tak lama pintu terbuka menampakkan Heemi sudah mengenakan baju tidur dan wajah yang basah. Jineul dengan cepat menyembunyikan secarik kertas itu dalam-dalam pada belanjaannya. Heemi mengamatinya dari bawah sampai atas.

“Kemana saja kau?” tanya Heemi ketus. Sebal dengan sikap temannya ini yang terkadang selalu membuat orang lain khawatir secara tiba-tiba. Jineul mengangkat kedua tangannya yang menggenggam paper bag belanjaan miliknya dengan menunjukkan tampang polos. Memberi tahu Heemi bahwa ia benar-benar habis berbelanja meskipun ini sudah hampir malam. Heemi hanya mengangguk, kemudian daun pintu melebar mempersilakan Jineul untuk segera masuk.

Jineul berjalan ke arah dapur diikuti Heemi dari belakang. Ada Minrin sedang menuangkan air hangat di tiga gelas berukuran sedang berisi bubuk susu yang akan ia dan dua dongsaeng-nya meminumnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk menyempatkan waktunya meminum susu sebelum tidur. Meyakini bahwa meminum susu hangat sebelum berangkat ke alam mimpi membuat tubuh menjadi rileks dan cepat terlelap tidur.

“Kau beli apa, Ji?” Minri membawa kedua gelas di atas meja. Dan berbalik lagi dengan tangan memegang gelas yang kini ia minum.

“Aku sengaja membeli makanan kecil untukku dan keperluan pribadiku. Untungnya aku ingat kalau tidak…” Jineul berhenti berbicara terganti helaan nafas yang berat. Membuat kedua temannya heran.

“Memangnya kenapa kalau tidak?” Heemi melihat isi paper bag yang dibawa Jineul. Tapi sayang gerakannya sudah diketahui oleh sang pemilik. Dengan cepat menarik pelan paper bag-nya menghindari tatap curiga dari Heemi pada barang-barangnya.

“Jangan sentuh barangku.” Ucap Jineul menjulurkan lidahnya pada Heemi. Keluar sifat protektifnya jika ada sesuatu miliknya terganggu. Bukan apa-apa hanya saja dia tidak ingin yang lain tahu surat itu, kecuali jika dia sudah membacanya dan ingin menceritakannya.

“Pelitnya anak ini.” dengus Heemi.

“Mulai lagi. Kalian mau bertengkar malam ini?” kedua orang itu menggeleng lemah takut akan kemarahan Minrin sebentar lagi kalau mereka melanjutkan masalah sepele ini.

“Cepat minum susu kalian dan kembali ke kamar masing-masing.” Mereka bertiga terdiam menyelami kegiatan meminum susu pada gelas masing-masing . Sudah hampir habis gelas tersebut digeletakkan bersamaan. Saling memandang, kemudian Jineul membawa paper bag nya.

“Aku ke kamar duluan. Jaljjayo.” sahut Jineul.

“Good night, Ji.” Sahut Minrin. Heemi bergumam membalas ucapan Jineul yang terdengar oleh Jineul yang tersenyum di balik badan tanpa sepengetahuan kedua temannya.

 ••••••

             Hari sudah semakin siang. Bunyi bel istirahat terdengar dari luar. Seketika anak anak berjejal keluar kelas menuju kantin. Berhamburan kumpul di masing masing etalase kantin yang terbuka. Jineul berjalan di antaranya. Pandangannya mengitari sekeliling penjuru kantin yang ramai oleh teman-temannya. Tidak berminat untuk sekedar membeli makan atau minum jika ramai seperti ini. Keinginannya untuk mengisi perut menguap begitu saja. Hingga sekarang matanya tertuju pada lelaki yang datang dari luar kantin membawa dua plastik besar. Hampir melewati Jineul yang berdiri. Gadis bermantel hitam itu berhenti di depan Yesung. Sontak ia menge-‘rem’ mendadak karena kehadiran Jineul. Menganggu jalurnya menuju salah satu etalase kantin tempatnya berlabuh.

“Aku bantu” Jineul mengulurkan tangannya. NamunYesung menahan dan menggeleng.

“Tidak usah aku bisa membawanya sendiri.” Dia menolak halus pertolongan dari Jineul. Ia hanya tidak enak karena ada seorang gadis menawarkan bantuan pada pria sepertinya. Bukankah itu terbalik? Jineul mengerutkan dahi heran. Sikap Yesung diluar dugaan. Kenapa pria ini tidak mau menerima bantuannya? Apa dia malu mendapat bantuan seorang gadis? Jineul hanya mengangkat bahu masa bodoh dengan tanggapan yang lain kalau misalkan dia membantu Yesung.

“Yasudah, tapi aku ingin ikut denganmu sampai sana.” Jineul mengangkat dagunya ke arah etalase toko yang mau dituju Yesung. Pria ini mau membuka suara, namun kalah cepat dengan Jineul. Jari telunjuknya digoyangkan. Senyumnya mengembang permintaannya tidak boleh ada yg menolaknya.

“Tidak ada penolakan darimu.” Yesung hanya pasrah. Dia tahu gadis ini keras kepala. Untungnya Jineul hanya menemaninya saja, coba kalau dia tetap memaksa membawa barang barang ini didepan umum. Bisa-bisa gosip yang menyebar jika seorang pengantar makanan sepertinya meminta bantuan kepada seorang siswi sekolah ternama. Apalagi siswi tersebut sepupu dari Choi Minho prince S.M School entertainment. Ini tidak baik.

Dan sebelum ada tatapan curiga dari siswa lainnya. Yesung pun berjalan mendahului diikuti Jineul disampingnya.

“Baiklah, ayo ikut aku.” katanya pasrah.

Yes~” gadis ini mengangguk senang walaupun bantuannya ditolak pria ini, itu tak apa. Sikap Yesung semakin membuat dirinya pensaran. Di lain sisi, dia berusaha menjaga sikapnya untuk tidak terlalu dekat dengan Jineul. Mereka melangkah sampai akhirnya berhenti di tempat tujuan yang terletak didalam kantin. Yesung meletakkan barang yang dia bawa. Jineul melihat sekeliling etalase yang dikelola keluarga Yesung. Dalam toko tersebut, hanya ada seorang laki-laki yang berumur dibawah dirinya dan juga Yesung.

Laki-laki itu menyadari keberadaan Yesung dan mendatanginya.

“Hyung, kau sudah datang?” Yesung melihat Jineul yang tersenyum pada Jongjin, yang ternyata adiknya sendiri. Beralih kepada Jongjin membalas senyuman dari Jineul. Membungkuk hormat ke arah Jineul.

“Ya, ini kotak makanannya semua ada 10 kotak. Cepat kau antar yah ke ruang guru.”

“Baik, aku antar.” Jongjin membawa kotak-kotak tersebut ke ruang guru di sekolah ini.

“Itu Jongjin kan?” suara Jineul menyadari Yesung yang sedaritadi menatap adiknya yang sudah mwnghilang dari pandangannya. Pria tersebut menganggukkan kepala. Jineul duduk di bangku yang tersedia disana. Sekali lagi mengamati sekeliling kantin tanpa berkeinginan untuk membelin apapun itu. Entah lah dia mungkin sedang tidak lapar.

“Kau begitu mirip dengan Jongjin.” celetuk Jineul. Ia menyadari perkataannya ini kelihatannya tidak sopan. Tapi ucapannya meluncur begitu saja. Yesung dan Jongjin memang mirip, jelas keliatan kalau keduanya kakak beradik. Pikiran Jineul mengingat-ingat wajah lelaki muda tersebut. Lalu beralih memandang Yesung. Dirinya merasa desiran yang luar biasa saat bertemu pandang dengan Yesung. Mata kecilnya bibir tipisnya, hidungnya yang mancung serta pipinya yang sedikit tirus. Perbedaan keduanya hanya terlihat dipipi, dan juga rahang mereka. Jongjin yang mempunya pipi tembam, dengan Yesung berwajah tirus serta rahang yang membuat mereka berbeda. Sejurus kemudian, wajah Yesung berubah memerah dipandang lama oleh gadis berparas lembut, Jineul. Siapa yang tidak salah tingkah karenanya? Mengabaikan orang-orang yang ramai di kantin. Dan tidak menyadari satu orang sejak tadi memandang keduanya dari jarak tak terlihat.

“Kenapa kau memandangku seperti itu?” Jineul tersadar dari lamunannya. Mungkin ia sudah terlalu lama menatap pria disebelahnya. Terlebih fantasinya untuk menyentuh wajah Yesung. Pria ini benar-benar membuat dirinya mabuk kepayang. Bisa dibayangkan saat begini ia ingin menyentuh pria ini. Tergoda dengan ketampanan wajahnya, ketajaman mata Yesung ketika memandang satu hal.

“Ah, tidak apa-apa.” kepala Jineul tertunduk dalam. Rupanya ia sudah tertangkap basah berhubungan dengan khayalan liarnya. Bisa kah ia berhenti sekarang.

“Yesung-ah,” panggil Jineul. Pria itu kembali menoleh setelah tadi ia mengalihkan perhatiannya demi menghilangkan kegugupan yang sampai detik ini belum hilang. Sungguh mengganggu pikirannya.

“Ada apa?” Tanya Yesung. Dua kata yang singkat. Hati Jineul merasa ciut untuk memulai pembicaraan saja. Tidak ada beberapa kata yang pantas selain mengucapkan dua kata itu.

“Kau tahu? Beberapa hari lalu aku mendapatkan surat misterius. Sayangnya aku tidak tahu siapa pengirimnya.” Yesung tertegun. Jineul menangkap raut wajah Yesung yang seketika berubah membuatnya heran.

“Kau kenapa?” tanya Jineul hati-hati. Pria itu menggeleng pelan. Dia harus bisa menyembunyikan ekspresi sebaik mungkin.

“Tidak apa-apa. Lalu?” Jineul mengabaikan hal tadi. Berniat melanjutkan cerita  yang ia alami baru-baru ini.

“Ah, iya sewaktu kubuka surat itu. Hanya ada pesan pendek tertulis. Tapi pesan tersebut berhasil membuatku tersenyum dan semangat. Kata-katanya seperti sumber energi bagiku.” Jineul menampakkan wajah berbinar. Yesung yang melihatnya jadi tersenyum sendiri. Bagaimana tidak kalau gadis di sebelahnya bisa tersenyum menunjukkan eye smile andalannya. Justru itu yang membuat Yesung benar benar menyukai hal itu. Siapapun yang melihat pasti berdebar memandang wajah polosnya yang penuh keceriaan. Yesung akui itu.

FLASHBACK

 Gadis ini tetap berjalan masuk ke kamarnya yang nyaman dan hangat. Segera ia tutup pintu kamar, menempatkan paper bag di atas meja belajarnya. Lalu ia duduk menepi di tempat tidurnya. Setelah tadi mengambil kertas asing yang sebelumnya ia masukkan di dalam salah satu paper bag belanjaan miliknya.

“Surat dari siapa yah?” ujarnya penasaran. Segera dibuka lipatan kertas berukuran sedang tersebut. Pikirannya melayang kepada pelalu misterius yang mengirimkan surat kecil ini. Tampaklah pesan pendek yang tersirat didalamnya. Jineul tersenyum membaca setiap baris kata yang tertulis.

“Kamu punya berkah untuk membuat orang lain merasa lebih baik dengan diri mereka sendiri.”

                     ___ TBC____

Iklan

2 tanggapan untuk “The Letter Writer [P.1]

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s