You’re Gift for Me [ Part 1 ]


Halo, semua kali ini aku mau post FF chapter bertemakan ttng Ulang Tahunnya Tao tanggla 2 Mei kemarin. Yah, emang telat tapi daripada engga sama sekali, hehe. langsung aja yuk ! ;))

Title : You’re Gift for Me

Author : @ferrinamd 

Genre : Romance

Rating : General

Length : Two Shoot

Main Cast : Tao (EXO-M) , Lyn

Tao-on-his-birthday-tao-30979197-300-405

POV’s Lyn

Sudah beberapa toko aku kunjungi. Tapi belum ada barang yang aku beli. Hari ini bertepatan dengan Ulang Tahun Tao. Aku berkesempatan ke korea bersama Dyan, sahabatku. Beruntungnya kami sedang ada waktu kosong di sela waktu kuliah kami. Di beri waktu seminggu untuk berlibur. Aku manfaatkan untuk datang ke Korea. Karena Tao berada di korea tepat tanggal 2 Mei jadi nya aku ke sini tanpa sepengetahuan dari Tao sendiri. Aku hari ini sengaja tak membalas pesan dan mengangkat telepon darinya. Yang biasa dia melihat keadaanku yang jauh darinya. Tapi untuk hari ini tidak, Tao.

“Harus keliling berapa kali, Lyn?  Aku sudah lelah.” Dyan berjongkok di belakangku. Aku masih bersemangat mencari tapi dia sudah lelah. Aku kasian padanya. Aku hampiri dia. Menarik lengannya untuk bangun. Dyan sepertinya benar-benar lelah.

“Maafkan aku. Jadi merepotkanmu. Ayo kita cari makan.” Dyan mengangguk. Dia tak bicara banyak. Aku menuntutnya. Memegang tangannya takut kalau nantinya dia terjatuh karena benar-benar kelelahan. Banyak mata menatap kami. Aku rasa mereka semua memang tak pernah melihat wajah kami. Sampai kami di sebuah restoran cepat saji. Aku tak mau muluk-muluk datang ke restoran yang tak aku kenal. Pada akhirnya aku datangi restoran yang memang sudah terkenal makanannya.

Memasuki restoran disambut ramah oleh karyawannya. “Selamat siang, silakan masuk.” Ucapnya dengan aksen korea yang kental. Aku mengerti benar cara pengucapan dan bahasa Korea dengan benar. Karena memang aku pernah tinggal di Korea semasa kecil dulu. Mengikuti dinas Ayah yang bekerja sebagai Diplomat. Yang akhirnya aku bisa kembali ke China. Dan menetap lama. Jadi tak perlu aku berpindah-pindah lagi. Aku dan Dyan duduk di meja yang berdekatan dengan Jendela. Aku menuntun Dyan sampai dia duduk di bangkunya. Kemudia aku duduk di bangku berhadapan dengan Dyan. Aku menatap Dyan. Dia masih lemas. “Kau mau pesan apa Dyan?” Tanya ku padanya.

“Aku samakan saja denganmu.” Jawab Dyan. Aku menganggu. Memanggil karyawan disini. Dan mulai memesan makanan yang tak asing dilidah kami.     Setelah memesan, karyawan itupun pergi. Aku mengambil air mineral yang memang sengaja aku bawa dari hotel tadi. Aku memberikannya pada Dyan. Dia menerimanya, langsung meneguk air itu hingga setengah botol penuh.

“Kamu sangat haus?” tanyaku polos. Dyan mendengus. “Cih, Lyn, Lyn. Siapa yang tak haus diajak berkeliling ke beberapa toko di mall ini. Sayangnya tak ada satupun yang dibeli.” Aku menghela napas pelan.

“Maaf deh. Aku yang salah sampai-sampai engga memperhatikanmu yang daritadi memang lelah. Maaf yah.” Aku tersenyum semanis mungkin ingin membuatnya tersenyum melihatku. Dyan malah memalingkan mukanya ke arah kanan.

“Engga usah memperlihatkan muka seperti itu. Aku maafin deh. Aku hari ini memang lagi engga enak badan dari tadi malem. Mungkin aku kelelahan baru sampai kemarin.” Aku jadi merasa bersalah mendengar pengakuan dari Dyan. Memang kemarin kami baru saja sampai semalam. Dan hari ini aku langsung saja mengajak dia mengantarkan ku untuk membeli kado untuk Tao.

“Aku jadi engga enak sama kamu.”

“Engga usah ngerasa engga enak. Wajarkan aku mau bantu kamu. Buat beli kado buat Tao. Lagian aku juga bingung mau ngasih apa buat dia. Rasanya kita seperti bukan sahabat yang baik kalo ga ngasih sesuatu buat Tao.” Usai Dyan berkata seperti itu datang karyawan wanita memberikan pesanan makanan kami.

“Ini pesanan anda nona.”

“Terima kasih.” Wanita tadi menatap kami berdua. Aku dan Dyan berpandangan dan menatap balik wanita ini.

“Boleh saya berbicara?” Aku menatap Dyan. Dia mengangguk menyetujui permintaan wanita itu.

“ Saya tadi tak sengaja mendengar perbincangan kalian tentang pemberian hadiah untuk sahabat kalian yang sedang merayakan ulang tahun. Saya rasa kado yang pantas untuk sahabat anda. Tak selalu dengan barang yang sebernarnya tak akan abadi.

Dengan Do’a, Support untuknya, dan Cinta yang dia terima bisa menjadi motivasi dan inspirasi baginya. Itu lebih bertahan lama. Daripada barang sekalipun. Saya merasa seperti itu. Ya, mungkin dengan ini saya bisa memberi solusi yang bisa membuat kalian tau kalau kado tak hanya berupa barang tapi ikatan batin dari kalian dan sahabat anda tetap terjaga dan tak akan pernah putus. Itu sudah sebuah kado yang abadi.” Aku mencerna perkataan wanita itu.

Kenapa aku engga terpikirkan hal ini? Dyan melihatku yang masih merenung. Dia seakan berpendapat dengan ku.

”Baik lah, saya rasa memang seperti itu seharusnya. Ahjumma, terima kasih untuk solusinya.Terima Kasih banyak.” aku berdiri dan membungkuk memberi hormat kepadanya yang lebih tua dari kami berdua dan terima kasih karena sarannya itu membuat ku membuka mata kalau memang tak harus barang apapun yang dijadikan kado.

Do’a, semangat, dan cinta lah kado terindah dan tetap abadi sampai akhirnya kita terpisahkan. Aku tersenyum kepadanya. Wanita itu membalas. Dia menepuk bahuku.

”Sama-sama. Aku yakin pasti dia akan senang. Kau ucapkan segala doa untuknya, buat dia merasa senang berada didekatmu. Begitu juga dengan temanmu ini.” wanita itu juga menepuk bahu Dyan. Dyan tersenyum dan membungkuk.

”Silakan dinikmati makaknannya. Aku tinggal yah.” Wanita itu melenggang pergi. Menuju dapur aku melihatnya hingga dia tak ada.

”Gamshamnida, ahjumma.” bisikku. Dyan mengetuk dahiku dengan sumpit.

Tuk !

”Aduh, Dyan. Kenapa memukulku?” aku mengelus dahiku yang sebenarnya tak sakit. Tapi dia membuatku kesal perlakuannya tadi.

”Jangan kesal dulu. Aku rasa ucapan wanita tadi memang benar. Kenapa kita pusing-pusingin mikirin kado untuknya. Lagian kita berdua sudah jadi kado dari dulu untuk Tao. Bodohnya kita.”

”Kita? Aku tidak bodoh.”aku mencibirnya dengan nada bercanda. Dyan mendengus kesal.

”Sudah ah aku mau makan. Mari makan,Lyn.” Dyan menyantap makanannya dengan lahap. Dia lapar sekali sepertinya. Aku tersenyum melihat tingkahnya.

Thank’s, Dyan !

Aku pun juga menyantap hidangan kami. Selagi masih hangat.

Aku dan Dyan keluar restoran dengan perut penuh dan kenyang. Sangat lega rasanya setelah kelaparan tadi.

end POV’s Lyn

”Gimana? Enak kan?” Lyn menengok ke Dyan. Wanita itu tersenyum lebar. Dia menghembuskan nafas dalam-dalam lalu keluar.

”Mashitta. Aku kenyaaaang.” Lyn menyenggol bahu Dyan. Yang disenggol meringis.

”Jangan berlagak bisa korea deeeh.” Dyan mehrong tepat dimuka Lyn.

”Biarin. Selama masih ada dikorea. Kenapa engga.” Dyan melangkah mendahului Lyn yg masih berdiri. Dia berbalik ke belakang melihat Lyn yang ternyata dia terdiam.

”Ada apa lagi? Mau mencari kado lagi?” Lyn menggeleng. Dia memegang tangan kiri Dyan.

”Palli, kita ke Hotel. Kita siap-siap untuk malam nanti.” Mereka berjalan berdua meninggalkan pusat pembelanjaan. Mereka tahu akan memberikan kado apa untuk Tao.

Jam 21.00 KST.

Lyn dan Dyan sudah berada di bus. Mereka pergi menuju SM company. Mengenakan baju biasa, membawa kamera layaknya fans yang menemui idolanya. Tepat waktunya SM mengadakan acara Ulang tahun Tao dan juga Luhan. Lyn dan Dyan langsung saja berpikir untuk pergi ke gedung SM tempat acara akan dimulai.

”Hey, Lyn. kau tak bilang Tao kalau mau ke acara itu?” Lyn menggeleng cepat.

”Lah, terus gimana Tao tahu kalau kita akan datang?” bukan menjawab Lyn, merogoh ponsel di tasnya.

”Ketemu. Aku akan telfon dia. Aku rasa dia sedang tak sibuk juga. hehe” dyan berdecak. Dia tak habis pikir dengan pikiran sahabatnya ini. Ingin memberi kejutan tapi seakan tak ada rencana. Ini pun walau berlibur ke korea. Dyan tak selintas pikirannya kalau kalau hari ini akan ada acara Ulang Tahun Tao, sahabatnya bersamaan dengan Luhan, member EXO lainnya.

Calling . . .

Tao-zi~

”Hallo, Tao.” Lyn sengaja me-loudspeaker ponselnya. Beruntung di bus yang mereka tumpangi tak terlalu banyak orang. Dyan merasa was-was akan hal ini. Takut-takut ada yang mendengar dan menyangka kalau memang benar mereka berdua berhubungan dengan salah satu member EXO M.

”Heh, Lyn. Kamu lagi dimana? Dari kemarin aku hubungi ga pernah ditanggapi. Kamu sedang apa hah?” Tao sepertinya mengomel karena sebal tak memberi kabar padanya – Batin Lyn.

”Oh, maaf deh. Aku kemarin sibuk banget.” Dyan tau kalau Lyn akan merencanakan sesuatu untuk Tao. Lyn ber-swink ria (?) ke arah Dyan.

”Sibuk? Sibuk ngapain? Oya, hari ini aku kan ulang tahun.” Dengan polosnya Tao bilang seperti itu. Seperti anak kecil X3

”Ada deh mau tau aja. Selamat ulang tahun deh. Cieee, yang udah tua.”

”Gitu doang ucapannya. Cih, menyebalkan. Yang tua siapa? Malah kamu yang lebih tua dariku walaupun tahunnya sama.”

”Hahaha, sorry, just kidding.”

”Iya, aku tau. Di SM nyelenggarain acara Ulang Tahun aku loh. Kamu ga dateng. Biasanya dateng sama Dyan.”

Tao seakan merengek karena kali ini ia merasa Lyn tak datang saat acara penting baginya.

”O, Tao maaf aku hari ini ada acara. Penting banget jadi ga bisa dateng. Dyan juga gitu.” Lyn menggerakkan telunjuk kanannya ke depan mulut. Sst, desisnya.

”Maaf yah. Lain kali deh.”

”Oke, no problem. Lain kali aja. Sayang kamu dan Dyan ga bisa ikut. Padahal acaranya rame. Banyak fans juga. Ada amber nanti. Katanya kamu juga pengen banget ketemu sama amber kan?”

”Iya? Yaaah tetep aja ga bisa. Maaf yaah.” Lyn memasang muka memelas. Dyan hanya bias terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya ini.

”He’eh, gapapa kok. Aku juga ga maksain. Kamu hati-hati jaga kesehatan.”

”Oke, thank you. Pastinya, kamu juga.”

”Salam buat Dyan yah.”

”Iya, aku salamin. Aku tutup yah. Bye.”

”Bye.” Lyn menutup teleponnya. Dia tersenyum lebar saat selesai berbicara. Lyn menatap Dyan yang juga menatapnya. Mereka saling bepandangan.

”Bisa-bisanya kau membohongi Tao?” Dyan menoyor dahi Lyn. Lyn mengubah posisi duduknya, dia menaruh ponselnya kembali ke tas.

” Bohong? Engga. Kita kan mau ngasih surprise kan. Gapapa dong.”

”Ya aku tau, aku tau itu. Tapi kalo nanti kita ga bisa ketemu sama dia gimana?” Dyan merasa khawatir kalau nanti dia dan Lyn tak bisa bertemu langsung dengan Tao. Takut tak diperbolehkan masuk ke Gedung SM. Lyn memegang bahu Dyan.

”Kamu tenang saja. Ada aku. Aku bisa atasin semua. Demi Tao apa sih yang engga bisa.” Lyn tersenyum lebar menghibur sahabatnya, Dyan. Dia tahu kalau Dyan juga menyayangi tao sebagai sahabatnya akan mengecewakan kalau mereka tak bisa bertemu Tao. Walau tadi Lyn berbohong kalau dia tak bisa datang tapi ini langkah dari membuat surprise untuk Tao.

”Dasar kamu Lyn. Aku tau kamu itu cinta sama Tao.” Lyn hanya tersipu malu mendengar ucapan Dyan.

“Aku memang cinta. Seidaknya aku bias berusaha datang di hari ulang tahun Tao bersama sahabat kami berdua, Dyan. Peluk aku doooong.” Lyn merentangkan kedua tangannya, disambut Dyan yang membalas pelukan Lyn.

“Huh, ternyata sahabatku ini makin dewasa yah.” Ucap Dyan sembari mengelus punggunh Lyn.

“Memang aku harus anak kecil terus,O?” Lyn melepas pelukannya.

“Aku ga bilang gitu. Kamu yang bilang.” Dyan tak mau kalah.

“Udah ah, aku ga mau lama-lama berdebat denganmu. O, Kita sudah sampai, yan. Ayo, kita turun !” Lyn berjalan keluar bus, diikuti Dyan dibelakanganya.

Sampai mereka depan gedung SM Entertainment. Lantas mereka langsung masuk ke gedung SM Entertainment. Setelah tadi ada pemeriksaan dari Security kepada orang-orang yang menghadiri acara Ulang Tahun member EXO.

“Terima Kasih, pak.” Ucap Lyn dengan bahasa koreanya yng fasih. Security itu yersenyum, mempersilakan Lyn dan Dyan masuk kedalam ruangan, tempat acara berlangsung. Mereka berdua mengamati sekeliling ruang di Gedung tersebut sangat luas dan terkesan modern.

“Wah, seperti ini rasanya memasuki gedung manajemen yang terkenal itu.” Suara Dyan yang keras. Mengundang orang yang ada di sekitar mereka memandang mereka heran. Tampak sekali mereka tau kalau mereka berdua memang fans yang datang menghadiri acara Ulang Tahun Tao, dan Luhan.

“Sssst ! suaramu terlalu keras, Dyan.” Lyn menepuk bahu Dyan yang berada disampingnya itu.

“Maaf, aku terlalua kagum dengan gedung ini.” Lyn terkekeh pelan mendengar ucapan Dyan yang sepolos itu. Memang Dyan pernah berharap ingin pergi bertandang ke kantor manajemen Tao bernaung demi menggapai impiannya.

“Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?” Tanya Dyan. Lyn menggeleng. Polosnya sahabatku ini –batin Lyn.

“Tidak ada apa-apa kok. Cepat kita masuk. Keburu banyak orang.”

Mereka berdua sudah sampai di depan pintu ruangan itu. Dari luar pun terlihat banyak gadis yang berkerumun mereka tampak sedang berbincang, berbicara tentang acara nanti.

“Banyak sekali. Pasti acaranya heboh!” seru Lyn melihat antusiasnya gadis yang datang ke acara hari ini.Dyan mengiyakan ucapan Lyn.

“Pastinya. Benar-benar EXO rookie artist paling fenomenal.”

Lyn dan Dyan masuk keruangan itu. Di dalamnya lebih ramai lagi. Sudah ada beberapa gadis yang duduk manis menunggu acara dimulai sembari mengobrol.

“Lyn, duduk di tengah aka. Tempat yang strategis.’ Dyan menarik tangan kanan Lyn. Mengajak ke arah yang dituju Dyan. Belum sempat mereka ingin duduk sudah keburu ditempati dua orang gadis.

“Hey, kami ingin duduk disini.” Tegur Dyan dengan bahasa inggrisnya. Dia nampak kesal dibuatnya. Gadis itu menatap bingung kea rah Dyan. Dia menatap sinis Dyan yang sedang kesal. Lyn tahu benar Dyan tak mau kalah jika berurusan dengan hal seperti ini. Sifatnya yang kolot kadang susah untuk dikalahkan.

“Sudah Dyan. Lebih baik kita pindah ke kursi lain saja.” Lyn berusaha menenangkan Dyan.

“Tidak bisa tadi aku yang lebih dulu melihat ini. Kita kesini kan mau buat surprise untuk Tao.”

Bagaimana ini? –batin Lyn. Dia mulai panik. Entah harus berbuat apa. Tapi dia yakin dia bisa menenangkan Dyan tanpa menimbulkan keributan apapun.

Gadis itu berbisik kepada temannya. Kemudian mereka berdua memandang sinis lagi kearah Dyan dan Lyn. “ Maaf nona. Kami lebih dulu yanh menempati tempat ini.lebih baik cari tempat duduk lain.” Ucap gadis satu lagi.Lyn tahu kedua gadis itu merasa tidak senang dengan sikap Dyan yang mudah kesal seperti ini seakan tak mau kala. Lyn menarik lembut lengan kanan Dyan.

Ia berbisik ke telinga Dyan.

“Ayo, kita cari tempat lain. Kita ke sini bukan untuk berbuat keributan tapi untuk Tao. Ingat itu !” Dyan menatap kesal Lyn, dia berpikir sesaat. Kemudian raut wajahnya berubah datar.

“Oke ayo pergi. Muak aku lama-lama dengan mereka.” Dyan pergi lebih dulu. Lyn melihat nya lantas berpaling menatap kedua gadis itu.

“Maaf atas sikap kami tadi.” Lyn membungkukkan badan. Langsung saja dia menyusul Dyan yang sedang beradadi belakang kerumunan orang-orang yang jelas jika mereka berdua ingin terlihat oleh Tao yang berada di panggung tak keliatan karena tertutupi oleh orang-orang. Lyn menghampiri Dyan yang membuat posisi melipat tangan di dada, memperlihatkan wajahnya kesal. Lyn berdiri disampingnya melihat wajah Dyan yang menatap ke depan walau sebenarnya ia tahu tatapan Dyan kosong.

Perasaannya kali ini benar-benar kalut. Lyn bingung mau berbicara apa setelah ini. Masa di hari ulang tahun Tao, dia dan Dyan tak bisa menampakkan muka senang padahal mereka berdua juga ingin membuat surprise kalau mereka bela-belain datang ke Korea untuk Tao. Lyn berpikir sesaat.

“Aku tahu kamu masih kesal gara-gara kejadian tadi. Aku minta maaf karena tidak membelamu tadi.” Lyn berusaha mengeluarkan kata-kata tanpa menyinggung perasaan Dyan.

“Sudah, tak usah bahas kejadian tadi. Aku ga terlalu kesal lagi.” Ujar Dyan tanpa melihat kearah Lyn. Pasti masih kesel – ucap Lyn dalam hati.

“Baiklah, aku ga bicarain itu lagi. Tapi kamu marah ga sama aku?” Tanya Lyn polos. Sesaat kemudian Dyan menahan tawa. Tangannya mengepal menutupi mulutnya yang sepertinya akan tertawa keras bila dia tidak menahan tawanya itu. Lyn yang merasa bingung dengan perubahan sifat dari Dyan hari ini.

“Kamu kenapa? Kok ketawa sih?” Tanya Lyn heran kepada Dyan yang masih saja terkekeh pelan menahan tawanya itu. Dyan melihat Lyn yang seperti orang bingung. Dia sebenarnya tadi Cuma ingin mengerjai Lyn dengan sikapnya tadi yang tempramen. Padahal itu tidak benar-benar marah. Bisa-bisanya Lyn dengan mudahnya oercaya dengan perubahan perasaannya kali ini.

Dyan memegang kedua bahu Lyn. “Aku ga marah kok. Tadi itu aku cuman bercanda. Hehe.” Dyan menunjukkan muka tak bersalahnya pada Lyn. Ternyata ia malah mendapat jitakan mulus tepat di dahinya.

“Aw, iiiih kok mukul sih. Aku kan cuman bercanda.” Dyan cemberut. Dia mengelus kepalanya yang mendapat jitakan dari Lyn.

“Tapi ga lucu bercandaanmu tadi.” Lyn membenarkan posisi berdiri nya. Dia melihat kesekeliling ruang itu ternyata tidak ada bangku kosong lagi. Terpaksa ia dan Dyan berdiri.

“Sepertinya kita memang harus berdiri deh. Ga ada tempat duduk lagi.” Dyan seakan mengerti pikiran Lyn dengan mengucapkan seperti itu.

“Benar. Udah ga ada bangku yang kosong. Yaudah kita berdiri saja.” Lyn menarik tangan kiri Dyan. “Ikut aku.”

Sampai akhirnya mereka berhenti tepat di samping kanan tempat penonton. “Yakin kita disini? Aku rasa ini benar-benar nekat Lyn, begitu dekat dengan panggung.” Lyn Cuma tersenyum.

“Bagus dong. Ini berarti kita bikin Tao sangat surprise dengan kehadiran kita.” Dyan hanya mengangguk. Tapi ini nekat bisa sedekat ini. Dyan tahu benar kalau Lyn sudah menginginkan sesuatu segalanya harus selesai sesuai keinginannya.

Tak lama acara dimulai. Dengan kedatangan EXO M termasuk Tao sendiri. Terlihat kalau Tao merasa gugup melihat banyaknya fans yang menghadiri acara Ulang Tahunnya bersama Luhan. Lyn melihat Tao yang menaiki panggung. Dia tersenyum merasa bersyukur akhirnya bisa bertemu lagi dengan Tao. Apalagi saat usia pria itu bertambah 1 tahun. Moment yang pas untuk Lyn dan juga Dyan.

“Lihat, Lyn. Tao belum melihat ke arah sini.” Lyn memikirkan sesuatu bagaimana cara agar Tao bisa melihat ke arah Lyn dan Dyan.

“Ah, aku ada ide.” Lyn tiba-tiba melambaikan kedua tangannya tinggi-tinggi. Sampai ada salah satu member EXO M yang melihatnya, tak lain itu Luhan. Dia melihat ke arah mereka berdua. Dia sempat melirik Tao kemudian ke arah Lyn. Tak lama Luhan menyenggol bahu Tao yang tepat berada disampingnya. Kemudian berbisik seperti memberitahu ada Lyn dan Dyan di ruangan ini.

Tao tahu dia melihat sekeliling ruang ini. Dia tertumbuk pandangannya pada Lyn. Dia tersenyum kemudian datar. Bukan hal seperti ini yang dia inginkan dari Tao. Dia seperti tak senang Lyn dan Dyan datang. Tao mengalihkan pandangannya kedepan. Mengacuhkan mereka berdua setelah melihat kedatangan mereka kemari.

“Kok Tao begitu sih? Aku kira dia akan senang melihat kedatangan kita.” Tanya Dyan tapi Lyn hanya diam. Dyan menengok ke arah Lyn. Wajah sahabatnya ini terlihat sedih. Menundukkan wajah menyembunyikan perasaannya saat ini. Hal seperti ini bisa membuat dia sedih, Dyan merangkul Lyn ke belakang. Wanita ini mengikuti Dyan. Sebelumnya dia melihat ke panggung tepatnya Tao. Ternyata Tao juga melihatnya. Kemudian berpaling membawa Lyn kebelakang ke rumunan orang.

“Jangan sedih. Tao pasti senang dengan kedatangan kita.” Bisik Dyan. Tepat ditelinga Lyn.

TO BE CONTINUE

Iklan

Satu tanggapan untuk “You’re Gift for Me [ Part 1 ]

Berikan komentarmu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s