True Love


Title : True Love | Author @ferrinamd  | Genre : Romance, Drama | Rating : General | Length : One Shot | Main Cast : Kris EXO M, Dennis Park (Leeteuk – Super Junior ), EXO’s Member

Ini sebenarnya cerita iseng yang aku buat. semoga suka :))

Rena masih saja menonton pertandingan basket yang diadakan disekolahnya. Padahal hari sudah hampir malam. Tapi dia bergeming dari tempat duduknya. Rena bukanlah cewe yang suka olahraga. Hanya karena kebetulan dalam pertandingan basket itu ada seorang pria yang ia sukai. Namanya Kris. Pria bertubuh tinggi menjulang. Mempunyai wajah yang cool tapi kalo senyum sungguh menawan, begitu kata Rena.

Akhirnya pertandingan basket selesai. Dimenangkan oleh Klub basket dari Kris yang memang sebagai tuan rumah juga. Rena melonjak senang. Dia berlompat ria tanpa memperhatikan orang yang melihatnya.

”Kris, lihat tuh rena. Cewe yang selalu ngikutin lo kan?” Ujar Chanyeol anggota basket yang setim dengannya. Kris cuman senyum sumringah. Dalam hati dia senang, hanya tak ia tampakkan pada wajahnya.

”Ga disamperin tuh cewe. Kasian loh dia pulang sendirian. Ga ada temen lagi.” Tao yang berada disampingnya ikut-ikutan meledek Kris.

Kris langsung saja pergi tak mendengar perkataan Tao dan Chanyeol. Terdengar tawa dari mereka berdua saat Kris benar-benar datang menghampiri Rena yang masih senang kalau Klub Basket sekolahnya menang.

”Hey, bocah. Kamu kenapa gembira banget?” Tanya Kris menepuk bahu gadis itu yang memang membelakanginya.

Sontak Rena berbalik, matanya terbelalak tak menyangka Kris menghampirinya. Dia gugup tak bisa berbuat apa-apa. Kris sadar akan itu. Lalu dia memegang tangan kanan Rena.

”Ikut aku pulang. Kan kamu sendirian.” Belum sempat Rena menjawab. Cowo itu langsung menariknya pergi dari tempat duduk penonton. Selama berjalan ke tempat parkir, Tao dan Chanyeol masih ada disitu ternyata mereka melihat kejadian langka ini.

”Cie, cieeeee. Pegangan nih.” Teriak Tao. Kris menoleh memberi senyum nya dengan salah satu sudut bibir tertarik ke atas. Membentuk senyum sinis.

”Suit, Suit.” Sahut Chanyeol. Mereka berdua bertos setelah Kris dan Rena berlalu.

”Akhirnya Kris berani menggandeng Rena. Dasar cowo sok cool.” Chanyeol membereskan perlengkapannya. Diikuti Tao. Memasukkan sepatu olahraganya berganti dengan memakai sepatu kets.

”Bukan sok cool, hyung tapi autis. Hahaha.” Chanyeol memukul kepala Tao dengan botol minuman plastik miliknya.

”Ya ! Hyung sakit ah. Main pukul aja nih.” Tao memegang kepalanya.

”Dasar magnae.” Chanyeol langsung ngeloyor pergi. Tao langsung menyusul Chanyeol yang mendahuluinya.
”Tunggu aku, Hyung.” mereka pun akhirnya jalan beriringan.

Di tempat parkir. Kris berhenti di samping motornya. Membereskan tasnya. Rena masih senyum sumringah tidak jelas. Karena memang dia tak menyangka Kris akan mengantarnya pulang. Kris naik ke atas jok motor. Dia menunggu Rena naik kemotornya tapi dia tak bergerak sedikitpun. Dia menoleh kebelakang.

”Kamu mau pulang apa aku tinggalin disini?” Tanya Kris langsung. Rena tersadar dari lamunannya tadi.

”Ah, jangan. Tunggu.” Rena pun naik ke motor Kris. Rena menuruti permintaan Kris. Ia naik ke motor Kris.

”Nih helmnya.” Kris memberikan Rena helm.

”Kamu bawa helm dua?” Tanya Rena polos.

”Iya, soalnya tadi itu Tao bareng sama aku. jadinya bawa 2.” Rena hanya mengangguk mengiyakan pernyataan Kris tadi. Dia memakai helm Kris.

”sudah belum?”

”Iya, sudah.” Motor mulai dinyalakan. lalu berjalan perlahan. Sampai disisi jalan

”Pegangan dipinggangku.” Ujar Kris. Rena yang memang tak mendengar karena suara kendaraan yang lumayan ramai. Kris mengambil salah satu tangan Rena, ia letakkan di pinggangnya.

”Pegangan yah.” Ucap Kris setengah berteriak. Rena menurutinya. Meletakkan kedua tangannya di pinggang Kris dengan menautkannya sampai di perut Kris. Memperkecil jarak diantar mereka berdua. Tak tahunya Kris tersenyum tipis. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang.

Motor Kris berhenti di depan rumah sederhana. Rena turun dari motor Kris. Dia melepas helm dan memberikannya kepada Kris. Pria itu menerimanya.
”Cepat masuk ke rumah, sudah malam.” Rena tersenyum sekaligus mengangguk.

”Terima Kasih.” Balas Rena setelah tadi Kris mengantarnya pulang.

”Selamat yah, Klub basket sekolah kita menang.” Ucap Rena lagi.

”Kenapa ngasih selamat ke aku? Kan yang main bukan aku aja tapi anak-anak yang lain juga main.” mendengar Kris berkata seperti itu. Rena melengos. Kris seperti membuat ia terbang kemudian dijatuhkan kembali dengan berkataannya yang dingin dan terkesan ketus.

”Oke oke. Aku ga hanya ucapin terima kasih kepadamu tapi besok aku sampaikan terima kasihku pada anak-anak basket.” Tegas Rena. Kris tersenyum sinis.

”Baguslah kalau begitu.” Kris menstarter motornya.

”Aku pulang. Kau cepat masuk sana. Sampai ketemu besok yah.” Ujar Kris. Ia pun langsung berlalu dengan motornya menghilang di gelapnya malam yang semakin pekat.

Rena masuk ke rumah. Ketika membuka pintu. Ia teringat sesuatu.

”Eh, iya. Kok Kris tau rumahku yah? Apa dia?” Dugaan muncul dikepala Rena. Banyak kemungkinan yang bisa disimpulkan kenapa Kris bisa tahu rumahnya. Padahal sebelum ini ia dan Kris engga pernah pulang bersama. Apalagi sampai mengantarkan Rena pulang. Ia baru ingat hal itu.

Ibu Rena yang baru keluar dari dapur. Berjalan ke ruang tamu. Melihat anaknya masuk rumah tanpa memberi salam atau apapun. Wanita itu menatap anaknya yang masih terlarut dalam pikirannya itu. Ia pun menepuk bahu anak perempuan satu-satunya itu.
”Ren, rena. Kamu kenapa?” Tanya Ibu rena. Rena kaget dan tersadar dari lamunannya. Dia melihat ibunya yang sudah ada tepat berada disampingnya.

”Ah,mama. Aku pulang.” Langsung saja anak ini memeluk ibunya hangat.

”Kamu darimana aja? Kok ga ngabarin mama?” Ibunya mengelus punggung anak perempuannya. Rena tersenyum manis.

”Aku ga kemana-mana cuman disekolah tadi ada pertandingan basket jadinya aku nonton dulu.” Rena tertawa renyah. Ibunya mengusap pipi kanan Rena hangat.

”Dasar anak mamah sekarang berani bohong ya.” ujar ibu nya sambil bercanda. Candaan ini sebenarnya bukan hanya lelucon tapi sang ibu tahu kalau anak gadisnya ini habis diantar oleh seorang pria. Tampan lagi -Pikir ibunya yang tadi sempat melihat sekilas wajah pria yang mengantar Rena.

”Ah, mama apaan sih? Aku tadi emang nonton.” Terbesit hal sepertinya ibunya mengetahui dia tadi diantar pulang oleh Kris.

”O, yang tadi itu. mama lihat?” Seakan tahu dan tepat sasaran. Ibunya mengangguk sembari tersenyum. Rena tertawa kikuk. Ketahuan deh -Batinnya dalam hati.
”lihat kok. Yasudah sekarang ke kamar. Mandi, terus makan abis itu istirahat. Ibu tunggu di ruang makan.” Rena mengangguk. Dia memeluk ibunya hangat. Wanita itu membalas pelukan hangat anak tercintanya.

Rena pun naik ke lantai dua. Kamarnya memang berada di atas. Belum sampai ke lantai dua.tangannya sudah terburu ditarik oleh pria . Rena terbelalak kaget dia melihat sosok yang menarik tangannya ini.

”Kak Dennis ! Apaan sih narik-narik sakit tau.” Rena memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit usai ditarik paksa yang ternyata dia kakak tertuanya.

”Ya ! Kamu itu ga sopan.” Dennis menoyor kepala Rena.
”Ish, yang ga sopan siapa? Main toyor aja.” Rena memukul bahu Dennis gemas.

”Hey, udah sakit.” Rena menghentikan pukulannya di bahu Dennis yang sudah mengaduh kesakitan. Dennis mengelus bahu kirinya.

”Lagi siapa suruh main tarik udah gitu ditoyor kepalaku. Suka seenaknya aja sih.” sinis Rena. Dia langsung berlalu ke kamar. Tak disangka Dennis, sang Kakak mengikutinya dari belakang. Sampai dipintu ketika hendak menutup pintu kamarnya. Otomatis dia berhadapan dengan Dennis yang daritadi mengikutinya. Rena kaget .

”Loh? Kakak ngapain ngikutin aku? Mau masuk juga?” Tanya Rena seduktif.

”Tidak.” Jawab Dennis datar. Dennis menatap adiknya dari atas sampai bawah.

”Terus ngapain ngikutin aku? Udah sana aku mau ganti baju.” Belum sempat menutup pintunya. Dennis menahan pintu kamar Rena.

”Tunggu. Aku mau nanya.” Langsung saja Dennis mengutarakan rasa penasaran yang daritadi menggelayuti pikirannya. Dia penasaran dengan Rena yang tadi berboncengan dengan seorang Cowo yang jelas lumayan tampan cukup dijadikan pacar adiknya, pikir Dennis.

”Mau tanya apa? Langsung aja deh.” Dennis bergumam sebentar.

”Kamu tadi pulang sama siapa? Kok sampai malam begini. Untung ga diomelin sama papa, mama kamu.”
”Oh itu. Aku pulang sama temenku kok.” Jawab Rena enteng. Memang sebenarnya cuma temen. Tapi kalau berharap lebih ia ingin jadikan Kris, pacarnya ><

”Temen? Serius? Ga bohong kan?” Selidik Dennis tak percaya dengan jawaban adiknya tersebut. Rena mendengus sebal. Beginilah kalo rasa penasaran kakaknya ini memuncak pasti akan terus bertanya, tapi kalau tak dapat jawabannya dia akan mencari tau sendiri sampai ketemu jawabnya.

”Ish ! Beneran. Ngapain sih bohong sama kak Dennis. Udah ah aku tutup nih.” Dennis menahan pintunya lagi.
”Oke, oke aku percaya kok.” Dennis langsung pergi begitu saja

”Aish, dasar aneh. Nyebelin banget sih.” Omel Rena sendiri. Dia menutup pintunya. Bergegas ke kamar mandi membasuh dirinya.

Keesokkan paginya. 

Pagi menjelang, menggantikan malam. Gadis itu masih mendengkur di bawa selimut hangatnya. Jam sudah menunjukkan jam 6 tepat.
Tok . Tok . Tok.

”Renaaaa, bangun. Udah siang ini?Kamu masuk ga?” Sahut Dennis dari luar.

Rena menggeliat dalam selimutnya. Dia bangun, matanya masih setengah terbuka. ”Renaaaa,” pintu terbuka. Kakaknya berdiri di ambang pintu. Berkacak pinggang. Menggelengkan kepanya melihat sang adik baru saja bangun. Sedangkan ia sendiri sudah selesai makan daritadi. Berpakaian kemeja dan celana bahan. Menampakkan bahwa ia seorang eksekutif muda. Pemilik sebuah perusahaan otomotif mewarisi ayahnya.

”Ckck, dasar pemalas cepet bangun nanti kamu telat.” Dennis maju. Ia menarik tangan adiknya. Rena terbangun otomatis. Dia melihat kakaknya yang sudah rapi. Seketika itu juga Rena melihat jam dinding di depannya.

”Hah ! Jam 6. Aduuuuh telat pasti.” Rena langsung bangun. Menarik tangannya dari genggaman kakaknya, Dennis. Pria itu termangu melihat kelakuan adiknya tadi.

”Kenapa dengan dia? Bisa terlambat seperti ini.” Dennis menggelengkan kepala. Ia berjalan ke kamar mandi adiknya yang sudah pasti ada si pemilik kamar ini. Dennis mengetuk pintu itu.

”Cepat mandinya. Kalau tak mau aku tinggal.” Teriak Dennis. Kemudian ia keluar dari kamar adiknya tanpa menunggu jawaban dari Rena.

Beberapa menit kemudian Rena keluar. Ia melihat jam dindingnya sekali lagi.
”Aduuuuh, telat ini.” Rena bergegas berpakaian seragam lengkap. Dia menyambar tasnya seusai berpakaian. Keluar kamar, menuruni tangga ke arah ruang makan. Masih ada ibu nya yang membereskan meja makan.

”Ibuuuu.” Sahut Rena Manja. Ibu menoleh ke belakang. Melihat anak perempuannya yang baru bangun itu. Dia tersenyum, melepas celemek yang ia kenakan. Menaruhnya di bangku meja makan.

”Kamu baru bangun? Cepat minum susumu. Sudah mama siapkan bekal.” Ujar ibunya. Rena mengambil segelas susu yang sudah disiapkan ibunya. Menenggaknya sampai tandas tak bersisa. Lalu menaruhnya kembali di tempat semula.

”Ini bekalnya. Sudah mama buat kan.” Ibu Rena memberikan tempat makan kepada anaknya itu. Rena langsung memeluk ibunya.

”Makasi mama. Aku berangkat. Oya, kak dennis udah dimobil yah?” ibu mengangguk.

”Iya sudah. Hati-hati yah.”

”Dadah, mama. Aku berangkat.” Rena keluar rumah, sampai di garasi melihat Dennis, kakaknya duduk di kursi pengemudi. Dia menggunakan headset dari Iphonenya, sembari menggoyangkan kepalanya santai. Rena berdecak melihat tingkah kakaknya.

”Aku kira dia sudah siap. Ternyata masih nungguin aku.” Ucap rena. Ia melangkah menghampiri kakaknya yang masih tak merubah posisinya saat ini. Pintu mobil itu tertutup sontak Rena mengetuk ngetuk kaca mobil itu. Menggedornya pelan.

”Kak, buka. Cepetan buka.” Rena memperlihatkan wajah panik. Dennis yang masih tak berpindah, Rena mencoba sekali lagi. Menggedornya dengan kasar. Sampai berbunyi

TTUK,TTUK,TTUK !? 

Bunyi yang kencang dari kaca itu mengagetkan Dennis. Dia melihat adiknya dari dalam mobil. Mengernyit heran apa yang dilakukan adiknya itu. Sedetik kemudia dia membuka pintu mobil. Rena yang panik langsung menarik kakaknya keluar dari mobil.

”Kak, cepat antarkan aku. bisa terlambat nanti.” Dennis melengos. Ia kira apa sampai adiknya panik setengah hati hingga membuatnya ikutan panik.

”Tsk, kamu membuatku ikutan panik. kirain ada apa. Bikin kaget aja.” Dennis mencubit pipinya sebelum masuk ke mobilnya lagi. Dia memegang kemudi dan mulai menstarter mobilnya. Rena mengerucutkan bibir tidak terima perlakuan Dennis padanya.

”Dasar kakak jahat. Seenaknya sama adik.” kata Rena. Rena memutar arah lalu masuk kedalam mobil. Menutup pintu mobil. Duduk tepat disamping Dennis yang berada di kursi pengemudi. Dennis memundurkan mobilnya keluar rumah. Setelah keluar ia lajukan mobilnya di jalan yang masih lengang. Karena memang hari masih begitu pagi.

”Kamu bilang apa?” Tanya Dennis seduktif. Ia melihat Rena yang menjadi kikuk setelah mengatakan sesuatu tak terdengar oleh Dennis.

”Tidak, aku tidak bilang apa-apa. Salah denger kali.” Elak Rena. Mengibaskan tangannya.

”Kamu kira kakakmu ini tuli.” Sahut Dennis. Rena hanya mengedikkan bahu. tanda acuh, Rena tak ingin memulai pertengkaran dengan Dennis pagi ini.

Jalan pagi ini terasa lancar. Belum terlalu banyak orang yang lalu lalang. Mobil mereka terhenti saat lampu merah. Tepat saat Rena Menatap ke luar mobil. Ia melihat seorang pria mengendarai motornya. Tepat dibelakang pria itu ada wanita memegang mesra pinggang pria itu. Rena tahu siapa pria itu. Raut wajahnya berubah sedih. Dia tak menyangka dengan apa yang dilihatnya.

Seketika itu lampu berubah menjadi hijau. Mobil Dennis melaju kembali bersamaan dengan motor pria yang sudah mengalihkan pandangan dan membuat perasaannya bergemuruh.

“Itukan , K. . .”

Siapakah dia? pasti sudah ketebak dengan clue nama didepannya. tunggu cerita selanjutnya. 

Happy Reading ;))

Iklan

Satu tanggapan untuk “True Love

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s